Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Ketika Kode Etik Diuji: Hakim dan Taruhan Integritas dalam Perkara Lingkungan Hidup

8 August 2026 • 09:26 WIB

BATNA & WATNA: Mendorong Keputusan Rasional dalam Proses Mediasi

7 August 2026 • 23:08 WIB

Mengupas Prinsip-Prinsip Hukum Lingkungan Internasional dan Implementasinya di Indonesia

7 August 2026 • 21:59 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » David Versus Goliath: Ketika Usia Tidak Lagi Menjamin Kebijaksanaan

David Versus Goliath: Ketika Usia Tidak Lagi Menjamin Kebijaksanaan

Khoiruddin HasibuanKhoiruddin Hasibuan7 March 2026 • 17:02 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Di banyak organisasi, baik pemerintahan, lembaga peradilan, maupun institusi sosial, sering kita temukan satu fenomena yang hampir selalu berulang: seseorang yang telah berusia senja merasa dirinya paling mengetahui segala hal. Ia merasa pengalamannya yang panjang adalah legitimasi mutlak untuk memonopoli kebenaran. Dalam pandangannya, usia identik dengan kebijaksanaan, masa jabatan identik dengan otoritas intelektual.

Masalahnya, tidak semua pengalaman melahirkan kebijaksanaan. Kadang-kadang pengalaman justru membangun tembok kesombongan, yang membuat seseorang tidak lagi mampu belajar.

Kita hidup dalam era Artificial Intelligence, Internet of Things, dan Revolusi Industri 5.0, di mana pengetahuan berkembang secara eksponensial. Informasi tidak lagi dimonopoli oleh mereka yang paling tua, atau paling lama menjabat. Anak muda hari ini, dapat mengakses pengetahuan global dalam hitungan detik. Dalam situasi seperti itu, mengandalkan pengalaman masa lalu tanpa kemauan belajar hal baru, sama saja dengan memimpin kendaraan modern menggunakan peta kuno. Sejarah bahkan telah berkali-kali menunjukkan, bahwa usia bukanlah ukuran mutlak bagi kecerdasan atau keberanian.

Orang yang merasa paling pintar, sering kali tidak menyadari satu hal mendasar: bahwa dirinya sebenarnya sedang terjebak dalam kebodohan yang tidak ia sadari. Dalam psikologi modern, fenomena ini sering dijelaskan melalui efek Dunning–Kruger, yakni kondisi ketika seseorang yang memiliki kompetensi rendah, justru memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi terhadap pengetahuannya.

Ia merasa paling memahami persoalan, paling berpengalaman dalam memimpin, paling mengerti bagaimana sebuah organisasi harus dijalankan. Namun pada saat yang sama, ia gagal melihat perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.

Akibatnya, ketika muncul generasi yang lebih muda, yang memiliki kapasitas intelektual lebih kuat, lebih terbuka terhadap pengetahuan baru, dan lebih memahami dinamika dunia modern, ia justru merasa terancam.

Anak-anak muda yang kritis, dianggap tidak tahu apa-apa. Mereka dituduh tidak memiliki sopan santun. Mereka dilabeli sebagai pembangkang. Sebagian, bahkan dituduh sebagai penghambat organisasi. Padahal, kritik yang mereka sampaikan, sering kali lahir dari kecintaan terhadap institusi yang mereka bela.

Ironisnya, orang yang merasa paling bijaksana itu, justru tidak menyadari bahwa cara berpikirnya telah tertinggal jauh di belakang zaman. Ia memimpin dengan paradigma masa lalu, sebuah model kepemimpinan yang lahir dari era birokrasi tertutup, otoritarian, dan anti kritik. Padahal dunia hari ini telah berubah.

Selain itu, biasanya orang yang merasa paling bijak itu, justru dikelilingi oleh orang-orang yang mempraktikkan satu prinsip klasik: asal bapak senang. Mereka menyajikan data yang menyenangkan, laporan yang indah, statistik yang tampak meyakinkan. Semua terlihat stabil, semua tampak baik-baik saja. Tidak ada masalah besar. Tidak ada kegagalan yang perlu dibicarakan.

Namun, data yang terlalu menyenangkan, sering kali bukan cermin realitas, melainkan ilusi yang dirancang untuk menjaga kenyamanan kekuasaan. Tanpa disadari, orang-orang di sekitarnya, sedang memainkan permainan yang jauh lebih pragmatis. Mereka tahu bahwa selama sang pemimpin merasa benar, selama ia merasa dihormati, selama ia tidak diganggu dengan kritik yang mengusik kenyamanannya, maka posisi mereka aman.

Di balik wajah loyalitas itu, ada kepentingan. Ada keuntungan yang terus mengalir. Ada fasilitas yang dipertahankan. Ada jabatan yang ingin terus dijaga dan diwariskan ke anak cucu maupun kolega-kolega.

Baca Juga  BSDK Leading Sector yang Siap Majukan MA

Sementara itu, setiap suara kritis dari generasi muda, dianggap sebagai gangguan yang harus dibungkam. Bukan karena kritik itu salah, tetapi karena kritik itu berbahaya bagi kenyamanan. Sering kali, di balik sikap keras terhadap generasi muda, tersembunyi satu ketakutan yang jarang diakui: takut digantikan.

Takut, bahwa suatu hari nanti organisasi akan menyadari, bahwa dunia telah berubah. Takut, bahwa generasi baru memiliki energi, keberanian, dan pemahaman yang lebih relevan terhadap zaman. Takut, bahwa cara memimpin yang dulu efektif, kini justru menjadi penghambat kemajuan. Padahal, sejarah telah berulang kali menunjukkan, bahwa usia bukan jaminan kemenangan, dan pengalaman panjang bukan jaminan kebenaran.

Dalam Perang Khandaq, misalnya, ada satu duel, yang menjadi pelajaran besar dalam sejarah Islam. Ketika pasukan musyrik menantang duel satu lawan satu, tampil seorang prajurit legendaris: Amr ibn Abd Wudd.

Ia bukan sembarang petarung. Namanya dikenal di seluruh Jazirah Arab. Konon, selama hidupnya ia tidak pernah kalah dalam duel. Ketika perang Khandaq terjadi, usianya telah mencapai sekitar delapan puluh dua tahun, seorang veteran yang reputasinya begitu menakutkan sehingga banyak orang gentar menghadapi tantangannya. Riwayat-riwayat bahkan menggambarkan kekuatannya dengan sangat dahsyat: pukulannya disebut mampu membunuh seekor kuda dalam sekali hantam.

Di hadapan reputasi sebesar itu, hampir tidak ada yang berani maju. Namun, dari barisan kaum Muslimin, muncul seorang pemuda berusia sekitar dua puluhan: Ali ibn Abi Talib.

Secara pengalaman duel, ia tidak sebanding dengan Amr. Secara usia, jaraknya seperti dua generasi. Tetapi keberanian, ketajaman akal, dan keyakinannya, membuatnya maju menghadapi sang legenda perang itu. Duel tersebut tercatat sebagai duel yang satu lawan satu yang paling lama dalam sejarah, yang berakhir dengan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan banyak orang saat itu:  Pemuda “ingusan” itu mengalahkan sang legenda perang.

Kisah ini bukan sekadar cerita kepahlawanan. Ia adalah pelajaran besar, bahwa keunggulan tidak selalu datang dari usia tua, atau pengalaman panjang. Kadang justru lahir dari keberanian generasi muda, yang memiliki visi lebih tajam. Kisah ini tidak sekadar tentang duel. Ia adalah simbol bahwa keberanian, ketajaman akal, dan kejernihan visi tidak selalu lahir dari usia yang paling tua.

Hal serupa bahkan telah terjadi jauh sebelum itu, dalam kisah yang dikenal luas dalam tradisi Abrahamik: pertempuran antara David (Daud) dan Goliath (Jalut).

Goliath adalah raksasa perang yang berpengalaman, lengkap dengan senjata berat dan reputasi menakutkan. Ia adalah simbol kekuatan lama, yang tampak tak terkalahkan. Sementara David, hanyalah seorang pemuda yang bahkan belum dianggap sebagai prajurit sejati.

Namun, yang menentukan bukanlah ukuran tubuh, melainkan kecerdasan membaca situasi. David tidak melawan dengan cara lama. Ia menggunakan strategi yang berbeda, ketapel sederhana yang justru mengubah seluruh medan pertempuran.

Goliath kalah bukan karena ia lemah, tetapi karena ia terlalu percaya diri dengan cara lama. Di sinilah pelajaran besar bagi banyak organisasi hari ini.

Baca Juga  "Dilema Neptunus: Benarkah Tuan Rumah Tak Boleh Berunding dengan Pencemar?"

Banyak pemimpin senior yang merasa seperti Amr bin Wudd atau Goliath (Jalut), tokoh besar dengan pengalaman panjang dan reputasi yang menakutkan. Namun mereka lupa bahwa dunia tidak lagi bertarung di medan yang sama.

Pertempuran hari ini bukan lagi tentang kekuatan otot, atau panjangnya pengalaman masa lalu. Ia tentang kecepatan membaca perubahan, kemampuan memahami teknologi, keberanian mengoreksi sistem lama, dan kesiapan menerima kritik.

Ketika seorang pemimpin menolak mendengar suara generasi muda, sebenarnya ia bukan sedang menjaga wibawa. Ia sedang menutup pintu terhadap masa depan.

Dua kisah ini, Ali melawan Amru bin Wudd, dan Daud melawan Goliath, memberikan pesan yang sama: kekuatan tidak selalu berada pada mereka yang paling tua, paling berpengalaman, atau paling lama berkuasa. Sering kali justru lahir dari mereka yang memiliki keberanian berpikir berbeda.

Sayangnya, dalam banyak organisasi modern, kisah-kisah semacam ini justru sering dilupakan. Generasi tua yang merasa dirinya paling berpengalaman, kadang menutup pintu bagi gagasan baru. Kritik dianggap ancaman. Pertanyaan, saran dan masukan dianggap suatu yang melanggar etika kesopanan, bahkan dianggap suatu pembangkangan. Perbedaan pandangan dianggap sebagai sikap tidak loyal. Padahal organisasi yang sehat justru hidup dari kritik.

Institusi yang besar, tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu mengatakan “ya” kepada pemimpin, melainkan oleh mereka yang berani mengatakan “tidak,” ketika kebijakan berjalan ke arah yang salah. Anak-anak muda yang kritis, bukanlah ancaman. Mereka adalah alarm bagi organisasi, agar tidak berjalan menuju kebuntuan. Justru ketika organisasi dipenuhi oleh orang-orang yang takut mengkritik, saat itulah institusi tersebut mulai mengalami stagnasi.

Sebuah organisasi yang hanya dihuni oleh orang-orang yang sepakat dengan pemimpin, adalah organisasi yang sedang menuju kemunduran. Karena kemajuan selalu lahir dari perbedaan pandangan. Di era revolusi teknologi saat ini, kepemimpinan yang efektif, bukan lagi kepemimpinan yang menuntut kepatuhan mutlak. Ia adalah kepemimpinan yang mampu mendengarkan, belajar, dan beradaptasi.

Pemimpin yang bijak, tentunya tidak merasa terancam oleh kecerdasan generasi muda. Ia justru menjadikannya sebagai energi baru bagi organisasi. Sebaliknya, pemimpin yang merasa dirinya paling benar, biasanya sedang mempercepat proses kemunduran institusi yang ia pimpin. Karena sejarah selalu mengajarkan satu hal sederhana: kesombongan intelektual adalah awal dari kebangkrutan kepemimpinan.

Sejarah telah berkali-kali memperlihatkan satu kenyataan sederhana,
yang menolak perubahan bukanlah yang paling bijak, melainkan yang paling takut kehilangan kenyamanan. Dan sering kali, kebodohan paling berbahaya, bukanlah tidak tahu apa-apa. Melainkan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Usia boleh senja. Jabatan boleh tinggi. Pengalaman boleh panjang. Tetapi jika seseorang berhenti belajar, menutup telinga dari kritik, dan merasa dirinya paling mengetahui segala hal, maka sebenarnya ia sedang memperlihatkan satu hal yang paling berbahaya dalam dunia kepemimpinan: kebodohan yang tidak disadari. Dan kebodohan semacam itulah yang paling sulit disembuhkan.

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel david vs goliath kebijaksanaan usia
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Dapatkah Pemeriksaan Setempat Menjadi Bagian dari Mediasi di Pengadilan?

5 August 2026 • 09:59 WIB

Pertanggungjawaban Pidana dalam KUHP Nasional: Menentukan Batas Kesalahan dan Keadilan dalam Pemidanaan

5 August 2026 • 09:47 WIB

Urgensi Penggunaan Terminologi Hukum Berbahasa Inggris dalam Dokumen Pengadilan di Era Globalisasi

5 August 2026 • 09:34 WIB
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Dari Monitoring Hingga Titik Nol: Sebuah Perjalanan Tentang Pengabdian

30 July 2026 • 15:00 WIB

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

27 July 2026 • 12:12 WIB

Menepi Sejenak di Tambak Bandeng

11 July 2026 • 09:06 WIB

Prediksi Juara World Cup 2026 Dari Pusdiklat Menpim

6 July 2026 • 21:16 WIB
Don't Miss

Ketika Kode Etik Diuji: Hakim dan Taruhan Integritas dalam Perkara Lingkungan Hidup

By Dahlan Suherlan8 August 2026 • 09:26 WIB0

Pelatihan Sertifikasi Lingkungan Hidup bagi hakim lintas peradilan angkatan XXIII pada Jumat, 7 Agustus 2026…

BATNA & WATNA: Mendorong Keputusan Rasional dalam Proses Mediasi

7 August 2026 • 23:08 WIB

Mengupas Prinsip-Prinsip Hukum Lingkungan Internasional dan Implementasinya di Indonesia

7 August 2026 • 21:59 WIB

Kunci Mediasi Adil: Teknik Mediator Seimbangkan Kekuatan Para Pihak

7 August 2026 • 21:55 WIB
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Ketika Kode Etik Diuji: Hakim dan Taruhan Integritas dalam Perkara Lingkungan Hidup
  • BATNA & WATNA: Mendorong Keputusan Rasional dalam Proses Mediasi
  • Mengupas Prinsip-Prinsip Hukum Lingkungan Internasional dan Implementasinya di Indonesia
  • Kunci Mediasi Adil: Teknik Mediator Seimbangkan Kekuatan Para Pihak
  • Mempermudah Mediasi: Perangkat Diagnostik Bantu Mediator Fasilitasi Perdamaian

Recent Comments

  1. AI API Directory on Sistem Pembuktian KUHAP 2025: Dr. Chairul Huda Tegaskan Hakim Harus Berani Menolak Alat Bukti Ilegal
  2. Syihabuddin on Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim
  3. Sub2API AI Proxy Directory on Membuat “Roadmap” Dalam Meniti Karir Asn Dengan Menggali Potensi Individu
  4. Ahmad on Anak yang Tak Ikut Mutasi
  5. Isty on Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Dr. Satria Perdana, S.H., M.H.
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.