Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kebajikan dan Keadilan dalam Filsafat Jawa: Memetik Hikmah Wayang bagi Sang Pengadil

9 May 2026 • 09:29 WIB

Pengadilan Tinggi Kepulauan Riau Menyapa: Menguatkan Pemahaman KUHP Nasional dan Tantangan Pembaharuannya

9 May 2026 • 09:23 WIB

Poligami dan Nafkah yang Tak Boleh Menguap

9 May 2026 • 07:49 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Kebajikan dan Keadilan dalam Filsafat Jawa: Memetik Hikmah Wayang bagi Sang Pengadil
Berita

Kebajikan dan Keadilan dalam Filsafat Jawa: Memetik Hikmah Wayang bagi Sang Pengadil

Syailendra Anantya PrawiraSyailendra Anantya Prawira9 May 2026 • 09:29 WIB7 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Jumat, 8 Mei 2026, menjadi sebuah momentum krusial bagi para hakim dari seluruh penjuru Nusantara yang berkumpul dalam rangkaian Pendidikan Filsafat dan Keadilan. Sebagai penutup, Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan (BSDK) Mahkamah Agung RI menghadirkan sosok yang unik: Prof. Kanjeng Pangeran Yanto. Beliau bukan sekadar Ketua Kamar Pengawasan Mahkamah Agung atau Ketua Ikatan Hakim Indonesia, melainkan juga seorang dalang kondang yang mampu membedah kerumitan hukum melalui keelokan budaya pewayangan.

Di tangan beliau, dunia pewayangan yang warisannya dipopulerkan oleh Walisongo untuk syiar agama, ternyata tetap relevan menjadi cermin bagi penegakan hukum modern. Wayang bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan yang merangkum kehidupan secara jujur. Di dalamnya, kita tidak hanya menemukan tokoh-tokoh suci, namun juga provokator, sosok yang culas, hingga drama perselingkuhan, poliandri, dan poligami yang mencerminkan realitas sosial manusia di segala zaman. Salah satu kisah yang diangkat adalah Renuko, istri Wisanggeni, yang terlibat skandal dengan pejabat tinggi, sebuah metafora bahwa penyalahgunaan kekuasaan dan krisis moral bukanlah hal baru di kolong langit ini.

Cakra Manggilingan: Simbolisme Integritas Hakim

Dalam khazanah pewayangan, keadilan dipersonifikasikan melalui Batara Wisnu, sang Dewa Keadilan. Senjata andalannya, Cakra, kemudian diwariskan kepada Batara Kresna. Senjata berbentuk roda bergerigi ini bukan difungsikan sebagai alat gagah-gagahan, melainkan lambang bagi hakim untuk membinasakan kebatilan dan menegakkan kebenaran. Cakra mencerminkan “Cakra Manggilingan”, yakni sebuah roda keadilan yang terus berputar, memastikan bahwa hukum tidak pernah mandek dan kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya.

Panca Dharma Hakim yang kita kenal saat ini menemukan akar filosofisnya yang terpancar dalam simbol-simbol alam dan spiritualitas Jawa. Hakim diharapkan memiliki kewibawaan laksana emas dan integritas yang tak tergoyahkan. Integritas ini tercermin dalam lima lambang utama. Pertama adalah Kartika atau bintang, yang melambangkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai kompas moral tertinggi. Kedua adalah Cakra yang melambangkan kemampuan untuk memusnahkan segala bentuk kebatilan, kezaliman, dan ketidakadilan. Ketiga adalah Candra atau rembulan yang melambangkan kebijaksanaan dan kewibawaan. Keempat adalah Sari atau bunga yang harum, yang berarti seorang hakim harus berbudi luhur dan memiliki kelakuan yang tidak tercela di mata masyarakat. Kelima adalah Tirta atau air, yang melambangkan kejernihan pikiran dan ketenangan batin.

Berbeda dengan personifikasi keadilan dari filsafat barat, Dewi Themis, yang matanya tertutup kain sebagai simbol objektivitas tanpa pandang bulu, dalam filsafat Jawa, keadilan ditekankan pada kejernihan hati dan darah yang putih. Tokoh Pandawa, Puntadewa atau Yudhistira, adalah representasi dari kejujuran mutlak. Ia digambarkan memiliki darah putih, simbol bahwa hatinya bersih dari segala sifat kotor. Bagi seorang hakim, “darah putih” ini adalah prasyarat yang penting sebelum ia mengetukkan palu.

Meneladani Pandawa Lima

Prof. Yanto mengajak para hakim untuk merefleksikan karakter Pandawa Lima sebagai standar profesionalisme pengadil. Selain Yudhistira yang jujur, ada Werkudara atau Bima yang melambangkan keteguhan tekad. Bima adalah sosok yang lurus; ia tidak pernah menggunakan bahasa krama karena hatinya tidak mengenal basa-basi yang menipu. Kisahnya saat memasuki samudera luas dan dililit ular naga mencerminkan keberanian hakim menghadapi ancaman. Ketika ia berhasil masuk ke dalam telinga sosok kecil (Dewaruci), ia menemukan ilmu Sangkan Paraning Dumadi, yakni ilmupemahaman tentang asal dan tujuan hidup. Kisah tersebut adalah pesan bagi hakim untuk berani menyelami “samudera” perkara yang rumit demi menemukan hakikat keadilan yang paling hakiki.

Baca Juga  Momentum Ramadlan: Perangi Diri, Perangi Korupsi!

Di sisi lain, Janaka atau Arjuna melambangkan profesionalisme melalui ketekunannya berguru. Arjuna tidak pernah berhenti belajar, mulai dari berguru panah kepada Resi Durna hingga ilmu kanuragan kepada Begawan Patmonogo. Bagi hakim, kisah tersebut adalah pengingat bahwa intelektualitas harus terus diasah; seorang hakim tidak boleh berhenti belajar karena hukum terus berkembang. Sementara itu, Nakula dan Sadewa memberikan keseimbangan melalui sifat lemah lembut, berbudi pekerti, dan rendah hati. Hakim yang ideal adalah perpaduan antara kejujuran Yudhistira, ketegasan Bima, profesionalisme Arjuna, serta kerendahhatian Nakula dan Sadewa.

Wahyu Makutoromo: Kepemimpinan Berbasis Hastobroto

Kepemimpinan dalam peradilan tidak bisa dilepaskan dari konsep Wahyu Makutoromo. Dalam lakon ini, diajarkan ajaran Hastobroto, yaitu delapan modal utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin atau pengadil. Hastobroto mengambil perlambang dari delapan unsur alam yang masing-masing membawa pesan moral yang sangat dalam.

Pertama, seorang hakim harus bertindak seperti Matahari (Srengenge). Ia harus menjadi pelita dalam kegelapan dan sumber kehidupan bagi orang yang mencari keadilan ataupun bawahannya. Matahari juga melambangkan keberanian untuk bersinar secara konsisten. Kedua, ia harus seperti Rembulan, yang mampu memberikan pencerahan dan keteduhan di waktu malam, terutama bagi mereka yang sedang dirundung masalah hukum. Ketiga, sifat Bintang harus dimiliki sebagai penanda arah dan teladan tata susila budaya yang memperindah “angkasa” peradilan.

Keempat adalah sifat Awan. Meski kadang terlihat mengerikan dan mendung, awan membawa hujan yang memberi penghidupan. Hakim terkadang harus menjatuhkan putusan yang terasa “mendung” atau berat bagi satu pihak, namun putusan itu bertujuan memberi kepastian hukum bagi kehidupan masyarakat yang lebih luas. Kelima, hakim harus seperti Bumi atau tanah. Tanah adalah simbol kesabaran dan ketabahan. Meskipun diinjak-injak, bumi selalu menopang dan kuat. Hakim tidak boleh goyah oleh pujian, hasutan, atau bujuk rayu material.

Keenam, pemimpin harus berjiwa luas seperti Samudera (Jembar Ati). Hakim harus mampu menampung keluh kesah, kritikan, maupun pujian tanpa menjadi reaktif atau besar kepala. Ketujuh adalah sifat Api. Api melambangkan ketegasan dan keberanian untuk menghukum tanpa pandang bulu, namun tetap bermanfaat bagi kehidupan. Terakhir adalah Angin, yang berhembus ke segala penjuru. Hakim harus memiliki sensitivitas sosial, mengetahui denyut nadi kehidupan masyarakat agar putusannya tidak terasa asing dari realitas sosial.

Baca Juga  Effects Of Media Trials Terhadap Putusan Pengadilan: Tinjauan Yuridis, Sosiologis, Dan Psikologis Dalam Sistem Peradilan Modern

Belajar dari Bisma dan Basukarna

Dari sepuluh Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH), Prof. Yanto menekankan bahwa integritas adalah fondasi yang paling mendasar. Beliau memberikan contoh menarik dari tokoh Bisma, Salya, dan Raden Basukarna dalam perang Baratayudha. Ketiga tokoh ini adalah sosok yang secara moral mengetahui bahwa Kurawa berada di pihak yang salah dan akan kalah. Namun, mereka tetap memilih membela Kurawa bukan karena cinta pada kebatilan, melainkan karena kesetiaan pada janji dan tugas (dharma). Mereka memahami bahwa jika mereka tidak turun ke medan laga, kejahatan tidak akan pernah binasa sepenuhnya dan tunas angkaramurka akan tetap tumbuh di negara Astina.

Kematian Bisma memberikan pelajaran tentang ketajaman rasa. Saat Kakek Bisma sekarat, Kurawa memberinya bantal empuk, namun Pandawa justru memberikan sisa-sisa senjata sebagai sandaran kepala, karena mereka tahu kakeknya adalah seorang ksatria yang lebih menghargai kehormatan daripada kenyamanan. Saat Bisma haus, Kurawa memberinya air minum biasa, namun Pandawa memberinya tetesan darah prajurit yang meninggal di medan laga sebagai penghormatan tertinggi bagi dahaga sang prajurit sejati. Kisah tersebut diharapkan mampun dijadikan pelajaran bagi hakim untuk memahami konteks yang lebih dalam dari sekadar apa yang terlihat di permukaan. Hakim harus mampu membaca “kebutuhan sejati” dari sebuah perkara, bukan sekadar prosedur formal semata.

Penutup

Filosofi Jawa mengajarkan prinsip hidup yang sangat populer namun sulit diterapkan: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Bagi seorang pemimpin di dunia peradilan, prinsip ini berarti di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dorongan. Sebagai penutup dari seluruh rangkaian pendidikan ini, Prof. Yanto memberikan sebuah nasihat luhur: “Ngono yo ngono, mung ojo ngono“. Artinya, bertindaklah sewajarnya, jangan berlebihan atau melampaui batas.

Beliau berpesan agar para hakim dalam melangkah janganlah “ndengangak” (mendongak sombong), melainkan tetap “ndingkluk” (menunduk rendah hati). Nikmatilah hidup tanpa melepaskan tiga pilar utama: ilmu, amal, dan iman. Hidup haruslah meniru Puntadewa yang pemaaf dan pengasih, namun tetap tegas dalam kebenaran.

Pendidikan ini pun ditutup dengan refleksi menarik dari Bapak Kabadan mengenai dualitas peran Prof. Yanto sendiri. Layaknya perpaduan antara Pandawa dan Kurawa dalam satu jiwa, seorang pemimpin di kamar pengawasan harus mampu menjadi pelindung bagi hakim-hakim yang berintegritas (layaknya Pandawa), namun di saat yang sama harus bersikap sangat tegas dan tak kenal kompromi terhadap mereka yang melakukan pelanggaran (layaknya menghadapi Kurawa). Hanya dengan menjaga keseimbangan antara ketegasan dan pengayoman inilah, marwah Mahkamah Agung dapat tetap tegak, dan keadilan substantif dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Syailendra Anantya Prawira
Kontributor
Syailendra Anantya Prawira
Hakim Pengadilan Negeri Bantaeng

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

bsdk filsafat jawa Integritas Hakim Mahkamah Agung RI pendidikan filsafat dan keadilan wayang wayang dan keadilan
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Pengadilan Tinggi Kepulauan Riau Menyapa: Menguatkan Pemahaman KUHP Nasional dan Tantangan Pembaharuannya

9 May 2026 • 09:23 WIB

Penutupan Pendidikan Filsafat dan Keadilan bagi Hakim

8 May 2026 • 20:56 WIB

Pewayangan sebagai Cermin Moral Kehakiman

8 May 2026 • 20:45 WIB
Demo
Top Posts

NJA India, JTC Indonesia, dan Jalan Belajar Seorang Hakim

4 May 2026 • 09:43 WIB

Bagaimana Cara Hakim dan Lembaga Peradilan menghadapi Trial By Media “Sebuah Pembelajaran dari India”

2 May 2026 • 16:11 WIB

5 Hal Menarik dalam Sistem Peradilan India yang Tidak Ditemukan di Indonesia

1 May 2026 • 13:20 WIB

Lok Adalat: Tools Efektif Penyelesaian Perkara Perdata Hingga Pidana Ringan di India

29 April 2026 • 15:30 WIB
Don't Miss

Kebajikan dan Keadilan dalam Filsafat Jawa: Memetik Hikmah Wayang bagi Sang Pengadil

By Syailendra Anantya Prawira9 May 2026 • 09:29 WIB0

Jumat, 8 Mei 2026, menjadi sebuah momentum krusial bagi para hakim dari seluruh penjuru Nusantara…

Pengadilan Tinggi Kepulauan Riau Menyapa: Menguatkan Pemahaman KUHP Nasional dan Tantangan Pembaharuannya

9 May 2026 • 09:23 WIB

Poligami dan Nafkah yang Tak Boleh Menguap

9 May 2026 • 07:49 WIB

Penutupan Pendidikan Filsafat dan Keadilan bagi Hakim

8 May 2026 • 20:56 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Kebajikan dan Keadilan dalam Filsafat Jawa: Memetik Hikmah Wayang bagi Sang Pengadil
  • Pengadilan Tinggi Kepulauan Riau Menyapa: Menguatkan Pemahaman KUHP Nasional dan Tantangan Pembaharuannya
  • Poligami dan Nafkah yang Tak Boleh Menguap
  • Penutupan Pendidikan Filsafat dan Keadilan bagi Hakim
  • Pewayangan sebagai Cermin Moral Kehakiman

Recent Comments

  1. dapoxetine vs cialis on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  2. dapoxetine in kuwait on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  3. mesalamine otc alternatives on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  4. revatio coupon on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
  5. buy udenafil online on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.