Catatan ringan dari Bhopal India
Di Tengah padatnya mengikuti Training Program For Judges From The Republic Of Indonesia di National Judicial Academy India, baru pada Hari Minggu (ahad) 26 April 2026, saya dan beberapa rekan, seperti pak Ach. Jufri (Sesban BSDK), Pak Mayor Junaedi, Pak Irvan dan ditemani pak Rizki dari KBRI di India dapat melaksanakan shalat subuh di Masjid Taajul Masajid (Mahkota Masjid-Masjid) di Bhopal India.
Kami berlima berangkat dari asrama National Judicial Academy (NJA) pukul 04.00 AM karena waktu subuh di wilayah Bhopal pukul 04.23 AM, dengan menggunakan mobil carteran selama 4 jam dengan biaya 1.600 Rupee atau sekitar Rp. 291.000 jika dikonversi dengan rupiah, alhamdulillah perjalanan lancar sehingga dapat ditempuh selama 15 menit sesuai estimasi, padahal pada siang hari ketika traffic ditempuh selama 30 menit.
Kami semangat untuk mengunjungi masjid Taajul Masajid tersebut karena disamping jaraknya tidak begitu jauh, hanya sekitar 7,5 KM, juga karena masjid ini salah satu masjid terbesar di Asia dan terbesar di India, dibangun oleh Nawab Shah Jahar Begum 1871/1887 dan sempat terbengkalai, kemudian dilanjutkan oleh putrinya Sultan Jahar Begum selesai tahun 1958. Masjid ini memiliki luas interior sekitar 430.000 kaki persegi atau sekitar 39.948 M2 atau hampir 4 hektar luasnya, terletak di jantung sibuk kota Bhopal, Madhya Pradesh, India.
Pada saat kami sampai di area masjid pintu gerbang masih dikunci dan belum waktu subuh, kemudian petugas jaga gerbang menghampiri dan menginformasikan bahwa shalat subuh akan dilaksanakan pada pukul 05.30 AM. Setelah kami masuk, kami tidak langsung masuk masjid karena waktu subuh belum masuk, kami menuju kolam yang ada di depan masjid untuk berwudhu, yang konon kata pak Irvan dengan nada serius atau bercanda saya tidak tahu: “yang berwudhu dengan air kolam itu akan hasil hajatnya”. Sebenarnya dari asrama NJA kami sudah berwudhu, terpengaruh atau tidak dengan kata-kata pak Irvan saya berwudhu lagi di air kolam itu dengan niat Tajdidul Wudhu yang kemudian diikuti oleh temen-temen lain.

Ada beberapa hal menarik yang menjadi cacatan ringan kami dalam perjalanan spiritual ke masjid Taajul Masajid Bhopal:
Sebagaimana lazimnya shalat berjamaah di masjid al-Maghfirah BSDK atau masjid-masjid lainnya di Indonesia, jarak antara adzan dan iqomah 12-15 menit. Hal ini diterapkan berdasarkan hadits Rasulullah: “afhdalul ‘amal ashalatu fi awwali waktiha (sebaik-baik amal itu shalat pada awal waktu). Hari itu waktu subuh di Bhopal pukul 04.23 AM dan waktu syuruk pukul 05.40 AM. Selesai muadzin mengumandangkan adzan kami melaksanakan shalat tahiyatul masjid 2 rokaat, lalu shalat qobliyah subuh (shalat fajar) 2 rokaat, kemudian kami ada yang membaca al-Qur’an, berdzikir, dsb. menunggu iqomah. Ternyata iqomah shalat subuh pukul 05.30 mendekati waktu syuruk, maka selesai mendirikan shalat subuh mataharipun merayapi bumi dan menampakan sinarnya dari upuk timur.
Yang membuat kami semua terheran-heran dan penuh tanda tanya, Ketika petugas mengumandangkan iqobah, lafadznya sama dengan lafadz azan (lafadz Allahu Akbar 4 kali, lafadz asyhadu alla ilaha illallah 2 kali, lafadz asyhadu anna muhammadarrasulullah 2 kali, lafadz hayya ‘ala shalah 2 kali, lafadz hayya ‘alal falah 2 kali, cuma ditambah lafadz assalatu khoirun minannaum 2 kali. Ketika dikumandangkannya lafadz iqomah kami yang terheran-heran, tetapi pada waktu mengucapkan amiin mereka para jamaah dan santri-santri tahfidz yang merasa heran kepada kami, jadi seri dan sama-sama heran. Ceritanya begini: setelah imam membaca akhir surat al-fatihah, kami serentak seperti biasa di Indonesia mengucapkan kata: “Aamiin” dengan keras, tapi hanya suara kami yang terdengar, jamaah lain tidak terdengar, mungkin membaca kata aamiin tetapi secara siir (samar). Rupanya selidik punya selidik setelah shalat bahwa mereka bermadzhab Hanafi, yang membaca lafadz aminnya dalam shalat secara siir. Yang lebih bikin tersenyum kami setelah kejadian itu pak Rizki mengatakan: “maaf pak tadi lupa ngasih tau kalo nanti baca aamiinnya pelan-pelan” sambil beliau senyum simpul.

Taajul Masajid artinya mahkota masjid-masjid, karena memang dari sisi arsitektur masjid ini barangkali masjid terindah dari masjid-masjid yang ada di kota Bhopal, namun Ketika kita menginjakan kaki disana terkesan mahkota itu terabaikan, terkesan kurang terawat dibanding masjid al-Maghfirah contohnya. Sepengetahuan kami Ada beberapa hal yang menyebabkan kondisi masjid Taajul Masajid seperti itu:
- Masalah Dana & Penyelesaian Pembangunan
Seperti diketahui bahwa Masjid ini mulai dibangun tahun 1871 oleh Nawab Shah Jahan Begum. Tapi mangkrak karena kekurangan dana. Baru selesai total tahun 1985, dibantu dana dari Emir Kuwait. Karena pembangunannya tersendat 100+ tahun, banyak bagian yang belum finishing sempurna sejak awal. Perawatan bangunan tua seluas 23.912 sq ft itu mahal sekali.
- Status Pengelolaan
Taj-ul Masajid dikelola oleh komunitas muslim lokal & madrasah Darul Uloom, bukan oleh Archaeological Survey of India (ASI) atau badan wakaf nasional yang dananya besar. Jadi anggaran perawatan sangat terbatas, hanya mengandalkan donasi jamaah
- Beban Fungsi Ganda
Masjid ini sekaligus jadi madrasah, tempat tinggal santri, dan pusat kegiatan. Dulu sampai 2001 dipakai untuk Bhopal Tablighi Ijtima yang dihadiri ratusan ribu orang. Aktivitas super padat bikin bangunan cepat aus, tapi dana renovasi minim. Akhirnya acara Ijtima dipindah ke Islam Nagar karena masjid sudah tidak muat.
- Kurang Promosi Wisata
Pemerintah Madhya Pradesh lebih fokus promosi Sanchi Stupa, Bhimbetka, dan istana-istana Bhopal. Taj-ul Masajid kalah branding dibanding destinasi lain. Padahal masuk gratis dan buka 6 AM – 8 PM. Akibatnya kunjungan wisatawan domestik & asing sedikit, sehingga pemasukan dari pariwisata juga kecil.
- Dampak Lokasi & Lingkungan
Letaknya di Royal Market area yang padat dan macet. Debu, polusi, dan parkir sembarangan bikin kesan kumuh di sekitar masjid. Banyak area luar masjid yang dipakai pedagang kaki lima, jadi terlihat kurang tertata.
Catatan: “Terabaikan” lebih ke kesan visual & minimnya restorasi besar. Untuk ibadah harian, tetapi masjid ini tetap aktif dan ramai, terutama di hari Jum’at. Non-muslim juga boleh masuk kecuali hari Jumat. Namun kalau dibanding National Judicial Academy yang gedungnya baru & terawat karena dana negara, kontrasnya memang sangat kelihatan.
Akhirnya, pada pukul 06.00 AM kami berlima pulang dari perjalanan spiritual yang mengesankan itu dan kami mampir ke Raju Tea Stall yang selalu rame pengunjung di kota Bhopal untuk mencicipi brerakfast Indian Street Food, seperti Jalebi, kachori sabzi, puri Bhaji, dll.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


