Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mengenang Jürgen Habermas: Mengapa Rasionalitas Publik Sangat Penting bagi Demokrasi?

19 March 2026 • 13:15 WIB

Disiplin atau Distrust? Ketika Pimpinan Pengadilan Menghadapi Era Work From Anywhere

19 March 2026 • 08:50 WIB

Independensi dan Transparansi Peradilan Militer dalam Bingkai Negara Hukum

18 March 2026 • 19:30 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Mengenang Jürgen Habermas: Mengapa Rasionalitas Publik Sangat Penting bagi Demokrasi?
Sosok

Mengenang Jürgen Habermas: Mengapa Rasionalitas Publik Sangat Penting bagi Demokrasi?

Muamar Azmar Mahmud FarigMuamar Azmar Mahmud Farig19 March 2026 • 13:15 WIB6 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Kabar wafatnya Jürgen Habermas pada 14 Maret 2026 lalu, menandai berakhirnya salah satu suara paling konsisten dalam membela rasionalitas publik di dunia modern. Dalam lanskap filsafat sosial kontemporer, Habermas bukan sekadar seorang pemikir produktif tetapi juga penjaga gagasan bahwa demokrasi hanya dapat bertahan apabila warga negara masih percaya pada kekuatan argumen.

Ketika Demokrasi Kehilangan Nalar

Salah satu ironi terbesar dalam kehidupan politik modern adalah kenyataan bahwa demokrasi sering kali hidup dalam suasana yang semakin miskin rasionalitas. Media sosial dipenuhi polarisasi, ruang publik dipenuhi opini yang tidak selalu berbasis argumen, dan perdebatan politik kerap berubah menjadi kompetisi emosi.

Di tengah kondisi seperti itu, pemikiran Habermas menjadi sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa demokrasi tidak hanya membutuhkan prosedur elektoral, tetapi juga membutuhkan ruang diskursus rasional di mana warga negara dapat saling mempertanggungjawabkan argumennya.

Habermas memulai refleksi ini dari pengalaman sejarah Eropa pasca Perang Dunia II. Lahir pada tahun 1929 di Jerman, ia menyaksikan bagaimana propaganda dan manipulasi ideologi mampu menggantikan rasionalitas publik. Bagi Habermas, tragedi totalitarianisme bukan hanya kegagalan politik, tetapi juga kegagalan komunikasi sosial.

Dari sinilah ia mengembangkan proyek intelektual yang panjang: menyelamatkan modernitas dengan cara merekonstruksi fondasi rasionalitas publik (Habermas, 1981).

Generasi Pascaperang dan Pencarian Rasionalitas

Jürgen Habermas lahir pada tahun 1929 di Düsseldorf, Jerman, dan tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran moral Eropa setelah Perang Dunia II. Bagi generasi yang menyaksikan langsung bagaimana propaganda dan ideologi totalitarian dapat menghancurkan nalar publik, pertanyaan filosofis yang muncul menjadi sangat mendasar: bagaimana masyarakat modern dapat mencegah runtuhnya rasionalitas dalam kehidupan politik.

Habermas menjawab pertanyaan tersebut dengan cara yang khas. Ia tidak memilih jalan pesimisme sebagaimana banyak pemikir generasi sebelumnya. Sebaliknya, berusaha menyelamatkan proyek modernitas dengan merekonstruksi fondasi rasionalitas publik. Dalam konteks intelektual, ia sering ditempatkan sebagai bagian dari generasi kedua Frankfurt School, sebuah tradisi pemikiran kritis yang sebelumnya dikembangkan oleh tokoh seperti Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno.

Namun Habermas bergerak melampaui pesimisme kritis para pendahulunya. Jika teori kritis generasi pertama melihat modernitas sebagai ruang dominasi rasionalitas instrumental, Habermas justru mencoba menunjukkan bahwa modernitas masih memiliki potensi emansipatoris melalui komunikasi rasional (Habermas, 1981).

Dari sinilah seluruh proyek intelektual Habermas dapat dipahami: sebuah upaya panjang untuk menunjukkan bahwa demokrasi hanya mungkin bertahan jika masyarakat masih percaya pada kekuatan diskursus.

Baca Juga  Hukum Sebagai Dialektika Pencerahan: Membongkar Rasionalitas Instrumental dan Merekonstruksi Legitimasi dalam Kritik Mazhab Frankfurt

Ruang Publik: Tempat Demokrasi Bernapas

Kontribusi awal Habermas yang paling berpengaruh muncul dalam karyanya The Structural Transformation of the Public Sphere (1962). Dalam buku ini, ia memperkenalkan konsep ruang publik sebagai arena diskursus di mana warga negara dapat membentuk opini publik melalui pertukaran argumen (Habermas, 1962).

Ruang publik bukan sekadar ruang komunikasi sosial. Ia merupakan fondasi legitimasi demokrasi. Pemerintah memperoleh legitimasi bukan hanya karena dipilih melalui pemilu, tetapi karena kebijakannya dapat diperdebatkan secara rasional oleh masyarakat.

Dalam konteks ini, Habermas sebenarnya mengingatkan sesuatu yang sederhana namun sering dilupakan: demokrasi tidak hanya bergantung pada suara mayoritas, tetapi juga pada kualitas diskursus publik.

Konsep ruang publik ini kemudian menjadi salah satu gagasan paling berpengaruh dalam ilmu sosial modern. Banyak kajian tentang partisipasi publik, transparansi pemerintahan, hingga legitimasi kebijakan publik berakar pada kerangka pemikiran tersebut (Calhoun, 1992).

Rasionalitas Komunikatif: Alternatif bagi Politik Kekuasaan

Gagasan Habermas mencapai bentuk paling sistematis dalam karya monumentalnya The Theory of Communicative Action (1981). Dalam karya ini, ia membedakan dua bentuk rasionalitas: rasionalitas instrumental dan rasionalitas komunikatif.

Rasionalitas instrumental berorientasi pada keberhasilan tindakan dan efisiensi. Rasionalitas ini mendominasi dunia ekonomi dan birokrasi. Sebaliknya, rasionalitas komunikatif berorientasi pada tercapainya pemahaman bersama melalui dialog.

Menurut Habermas, kehidupan modern sering kali didominasi oleh rasionalitas instrumental. Akibatnya, ruang diskursus publik menjadi semakin sempit. Ketika logika kekuasaan dan efisiensi mengambil alih ruang komunikasi sosial, masyarakat kehilangan kemampuan untuk mencapai kesepahaman secara rasional.

Fenomena inilah yang oleh Habermas disebut sebagai kolonisasi dunia kehidupan (colonization of the lifeworld) (Habermas, 1981).

Demokrasi Deliberatif dan Legitimasi Hukum

Pemikiran Habermas kemudian berkembang menuju teori hukum dan demokrasi yang dirumuskan secara komprehensif dalam Between Facts and Norms (1992). Dalam karya ini, ia mengembangkan gagasan bahwa legitimasi hukum modern harus bertumpu pada proses diskursus publik yang inklusif (Habermas, 1992).

Hukum tidak cukup dipahami sebagai norma yang dibuat oleh otoritas negara. Ia harus dipahami sebagai hasil dari proses komunikasi sosial di mana semua pihak yang terdampak memiliki kesempatan untuk berpartisipasi.

Dari perspektif ini, legitimasi hukum memiliki dua dimensi sekaligus: legalitas prosedural dan rasionalitas diskursif. Hukum yang sah bukan hanya hukum yang dibuat sesuai prosedur formal, tetapi juga hukum yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dalam ruang publik.

Baca Juga  Hakim Sebagai Subyek Sintesis : Dari Positivisme Hukum ke Kebijaksanaan

Gagasan ini kemudian menjadi salah satu fondasi teoritis dari konsep demokrasi deliberatif, sebuah model demokrasi yang menempatkan diskursus publik sebagai inti proses pengambilan keputusan kolektif (Dryzek, 2000).

Mengapa Habermas Penting bagi Dunia Peradilan?

Di sinilah pemikiran Habermas menjadi sangat relevan bagi dunia hukum dan peradilan.

Putusan pengadilan bukan sekadar keputusan yang menyelesaikan sengketa, tetapi juga merupakan bentuk komunikasi publik tentang bagaimana hukum dipahami dan diterapkan dalam masyarakat. Dalam perspektif Habermas, legitimasi putusan pengadilan tidak hanya bergantung pada kewenangan formal hakim, tetapi juga pada kemampuan putusan tersebut untuk dipertanggungjawabkan secara rasional.

Dengan kata lain, putusan yang baik bukan hanya putusan yang sah secara hukum, tetapi juga putusan yang dapat dipahami sebagai bagian dari diskursus rasional dalam masyarakat.

Di titik ini, pemikiran Habermas memberikan perspektif yang penting bagi praktik peradilan modern. Ia mengingatkan bahwa hukum tidak hidup dalam ruang tertutup lembaga negara. Hukum hidup dalam komunikasi sosial yang terus menerus berlangsung dalam ruang publik.

Warisan Intelektual Habermas

Wafatnya Habermas pada 14 Maret 2026 menutup perjalanan panjang salah satu intelektual paling berpengaruh dalam pemikiran sosial modern. Selama lebih dari tujuh dekade, ia mengingatkan dunia bahwa demokrasi tidak hanya membutuhkan institusi, tetapi juga membutuhkan budaya diskursus rasional.

Di tengah dunia yang semakin dipenuhi polarisasi politik dan krisis kepercayaan terhadap institusi publik, warisan pemikiran Habermas terasa semakin penting. Ia mengingatkan bahwa demokrasi tidak dapat bertahan tanpa komitmen kolektif terhadap dialog yang rasional.

Pada akhirnya, mungkin inilah pelajaran paling sederhana dari Habermas:
bahwa masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berkuasa, tetapi oleh bagaimana masyarakat berbicara satu sama lain.

Referensi

Habermas, J. (1962). The Structural Transformation of the Public Sphere. MIT Press.

Habermas, J. (1981). The Theory of Communicative Action. Beacon Press.

Habermas, J. (1992). Between Facts and Norms. MIT Press.

Calhoun, C. (1992). Habermas and the Public Sphere. MIT Press.

Dryzek, J. (2000). Deliberative Democracy and Beyond. Oxford University Press.

Muamar Azmar Mahmud Farig
Kontributor
Muamar Azmar Mahmud Farig
Hakim Pengadilan Negeri Poso

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Demokrasi Deliberatif Diskursus Publik filsafat Jürgen Habermas Ruang Publik sosok
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Rasionalitas, Demokrasi, dan Masa Depan Hukum: Warisan Pemikiran Habermas

16 March 2026 • 19:07 WIB

Labirin Cermin: Terjebak Perjamuan Abadi Yang Tak Pernah Usai

14 March 2026 • 13:10 WIB

Hatta Ali: Jalan Panjang Seorang Hakim

12 March 2026 • 12:37 WIB
Demo
Top Posts

Etika Bermedia Sosial bagi Hakim: Antara Ekspresi Diri dan Marwah Peradilan

13 March 2026 • 20:03 WIB

Hijrah Konstitusi, dari Serambi ke Serambi: Catatan Kritis Beban Kemanusiaan Peradilan

5 March 2026 • 18:28 WIB

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB

Beyond The Code: Filsafat Hukum dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding yang Progresif)

25 February 2026 • 14:35 WIB
Don't Miss

Mengenang Jürgen Habermas: Mengapa Rasionalitas Publik Sangat Penting bagi Demokrasi?

By Muamar Azmar Mahmud Farig19 March 2026 • 13:15 WIB0

Kabar wafatnya Jürgen Habermas pada 14 Maret 2026 lalu, menandai berakhirnya salah satu suara paling…

Disiplin atau Distrust? Ketika Pimpinan Pengadilan Menghadapi Era Work From Anywhere

19 March 2026 • 08:50 WIB

Independensi dan Transparansi Peradilan Militer dalam Bingkai Negara Hukum

18 March 2026 • 19:30 WIB

Bukti Elektronik di Peradilan Agama : Antara Keniscayaan Digital, Tantangan dan Solusi Implementasinya

18 March 2026 • 12:30 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Mengenang Jürgen Habermas: Mengapa Rasionalitas Publik Sangat Penting bagi Demokrasi?
  • Disiplin atau Distrust? Ketika Pimpinan Pengadilan Menghadapi Era Work From Anywhere
  • Independensi dan Transparansi Peradilan Militer dalam Bingkai Negara Hukum
  • Bukti Elektronik di Peradilan Agama : Antara Keniscayaan Digital, Tantangan dan Solusi Implementasinya
  • Gaya Kepemimpinan Sebagai Sumber Konflik, Bagaimana Jadi Pemimpin Yang Baik?

Recent Comments

  1. ursodiol cost on Fenomena The Blue Wall of Silence dan Upaya Membangun the Wall of Integrity: Belajar dari Kasus di Mahkamah Agung dan Kementerian Keuangan
  2. atorvastatin calcium on Kerahasiaan Perkara Perceraian: Mengkaji Ulang Anonimisasi Putusan
  3. dapoxetine 30mg on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  4. cefixime trihydrate on Mempererat Integritas dan Spiritualitas: Rangkaian Giat Ramadan 1447 H di Pengadilan Negeri Kotabaru
  5. lisinopril 5 mg on Konsekuensi Hukum Penetapan Pengembalian Berkas oleh KPN dalam Proses MKR di Tingkat Penyidikan dan Penuntutan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Kolonel Dahlan Suherlan, S.H., M.H.
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Letkol Chk Dendi Sutiyoso, S.S., S.H.
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.