Ruang musyawarah itu terasa lebih penuh dari biasanya, padahal hanya ada tiga orang di dalamnya. Ketua majelis, Ravindra Karsa, duduk dengan berkas terbuka di depannya, kacamata sedikit turun dari posisi semula. Di sisi kanan, Elion Prasetra menyandarkan punggung, jari-jarinya saling terkait, sementara di sisi kiri Mahira Sadyana masih membalik halaman dengan ritme yang terlalu cepat untuk disebut membaca dan terlalu lambat untuk disebut sekadar melihat.
Perkara itu sudah berjalan berbulan-bulan. Sidang demi sidang, saksi demi saksi. Ruang sidang pernah penuh, pernah juga kosong. Tapi satu hal yang konsisten: perhatian orang-orang terhadap perkara ini tidak pernah benar-benar hilang.
“Kalau kita lihat dari konstruksinya,” kata Eli akhirnya, menutup berkas dengan satu gerakan yang terdengar lebih tegas dari yang ia maksudkan, “peran masing-masing sudah cukup terang. Pelaku utama jelas. Yang satu lagi… membantu.”
Ravi tidak langsung menjawab. Ia menggeser sedikit berkasnya, seolah mencari sudut pandang yang berbeda dari halaman yang sama. “Membantu,” ulangnya pelan, seperti menguji kata itu di lidahnya sendiri. “Berdasarkan?”
Eli tidak perlu membuka lagi berkasnya. “Keterangan saksi Liron. Dia yang melihat langsung. Dia yang bilang terdakwa kedua ada di sana, memberi saran. Itu cukup untuk menariknya sebagai peserta.”
Mahira mengangkat pandangannya, tapi tidak langsung bicara. Ia mengingat bagaimana saksi itu berdiri di ruang sidang— Darmaya Liron, namanya. Tubuhnya kurus, suaranya tidak terlalu keras, tapi jelas. Ia menjawab pertanyaan dengan cepat, hampir terlalu cepat, seolah takut kehilangan urutan cerita di kepalanya sendiri. Ia disumpah. Ia menyatakan melihat. Ia menunjuk. Dan pada titik itu, ruang sidang seperti menemukan arah.
“Korban tidak melihat langsung,” kata Mahira pelan. “Dia hanya tahu mobilnya hilang. Semua konstruksi peristiwa bertumpu di situ, di Liron.”
Ravi mengangguk kecil. Itu memang titiknya. Dari sekian banyak saksi, dari sekian banyak uraian, hanya satu yang benar-benar melihat. Dan dari satu itu, lahir seluruh bangunan keyakinan.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara. Hanya suara kertas yang sesekali bergeser, dan bunyi pendingin ruangan yang konstan, seperti sesuatu yang sengaja dibuat agar tidak diperhatikan.
“Secara hukum, tidak ada yang salah,” lanjut Eli, kali ini lebih tenang. “Saksi di bawah sumpah. Keterangannya konsisten. Didukung sebagian oleh fakta lain. Kita tidak butuh dua saksi mata untuk setiap peristiwa.”
Ravi hampir mengangguk. Hampir.
Tapi tangannya berhenti di atas halaman berikutnya.
Ada satu lampiran yang belum ia baca dengan sungguh-sungguh sebelumnya. Bukan karena tidak penting, mungkin karena saat itu tidak terasa relevan. Ia menarik kertas itu keluar sedikit, cukup untuk melihat judulnya.
Surat Keterangan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa.
Ia membaca lebih perlahan.
Nama: Darmaya Liron.
Diagnosis: …Keterangan: pasien dengan gangguan tertentu, dengan penilaian kemampuan realitas yang terganggu dalam kondisi tertentu.
Ia berhenti.
“Ini…” katanya, tanpa menyelesaikan kalimat.
Mahira mencondongkan tubuh. “Apa?”
Ravi menyerahkan kertas itu tanpa banyak kata. Eli ikut mendekat, sedikit lebih cepat dari biasanya.
Ruangan itu tidak berubah. Tapi sesuatu di dalamnya bergeser.
“Ini sudah ada dari awal?” tanya Mahira.
Ravi mengangguk. “Masuk sebagai lampiran. Tapi tidak pernah benar-benar dibahas.”
“Di persidangan?” Mahira mencoba mengingat.
“Tidak secara eksplisit,” jawab Ravi “Tidak pernah diuji secara serius.”
Eli membaca ulang bagian terakhir. “Kemampuan realitas yang terganggu… dalam kondisi tertentu.” Ia mengulang frasa itu pelan, seolah-olah dengan mengulangnya, maknanya akan menjadi lebih pasti.
Mahira menyandarkan punggungnya. “Itu tidak otomatis membuat keterangannya tidak sah.”
“Tidak,” kata Ravi. “Tapi itu membuat kita harus bertanya ulang: kita percaya pada apa?”
Kalimat itu tidak ditujukan ke siapa pun. Tapi ia jatuh tepat di tengah.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Waktu berjalan, tapi tidak terasa bergerak.
Di luar ruangan, aktivitas pengadilan mungkin masih berlangsung seperti biasa. Orang datang, orang pergi. Perkara lain dipanggil, ditunda, diputus. Tapi di dalam ruangan itu, semuanya seperti berhenti di satu titik yang tidak bisa dilewati begitu saja.
“Kita bisa tetap lanjut,” kata Eli akhirnya. Nada suaranya tidak sekeras sebelumnya, tapi masih mencoba bertahan pada jalur yang sama. “Keterangan saksi itu tidak berdiri sendiri. Ada rangkaian peristiwa. Ada logika kejadian.”
Mahira menatapnya. “Tapi tidak ada saksi lain yang melihat langsung.”
Eli tidak menyangkal.
“Dan terdakwa kedua…” lanjut Mahira, “ditarik ke dalam perkara ini karena satu kalimat dari orang yang mungkin….”
ia berhenti, mencari kata yang tidak terlalu keras, tapi tidak juga terlalu lunak, “…..tidak selalu melihat dunia seperti adanya.”
Ravi menutup berkasnya perlahan.
Bukan sebagai tanda selesai. Lebih seperti seseorang yang sadar bahwa apa yang ia pegang tidak lagi sama seperti sebelumnya.
“Kalau kita tetap putus seperti ini,” katanya pelan, “kita menghukum seseorang berdasarkan keyakinan yang kita tahu sekarang… tidak utuh.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Eli menatap meja di depannya. Untuk pertama kalinya sejak musyawarah dimulai, ia tidak membuka berkasnya lagi.
Mahira menghela napas panjang.
“Kalau kita ubah,” kata Ravi akhirnya, “artinya kita meruntuhkan seluruh konstruksi.”
“Kalau kita tidak ubah,” jawab Mahira, “mungkin kita meruntuhkan sesuatu yang lebih besar.”
Ruangan itu kembali sunyi.
Ravi menatap dua hakim di depannya, lalu kembali ke berkas yang sudah ia tutup. Ia tahu, pada akhirnya, mereka harus memutus. Tidak ada pilihan untuk tidak.
Tapi untuk pertama kalinya dalam perkara itu, ia memahami sesuatu yang tidak pernah terasa di awal:
bahwa keyakinan hakim bukan sesuatu yang sekali terbentuk lalu tinggal dibacakan, ..melainkan sesuatu yang harus berani dibongkar kembali,
bahkan ketika semuanya sudah terasa selesai.
Di luar ruangan, hari terus berjalan.
Di dalam, tiga orang itu masih duduk di tempat yang sama.
Dengan satu pertanyaan yang tidak ada di dalam berkas:
apakah keadilan masih bisa dicapai, jika keyakinannya sendiri datang terlambat untuk diragukan?
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


