Bus itu melaju dari Bhopal menuju Jabalpur, dikawal polisi di depan dan belakang. Sirene sesekali meraung, tapi yang paling terasa justru guncangan di kursi paling belakang—tempat dua hakim Indonesia itu duduk, terpental setiap kali roda menghantam lubang dan melindas speed bump.
“Kalau ini bukan bus, ya roller coaster,” kata Shankar sambil mencengkeram sandaran kursi.
Kumar tertawa keras. “Roller coaster rasa India… plus bonus sapi.”
Belum selesai tawanya, bus menghantam lubang, lalu langsung naik di speed bump. Tubuh mereka terangkat, lalu jatuh lagi ke kursi.
“Ini bukan lagi perjalanan,” kata Kumar sambil mengusap punggungnya, “ini pengingat bahwa hidup memang tidak selalu mulus.”
Shankar menyeringai. “Atau kita lagi di dalam Journey to the West.”
Kumar langsung menangkap maksudnya. “Jadi kita siapa? Biksu atau monyet?”
Shankar melirik Kumar, lalu menahan senyum.
“Kalau kau… lebih cocok jadi Zhu Bajie. Tenang, kuat, dan tetap santai meski perjalanan seberat ini.”
Kumar tertawa sambil menepuk perutnya. “Yang penting tetap sampai tujuan.”
Tiba-tiba bus mengerem keras.
“Sapi lagi?”
“Pasti,” jawab Kumar santai.
Di depan, sapi-sapi berjalan perlahan, seolah mereka yang mengatur ritme perjalanan. Bus berhenti, lalu berjalan lagi, lalu berhenti lagi.
“Dalam kisah perjalanan,” kata Shankar, “selalu ada hal-hal yang memaksa kita melambat.”
Kumar mengangguk. “Dan justru di situ kita belajar.”
Percakapan mereka lalu beralih, seperti alur cerita yang pelan-pelan masuk ke inti.
Shankar menatap ke luar jendela.
“Kau ingat kisah Sukarno dan Hamka?”
Kumar mengangguk. “Tentang wasiat itu.”
“Ya,” lanjut Shankar. “Seseorang yang pernah memenjarakan, justru meminta orang yang dipenjara itu untuk mengimami jenazahnya. Dan yang diminta… tetap datang, tanpa dendam.”
Bus kembali mengerem, seolah memberi jeda pada kalimat itu.
“Itu bukan sekadar sejarah,” kata Kumar pelan. “Itu pelajaran tentang keadilan yang melampaui hukum.”
Shankar mengangguk.
“Seperti Journey to the West—perjalanan penuh ujian. Tapi ujian itu membentuk karakter. Dan pada akhirnya, yang diuji bukan hanya kemampuan… tapi hati.”
Kumar menatap lurus ke depan.
“Dan kita… sebagai hakim, mungkin ada di posisi itu. Bukan hanya menilai benar dan salah, tapi juga memahami manusia di baliknya.”
Shankar tersenyum tipis.
“Mungkin itu sebabnya kita tidak jadi sejarawan.”
Kumar menghela napas ringan.
“Tapi kita tetap hidup di dalam sejarah… hanya saja dalam bentuk putusan.”
Bus mulai melambat. Kali ini bukan karena sapi, tapi karena sebuah gerbang besar yang terbuka di depan.
Bangunan megah berdiri kokoh. Bendera berkibar. Suasana berubah—lebih formal, lebih teratur.
Bus masuk ke kompleks Madhya Pradesh State Judicial Academy, bagian dari lingkungan High Court of Madhya Pradesh.
Begitu pintu terbuka, sambutan hangat sudah menunggu. Para pejabat berdiri rapi, senyum ramah, tangan terulur untuk menyambut. Tidak ada lagi guncangan, tidak ada lagi rem mendadak—yang ada hanya langkah pasti memasuki ruang yang selama ini mereka kenal dalam bentuk berbeda.
Shankar dan Kumar turun perlahan.
Sejenak mereka saling pandang.
Perjalanan dari kursi belakang—yang terasa seperti menunggang kuda, seperti roller coaster, seperti ujian panjang—ternyata bukan sekadar perjalanan fisik.
Itu adalah pengingat.
Bahwa menjadi hakim, di mana pun—di Indonesia maupun di India—adalah perjalanan seperti dalam kisah lama: penuh ujian, penuh jeda, penuh pilihan.
Dan saat mereka melangkah masuk, disambut dengan kehormatan, mereka akhirnya mengerti—
Mereka memang tidak menjadi sejarawan seperti cita-cita mereka dahulu.
Tapi setiap langkah, setiap putusan, setiap pertemuan seperti ini…
adalah bagian dari sejarah yang sedang mereka jalani.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


