Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Peningkatan Layanan Peradilan Berbasis It: Potensi Pemanfaatan Dan Tantangan Akuntabilitas


24 April 2026 • 22:40 WIB

Kedudukan dan Model Peradilan Militer di India

24 April 2026 • 21:00 WIB

Persidangan Hibrida dan Perlindungan Data: Dua Pilar Krusial Sistem Peradilan Digital Indonesia-India

24 April 2026 • 20:02 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » David Versus Goliath: Ketika Usia Tidak Lagi Menjamin Kebijaksanaan
Artikel

David Versus Goliath: Ketika Usia Tidak Lagi Menjamin Kebijaksanaan

Khoiruddin HasibuanKhoiruddin Hasibuan7 March 2026 • 17:02 WIB7 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Di banyak organisasi, baik pemerintahan, lembaga peradilan, maupun institusi sosial, sering kita temukan satu fenomena yang hampir selalu berulang: seseorang yang telah berusia senja merasa dirinya paling mengetahui segala hal. Ia merasa pengalamannya yang panjang adalah legitimasi mutlak untuk memonopoli kebenaran. Dalam pandangannya, usia identik dengan kebijaksanaan, masa jabatan identik dengan otoritas intelektual.

Masalahnya, tidak semua pengalaman melahirkan kebijaksanaan. Kadang-kadang pengalaman justru membangun tembok kesombongan, yang membuat seseorang tidak lagi mampu belajar.

Kita hidup dalam era Artificial Intelligence, Internet of Things, dan Revolusi Industri 5.0, di mana pengetahuan berkembang secara eksponensial. Informasi tidak lagi dimonopoli oleh mereka yang paling tua, atau paling lama menjabat. Anak muda hari ini, dapat mengakses pengetahuan global dalam hitungan detik. Dalam situasi seperti itu, mengandalkan pengalaman masa lalu tanpa kemauan belajar hal baru, sama saja dengan memimpin kendaraan modern menggunakan peta kuno. Sejarah bahkan telah berkali-kali menunjukkan, bahwa usia bukanlah ukuran mutlak bagi kecerdasan atau keberanian.

Orang yang merasa paling pintar, sering kali tidak menyadari satu hal mendasar: bahwa dirinya sebenarnya sedang terjebak dalam kebodohan yang tidak ia sadari. Dalam psikologi modern, fenomena ini sering dijelaskan melalui efek Dunning–Kruger, yakni kondisi ketika seseorang yang memiliki kompetensi rendah, justru memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi terhadap pengetahuannya.

Ia merasa paling memahami persoalan, paling berpengalaman dalam memimpin, paling mengerti bagaimana sebuah organisasi harus dijalankan. Namun pada saat yang sama, ia gagal melihat perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.

Akibatnya, ketika muncul generasi yang lebih muda, yang memiliki kapasitas intelektual lebih kuat, lebih terbuka terhadap pengetahuan baru, dan lebih memahami dinamika dunia modern, ia justru merasa terancam.

Anak-anak muda yang kritis, dianggap tidak tahu apa-apa. Mereka dituduh tidak memiliki sopan santun. Mereka dilabeli sebagai pembangkang. Sebagian, bahkan dituduh sebagai penghambat organisasi. Padahal, kritik yang mereka sampaikan, sering kali lahir dari kecintaan terhadap institusi yang mereka bela.

Ironisnya, orang yang merasa paling bijaksana itu, justru tidak menyadari bahwa cara berpikirnya telah tertinggal jauh di belakang zaman. Ia memimpin dengan paradigma masa lalu, sebuah model kepemimpinan yang lahir dari era birokrasi tertutup, otoritarian, dan anti kritik. Padahal dunia hari ini telah berubah.

Selain itu, biasanya orang yang merasa paling bijak itu, justru dikelilingi oleh orang-orang yang mempraktikkan satu prinsip klasik: asal bapak senang. Mereka menyajikan data yang menyenangkan, laporan yang indah, statistik yang tampak meyakinkan. Semua terlihat stabil, semua tampak baik-baik saja. Tidak ada masalah besar. Tidak ada kegagalan yang perlu dibicarakan.

Namun, data yang terlalu menyenangkan, sering kali bukan cermin realitas, melainkan ilusi yang dirancang untuk menjaga kenyamanan kekuasaan. Tanpa disadari, orang-orang di sekitarnya, sedang memainkan permainan yang jauh lebih pragmatis. Mereka tahu bahwa selama sang pemimpin merasa benar, selama ia merasa dihormati, selama ia tidak diganggu dengan kritik yang mengusik kenyamanannya, maka posisi mereka aman.

Di balik wajah loyalitas itu, ada kepentingan. Ada keuntungan yang terus mengalir. Ada fasilitas yang dipertahankan. Ada jabatan yang ingin terus dijaga dan diwariskan ke anak cucu maupun kolega-kolega.

Baca Juga  Revitalisasi Independensi Finansial Kekuasaan Kehakiman

Sementara itu, setiap suara kritis dari generasi muda, dianggap sebagai gangguan yang harus dibungkam. Bukan karena kritik itu salah, tetapi karena kritik itu berbahaya bagi kenyamanan. Sering kali, di balik sikap keras terhadap generasi muda, tersembunyi satu ketakutan yang jarang diakui: takut digantikan.

Takut, bahwa suatu hari nanti organisasi akan menyadari, bahwa dunia telah berubah. Takut, bahwa generasi baru memiliki energi, keberanian, dan pemahaman yang lebih relevan terhadap zaman. Takut, bahwa cara memimpin yang dulu efektif, kini justru menjadi penghambat kemajuan. Padahal, sejarah telah berulang kali menunjukkan, bahwa usia bukan jaminan kemenangan, dan pengalaman panjang bukan jaminan kebenaran.

Dalam Perang Khandaq, misalnya, ada satu duel, yang menjadi pelajaran besar dalam sejarah Islam. Ketika pasukan musyrik menantang duel satu lawan satu, tampil seorang prajurit legendaris: Amr ibn Abd Wudd.

Ia bukan sembarang petarung. Namanya dikenal di seluruh Jazirah Arab. Konon, selama hidupnya ia tidak pernah kalah dalam duel. Ketika perang Khandaq terjadi, usianya telah mencapai sekitar delapan puluh dua tahun, seorang veteran yang reputasinya begitu menakutkan sehingga banyak orang gentar menghadapi tantangannya. Riwayat-riwayat bahkan menggambarkan kekuatannya dengan sangat dahsyat: pukulannya disebut mampu membunuh seekor kuda dalam sekali hantam.

Di hadapan reputasi sebesar itu, hampir tidak ada yang berani maju. Namun, dari barisan kaum Muslimin, muncul seorang pemuda berusia sekitar dua puluhan: Ali ibn Abi Talib.

Secara pengalaman duel, ia tidak sebanding dengan Amr. Secara usia, jaraknya seperti dua generasi. Tetapi keberanian, ketajaman akal, dan keyakinannya, membuatnya maju menghadapi sang legenda perang itu. Duel tersebut tercatat sebagai duel yang satu lawan satu yang paling lama dalam sejarah, yang berakhir dengan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan banyak orang saat itu:  Pemuda “ingusan” itu mengalahkan sang legenda perang.

Kisah ini bukan sekadar cerita kepahlawanan. Ia adalah pelajaran besar, bahwa keunggulan tidak selalu datang dari usia tua, atau pengalaman panjang. Kadang justru lahir dari keberanian generasi muda, yang memiliki visi lebih tajam. Kisah ini tidak sekadar tentang duel. Ia adalah simbol bahwa keberanian, ketajaman akal, dan kejernihan visi tidak selalu lahir dari usia yang paling tua.

Hal serupa bahkan telah terjadi jauh sebelum itu, dalam kisah yang dikenal luas dalam tradisi Abrahamik: pertempuran antara David (Daud) dan Goliath (Jalut).

Goliath adalah raksasa perang yang berpengalaman, lengkap dengan senjata berat dan reputasi menakutkan. Ia adalah simbol kekuatan lama, yang tampak tak terkalahkan. Sementara David, hanyalah seorang pemuda yang bahkan belum dianggap sebagai prajurit sejati.

Namun, yang menentukan bukanlah ukuran tubuh, melainkan kecerdasan membaca situasi. David tidak melawan dengan cara lama. Ia menggunakan strategi yang berbeda, ketapel sederhana yang justru mengubah seluruh medan pertempuran.

Goliath kalah bukan karena ia lemah, tetapi karena ia terlalu percaya diri dengan cara lama. Di sinilah pelajaran besar bagi banyak organisasi hari ini.

Baca Juga  Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiil dalam Fungsi Negatif: Daya Guna Teoritis Tinggi, Daya Laku Praktis Rendah

Banyak pemimpin senior yang merasa seperti Amr bin Wudd atau Goliath (Jalut), tokoh besar dengan pengalaman panjang dan reputasi yang menakutkan. Namun mereka lupa bahwa dunia tidak lagi bertarung di medan yang sama.

Pertempuran hari ini bukan lagi tentang kekuatan otot, atau panjangnya pengalaman masa lalu. Ia tentang kecepatan membaca perubahan, kemampuan memahami teknologi, keberanian mengoreksi sistem lama, dan kesiapan menerima kritik.

Ketika seorang pemimpin menolak mendengar suara generasi muda, sebenarnya ia bukan sedang menjaga wibawa. Ia sedang menutup pintu terhadap masa depan.

Dua kisah ini, Ali melawan Amru bin Wudd, dan Daud melawan Goliath, memberikan pesan yang sama: kekuatan tidak selalu berada pada mereka yang paling tua, paling berpengalaman, atau paling lama berkuasa. Sering kali justru lahir dari mereka yang memiliki keberanian berpikir berbeda.

Sayangnya, dalam banyak organisasi modern, kisah-kisah semacam ini justru sering dilupakan. Generasi tua yang merasa dirinya paling berpengalaman, kadang menutup pintu bagi gagasan baru. Kritik dianggap ancaman. Pertanyaan, saran dan masukan dianggap suatu yang melanggar etika kesopanan, bahkan dianggap suatu pembangkangan. Perbedaan pandangan dianggap sebagai sikap tidak loyal. Padahal organisasi yang sehat justru hidup dari kritik.

Institusi yang besar, tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu mengatakan “ya” kepada pemimpin, melainkan oleh mereka yang berani mengatakan “tidak,” ketika kebijakan berjalan ke arah yang salah. Anak-anak muda yang kritis, bukanlah ancaman. Mereka adalah alarm bagi organisasi, agar tidak berjalan menuju kebuntuan. Justru ketika organisasi dipenuhi oleh orang-orang yang takut mengkritik, saat itulah institusi tersebut mulai mengalami stagnasi.

Sebuah organisasi yang hanya dihuni oleh orang-orang yang sepakat dengan pemimpin, adalah organisasi yang sedang menuju kemunduran. Karena kemajuan selalu lahir dari perbedaan pandangan. Di era revolusi teknologi saat ini, kepemimpinan yang efektif, bukan lagi kepemimpinan yang menuntut kepatuhan mutlak. Ia adalah kepemimpinan yang mampu mendengarkan, belajar, dan beradaptasi.

Pemimpin yang bijak, tentunya tidak merasa terancam oleh kecerdasan generasi muda. Ia justru menjadikannya sebagai energi baru bagi organisasi. Sebaliknya, pemimpin yang merasa dirinya paling benar, biasanya sedang mempercepat proses kemunduran institusi yang ia pimpin. Karena sejarah selalu mengajarkan satu hal sederhana: kesombongan intelektual adalah awal dari kebangkrutan kepemimpinan.

Sejarah telah berkali-kali memperlihatkan satu kenyataan sederhana,
yang menolak perubahan bukanlah yang paling bijak, melainkan yang paling takut kehilangan kenyamanan. Dan sering kali, kebodohan paling berbahaya, bukanlah tidak tahu apa-apa. Melainkan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Usia boleh senja. Jabatan boleh tinggi. Pengalaman boleh panjang. Tetapi jika seseorang berhenti belajar, menutup telinga dari kritik, dan merasa dirinya paling mengetahui segala hal, maka sebenarnya ia sedang memperlihatkan satu hal yang paling berbahaya dalam dunia kepemimpinan: kebodohan yang tidak disadari. Dan kebodohan semacam itulah yang paling sulit disembuhkan.

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel david vs goliath kebijaksanaan usia
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Peningkatan Layanan Peradilan Berbasis It: Potensi Pemanfaatan Dan Tantangan Akuntabilitas


24 April 2026 • 22:40 WIB

39 Tahun Tenggelamnya KM Sahabat II : Sebuah Refleksi Peringatan HUT ke-73 IKAHI di Larantuka

24 April 2026 • 19:23 WIB

Menafsirkan Ketentuan Pemeriksaan yang Dibuka Kembali dalam KUHAP Baru

23 April 2026 • 19:39 WIB
Demo
Top Posts

Peningkatan Layanan Peradilan Berbasis It: Potensi Pemanfaatan Dan Tantangan Akuntabilitas


24 April 2026 • 22:40 WIB

Kedudukan dan Model Peradilan Militer di India

24 April 2026 • 21:00 WIB

Persidangan Hibrida dan Perlindungan Data: Dua Pilar Krusial Sistem Peradilan Digital Indonesia-India

24 April 2026 • 20:02 WIB

Direktur National Judicial Academy India Sambut Delegasi Hakim Indonesia: “Kita Bukan Hanya Mengajar, Kita Belajar Bersama”

24 April 2026 • 19:51 WIB
Don't Miss

Peningkatan Layanan Peradilan Berbasis It: Potensi Pemanfaatan Dan Tantangan Akuntabilitas


By Andi Akram24 April 2026 • 22:40 WIB0

Transformasi digital dalam peradilan bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan yang tak terelakkan. Di berbagai…

Kedudukan dan Model Peradilan Militer di India

24 April 2026 • 21:00 WIB

Persidangan Hibrida dan Perlindungan Data: Dua Pilar Krusial Sistem Peradilan Digital Indonesia-India

24 April 2026 • 20:02 WIB

Direktur National Judicial Academy India Sambut Delegasi Hakim Indonesia: “Kita Bukan Hanya Mengajar, Kita Belajar Bersama”

24 April 2026 • 19:51 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Peningkatan Layanan Peradilan Berbasis It: Potensi Pemanfaatan Dan Tantangan Akuntabilitas

  • Kedudukan dan Model Peradilan Militer di India
  • Persidangan Hibrida dan Perlindungan Data: Dua Pilar Krusial Sistem Peradilan Digital Indonesia-India
  • Direktur National Judicial Academy India Sambut Delegasi Hakim Indonesia: “Kita Bukan Hanya Mengajar, Kita Belajar Bersama”
  • Hari Pertama Short Course Hakim di India: Dari Bicara Struktur Organisasi Sampai Kemandirian Anggaran Peradilan

Recent Comments

  1. vidalista tablets side effects on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
  2. cenforce d on Fenomena The Blue Wall of Silence dan Upaya Membangun the Wall of Integrity: Belajar dari Kasus di Mahkamah Agung dan Kementerian Keuangan
  3. vidalista 40mg tablets on Kerahasiaan Perkara Perceraian: Mengkaji Ulang Anonimisasi Putusan
  4. vidalista 10 on Fenomena The Blue Wall of Silence dan Upaya Membangun the Wall of Integrity: Belajar dari Kasus di Mahkamah Agung dan Kementerian Keuangan
  5. cialis peak time on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.