Malang, 12 Juni 2026 – Malang kembali menjadi saksi berkumpulnya keluarga besar peradilan Indonesia dalam sebuah perhelatan nasional yang sarat makna. Bertempat di Stadion Gajayana Malang, Jumat, 12 Juni 2026, Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Sunarto, S.H., M.H., secara resmi membuka Kejuaraan Nasional Tenis Beregu Persatuan Tenis Warga Peradilan (PTWP) Mahkamah Agung Republik Indonesia Ke-XX Piala Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Pembukaan kejuaraan berlangsung meriah, megah, dan penuh semangat kebersamaan. Ribuan warga peradilan dari seluruh Indonesia hadir memadati Stadion Gajayana untuk menyaksikan momentum yang bukan hanya menjadi agenda olahraga nasional, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan soliditas seluruh insan peradilan Indonesia.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Bidang Yudisial, Wakil Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Bidang Non-Yudisial, para Ketua Kamar Mahkamah Agung, para Hakim Agung, para Hakim Ad Hoc Mahkamah Agung, Panitera Mahkamah Agung, Sekretaris Mahkamah Agung, para pejabat Eselon I dan Eselon II Mahkamah Agung Republik Indonesia, para Ketua Pengadilan Tingkat Banding dan Tingkat Pertama dari empat lingkungan peradilan, serta berbagai unsur pimpinan daerah dan tamu undangan lainnya.
Kejuaraan Nasional PTWP Ke-XX tahun ini menjadi salah satu penyelenggaraan terbesar sepanjang sejarah PTWP. Sebanyak 71 kontingen dari seluruh Indonesia ambil bagian dalam kompetisi bergengsi tersebut. Kontingen yang berasal dari lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Tata Usaha Negara, Peradilan Militer, dan PTWP Cabang Khusus Mahkamah Agung hadir membawa semangat kompetisi sekaligus semangat persaudaraan. Tidak kurang dari 1.420 atlet dan ofisial mengikuti defile pembukaan yang berlangsung spektakuler dan menjadi salah satu daya tarik utama acara.
Sejak pukul 13.30 WIB, suasana Stadion Gajayana telah dipenuhi antusiasme peserta dan penonton. Rangkaian pembukaan diawali dengan defile kontingen peserta yang memasuki arena stadion secara berurutan dengan membawa identitas dan kebanggaan daerah masing-masing. Pemandangan tersebut menjadi representasi nyata keberagaman sekaligus persatuan warga peradilan Indonesia yang berasal dari berbagai wilayah, budaya, dan lingkungan peradilan.
Prosesi pembukaan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan Piala Bergilir Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia sebagai simbol kehormatan dan prestasi tertinggi yang diperebutkan dalam kejuaraan ini. Setelah itu dilaksanakan pengibaran Bendera Persatuan Tenis Warga Peradilan (PTWP) sebagai lambang persatuan seluruh warga peradilan Indonesia.
Suasana khidmat semakin terasa ketika perwakilan atlet dan wasit membacakan Janji Atlet serta Janji Wasit. Prosesi tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan pernyataan moral untuk menjunjung tinggi sportivitas, kejujuran, profesionalisme, dan penghormatan terhadap aturan pertandingan.
Kemeriahan acara semakin lengkap dengan berbagai pertunjukan seni budaya yang menampilkan kekayaan budaya Nusantara. Penampilan tersebut berhasil memadukan semangat olahraga dengan semangat kebangsaan. Ribuan pasang mata kemudian disuguhkan atraksi spectacular daylight firework yang menghiasi langit Stadion Gajayana. Suasana semakin meriah dengan penampilan penyanyi campursari nasional Endah Laras yang menghibur seluruh peserta dan tamu undangan hingga akhir acara pembukaan.
Namun demikian, kemegahan pembukaan tersebut bukanlah inti utama dari penyelenggaraan Kejuaraan Nasional PTWP. Esensi yang sesungguhnya terletak pada pesan moral dan nilai-nilai yang ingin dibangun melalui kegiatan ini.

Dalam sambutannya, Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia menegaskan bahwa olahraga tenis telah menjadi bagian dari budaya warga peradilan selama puluhan tahun. Melalui olahraga, para hakim, aparatur peradilan, dan keluarga besar peradilan dapat bertemu dalam suasana yang akrab, egaliter, dan penuh semangat persaudaraan. Beliau menegaskan bahwa kejuaraan ini merupakan momentum penting untuk mempererat silaturahmi, memperkuat jiwa korsa, dan membangun rasa memiliki terhadap lembaga peradilan yang dicintai bersama.
Ketua Mahkamah Agung juga menekankan bahwa tema Kejurnas PTWP Ke-XX, yaitu “Bersatu dan Bangkit Bersama, Tegakkan Integritas dan Sportivitas”, harus dimaknai sebagai komitmen bersama untuk mewujudkan peradilan yang agung, bersih, dan bermartabat. Menurut beliau, pertandingan bukan semata-mata urusan menang dan kalah, melainkan tentang bagaimana menghargai proses, mengerahkan kemampuan terbaik, serta tetap menghormati lawan dalam keadaan apa pun hasil akhirnya.
Pesan yang paling kuat dalam sambutan tersebut adalah hubungan erat antara sportivitas dan integritas. Ketua Mahkamah Agung mengingatkan bahwa sebagaimana seorang atlet wajib menghormati keputusan wasit dan aturan permainan, maka insan peradilan juga wajib menghormati hukum sebagai pedoman utama dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Objektivitas, kejujuran, ketaatan terhadap aturan, penghormatan terhadap pihak lain, dan keberanian mempertanggungjawabkan setiap tindakan merupakan nilai yang harus hidup baik di lapangan olahraga maupun dalam pelaksanaan tugas yudisial sehari-hari.
Beliau kemudian menyampaikan sebuah refleksi yang sangat mendalam dan relevan bagi seluruh warga peradilan:
“Jika kemenangan di lapangan adalah ketika kita berhasil mengalahkan lawan, maka kemenangan di luar lapangan adalah ketika kita mampu mengalahkan ego, menjaga etika, dan mempertahankan martabat sebagai aparatur peradilan.”
Pernyataan tersebut menjadi pesan utama Kejuaraan Nasional PTWP Ke-XX. Integritas tidak hanya diuji ketika seseorang duduk di kursi hakim atau memimpin satuan kerja, tetapi juga ketika menghadapi tekanan, godaan, dan kesempatan untuk berbuat tidak jujur. Integritas sejati akan terlihat ketika seseorang tetap berpegang pada nilai kebenaran meskipun tidak ada yang melihat atau mengawasi. Sebagaimana poin yang diperoleh secara tidak fair tidak akan pernah menghadirkan kebanggaan dalam olahraga, demikian pula keberhasilan yang diperoleh dengan mengorbankan integritas tidak akan pernah melahirkan kehormatan dalam kehidupan profesi.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa PTWP sesungguhnya bukan sekadar organisasi olahraga. PTWP merupakan wadah pembinaan karakter dan budaya organisasi yang memiliki kontribusi nyata dalam membangun sumber daya manusia peradilan yang berintegritas. Melalui olahraga, warga peradilan belajar mengenai disiplin, kerja keras, konsistensi, pengendalian diri, sportivitas, serta penghormatan terhadap aturan. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi yang sama yang dibutuhkan untuk membangun lembaga peradilan yang modern, profesional, dan terpercaya.
Setelah seremoni pembukaan selesai, kompetisi resmi dimulai pada Sabtu, 13 Juni 2026, melalui babak penyisihan yang digelar di berbagai lapangan tenis yang tersebar di Kota Malang, antara lain Lapangan Tenis Gajayana, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Pelti, Ambassador, Araya, Jasa Tirta, Permata Jingga, dan Rampal. Babak penyisihan berlangsung hingga Minggu, 14 Juni 2026.
Memasuki Senin, 15 Juni 2026, pertandingan memasuki fase gugur melalui babak perdelapan final yang diperkirakan berlangsung semakin ketat dan kompetitif. Hanya tim-tim terbaik yang mampu mempertahankan konsistensi permainan dan melangkah menuju babak berikutnya.
Puncak Kejuaraan Nasional PTWP Mahkamah Agung RI Ke-XX dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 16 Juni 2026. Babak semifinal akan dilaksanakan di Lapangan Tenis Ambassador dan Lapangan Tenis Universitas Brawijaya, sedangkan pertandingan final dipusatkan di Lapangan Tenis Ambassador. Setelah seluruh pertandingan selesai, panitia akan menyelenggarakan acara penutupan yang dirangkaikan dengan pengumuman para juara dan penyerahan penghargaan kepada atlet maupun kontingen berprestasi.
Pada akhirnya, Kejuaraan Nasional Tenis Beregu PTWP Mahkamah Agung RI Ke-XX bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kejuaraan ini merupakan manifestasi nyata semangat persatuan warga peradilan Indonesia. Dari Aceh hingga Papua, dari peradilan umum, peradilan agama, peradilan tata usaha negara, hingga peradilan militer, seluruh peserta hadir dalam satu semangat yang sama: memperkuat persaudaraan, menjaga integritas, dan mengharumkan nama lembaga peradilan.
Dari Stadion Gajayana Malang, sebuah pesan penting kembali ditegaskan kepada seluruh insan peradilan Indonesia: bahwa kekuatan lembaga peradilan tidak hanya dibangun melalui putusan yang berkualitas dan pelayanan publik yang prima, tetapi juga melalui kualitas karakter sumber daya manusianya. Melalui olahraga lahir sportivitas, melalui sportivitas tumbuh integritas, melalui integritas terbangun kepercayaan, dan melalui kepercayaan itulah cita-cita mewujudkan Badan Peradilan Indonesia yang Agung akan semakin mendekati kenyataan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


