Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Closing Meeting Focus Group Discussion Tim Pokja Penyesuaian Template Penetapan, Berita Acara, Putusan & Alur Proses Perkara Pidana

18 June 2026 • 20:17 WIB

Konsultasikan Rancangan SEMA Pelaksanaan Pasal 2 KUHP Nasional, Tim Riset Kebijakan Melakukan Audiensi Ke PN Serang

18 June 2026 • 20:01 WIB

Menguak Cara Bertahan Masyarakat Adat dan Keberlakuan Hukum Adat Orang Kanekes (Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar)

18 June 2026 • 19:42 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Palu Hakim Tidak Lebih Tinggi dari Wahyu: Renungan Nuzulul Qur’an bagi Para Penegak Keadilan
Artikel

Palu Hakim Tidak Lebih Tinggi dari Wahyu: Renungan Nuzulul Qur’an bagi Para Penegak Keadilan

Khoiruddin HasibuanKhoiruddin Hasibuan7 March 2026 • 13:30 WIB7 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Malam Nuzulul Qur’an sering diartikan sebagai malam awal mula diturunkannya kitab suci Al-Qur’an, pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriah, kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur, melalui perantara Malaikat Jibril. Pada saat itu, ayat-ayat awal yang diturunkan adalah surah Al-‘Alaq ayat 1-5.

Peristiwa itu, bukan sekadar catatan sejarah spiritual umat Islam. Ia adalah titik tolak bagi lahirnya sebuah peradaban, yang dibangun di atas nilai ilmu, keadilan, dan ketundukan kepada kebenaran.

Karena itu, setiap tanggal 17 Ramadhan, umat Islam mengenang peristiwa tersebut. Ada yang memperingatinya pada malam 17 Ramadhan, ada yang menghidupkannya pada siang hari, bahkan ada pula yang memaknainya pada waktu menjelang berbuka. Perbedaan cara memperingati tidaklah penting. Yang jauh lebih penting adalah pesan yang ditinggalkan oleh peristiwa itu: bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dihidupkan dalam seluruh dimensi kehidupan manusia.

Namun di balik setiap peringatan Nuzulul Qur’an, ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri, terutama bagi mereka yang memegang amanah kekuasaan dan kewenangan:

Apakah Al-Qur’an benar-benar telah hadir dalam cara kita berpikir, memutuskan, dan bertindak?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan di tengah dunia modern yang bergerak begitu cepat. Kita hidup pada era yang sering disebut sebagai Revolusi Industri 5.0, sebuah zaman ketika teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Internet of Things, dan sistem otomatis semakin menyatu dengan kehidupan manusia.

Kemajuan teknologi memang membawa banyak kemudahan. Namun ia juga menghadirkan tantangan baru bagi kemanusiaan. Hubungan manusia menjadi semakin mekanis. Nilai-nilai moral sering kali tersisih oleh efisiensi dan kekuasaan sistem. Dalam situasi seperti ini, manusia justru semakin membutuhkan kompas yang mampu menuntunnya kembali kepada nilai-nilai yang hakiki. Di sinilah Al-Qur’an menemukan relevansinya.

Al-Qur’an bukan hanya kitab ibadah. Ia adalah petunjuk hidup. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2 disebutkan, bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Dalam ayat lain disebutkan, bahwa Al-Qur’an memberikan bimbingan menuju jalan yang paling lurus bagi kehidupan manusia. Artinya, seberapa pun maju sebuah peradaban, ia tetap membutuhkan landasan moral yang kokoh.

Al-Qur’an mengajarkan nilai-nilai itu melalui berbagai cara. Salah satunya melalui kisah-kisah masa lalu yang sarat dengan hikmah. Kisah-kisah tersebut bukan sekadar cerita sejarah, melainkan cermin bagi manusia di setiap zaman. Di antara kisah yang paling sering diulang dalam Al-Qur’an adalah kisah tentang Fir’aun.

Fir’aun adalah simbol kekuasaan yang melampaui batas. Ia tidak sekadar memerintah sebagai raja Mesir. Ia menempatkan dirinya sebagai pusat kebenaran. Ia menolak wahyu yang dibawa oleh Nabi Musa, menindas Bani Israel, dan menggunakan kekuasaan untuk mempertahankan dominasi.

Menariknya, Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan secara rinci siapa Fir’aun itu. Tidak disebut apakah ia Ramses I, Ramses II, atau raja lainnya. Seakan-akan Al-Qur’an ingin memberi pesan bahwa Fir’aun bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi karakter yang bisa muncul di setiap zaman.

Syeikh Muhammad Mutawalli Sya’rawi pernah menjelaskan bahwa ketika Al-Qur’an tidak menyebutkan nama tokoh secara spesifik, itu memberi ruang bagi manusia untuk melihat bahwa sifat-sifat tokoh tersebut dapat muncul kembali dalam berbagai bentuk. Dan kenyataannya, dalam kehidupan manusia modern, karakter seperti itu memang sering kita jumpai.

Baca Juga  Ramadan Pertama di Philja Tagaytay

Kekuasaan yang membuat seseorang merasa selalu benar. Kekuasaan yang tidak lagi mau mendengar kritik. Kekuasaan yang melihat perbedaan sebagai ancaman.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar pernah menggambarkan, bahwa para pemimpin yang terjangkit kesombongan kekuasaan, seringkali dikelilingi oleh pengikut yang memujanya tanpa batas. Mereka tidak lagi sekadar loyal, tetapi menjadi pemuja buta. Mereka membenarkan segala tindakan pemimpinnya, bahkan ketika tindakan itu bertentangan dengan kebenaran, dan norma kesusilaan.

Fenomena semacam ini bukan hanya terjadi dalam dunia politik. Ia dapat muncul di mana saja, termasuk dalam ruang-ruang birokrasi, organisasi, dan bahkan dalam dunia peradilan.

Dalam lingkungan kekuasaan, selalu ada godaan untuk menjadikan jabatan sebagai sumber kebenaran. Di sekitar kekuasaan itu sering muncul budaya “asal bapak senang”, budaya mencari muka, dan budaya menjilat kekuasaan.

Pada saat yang sama, mereka yang berani menyuarakan kebenaran justru sering dianggap sebagai ancaman. Tidak jarang karier mereka dipersulit, dimarginalkan, dicari-cari kesalahan dan titik lemahnya, bahkan dihilangkan secara perlahan dari lingkaran kekuasaan. Padahal sejarah telah mengajarkan, bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kesombongan pada akhirnya selalu menemui kehancuran.

Fir’aun yang dahulu begitu kuat, akhirnya tenggelam bersama kesombongannya. Allah bahkan mengabadikan jasadnya sebagai pelajaran bagi manusia setelahnya. Sejarah itu mengingatkan, bahwa kehancuran kekuasaan sering kali tidak dimulai dari kelemahan, tetapi dari kesombongan hati. Kesombongan inilah yang dahulu juga menjerumuskan Iblis.

Iblis pada awalnya dikenal sebagai makhluk yang sangat taat beribadah. Namun satu kalimat kesombongan menghapus seluruh kemuliaannya. Ketika Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Nabi Adam, ia menolak dengan berkata:

“Aku lebih baik darinya.” Kalimat sederhana itu menjadikannya makhluk yang terhina hingga hari kiamat.

Dalam kehidupan manusia modern, kalimat itu sering muncul dalam bentuk yang lebih halus. Ketika seseorang merasa dirinya lebih pintar, lebih berkuasa, lebih berpengalaman, atau lebih layak daripada orang lain, maka tanpa disadari ia sedang berjalan di jalan yang pernah dilalui oleh Iblis.

Ilmu psikologi modern bahkan mengenal kondisi ini sebagai Narcissistic Personality Disorder (NPD), sebuah gangguan kepribadian yang ditandai oleh rasa superioritas yang berlebihan, kebutuhan akan pujian, serta ketidakmampuan menerima kritik.

Masalahnya, penyakit semacam ini sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Ia merasa selalu benar. Ia sulit menerima pandangan yang berbeda. Ia bahkan cenderung merendahkan orang lain.

Jika penyakit jasmani dapat didiagnosis dengan alat medis, maka penyakit rohani jauh lebih sulit dikenali. Namun, justru penyakit rohani inilah yang sering menjadi akar berbagai kerusakan sosial, termasuk kerusakan dalam sistem keadilan.

Di dunia peradilan, penyakit rohani dapat muncul dalam bentuk kesombongan jabatan, arogansi kewenangan, atau ketidakmauan untuk menerima kebenaran dari pihak lain. Padahal, keadilan hanya dapat berdiri tegak jika para penegaknya memiliki kerendahan hati untuk tunduk pada kebenaran. Karena itu, bagi para penegak keadilan, Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi momen perenungan yang sangat dalam.

Baca Juga  Buka Bersama PN Pulang Pisau dan Renungan Tiga Tingkatan Puasa menurut Imam Al-Ghazali

Sebab di ruang sidang, seorang hakim memegang kewenangan yang sangat besar. Dengan satu ketukan palu, ia dapat mengubah nasib seseorang, menghukum atau membebaskan, mengakhiri sengketa, atau menentukan masa depan manusia. Namun di atas semua kewenangan itu, ada satu kebenaran yang jauh lebih tinggi. Palu hakim tidak pernah lebih tinggi dari wahyu.

Kewenangan hukum hanyalah amanah. Ia harus selalu tunduk pada nilai-nilai keadilan yang lebih besar. Dan nilai itu, bagi seorang Muslim, berpijak pada wahyu yang diturunkan oleh Allah. Di sinilah Al-Qur’an kembali menunjukkan perannya sebagai penyembuh bagi penyakit hati manusia.

Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa kitab ini adalah penawar bagi penyakit yang ada di dalam dada manusia. Ia menyembuhkan kesombongan, iri hati, dan berbagai penyakit rohani lainnya.

Ibnul Qayyim dalam kitab Zaad al-Ma’ad menjelaskan bahwa Al-Qur’an dapat menjadi obat bagi berbagai penyakit, baik penyakit jasmani maupun penyakit rohani, bagi mereka yang membaca dan menghayatinya dengan kejujuran hati dan keyakinan yang tulus. Karena itu, kedekatan dengan Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas membaca. Ia adalah proses membersihkan hati dan meluruskan niat.

Ramadhan, yang dikenal sebagai bulan Al-Qur’an, seharusnya menjadi momentum untuk kembali memperbarui hubungan kita dengan kitab suci ini. Bagi mereka yang mampu, tadabburi maknanya. Bagi yang belum mampu, bacalah dengan penuh keimanan. Dan bagi yang masih jauh darinya, setidaknya jangan sampai mengingkari kebenaran yang ada di dalamnya.

Karena apa pun yang bersentuhan dengan Al-Qur’an akan selalu menjadi yang terbaik. Nabi Muhammad SAW menjadi nabi terbaik karena kepadanya Al-Qur’an diturunkan. Umat Islam disebut umat terbaik karena mereka menerima Al-Qur’an sebagai pedoman. Ramadhan menjadi bulan terbaik karena Al-Qur’an diturunkan di dalamnya. Lailatul Qadar menjadi malam terbaik karena ia menjadi malam turunnya Al-Qur’an. Dan setiap pribadi, lembaga, maupun bangsa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup akan memiliki peluang untuk menjadi yang terbaik pula. Termasuk di dalamnya dunia peradilan.

Sebab pada akhirnya, keadilan tidak hanya lahir dari pasal-pasal hukum, tetapi dari kejernihan hati orang yang memutuskan hukum itu sendiri. Semoga Ramadhan yang kita jalani tahun ini, tidak hanya menjadi peringatan sejarah turunnya Al-Qur’an, tetapi juga menjadi momentum untuk menghadirkannya kembali dalam kehidupan kita, dalam pikiran kita, dalam keputusan kita, dan dalam cara kita memperlakukan sesama manusia secara adil dan berimbang.

Karena ketika wahyu benar-benar hidup di dalam diri manusia, maka keadilan tidak lagi sekadar menjadi putusan di atas kertas, melainkan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.

Semoga kita semua, terutama mereka yang memegang amanah menegakkan hukum, senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga hati tetap rendah di hadapan kebenaran. Sebab pada akhirnya, setinggi apa pun kewenangan manusia, palu hakim tidak pernah lebih tinggi dari wahyu.

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Nuzulul Qur’an palu hakim ramadhan
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menuju Putusan Holistik: Sinergi IQ, EQ, dan SQ dalam Ruang Sidang

18 June 2026 • 12:06 WIB

Dari Pena ke Algoritma: Saatnya Berita Acara Persidangan Berbasis AI

18 June 2026 • 08:54 WIB

Dinamika Pengamanan Persidangan: Menyelaraskan Restriksi Pasal 270 KUHAP Baru dengan Spirit PERMA Protokol Keamanan Persidangan

17 June 2026 • 13:00 WIB
Demo
Top Posts

Peradilan Militer Bukan Ruang Gelap: Menepis Narasi Impunitas dengan Fakta dan Akuntabilitas

9 May 2026 • 18:38 WIB

NJA India, JTC Indonesia, dan Jalan Belajar Seorang Hakim

4 May 2026 • 09:43 WIB

Bagaimana Cara Hakim dan Lembaga Peradilan menghadapi Trial By Media “Sebuah Pembelajaran dari India”

2 May 2026 • 16:11 WIB

5 Hal Menarik dalam Sistem Peradilan India yang Tidak Ditemukan di Indonesia

1 May 2026 • 13:20 WIB
Don't Miss

Closing Meeting Focus Group Discussion Tim Pokja Penyesuaian Template Penetapan, Berita Acara, Putusan & Alur Proses Perkara Pidana

By Yoshito Siburian18 June 2026 • 20:17 WIB0

Jakarta, 18 Juni 2026 – Bertempat di Hotel Grand Mercure Harmoni Jakarta, Kegiatan “Focus Group…

Konsultasikan Rancangan SEMA Pelaksanaan Pasal 2 KUHP Nasional, Tim Riset Kebijakan Melakukan Audiensi Ke PN Serang

18 June 2026 • 20:01 WIB

Menguak Cara Bertahan Masyarakat Adat dan Keberlakuan Hukum Adat Orang Kanekes (Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar)

18 June 2026 • 19:42 WIB

Memasyarakatkan Persidangan Elektronik di Tanah Yapen: Hakim PN Serui Berikan Edukasi Hukum

18 June 2026 • 15:31 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Closing Meeting Focus Group Discussion Tim Pokja Penyesuaian Template Penetapan, Berita Acara, Putusan & Alur Proses Perkara Pidana
  • Konsultasikan Rancangan SEMA Pelaksanaan Pasal 2 KUHP Nasional, Tim Riset Kebijakan Melakukan Audiensi Ke PN Serang
  • Menguak Cara Bertahan Masyarakat Adat dan Keberlakuan Hukum Adat Orang Kanekes (Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar)
  • Memasyarakatkan Persidangan Elektronik di Tanah Yapen: Hakim PN Serui Berikan Edukasi Hukum
  • Wisata Literasi Digital Tim Roadmap Tata Kelola Teknologi Informasi pada Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) Universitas Brawijaya

Recent Comments

  1. terbinafine medical reference on Mempererat Integritas dan Spiritualitas: Rangkaian Giat Ramadan 1447 H di Pengadilan Negeri Kotabaru
  2. ketoconazole medical summary on Kerahasiaan Perkara Perceraian: Mengkaji Ulang Anonimisasi Putusan
  3. KIAT MEMBANGUN DAN MENGUATKAN INTEGRITAS DI DUNIA PERADILAN – Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta on Kiat Membangun Dan Menguatkan Integritas Di Dunia Peradilan
  4. TITIAN PANJANG PENGABDIAN PRAJURIT SETIA HINGGA AKHIR – Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  5. Reinterpretasi Asas Ne Bis In Idem dalam Tindak Pidana Pencucian Uang: Sebuah Diskurus praktik Peradilan Kontemporer Suara BSDK Artikel on Blind Spot dalam Sistem Peradilan Pidana: Aspek “Perbuatan yang Didakwakan” dalam Konstruksi Surat Dakwaan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.