Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Menimbang Pidana, Menegakkan Keadilan: Pedoman Hakim dalam Penjatuhan Pidana Menurut Pasal 54 KUHP Nasional

11 April 2026 • 19:37 WIB

Catatan dari Ruang Kelas Pendidikan Filsafat dan Keadilan

11 April 2026 • 19:00 WIB

Membedah Keadilan dan Equality Before The Law: Pendekatan Filsafat, Critical Legal Studies dan Analisis Etika

11 April 2026 • 18:12 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Palu Hakim Tidak Lebih Tinggi dari Wahyu: Renungan Nuzulul Qur’an bagi Para Penegak Keadilan
Artikel

Palu Hakim Tidak Lebih Tinggi dari Wahyu: Renungan Nuzulul Qur’an bagi Para Penegak Keadilan

Khoiruddin HasibuanKhoiruddin Hasibuan7 March 2026 • 13:30 WIB7 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Malam Nuzulul Qur’an sering diartikan sebagai malam awal mula diturunkannya kitab suci Al-Qur’an, pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriah, kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur, melalui perantara Malaikat Jibril. Pada saat itu, ayat-ayat awal yang diturunkan adalah surah Al-‘Alaq ayat 1-5.

Peristiwa itu, bukan sekadar catatan sejarah spiritual umat Islam. Ia adalah titik tolak bagi lahirnya sebuah peradaban, yang dibangun di atas nilai ilmu, keadilan, dan ketundukan kepada kebenaran.

Karena itu, setiap tanggal 17 Ramadhan, umat Islam mengenang peristiwa tersebut. Ada yang memperingatinya pada malam 17 Ramadhan, ada yang menghidupkannya pada siang hari, bahkan ada pula yang memaknainya pada waktu menjelang berbuka. Perbedaan cara memperingati tidaklah penting. Yang jauh lebih penting adalah pesan yang ditinggalkan oleh peristiwa itu: bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dihidupkan dalam seluruh dimensi kehidupan manusia.

Namun di balik setiap peringatan Nuzulul Qur’an, ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri, terutama bagi mereka yang memegang amanah kekuasaan dan kewenangan:

Apakah Al-Qur’an benar-benar telah hadir dalam cara kita berpikir, memutuskan, dan bertindak?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan di tengah dunia modern yang bergerak begitu cepat. Kita hidup pada era yang sering disebut sebagai Revolusi Industri 5.0, sebuah zaman ketika teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Internet of Things, dan sistem otomatis semakin menyatu dengan kehidupan manusia.

Kemajuan teknologi memang membawa banyak kemudahan. Namun ia juga menghadirkan tantangan baru bagi kemanusiaan. Hubungan manusia menjadi semakin mekanis. Nilai-nilai moral sering kali tersisih oleh efisiensi dan kekuasaan sistem. Dalam situasi seperti ini, manusia justru semakin membutuhkan kompas yang mampu menuntunnya kembali kepada nilai-nilai yang hakiki. Di sinilah Al-Qur’an menemukan relevansinya.

Al-Qur’an bukan hanya kitab ibadah. Ia adalah petunjuk hidup. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2 disebutkan, bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Dalam ayat lain disebutkan, bahwa Al-Qur’an memberikan bimbingan menuju jalan yang paling lurus bagi kehidupan manusia. Artinya, seberapa pun maju sebuah peradaban, ia tetap membutuhkan landasan moral yang kokoh.

Al-Qur’an mengajarkan nilai-nilai itu melalui berbagai cara. Salah satunya melalui kisah-kisah masa lalu yang sarat dengan hikmah. Kisah-kisah tersebut bukan sekadar cerita sejarah, melainkan cermin bagi manusia di setiap zaman. Di antara kisah yang paling sering diulang dalam Al-Qur’an adalah kisah tentang Fir’aun.

Fir’aun adalah simbol kekuasaan yang melampaui batas. Ia tidak sekadar memerintah sebagai raja Mesir. Ia menempatkan dirinya sebagai pusat kebenaran. Ia menolak wahyu yang dibawa oleh Nabi Musa, menindas Bani Israel, dan menggunakan kekuasaan untuk mempertahankan dominasi.

Menariknya, Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan secara rinci siapa Fir’aun itu. Tidak disebut apakah ia Ramses I, Ramses II, atau raja lainnya. Seakan-akan Al-Qur’an ingin memberi pesan bahwa Fir’aun bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi karakter yang bisa muncul di setiap zaman.

Syeikh Muhammad Mutawalli Sya’rawi pernah menjelaskan bahwa ketika Al-Qur’an tidak menyebutkan nama tokoh secara spesifik, itu memberi ruang bagi manusia untuk melihat bahwa sifat-sifat tokoh tersebut dapat muncul kembali dalam berbagai bentuk. Dan kenyataannya, dalam kehidupan manusia modern, karakter seperti itu memang sering kita jumpai.

Baca Juga  Nuansa Ramadhan, Pengadilan Negeri Rangkasbitung Berhasil Mendamaikan Para Pihak Melalui Keadilan Restoratif

Kekuasaan yang membuat seseorang merasa selalu benar. Kekuasaan yang tidak lagi mau mendengar kritik. Kekuasaan yang melihat perbedaan sebagai ancaman.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar pernah menggambarkan, bahwa para pemimpin yang terjangkit kesombongan kekuasaan, seringkali dikelilingi oleh pengikut yang memujanya tanpa batas. Mereka tidak lagi sekadar loyal, tetapi menjadi pemuja buta. Mereka membenarkan segala tindakan pemimpinnya, bahkan ketika tindakan itu bertentangan dengan kebenaran, dan norma kesusilaan.

Fenomena semacam ini bukan hanya terjadi dalam dunia politik. Ia dapat muncul di mana saja, termasuk dalam ruang-ruang birokrasi, organisasi, dan bahkan dalam dunia peradilan.

Dalam lingkungan kekuasaan, selalu ada godaan untuk menjadikan jabatan sebagai sumber kebenaran. Di sekitar kekuasaan itu sering muncul budaya “asal bapak senang”, budaya mencari muka, dan budaya menjilat kekuasaan.

Pada saat yang sama, mereka yang berani menyuarakan kebenaran justru sering dianggap sebagai ancaman. Tidak jarang karier mereka dipersulit, dimarginalkan, dicari-cari kesalahan dan titik lemahnya, bahkan dihilangkan secara perlahan dari lingkaran kekuasaan. Padahal sejarah telah mengajarkan, bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kesombongan pada akhirnya selalu menemui kehancuran.

Fir’aun yang dahulu begitu kuat, akhirnya tenggelam bersama kesombongannya. Allah bahkan mengabadikan jasadnya sebagai pelajaran bagi manusia setelahnya. Sejarah itu mengingatkan, bahwa kehancuran kekuasaan sering kali tidak dimulai dari kelemahan, tetapi dari kesombongan hati. Kesombongan inilah yang dahulu juga menjerumuskan Iblis.

Iblis pada awalnya dikenal sebagai makhluk yang sangat taat beribadah. Namun satu kalimat kesombongan menghapus seluruh kemuliaannya. Ketika Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Nabi Adam, ia menolak dengan berkata:

“Aku lebih baik darinya.” Kalimat sederhana itu menjadikannya makhluk yang terhina hingga hari kiamat.

Dalam kehidupan manusia modern, kalimat itu sering muncul dalam bentuk yang lebih halus. Ketika seseorang merasa dirinya lebih pintar, lebih berkuasa, lebih berpengalaman, atau lebih layak daripada orang lain, maka tanpa disadari ia sedang berjalan di jalan yang pernah dilalui oleh Iblis.

Ilmu psikologi modern bahkan mengenal kondisi ini sebagai Narcissistic Personality Disorder (NPD), sebuah gangguan kepribadian yang ditandai oleh rasa superioritas yang berlebihan, kebutuhan akan pujian, serta ketidakmampuan menerima kritik.

Masalahnya, penyakit semacam ini sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Ia merasa selalu benar. Ia sulit menerima pandangan yang berbeda. Ia bahkan cenderung merendahkan orang lain.

Jika penyakit jasmani dapat didiagnosis dengan alat medis, maka penyakit rohani jauh lebih sulit dikenali. Namun, justru penyakit rohani inilah yang sering menjadi akar berbagai kerusakan sosial, termasuk kerusakan dalam sistem keadilan.

Di dunia peradilan, penyakit rohani dapat muncul dalam bentuk kesombongan jabatan, arogansi kewenangan, atau ketidakmauan untuk menerima kebenaran dari pihak lain. Padahal, keadilan hanya dapat berdiri tegak jika para penegaknya memiliki kerendahan hati untuk tunduk pada kebenaran. Karena itu, bagi para penegak keadilan, Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi momen perenungan yang sangat dalam.

Baca Juga  Semarak Ramadhan, PN/Perikanan Merauke Gelar Buka Puasa Bersama

Sebab di ruang sidang, seorang hakim memegang kewenangan yang sangat besar. Dengan satu ketukan palu, ia dapat mengubah nasib seseorang, menghukum atau membebaskan, mengakhiri sengketa, atau menentukan masa depan manusia. Namun di atas semua kewenangan itu, ada satu kebenaran yang jauh lebih tinggi. Palu hakim tidak pernah lebih tinggi dari wahyu.

Kewenangan hukum hanyalah amanah. Ia harus selalu tunduk pada nilai-nilai keadilan yang lebih besar. Dan nilai itu, bagi seorang Muslim, berpijak pada wahyu yang diturunkan oleh Allah. Di sinilah Al-Qur’an kembali menunjukkan perannya sebagai penyembuh bagi penyakit hati manusia.

Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa kitab ini adalah penawar bagi penyakit yang ada di dalam dada manusia. Ia menyembuhkan kesombongan, iri hati, dan berbagai penyakit rohani lainnya.

Ibnul Qayyim dalam kitab Zaad al-Ma’ad menjelaskan bahwa Al-Qur’an dapat menjadi obat bagi berbagai penyakit, baik penyakit jasmani maupun penyakit rohani, bagi mereka yang membaca dan menghayatinya dengan kejujuran hati dan keyakinan yang tulus. Karena itu, kedekatan dengan Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas membaca. Ia adalah proses membersihkan hati dan meluruskan niat.

Ramadhan, yang dikenal sebagai bulan Al-Qur’an, seharusnya menjadi momentum untuk kembali memperbarui hubungan kita dengan kitab suci ini. Bagi mereka yang mampu, tadabburi maknanya. Bagi yang belum mampu, bacalah dengan penuh keimanan. Dan bagi yang masih jauh darinya, setidaknya jangan sampai mengingkari kebenaran yang ada di dalamnya.

Karena apa pun yang bersentuhan dengan Al-Qur’an akan selalu menjadi yang terbaik. Nabi Muhammad SAW menjadi nabi terbaik karena kepadanya Al-Qur’an diturunkan. Umat Islam disebut umat terbaik karena mereka menerima Al-Qur’an sebagai pedoman. Ramadhan menjadi bulan terbaik karena Al-Qur’an diturunkan di dalamnya. Lailatul Qadar menjadi malam terbaik karena ia menjadi malam turunnya Al-Qur’an. Dan setiap pribadi, lembaga, maupun bangsa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup akan memiliki peluang untuk menjadi yang terbaik pula. Termasuk di dalamnya dunia peradilan.

Sebab pada akhirnya, keadilan tidak hanya lahir dari pasal-pasal hukum, tetapi dari kejernihan hati orang yang memutuskan hukum itu sendiri. Semoga Ramadhan yang kita jalani tahun ini, tidak hanya menjadi peringatan sejarah turunnya Al-Qur’an, tetapi juga menjadi momentum untuk menghadirkannya kembali dalam kehidupan kita, dalam pikiran kita, dalam keputusan kita, dan dalam cara kita memperlakukan sesama manusia secara adil dan berimbang.

Karena ketika wahyu benar-benar hidup di dalam diri manusia, maka keadilan tidak lagi sekadar menjadi putusan di atas kertas, melainkan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.

Semoga kita semua, terutama mereka yang memegang amanah menegakkan hukum, senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga hati tetap rendah di hadapan kebenaran. Sebab pada akhirnya, setinggi apa pun kewenangan manusia, palu hakim tidak pernah lebih tinggi dari wahyu.

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Nuzulul Qur’an palu hakim ramadhan
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menimbang Pidana, Menegakkan Keadilan: Pedoman Hakim dalam Penjatuhan Pidana Menurut Pasal 54 KUHP Nasional

11 April 2026 • 19:37 WIB

Membedah Keadilan dan Equality Before The Law: Pendekatan Filsafat, Critical Legal Studies dan Analisis Etika

11 April 2026 • 18:12 WIB

Saat OJK Menggugat, Keadilan Diuji: Peradilan Agama Siap atau Tidak?

10 April 2026 • 15:55 WIB
Demo
Top Posts

Etika Bermedia Sosial bagi Hakim: Antara Ekspresi Diri dan Marwah Peradilan

13 March 2026 • 20:03 WIB

Hijrah Konstitusi, dari Serambi ke Serambi: Catatan Kritis Beban Kemanusiaan Peradilan

5 March 2026 • 18:28 WIB

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB

Beyond The Code: Filsafat Hukum dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding yang Progresif)

25 February 2026 • 14:35 WIB
Don't Miss

Menimbang Pidana, Menegakkan Keadilan: Pedoman Hakim dalam Penjatuhan Pidana Menurut Pasal 54 KUHP Nasional

By Sudiyo11 April 2026 • 19:37 WIB0

A. Pendahuluan Pemidanaan atau penjatuhan pidana bukanlah persoalan yang sederhana, sebagaimana halnya menentukan unsur-unsur tindak…

Catatan dari Ruang Kelas Pendidikan Filsafat dan Keadilan

11 April 2026 • 19:00 WIB

Membedah Keadilan dan Equality Before The Law: Pendekatan Filsafat, Critical Legal Studies dan Analisis Etika

11 April 2026 • 18:12 WIB

PA. Baturaja Jadi Mitra Sekolah Integritas Berbasis Karakter, SMKN 1 OKU Kirim 6 Siswa PKL

11 April 2026 • 14:14 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Menimbang Pidana, Menegakkan Keadilan: Pedoman Hakim dalam Penjatuhan Pidana Menurut Pasal 54 KUHP Nasional
  • Catatan dari Ruang Kelas Pendidikan Filsafat dan Keadilan
  • Membedah Keadilan dan Equality Before The Law: Pendekatan Filsafat, Critical Legal Studies dan Analisis Etika
  • PA. Baturaja Jadi Mitra Sekolah Integritas Berbasis Karakter, SMKN 1 OKU Kirim 6 Siswa PKL
  • PN Pulang Pisau Gelar Public Campaign Zona Integritas di Pasar Patanak : Perkuat Kepercayaan Publik dengan Turun Langsung ke Masyarakat

Recent Comments

  1. furosemide 20 mg tablet for dogs on Debu di Atas Map Hijau
  2. rifampin on Menapak Batas di Suprau: Descente PTUN Jayapura di Pesisir Kota Sorong
  3. furosemide for dogs on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  4. macrobid generic cost without insurance on Debu di Atas Map Hijau
  5. doxycycline for uti in dogs on Konsekuensi Hukum Penetapan Pengembalian Berkas oleh KPN dalam Proses MKR di Tingkat Penyidikan dan Penuntutan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Kolonel Dahlan Suherlan, S.H., M.H.
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.