Perjalanan dari Jabalpur kembali menuju Bhopal ternyata bukan sekadar perjalanan pulang. Ia menjadi babak lanjutan dari pengalaman darat yang sulit dilupakan oleh delegasi Mahkamah Agung Republik Indonesia selama mengikuti kegiatan di India. Jika perjalanan dari Bhopal ke Jabalpur sebelumnya telah terasa seperti “roller coaster” darat, maka perjalanan kembali dari Jabalpur ke Bhopal memberikan sensasi yang tidak kalah mendebarkan sebagaimana catatan sebelumnya dalam tulisan kontributor BSDK dengan judul Catatan Perjalanan: Dari Bhopal ke Jabalpur, “Roller Coaster” Darat Menuju Madhya Pradesh High Court Suara BSDK Berita sebuah perjalanan yang membuat setiap orang semakin sering bertasbih, bertahmid, dan beristigfar dalam hati.
Sejak meninggalkan Jabalpur, rombongan kembali dihadapkan pada wajah jalan raya India yang penuh kejutan. Jalan yang tidak rata, kendaraan yang melaju cepat, klakson yang tidak henti-henti berbunyi, serta lalu lintas yang tampak bergerak dengan logikanya sendiri membuat perjalanan ini terasa seperti latihan panjang tentang kesabaran, keberanian, dan kepasrahan. Di beberapa titik, badan kendaraan berguncang keras ketika melewati permukaan jalan yang bergelombang. Kadang laju kendaraan tiba-tiba melambat, lalu kembali melesat, seolah-olah jalan raya adalah panggung besar tempat semua kendaraan berlomba menunjukkan keberanian.
Pemandangan yang paling membuat dada berdebar adalah ketika sepeda motor terlihat masuk ke jalur tol tanpa pengendara yang menggunakan helm. Situasi itu menjadi semakin dramatis ketika beberapa pengendara motor tampak melawan arah, bahkan ada yang membawa penumpang hingga empat orang. Bagi delegasi yang terbiasa dengan aturan lalu lintas di Indonesia, pemandangan tersebut jelas menimbulkan rasa waswas. Setiap kali kendaraan berpapasan terlalu dekat, setiap kali motor muncul dari arah yang tidak terduga, dan setiap kali mobil lain menyusul dengan manuver tajam, kalimat-kalimat zikir terasa menjadi refleks batin yang paling jujur.
Tidak hanya motor, kendaraan roda empat pun tidak kalah mengejutkan. Beberapa mobil melaju dengan gaya ugal-ugalan, menyusul dari sisi yang sulit diperkirakan, berpindah jalur dengan cepat, dan seolah-olah menjadikan klakson sebagai bahasa utama di jalan. Di India, klakson tampak bukan sekadar alat peringatan, melainkan bagian dari komunikasi sosial di jalan raya. Ia berbunyi hampir tanpa jeda: saat menyusul, saat memberi tanda, saat meminta ruang, bahkan mungkin saat sekadar memastikan bahwa kendaraan lain sadar akan keberadaannya.
Di tengah suasana itu, rombongan juga melihat salah satu karakter khas jalan raya di India: tidak adanya pembatas yang benar-benar tegas antara kawasan permukiman, kampung, dan jalan besar. Kondisi tersebut memungkinkan berbagai aktivitas masyarakat berada sangat dekat dengan arus kendaraan cepat. Bahkan, hewan seperti sapi dapat terlihat berjalan atau berada di sekitar jalan raya. Bagi masyarakat India, sapi memiliki kedudukan sosial dan kultural yang khas. Namun bagi delegasi yang sedang berada di dalam kendaraan dengan kecepatan tinggi, kehadiran sapi di sekitar jalan tol atau jalan besar tentu menambah daftar alasan untuk terus menyebut nama Allah.
Maka, perjalanan itu berubah menjadi ruang kontemplasi. Di satu sisi, mata melihat realitas lalu lintas yang penuh risiko. Di sisi lain, hati justru belajar membaca tanda-tanda kehidupan. Betapa tipis jarak antara aman dan bahaya. Betapa kecil manusia ketika berada di tengah jalan panjang, kendaraan cepat, cuaca panas, dan keadaan yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan. Pada saat seperti itu, manusia kembali menyadari bahwa keselamatan bukan hanya hasil dari keterampilan pengemudi atau kekuatan kendaraan, melainkan juga bagian dari rahmat Tuhan yang senantiasa menjaga hamba-Nya.
Sepanjang perjalanan, kalimat tasbih, tahmid, dan istigfar seperti menjadi teman paling setia. “Subhanallah” terucap ketika menyaksikan pemandangan yang mencengangkan. “Alhamdulillah” hadir setiap kali rombongan berhasil melewati titik-titik rawan dengan selamat. “Astaghfirullah” muncul ketika rasa takut menyelinap di antara guncangan kendaraan dan suara klakson yang tidak pernah benar-benar berhenti. Dalam perjalanan itu, zikir bukan lagi sekadar bacaan, melainkan respons spontan dari jiwa yang sedang menyaksikan rapuhnya kehidupan.

Namun, di balik seluruh ketegangan itu, perjalanan dari Jabalpur ke Bhopal tetap menyimpan makna yang indah. Para delegasi justru merasa bersyukur karena diberikan kesempatan melihat langsung berbagai kondisi kehidupan di belahan dunia lain. Perjalanan ini membuka mata bahwa setiap negara memiliki realitas sosial, budaya, infrastruktur, dan kebiasaan publik yang berbeda. Apa yang bagi satu bangsa tampak biasa, bagi bangsa lain dapat terasa sangat mengejutkan. Dari sanalah pembelajaran muncul: bahwa perjalanan dinas bukan hanya tentang agenda resmi, ruang sidang, kunjungan kelembagaan, atau pertukaran pengetahuan hukum, tetapi juga tentang membaca kehidupan manusia secara lebih luas.
Kesempatan melihat India dari dekat menjadi pengalaman yang sangat berharga. India bukan hanya hadir melalui gedung pengadilan, akademi yudisial, protokol resmi, atau sambutan hangat para pejabatnya. India juga hadir melalui jalan rayanya yang ramai, suara klaksonnya yang khas, masyarakatnya yang bergerak cepat, dan pemandangan sehari-hari yang tidak selalu mudah dipahami dari kejauhan. Dari semua itu, delegasi belajar bahwa dunia terlalu luas untuk dinilai hanya dari satu sudut pandang.
Pengalaman ini mengingatkan pada firman Allah dalam Surah Al-Mulk ayat 15: “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu kembali setelah dibangkitkan.” Ayat ini memberikan pesan mendalam bahwa perjalanan di muka bumi bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan sarana untuk mengenal kebesaran Allah, mengambil pelajaran dari ciptaan-Nya, dan menyadari bahwa seluruh gerak manusia pada akhirnya kembali kepada-Nya.
Dengan demikian, perjalanan Jabalpur–Bhopal bukan hanya kisah tentang jalan yang tidak rata, motor tanpa helm, kendaraan yang melawan arah, mobil yang ugal-ugalan, klakson yang terus berbunyi, atau sapi yang mungkin saja berjalan di tengah jalur cepat. Lebih dari itu, perjalanan ini adalah catatan kecil tentang bagaimana manusia belajar merendah di hadapan Tuhan. Dalam guncangan kendaraan, dalam ketidakpastian jalan, dan dalam rasa takut yang sesekali muncul, para delegasi justru menemukan ruang untuk memperbanyak syukur.
Akhirnya, ketika rombongan kembali tiba dengan selamat di National Judicial Academy, Bhopal, rasa lega itu sulit digambarkan dengan kata-kata. Bukan sekadar lega karena perjalanan panjang telah selesai, melainkan karena Allah masih memberikan keselamatan, kesehatan, dan kesempatan untuk melanjutkan rangkaian kegiatan. Perjalanan itu mungkin melelahkan, menegangkan, bahkan sesekali membuat jantung bekerja lebih cepat dari biasanya. Akan tetapi, ia juga menjadi pengalaman yang menarik, berharga, dan sulit dilupakan.
Di ujung perjalanan, hanya satu kalimat yang paling pantas diucapkan: alhamdulillah. Bersyukur telah diberi kesempatan datang ke India. Bersyukur dapat melihat langsung berbagai kondisi di dunia. Bersyukur dapat mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Dan yang paling utama, bersyukur karena seluruh delegasi dapat kembali dengan selamat ke National Judicial Academy, Bhopal, untuk terus melanjutkan ikhtiar belajar, bekerja, dan mengagungkan nama-Nya melalui setiap perjalanan ilmu dan pengabdian.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


