Rendahnya minat baca dan kemampuan literasi masyarakat Indonesia lainnya, menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bahkan menurut riset yang dilakukan lembaga internasional, Indonesia hanya menempati peringkat ke 63 dari 81 negara.
Tingginya minat baca dan peningkatan literasi lainnya, menunjukan sebuah negara tergolong sebagai negara maju atau sedang bergerak menuju kemajuan.
Ambil contoh India, yang terus meningkatkan kemampuan di berbagai sektor menuju negara maju, di mana mampu meraih salah satu peringkat tertinggi di dunia dalam penilaian dimaksud.
Bahkan menurut data yang diterbitkan world population review 2025, India berada di peringkat kedua dunia yang rata-rata setiap warganya menghabiskan waktu 352 jam per tahun.
Selain itu, 60 persen dari generasi z dan milenialnya akrab dengan buku baik cetak maupun elektronik.
Secara praktik, hal tersebut dibenarkan oleh penulis yang berkesempatan mengunjungi Madhya Paradesh High Court, di mana kunjungan tidak hanya berfokus pada ruang sidang dan tempat pengelolaan administrasi perkara.
Para Hakim dan aparatur peradilan diajak juga mengunjungi perpustakaan Madhya Paradesh High Court.
Penulis kaget, sekaligus kagum atas apa yang dilihat ketika memasuki perpustakaan pengadilan tinggi dimaksud.
Bukan hanya beragam buku yang berjajar di lemari perpustakaan, penulis melihat banyak lawyer yang masih menggunakan toga, membaca buku yang terdapat di sana.
Terdapat juga, lawyer yang menyesuaikan dokumen pendapatnya/pembelaan yang akan diajukannya ke pengadilan, dengan beragam buku yang terdapat di perpustakaan Madhya Paradesh High Court.
Bahkan berdasarkan hasil wawancara penulis dengan administratur perpustakaan Madhya Paradesh High Court, di mana jumlah pengunjung antara 200 orang setiap harinya.
Pemandangan tersebut, jelas berbeda dengan kebanyakan lawyer di pengadilan Indonesia saat menunggu waktu sidang, yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengobrol di ruang tunggu atau kantin pengadilan.
Sebagai informasi, buku yang dihadirkan dalam perpustakaan Madhya Paradesh High Court, bukan hanya buku hukum dan aturan perundang-undangan, terdapat juga resume atas putusan pengadilan di berbagai negara bagian.
Dengan demikian, beragam perspektif dan pengetahuan dapat dipelajari dari ragam putusan yang dapat mudah diakses, tanpa harus pergi jauh ke negara bagian lainnya untuk mencari referensi.
Kondisi yang terjadi di India, dapat dijadikan pembelajaran bagi pengelolaan perpustakaan di lembaga peradilan yang berada dibawah Mahkamah Agung RI.
Semoga melalui pengadilan, peningkatan literasi dan minat baca masyarakat Indonesia dapat ditingkatkan. Dengan demikian, negara dapat bergerak maju lebih cepat karena pengetahuan lebih dekat dengan kehidupan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


