Di banyak organisasi, baik pemerintahan, lembaga peradilan, maupun institusi sosial, sering kita temukan satu fenomena yang hampir selalu berulang: seseorang yang telah berusia senja merasa dirinya paling mengetahui segala hal. Ia merasa pengalamannya yang panjang adalah legitimasi mutlak untuk memonopoli kebenaran. Dalam pandangannya, usia identik dengan kebijaksanaan, masa jabatan identik dengan otoritas intelektual.
Masalahnya, tidak semua pengalaman melahirkan kebijaksanaan. Kadang-kadang pengalaman justru membangun tembok kesombongan, yang membuat seseorang tidak lagi mampu belajar.
Kita hidup dalam era Artificial Intelligence, Internet of Things, dan Revolusi Industri 5.0, di mana pengetahuan berkembang secara eksponensial. Informasi tidak lagi dimonopoli oleh mereka yang paling tua, atau paling lama menjabat. Anak muda hari ini, dapat mengakses pengetahuan global dalam hitungan detik. Dalam situasi seperti itu, mengandalkan pengalaman masa lalu tanpa kemauan belajar hal baru, sama saja dengan memimpin kendaraan modern menggunakan peta kuno. Sejarah bahkan telah berkali-kali menunjukkan, bahwa usia bukanlah ukuran mutlak bagi kecerdasan atau keberanian.
Orang yang merasa paling pintar, sering kali tidak menyadari satu hal mendasar: bahwa dirinya sebenarnya sedang terjebak dalam kebodohan yang tidak ia sadari. Dalam psikologi modern, fenomena ini sering dijelaskan melalui efek Dunning–Kruger, yakni kondisi ketika seseorang yang memiliki kompetensi rendah, justru memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi terhadap pengetahuannya.
Ia merasa paling memahami persoalan, paling berpengalaman dalam memimpin, paling mengerti bagaimana sebuah organisasi harus dijalankan. Namun pada saat yang sama, ia gagal melihat perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.
Akibatnya, ketika muncul generasi yang lebih muda, yang memiliki kapasitas intelektual lebih kuat, lebih terbuka terhadap pengetahuan baru, dan lebih memahami dinamika dunia modern, ia justru merasa terancam.
Anak-anak muda yang kritis, dianggap tidak tahu apa-apa. Mereka dituduh tidak memiliki sopan santun. Mereka dilabeli sebagai pembangkang. Sebagian, bahkan dituduh sebagai penghambat organisasi. Padahal, kritik yang mereka sampaikan, sering kali lahir dari kecintaan terhadap institusi yang mereka bela.
Ironisnya, orang yang merasa paling bijaksana itu, justru tidak menyadari bahwa cara berpikirnya telah tertinggal jauh di belakang zaman. Ia memimpin dengan paradigma masa lalu, sebuah model kepemimpinan yang lahir dari era birokrasi tertutup, otoritarian, dan anti kritik. Padahal dunia hari ini telah berubah.
Selain itu, biasanya orang yang merasa paling bijak itu, justru dikelilingi oleh orang-orang yang mempraktikkan satu prinsip klasik: asal bapak senang. Mereka menyajikan data yang menyenangkan, laporan yang indah, statistik yang tampak meyakinkan. Semua terlihat stabil, semua tampak baik-baik saja. Tidak ada masalah besar. Tidak ada kegagalan yang perlu dibicarakan.
Namun, data yang terlalu menyenangkan, sering kali bukan cermin realitas, melainkan ilusi yang dirancang untuk menjaga kenyamanan kekuasaan. Tanpa disadari, orang-orang di sekitarnya, sedang memainkan permainan yang jauh lebih pragmatis. Mereka tahu bahwa selama sang pemimpin merasa benar, selama ia merasa dihormati, selama ia tidak diganggu dengan kritik yang mengusik kenyamanannya, maka posisi mereka aman.
Di balik wajah loyalitas itu, ada kepentingan. Ada keuntungan yang terus mengalir. Ada fasilitas yang dipertahankan. Ada jabatan yang ingin terus dijaga dan diwariskan ke anak cucu maupun kolega-kolega.
Sementara itu, setiap suara kritis dari generasi muda, dianggap sebagai gangguan yang harus dibungkam. Bukan karena kritik itu salah, tetapi karena kritik itu berbahaya bagi kenyamanan. Sering kali, di balik sikap keras terhadap generasi muda, tersembunyi satu ketakutan yang jarang diakui: takut digantikan.
Takut, bahwa suatu hari nanti organisasi akan menyadari, bahwa dunia telah berubah. Takut, bahwa generasi baru memiliki energi, keberanian, dan pemahaman yang lebih relevan terhadap zaman. Takut, bahwa cara memimpin yang dulu efektif, kini justru menjadi penghambat kemajuan. Padahal, sejarah telah berulang kali menunjukkan, bahwa usia bukan jaminan kemenangan, dan pengalaman panjang bukan jaminan kebenaran.
Dalam Perang Khandaq, misalnya, ada satu duel, yang menjadi pelajaran besar dalam sejarah Islam. Ketika pasukan musyrik menantang duel satu lawan satu, tampil seorang prajurit legendaris: Amr ibn Abd Wudd.
Ia bukan sembarang petarung. Namanya dikenal di seluruh Jazirah Arab. Konon, selama hidupnya ia tidak pernah kalah dalam duel. Ketika perang Khandaq terjadi, usianya telah mencapai sekitar delapan puluh dua tahun, seorang veteran yang reputasinya begitu menakutkan sehingga banyak orang gentar menghadapi tantangannya. Riwayat-riwayat bahkan menggambarkan kekuatannya dengan sangat dahsyat: pukulannya disebut mampu membunuh seekor kuda dalam sekali hantam.
Di hadapan reputasi sebesar itu, hampir tidak ada yang berani maju. Namun, dari barisan kaum Muslimin, muncul seorang pemuda berusia sekitar dua puluhan: Ali ibn Abi Talib.
Secara pengalaman duel, ia tidak sebanding dengan Amr. Secara usia, jaraknya seperti dua generasi. Tetapi keberanian, ketajaman akal, dan keyakinannya, membuatnya maju menghadapi sang legenda perang itu. Duel tersebut tercatat sebagai duel yang satu lawan satu yang paling lama dalam sejarah, yang berakhir dengan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan banyak orang saat itu: Pemuda “ingusan” itu mengalahkan sang legenda perang.
Kisah ini bukan sekadar cerita kepahlawanan. Ia adalah pelajaran besar, bahwa keunggulan tidak selalu datang dari usia tua, atau pengalaman panjang. Kadang justru lahir dari keberanian generasi muda, yang memiliki visi lebih tajam. Kisah ini tidak sekadar tentang duel. Ia adalah simbol bahwa keberanian, ketajaman akal, dan kejernihan visi tidak selalu lahir dari usia yang paling tua.
Hal serupa bahkan telah terjadi jauh sebelum itu, dalam kisah yang dikenal luas dalam tradisi Abrahamik: pertempuran antara David (Daud) dan Goliath (Jalut).
Goliath adalah raksasa perang yang berpengalaman, lengkap dengan senjata berat dan reputasi menakutkan. Ia adalah simbol kekuatan lama, yang tampak tak terkalahkan. Sementara David, hanyalah seorang pemuda yang bahkan belum dianggap sebagai prajurit sejati.
Namun, yang menentukan bukanlah ukuran tubuh, melainkan kecerdasan membaca situasi. David tidak melawan dengan cara lama. Ia menggunakan strategi yang berbeda, ketapel sederhana yang justru mengubah seluruh medan pertempuran.
Goliath kalah bukan karena ia lemah, tetapi karena ia terlalu percaya diri dengan cara lama. Di sinilah pelajaran besar bagi banyak organisasi hari ini.
Banyak pemimpin senior yang merasa seperti Amr bin Wudd atau Goliath (Jalut), tokoh besar dengan pengalaman panjang dan reputasi yang menakutkan. Namun mereka lupa bahwa dunia tidak lagi bertarung di medan yang sama.
Pertempuran hari ini bukan lagi tentang kekuatan otot, atau panjangnya pengalaman masa lalu. Ia tentang kecepatan membaca perubahan, kemampuan memahami teknologi, keberanian mengoreksi sistem lama, dan kesiapan menerima kritik.
Ketika seorang pemimpin menolak mendengar suara generasi muda, sebenarnya ia bukan sedang menjaga wibawa. Ia sedang menutup pintu terhadap masa depan.
Dua kisah ini, Ali melawan Amru bin Wudd, dan Daud melawan Goliath, memberikan pesan yang sama: kekuatan tidak selalu berada pada mereka yang paling tua, paling berpengalaman, atau paling lama berkuasa. Sering kali justru lahir dari mereka yang memiliki keberanian berpikir berbeda.
Sayangnya, dalam banyak organisasi modern, kisah-kisah semacam ini justru sering dilupakan. Generasi tua yang merasa dirinya paling berpengalaman, kadang menutup pintu bagi gagasan baru. Kritik dianggap ancaman. Pertanyaan, saran dan masukan dianggap suatu yang melanggar etika kesopanan, bahkan dianggap suatu pembangkangan. Perbedaan pandangan dianggap sebagai sikap tidak loyal. Padahal organisasi yang sehat justru hidup dari kritik.
Institusi yang besar, tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu mengatakan “ya” kepada pemimpin, melainkan oleh mereka yang berani mengatakan “tidak,” ketika kebijakan berjalan ke arah yang salah. Anak-anak muda yang kritis, bukanlah ancaman. Mereka adalah alarm bagi organisasi, agar tidak berjalan menuju kebuntuan. Justru ketika organisasi dipenuhi oleh orang-orang yang takut mengkritik, saat itulah institusi tersebut mulai mengalami stagnasi.
Sebuah organisasi yang hanya dihuni oleh orang-orang yang sepakat dengan pemimpin, adalah organisasi yang sedang menuju kemunduran. Karena kemajuan selalu lahir dari perbedaan pandangan. Di era revolusi teknologi saat ini, kepemimpinan yang efektif, bukan lagi kepemimpinan yang menuntut kepatuhan mutlak. Ia adalah kepemimpinan yang mampu mendengarkan, belajar, dan beradaptasi.
Pemimpin yang bijak, tentunya tidak merasa terancam oleh kecerdasan generasi muda. Ia justru menjadikannya sebagai energi baru bagi organisasi. Sebaliknya, pemimpin yang merasa dirinya paling benar, biasanya sedang mempercepat proses kemunduran institusi yang ia pimpin. Karena sejarah selalu mengajarkan satu hal sederhana: kesombongan intelektual adalah awal dari kebangkrutan kepemimpinan.
Sejarah telah berkali-kali memperlihatkan satu kenyataan sederhana,
yang menolak perubahan bukanlah yang paling bijak, melainkan yang paling takut kehilangan kenyamanan. Dan sering kali, kebodohan paling berbahaya, bukanlah tidak tahu apa-apa. Melainkan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Usia boleh senja. Jabatan boleh tinggi. Pengalaman boleh panjang. Tetapi jika seseorang berhenti belajar, menutup telinga dari kritik, dan merasa dirinya paling mengetahui segala hal, maka sebenarnya ia sedang memperlihatkan satu hal yang paling berbahaya dalam dunia kepemimpinan: kebodohan yang tidak disadari. Dan kebodohan semacam itulah yang paling sulit disembuhkan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


