Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Wujudkan Generasi Berakhlak dan Bertakwa, Dharmayukti Karini Cabang Dataran Hunipopu Bagikan Beasiswa BDBS

31 July 2026 • 23:19 WIB

Perbandingan KUHAP Lama dengan KUHAP Baru serta Implikasi SEMA Nomor 2 Tahun 2026

31 July 2026 • 18:53 WIB

Wujudkan Peradilan Cepat dan Murah, Aparat Penegak Hukum Sosialisasi MoU Sidang Pidana Elektronik

31 July 2026 • 13:21 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Seragam Baju, Seragam Pemikiran?
Artikel Liputan Khusus Kegiatan BSDK Kerjasama dengan National Judicial Academy

Seragam Baju, Seragam Pemikiran?

Catatan kecil dari ruang kerja IT High Court Madhya Pradesh: ketika kerapian tidak harus berarti keseragaman, dan birokrasi seharusnya belajar membedakan antara disiplin, substansi, dan sekadar pakaian.
Irvan MawardiIrvan Mawardi29 April 2026 • 09:28 WIB8 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Ada pelajaran birokrasi yang kadang tidak datang dari ruang seminar, tidak pula dari dokumen kebijakan yang tebal dan file-file megabyte. Pelajaran itu justru muncul dari pemandangan sederhana: sebuah ruang kerja, beberapa meja komputer, petugas yang sibuk melayani sistem informasi pengadilan, dan pakaian kerja yang tidak seragam. Pagi itu, di salah satu ruangan IT High Court of Madhya Pradesh, Jabalpur, Ketika kami melakukan kunjungan beberapa hari lalu di Jabalpur, saya menangkap sesuatu yang tampak kecil, tetapi menyimpan pertanyaan besar: mengapa sebuah birokrasi harus selalu tampak sama untuk dianggap tertib?

Di ruangan itu, para pegawai bekerja sebagaimana layaknya aparatur peradilan modern bekerja. Ada layar komputer, sistem digital, dokumen elektronik, jaringan layanan, dan ritme kerja yang tertata. Namun ada satu hal yang segera menarik perhatian: mereka tidak mengenakan seragam yang sama. Ada yang memakai kemeja biru, ada yang berpakaian hijau, ada yang menggunakan busana kerja biasa. Para pegawai perempuan pun demikian. Tidak ada warna tunggal, tidak ada model pakaian yang dipaksakan, tidak ada simbol visual yang menyeragamkan seluruh orang dalam ruangan.

Saya sempat bertanya kepada salah seorang petugas: apakah Anda pegawai pemerintah? Jawabannya tegas: ya, official government. Mereka pegawai tetap. Lalu saya bertanya lagi, apakah tidak ada seragam? Jawabannya sederhana, tetapi menohok: tidak ada. Yang penting berpakaian rapi dan sopan.

Jawaban itu terasa biasa saja, tetapi bagi kita yang hidup dalam kultur birokrasi yang sangat akrab dengan seragam, ia menjadi semacam kejutan kecil. Di banyak kantor pemerintahan kita, pakaian tidak hanya menjadi urusan kerapian. Ia telah menjadi jadwal, kewajiban, simbol kepatuhan, bahkan terkadang menjadi ukuran disiplin. Hari Senin seragam tertentu, Selasa seragam lain, Rabu warna lain, Kamis motif tertentu, Jumat pakaian yang lain lagi. Yang tidak sama dianggap menyimpang. Yang tidak sesuai warna bisa ditegur. Yang berbeda mudah dianggap tidak disiplin.

Dari sinilah pertanyaan kritis itu muncul: sejak kapan birokrasi begitu percaya bahwa keseragaman adalah tanda ketertiban? Mengapa aparatur negara harus terus-menerus dilatih untuk tampak sama? Apakah kerapian tidak cukup? Apakah kesopanan tidak memadai? Apakah profesionalitas harus selalu dibuktikan melalui warna baju yang identik?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita sering membaca pemberitaan tentang anggaran pengadaan seragam di berbagai instansi, kantor, lembaga, bahkan organisasi sosial yang nilainya tidak kecil. Kadang angkanya ratusan juta. Kadang miliaran. Publik lalu bertanya: apakah benar seragam itu kebutuhan substantif, atau sekadar kebiasaan birokrasi yang sudah terlalu lama dianggap wajar?

Kehendak untuk berseragam rupanya tidak hanya hidup di kantor pemerintahan. Ia juga merembes ke berbagai komunitas sosial. Kelompok pengajian, organisasi informal, komunitas profesi, bahkan perkumpulan warga sering merasa perlu memiliki seragam. Seolah-olah kebersamaan belum lengkap tanpa warna pakaian yang sama. Seolah-olah identitas kolektif hanya dapat dilihat jika tubuh-tubuh manusia dibalut dengan model yang serupa.

Padahal, pengalaman singkat di High Court Madhya Pradesh memperlihatkan kemungkinan lain. Sebuah institusi tetap dapat terlihat rapi tanpa harus seragam. Sebuah kantor tetap dapat bekerja serius tanpa memaksakan warna pakaian tunggal. Sebuah birokrasi tetap dapat menjaga martabatnya tanpa mengubah seluruh pegawainya menjadi barisan visual yang serupa. Di titik ini, kita perlu membedakan antara disiplin dan keseragaman. Disiplin adalah soal tanggung jawab, ketepatan waktu, mutu kerja, akuntabilitas, dan kesungguhan melayani publik. Keseragaman hanyalah tampilan luar. Ia bisa membantu dalam konteks tertentu, tetapi tidak boleh menggantikan substansi. Ketika birokrasi terlalu sibuk mengatur tampilan, ia bisa lupa membangun nalar kerja.

Baca Juga  Omong Kosong Reformasi Birokrasi dan Warisan Budaya Organisasi Orde Lama

Yang lebih mengkhawatirkan, budaya seragam tidak berhenti pada pakaian. Ia dapat merembes menjadi budaya berpikir. Orang yang sejak kecil, sejak sekolah, sejak masuk kantor, terus-menerus dilatih untuk sama, lama-lama bisa takut berbeda. Takut mengambil inisiatif. Takut mengajukan gagasan baru. Takut melakukan terobosan. Takut berbeda pendapat. Takut dianggap tidak sejalan. Di sinilah bahaya keseragaman menjadi lebih dalam. Ia bukan lagi soal baju. Ia menjadi soal mentalitas. Birokrasi yang terlalu mencintai keseragaman mudah berubah menjadi birokrasi yang kaku. Semua orang menunggu contoh. Semua orang mencari pola yang aman. Semua orang berhitung agar tidak tampak berbeda. Akhirnya, yang tumbuh bukan kreativitas, melainkan kepatuhan formal. Bukan keberanian berpikir, melainkan kecemasan administratif.

Padahal tantangan birokrasi modern justru sebaliknya. Dunia berubah cepat. Teknologi digital bergerak melampaui prosedur lama. Kebutuhan publik semakin kompleks. Masalah hukum, sosial, ekonomi, dan administrasi tidak lagi bisa dijawab dengan cara berpikir tunggal. Birokrasi membutuhkan manusia-manusia yang rapi, tetapi juga kritis; tertib, tetapi juga imajinatif; patuh pada hukum, tetapi tidak kehilangan keberanian untuk menemukan jalan baru.

Refleksi ini terasa semakin kuat setelah beberapa hari mengikuti kegiatan di National Judicial Academy India di Bhopal. Selama lima hari berada di lingkungan akademi peradilan tersebut, hampir tidak tampak kultur aparatur yang dibangun melalui keseragaman pakaian. Para pejabat, pengajar, pegawai, dan aparatur pendukung hadir dengan pakaian kerja yang rapi, sopan, tetapi tidak disatukan oleh warna dan model seragam yang sama. Lingkungan akademi tetap berjalan tertib. Forum-forum tetap berlangsung serius. Otoritas kelembagaan tetap terasa. Tetapi semua itu tidak dibangun melalui penyeragaman tampilan.

Pemandangan ini penting dibaca lebih jauh, terutama bagi lembaga-lembaga yang bekerja di wilayah riset, pendidikan, pelatihan, dan pengembangan pemikiran. Lembaga seperti BRIN, badan-badan riset pemerintahan, maupun Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung, pada dasarnya bukan sekadar mesin administratif. Ia adalah ruang produksi gagasan. Ia adalah tempat di mana masalah dipikirkan, kebijakan dirumuskan, pengetahuan dikembangkan, dan masa depan kelembagaan dibayangkan.

Karena itu, kultur yang dibangun di lembaga riset dan pendidikan semestinya tidak terlalu dibebani oleh simbol-simbol birokratis yang berlebihan. Yang harus diperkuat bukanlah kesamaan warna pakaian, melainkan keberanian berpikir. Yang harus diutamakan bukanlah kepatuhan visual, melainkan ketajaman analisis. Yang harus dibesarkan bukanlah anggaran untuk tampilan, melainkan anggaran untuk riset, pengembangan kapasitas, pembacaan data, pembaruan kurikulum, dan penciptaan gagasan-gagasan strategis.

Dalam lembaga riset, seragam yang terlalu dominan bisa menjadi metafora yang kurang sehat. Ia dapat memberi pesan bahwa yang paling penting adalah tampak sama, bukan berpikir tajam. Padahal riset membutuhkan keberanian untuk bertanya, kesediaan untuk berbeda, dan kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut yang tidak lazim. Pendidikan aparatur juga demikian. Ia tidak boleh hanya menghasilkan pegawai yang patuh prosedur, tetapi harus melahirkan aparatur yang mampu membaca zaman, memahami perubahan, dan menawarkan jalan keluar.

Bagi lembaga pendidikan dan riset, kebebasan berpikir membutuhkan ruang psikologis. Aparatur yang setiap hari dibentuk dalam kultur formalistik yang terlalu ketat akan lebih mudah berhati-hati secara berlebihan. Ia bisa enggan berbeda. Ia bisa merasa tidak nyaman mengusulkan gagasan baru. Ia bisa lebih sibuk menebak kehendak atasan daripada menguji kekuatan argumen. Padahal lembaga strategis membutuhkan orang-orang yang tidak hanya taat, tetapi juga bernalar; tidak hanya rapi, tetapi juga reflektif; tidak hanya disiplin, tetapi juga berani membayangkan kemungkinan baru.

Maka, pengalaman 5 (lima) hari di National Judicial Academy India dan High Court Madhya Pradesh memberi pelajaran yang sama: kewibawaan lembaga tidak selalu lahir dari keseragaman tampilan. Kewibawaan lembaga justru lahir dari mutu kerja, kedalaman pengetahuan, integritas aparatur, dan keberanian untuk membangun tradisi berpikir yang terbuka. Di lembaga riset dan pendidikan, seragam terbaik bukanlah pakaian yang sama, melainkan komitmen yang sama terhadap ilmu pengetahuan, pembaruan, dan pelayanan publik yang bermutu.

Baca Juga  Komitmen Pengadilan Militer I-04 Palembang Dalam Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK)

Pelajaran lain dari India juga tampak dalam sejarah kepemimpinan High Court Madhya Pradesh. Setelah pembentukan negara bagian Madhya Pradesh, Ketua Pengadilan Tinggi pertamanya adalah Justice M. Hidayatullah, yang mulai menjabat pada 1 November 1956. Daftar resmi mantan Chief Justice High Court Madhya Pradesh mencatat namanya sebagai Ketua Pengadilan pertama, dan riwayatnya kemudian berlanjut hingga menjadi hakim Supreme Court of India serta Chief Justice of India.

Fakta ini menarik bukan hanya karena Hidayatullah adalah nama besar dalam sejarah peradilan India, tetapi juga karena ia memperlihatkan keberanian institusional untuk menempatkan kapasitas di atas identitas sempit. Dalam masyarakat yang mayoritas Hindu, seorang hakim Muslim dapat menjadi pimpinan pertama pengadilan tinggi di wilayah tersebut. Ini bukan sekadar catatan biografis. Ini adalah tanda bahwa sebuah komunitas hukum yang matang tidak semestinya takut pada perbedaan. Dari pakaian pegawai hingga sejarah kepemimpinan pengadilan, ada benang merah yang sama: institusi yang kuat tidak selalu membutuhkan keseragaman visual. Justru institusi yang percaya diri sanggup memberi ruang bagi keberagaman, selama profesionalitas, integritas, dan tanggung jawab tetap dijaga.

Mungkin inilah salah satu pekerjaan rumah birokrasi kita. Kita perlu merasionalkan kembali banyak hal yang selama ini diterima begitu saja. Apakah semua seragam benar-benar diperlukan? Apakah semua jadwal pakaian dinas memiliki dasar kebutuhan yang kuat? Apakah anggaran besar untuk uniform lebih penting daripada penguatan kapasitas pegawai, teknologi layanan, atau peningkatan kualitas kerja?

Tentu tidak semua seragam harus ditolak. Dalam keadaan tertentu, seragam dapat memiliki fungsi identifikasi, keamanan, pelayanan publik, atau kehormatan institusional. Tetapi ketika seragam berubah menjadi obsesi, ketika kesamaan tampilan lebih dihargai daripada kualitas kerja, ketika anggaran pakaian lebih mudah disetujui daripada anggaran peningkatan kapasitas, maka birokrasi perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya yang sedang kita bangun?

Kunjungan singkat ke ruang IT High Court Madhya Pradesh memberi saya satu refleksi sederhana: birokrasi masa depan tidak cukup dibangun dengan manusia-manusia yang berpakaian sama. Ia harus dibangun oleh manusia-manusia yang berani berpikir jernih, bekerja tekun, melayani dengan hormat, dan tidak takut berbeda sepanjang perbedaan itu mengarah pada kemajuan.

Dengan cara pandang itu, anggaran kelembagaan pun perlu dibaca ulang. Setiap rupiah yang dikeluarkan semestinya diarahkan pada penguatan kapasitas substantif: riset yang berkualitas, pelatihan yang relevan, teknologi pembelajaran, forum ilmiah, penerbitan pengetahuan, dan pengembangan kebijakan berbasis data. Bila ada pilihan antara memperkuat gagasan atau memperbanyak simbol, maka lembaga strategis seharusnya memilih gagasan. Sebab masa depan birokrasi tidak diselamatkan oleh pakaian yang seragam, melainkan oleh pikiran yang bekerja.

‘Alā Kulli Hāl pada akhirnya kita perlu bertanay secara jujur, apakah martabat birokrasi tidak terletak pada warna seragamnya?. Martabat birokrasi terletak pada akal sehatnya, integritasnya, keberaniannya memperbaiki diri, dan kemampuannya melayani publik tanpa kehilangan kemanusiaan. Seragam boleh sama, tetapi pikiran tidak boleh diseragamkan. Birokrasi boleh tertib, tetapi tidak boleh kehilangan keberanian untuk berbeda. wallahu a’lam bishawab

Irvan Mawardi
Kontributor
Irvan Mawardi
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

birokrasi Budaya Kerja Budaya Organisasi Disiplin Kerja Inovasi Pemerintahan Kreativitas Aparatur Pemikiran Kritis Reformasi Birokrasi Seragam ASN Tata Kelola Pemerintahan
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Perbandingan KUHAP Lama dengan KUHAP Baru serta Implikasi SEMA Nomor 2 Tahun 2026

31 July 2026 • 18:53 WIB

Mahasiswa Magang, Bagian Konsumsi…Bikin Kopi atau Membuat Aplikasi

31 July 2026 • 08:14 WIB

Hakim, Iklim, dan Hati Nurani

30 July 2026 • 22:11 WIB
Leave A Reply

Demo
Top Posts

Dari Monitoring Hingga Titik Nol: Sebuah Perjalanan Tentang Pengabdian

30 July 2026 • 15:00 WIB49 Views

Sebelum Karangan Bunga Berikutnya Dikirim

27 July 2026 • 12:12 WIB23 Views

Menepi Sejenak di Tambak Bandeng

11 July 2026 • 09:06 WIB2 Views

Prediksi Juara World Cup 2026 Dari Pusdiklat Menpim

6 July 2026 • 21:16 WIB0 Views
Don't Miss

Wujudkan Generasi Berakhlak dan Bertakwa, Dharmayukti Karini Cabang Dataran Hunipopu Bagikan Beasiswa BDBS

By Yudhistira Ary Prabowo31 July 2026 • 23:19 WIB21 Views0

Jum’at 24 Juli 2026, Dharmayukti Karini Cabang Dataran Hunipopu yang terdiri dari Pengadilan Negeri dan…

Perbandingan KUHAP Lama dengan KUHAP Baru serta Implikasi SEMA Nomor 2 Tahun 2026

31 July 2026 • 18:53 WIB

Wujudkan Peradilan Cepat dan Murah, Aparat Penegak Hukum Sosialisasi MoU Sidang Pidana Elektronik

31 July 2026 • 13:21 WIB

Permudah Akses Hukum di Daerah Terpencil, PN Dataran Hunipopu Selenggarakan Sidang Keliling

31 July 2026 • 13:15 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Wujudkan Generasi Berakhlak dan Bertakwa, Dharmayukti Karini Cabang Dataran Hunipopu Bagikan Beasiswa BDBS
  • Perbandingan KUHAP Lama dengan KUHAP Baru serta Implikasi SEMA Nomor 2 Tahun 2026
  • Wujudkan Peradilan Cepat dan Murah, Aparat Penegak Hukum Sosialisasi MoU Sidang Pidana Elektronik
  • Permudah Akses Hukum di Daerah Terpencil, PN Dataran Hunipopu Selenggarakan Sidang Keliling
  • Pusdiklat Teknis MA Gelar Monev Diklat Hakim Lingkungan Hidup di PTUN Denpasar

Recent Comments

  1. MilanMoofs on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  2. BarryCiz on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  3. MichaelCaw on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  4. casino Klarna ohne 5 sekunden on Irah-Irah Putusan Hakim: Jejak Pancasila dalam Ruang Sidang
  5. BarryCiz on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Dr. Satria Perdana, S.H., M.H.
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.