Hari ini merupakan hari pertama bagi kami berempat: saya (Bima), Ranggi, Galang, dan Adji, mengikuti short course untuk hakim di National Judicial Academy (NJA – Pusdiklat Kehakiman India) yang terletak di Bhopal, Negara Bagian Madhya Pradesh, India yang akan dilaksanakan selama 5 hari sejak 24-28 April 2026. Setelah menyelesaikan kelas di hari pertama, kami memutuskan untuk menjelajahi kuliner jalanan (street food) di sekitar kota.

Foto (Kiri ke Kanan): Galang, Adji, Ranggi, Bima.
Pada malam hari, kami berjalan santai di depan DB City Mall sambil menikmati suasana kota yang cukup ramai. Di pinggir jalan, kami melihat seorang penjual minuman sederhana dengan gerobak kecil. Peralatan yang digunakan tampak sudah tua dan sedikit berkarat.

Dengan harga 20 rupee atau sekitar 4.000 rupiah, saya (Bima) memutuskan untuk mencoba Lemon Soda yang dijual di sana. Saat minuman tersebut disajikan, kami memperhatikan proses pembuatannya yang cukup sederhana. Penjual mencampurkan air soda dengan perasan lemon segar, lalu menambahkan sedikit garam dan gula. Meskipun alatnya terlihat kurang meyakinkan, rasanya ternyata sangat menyegarkan. Perpaduan rasa asam, manis, dan sensasi soda membuat minuman ini sangat cocok dinikmati di tengah cuaca panas malam hari India. Sayangnya, teman-teman saya yang lain tidak ada yang berani mencobanya.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kuliner dengan mencoba Panipuri, makanan jalanan yang cukup terkenal, bahkan di kalangan warganet Indonesia. Namun, kami menghadapi kendala komunikasi karena penjual tidak bisa berbahasa Inggris. Kami pun memanfaatkan bantuan kecerdasan buatan, yaitu ChatGPT yang ada di handphone Galang, untuk menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke Hindi dan sebaliknya. Dengan cara ini, kami dapat memesan makanan dengan lebih mudah serta tetap berinteraksi dengan penjual meskipun terbatas oleh bahasa.

Foto: Membeli Panipuri
Kami memesan satu porsi Panipuri yang berisi delapan buah dengan harga 50 rupee atau sekitar 10.000 rupiah. Penjual kemudian menyiapkan pesanan kami dengan cekatan. Kami berempat memperhatikan setiap langkah pembuatannya dengan saksama, diliputi rasa antusias sekaligus penasaran karena ini merupakan pengalaman pertama kami melihat langsung proses pembuatan Panipuri di negara asalnya.
Proses pembuatan Panipuri terbilang unik. Penjual memecahkan bagian atas kerupuk, kemudian memasukkan isian yang tampaknya berupa kentang berbumbu. Setelah itu, Panipuri dicelupkan ke dalam kuah berwarna hijau kekuningan. Seluruh proses dilakukan menggunakan tangan tanpa alat bantu. Hal ini menjadi pengalaman yang menarik sekaligus memverifikasi wawasan kami mengenai cara penyajian street food di India yang sebelumnya kami peroleh dari internet.
Di sisi lain, kami juga memperhatikan bahwa tangan penjual tampak kotor dan kurang higienis. Hal ini sempat membuat kami ragu untuk mencicipinya. Sebagai wisatawan, standar kebersihan menjadi hal penting yang kami pertimbangkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Meski demikian, kami mencoba melihatnya sebagai bagian dari realitas budaya street food setempat yang mungkin berbeda dengan kebiasaan di Indonesia. Saat saya (Bima) mencicipi Panipuri, rasanya cukup mengejutkan. Perpaduan rasa asam dengan tekstur lembek dari isian dan kuahnya memberikan sensasi yang unik. Namun, rasa tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan selera saya pribadi. Dari kami berempat, hanya saya (Bima) dan Galang yang cukup berani mencicipi Panipuri setelah melihat langsung proses pembuatannya. Sementara itu, Adji dan Ranggi memilih untuk tidak mencobanya, meskipun sempat kami dorong.

Perjalanan kuliner kami kemudian berlanjut dengan mencoba minuman hangat khas India, yaitu Teh Tarik. Kami masing-masing membeli satu gelas kecil dengan harga 25 rupee atau sekitar 5.000 rupiah. Minuman ini cukup populer di kalangan masyarakat lokal. Rasanya pekat dengan aroma teh yang kuat, berpadu dengan manisnya susu. Setelah seharian beraktivitas, Teh Tarik menjadi penutup yang tepat untuk perjalanan kuliner kami malam itu.
Setelah selesai menikmati Teh Tarik, kami bersiap untuk kembali ke tempat menginap. Saat itu sudah sekitar pukul 23.00, dan ternyata cukup sulit menemukan taksi. Akhirnya, kami memutuskan untuk naik bajaj yang sebenarnya hanya dirancang untuk dua orang. Namun, karena tidak ada pilihan lain, kami berempat tetap menaikinya. Perjalanan tersebut menjadi pengalaman tersendiri karena kami harus berdesakan di dalam kendaraan kecil.

Foto (Kiri ke Kanan): Bima, Galang, Adji, dan Sebagian Tangan Ranggi di Bajaj Menuju NJA.
Pengemudi bajaj tidak dapat berbahasa Inggris dan hanya menguasai bahasa Hindi. Meskipun demikian, kami tetap berusaha berkomunikasi menggunakan beberapa kata yang kami pahami, baik dari bahasa lokal seperti Urdu, Hindi, maupun Sanskerta. Kami tidak bisa menggunakan ChatGPT sebab suara bajaj dan jalanan India yang terlalu bising. Dengan cara sederhana tersebut, kami akhirnya dapat saling memahami maksud masing-masing. Ongkos perjalanan dari tempat kami minum teh hingga lokasi penginapan adalah 350 rupee atau sekitar 70.000 rupiah. Pengalaman ini menutup perjalanan kuliner kami dengan cerita yang berkesan dan tak terlupakan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


