Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Penutupan Pendidikan Filsafat dan Keadilan bagi Hakim

8 May 2026 • 20:56 WIB

Pewayangan sebagai Cermin Moral Kehakiman

8 May 2026 • 20:45 WIB

Menjaga Hak Konstitusional atas Informasi Warga Negara di Era Digital dan Hambatan Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara dalam Menjaminnya

8 May 2026 • 19:00 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Pewayangan sebagai Cermin Moral Kehakiman
Berita

Pewayangan sebagai Cermin Moral Kehakiman

Ahmad JunaediAhmad Junaedi8 May 2026 • 20:45 WIB6 Mins Read
Prof. Dr. Yanto, S.H., M.H. - Ketua Kamar Pengawasan Mahkamah Agung RI
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pelaksanaan Pendidikan Filsafat dan Keadilan bagi Hakim Lingkungan Peradilan Umum, Agama, Militer, Tata Usaha Negara, serta Hakim Ad Hoc Seluruh Indonesia Gelombang II yang diselenggarakan pada hari Jumat, 8 Mei 2026 di Badan Strategi Kebijakan dan Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI (BSDK), pada hakikatnya bukan sekadar kegiatan akademik formal yang bersifat seremonial. Pendidikan tersebut merupakan ruang kontemplatif sekaligus forum pemurnian nilai bagi para hakim agar kembali memahami hakikat profesinya sebagai penjaga keadilan, penjaga moralitas hukum, dan penjaga nurani bangsa.

Dalam pelatihan tersebut, Prof. Yanto (Ketua Kamar Pengawasan MA sekaligus sebagai ketua PP IKAHI) sebagai narasumber dan Syihabudin, S.H., M.H. sebagai fasilitator, Prof Yanto menyampaikan materi mengenai tokoh-tokoh pewayangan sebagai refleksi kepemimpinan dan moralitas hakim. Materi tersebut menjadi sangat penting, sebab filsafat pewayangan dalam tradisi Nusantara sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang cerita atau legenda, melainkan mengandung ajaran etik, spiritual, dan kepemimpinan yang sangat relevan dengan profesi kehakiman. Di dalam pewayangan terdapat nilai-nilai luhur yang mengajarkan tentang integritas, pengendalian diri, keteguhan moral, keberanian, hingga kebijaksanaan dalam memimpin dan mengambil keputusan.

Hakim pada dasarnya bukan sekadar “corong undang-undang”. Hakim adalah figur moral yang memikul amanah konstitusi dan amanah kemanusiaan. Oleh sebab itu, pendidikan filsafat bagi hakim menjadi penting agar hakim tidak hanya berpikir normatif dan prosedural, tetapi juga mampu memahami dimensi etik dan filosofis dari setiap putusan yang dijatuhkan.

Salah satu nilai utama yang relevan dengan profesi hakim adalah ajaran mengenai Panca Dharma Hakim yang dalam filosofi pewayangan direpresentasikan melalui simbol Cakra, Chandra, Sari, Kartika, dan Tirta. Kelima simbol tersebut bukan hanya lambang kebesaran, melainkan pedoman moral yang harus hidup dalam kepribadian seorang hakim.

Cakra melambangkan ketegasan dan kekuatan moral. Seorang hakim harus memiliki keberanian dalam menegakkan hukum tanpa rasa takut terhadap tekanan kekuasaan, intervensi politik, maupun kepentingan ekonomi. Hakim yang tidak memiliki “cakra” akan mudah goyah, mudah dipengaruhi, dan pada akhirnya kehilangan marwah kehakiman. Dalam konteks kekinian, cakra mencerminkan integritas yang kokoh dan keteguhan dalam menjaga independensi peradilan.

Chandra atau rembulan melambangkan kesejukan dan kebijaksanaan. Hakim tidak boleh hanya menjadi sosok yang tajam dalam menghukum, tetapi juga harus menghadirkan keseimbangan nurani. Putusan hakim harus memberikan keteduhan, rasa keadilan, dan pemulihan sosial. Hakim yang hanya berpijak pada formalitas hukum tanpa mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat akan melahirkan putusan yang kering dari nilai kemanusiaan.

Sari melambangkan inti kemuliaan atau substansi kebajikan. Hakim harus mampu menjaga keluhuran budi pekerti dan menjadikan etika sebagai inti dari seluruh tindakannya. Dalam praktik peradilan modern, kehancuran lembaga peradilan sering kali bukan disebabkan lemahnya aturan hukum, melainkan runtuhnya moral dan integritas aparat penegak hukumnya.

Baca Juga  Catatan Perjalanan Delegasi Hakim Indonesia Menuju National Judicial Academy India

Kartika atau bintang melambangkan keteladanan. Hakim adalah figur publik yang setiap perilakunya menjadi perhatian masyarakat. Oleh sebab itu, hakim wajib menjadi teladan dalam ucapan, tindakan, dan gaya hidupnya. Hakim tidak boleh mempertontonkan kemewahan, keserakahan, ataupun perilaku yang menurunkan wibawa lembaga peradilan.

Sedangkan Tirta melambangkan kesucian dan kejernihan hati. Hakim harus bersih dari kepentingan pribadi, bebas dari konflik kepentingan, serta menjauhkan diri dari segala bentuk penyimpangan moral dan perilaku koruptif. Tirta merupakan simbol bahwa hakim harus menjaga hati nurani tetap jernih dalam memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara.

Nilai-nilai tersebut sejatinya tercermin pula dalam karakter Pandawa Lima yang selama ini dipahami sebagai simbol kepemimpinan ideal dalam ajaran pewayangan. Kelima tokoh tersebut mengandung filosofi mendalam yang sangat relevan dengan karakter hakim.

Werkudara atau Bima merupakan simbol integritas, keberanian, dan kejujuran. Sosok Bima dikenal lugas, tegas, tidak suka kepura-puraan, dan selalu berpihak pada kebenaran. Karakter inilah yang wajib dimiliki hakim. Hakim harus berani mengatakan benar itu benar dan salah itu salah, tanpa dipengaruhi relasi kekuasaan maupun kepentingan tertentu.

Kunto Dewo atau Yudhistira melambangkan kebijaksanaan, kejujuran, dan ketenangan batin. Ia dikenal sebagai pemimpin yang menjunjung tinggi dharma dan tidak mudah tergoda ambisi kekuasaan. Seorang hakim harus mampu menjaga keseimbangan antara kecerdasan hukum dan kejernihan moral sebagaimana sifat Yudhistira.

Janaka atau Arjuna merupakan simbol profesionalitas, kecermatan, dan ketajaman berpikir. Arjuna dikenal sebagai pemanah ulung yang memiliki fokus dan ketepatan sasaran. Dalam konteks profesi hakim, hal tersebut menggambarkan pentingnya kemampuan analisis, kecermatan membaca fakta persidangan, serta ketepatan dalam menerapkan hukum.

Nakula melambangkan kesetiaan, ketulusan, dan kemampuan menjaga kehormatan diri. Sedangkan Sadewa melambangkan kebijaksanaan intelektual, ketenangan, dan kemampuan membaca situasi dengan jernih. Kedua tokoh ini mengajarkan bahwa hakim harus menjaga kehormatan institusi dan tidak mudah terjebak dalam ambisi pribadi maupun konflik kepentingan.

Sadewa merupakan simbol kecerdasan spiritual, ketajaman membaca situasi, kebijaksanaan, ketenangan berpikir, dan kemampuan melihat persoalan secara mendalam. Dalam pewayangan, Sadewa dikenal sebagai sosok yang tenang, penuh perhitungan, serta memiliki kemampuan memahami persoalan secara jernih dan objektif.

Seluruh nilai tersebut sesungguhnya bermuara pada satu hal paling mendasar dalam profesi hakim, yakni integritas. Integritas adalah nilai tertinggi yang menjadi ruh dari seluruh kode etik hakim. Tanpa integritas, kecerdasan hukum tidak memiliki arti apa pun. Hakim yang pintar tetapi tidak berintegritas justru lebih berbahaya dibanding hakim yang memiliki keterbatasan intelektual namun tetap menjaga moralitasnya.

Dalam konteks itu pula, seorang hakim sebagai pemimpin peradilan tidak boleh melanggar 10 Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim. Kode etik bukan sekadar aturan administratif, melainkan benteng moral untuk menjaga kemuliaan profesi hakim. Pelanggaran etik sekecil apa pun pada akhirnya akan menghancurkan kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan.

Baca Juga  Sinergi Mahkamah Agung RI dan KPK RI: Perkuat Integritas Peradilan Melalui Kerja Sama Pendidikan Antikorupsi

Ajaran Hasta Brata dalam pewayangan juga memberikan pelajaran mendalam mengenai karakter kepemimpinan hakim. Seorang hakim sebagai pemimpin harus memiliki sifat seperti matahari atau srengenge, yakni mampu memberi terang dan menjadi sumber kehidupan. Hakim harus menjadi penuntun moral yang menghadirkan kepastian hukum dan rasa keadilan bagi masyarakat.

Hakim juga harus memiliki sifat rembulan, yaitu mampu memberi penerangan di tengah kegelapan. Dalam praktiknya, hakim harus mampu memberikan solusi dan pencerahan bagi pencari keadilan yang sedang berada dalam situasi sulit dan penuh ketidakpastian.

Sifat bintang mengajarkan bahwa hakim harus menjadi teladan. Sebagaimana bintang menjadi penunjuk arah, hakim harus menjadi figur moral yang menunjukkan arah keadilan dan kebenaran di tengah krisis kepercayaan publik terhadap hukum.

Hakim juga harus seperti awan yang membawa hujan, yakni kehadirannya harus memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat. Putusan hakim tidak boleh hanya menjadi dokumen hukum formal, tetapi harus memberikan kemanfaatan sosial dan rasa keadilan substantif.

Sifat bumi mengajarkan keteguhan dan kesucian hati. Hakim harus memiliki pendirian kuat dan tidak mudah tergoda bujuk rayu, tekanan, ataupun praktik transaksional yang merusak marwah peradilan.

Kemudian sifat samudera mengajarkan keluasan jiwa dan ketenangan batin. Hakim tidak boleh haus pujian, mudah tersinggung, ataupun galau dalam menjalankan tugasnya. Hakim harus matang secara emosional dan mampu menjaga wibawa dirinya.

Sifat api mengandung makna ketegasan. Hakim harus berani menghukum siapa pun yang terbukti bersalah tanpa pandang bulu. Keadilan tidak boleh tunduk pada status sosial, jabatan, maupun kekuatan politik.

Sedangkan sifat angin mengajarkan bahwa hakim harus mampu menjangkau dan memahami kondisi bawahannya maupun lingkungan kerjanya. Seorang pemimpin peradilan tidak boleh hidup dalam menara gading yang jauh dari realitas.

Pada akhirnya, pendidikan filsafat bagi hakim bukanlah upaya romantisme budaya semata, melainkan proses pembentukan karakter dan pemurnian moral aparat peradilan. Di tengah tantangan modern berupa pragmatisme, hedonisme, korupsi, dan krisis integritas, hakim dituntut kembali kepada nilai-nilai dasar moralitas dan kebijaksanaan.

Hakim yang baik bukan hanya hakim yang memahami hukum positif, melainkan hakim yang memiliki nurani, integritas, ketegasan, dan kebijaksanaan. Hakim yang baik adalah hakim yang mampu memadukan kecerdasan intelektual dengan kedalaman moral sebagaimana diajarkan dalam filosofi pewayangan Nusantara.

Karena sesungguhnya, runtuhnya keadilan bukan dimulai dari lemahnya undang-undang, melainkan dari runtuhnya integritas para penegak hukum itu sendiri

Ahmad Junaedi
Kontributor
Ahmad Junaedi
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Budaya Nusantara etika kehakiman Filsafat Hukum Hasta Brata Integritas Hakim Mahkamah Agung RI Moralitas Hakim Panca Dharma Hakim Pendidikan Hakim Pewayangan dan Hakim
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Penutupan Pendidikan Filsafat dan Keadilan bagi Hakim

8 May 2026 • 20:56 WIB

Membangun Indonesia Sejahtera: Transformasi Ekonomi dan Peradilan Bersih dalam Cengkeraman Oligarki

8 May 2026 • 17:57 WIB

Soroti Judicial Well-Being, KPTA Semarang Lakukan Sidak dan Pembinaan di PA Rembang

8 May 2026 • 15:12 WIB
Demo
Top Posts

NJA India, JTC Indonesia, dan Jalan Belajar Seorang Hakim

4 May 2026 • 09:43 WIB

Bagaimana Cara Hakim dan Lembaga Peradilan menghadapi Trial By Media “Sebuah Pembelajaran dari India”

2 May 2026 • 16:11 WIB

5 Hal Menarik dalam Sistem Peradilan India yang Tidak Ditemukan di Indonesia

1 May 2026 • 13:20 WIB

Lok Adalat: Tools Efektif Penyelesaian Perkara Perdata Hingga Pidana Ringan di India

29 April 2026 • 15:30 WIB
Don't Miss

Penutupan Pendidikan Filsafat dan Keadilan bagi Hakim

By Ahmad Junaedi8 May 2026 • 20:56 WIB0

Penutupan Pendidikan Filsafat dan Keadilan bagi Hakim Lingkungan Peradilan Umum, Agama, Militer, dan Tata Usaha…

Pewayangan sebagai Cermin Moral Kehakiman

8 May 2026 • 20:45 WIB

Menjaga Hak Konstitusional atas Informasi Warga Negara di Era Digital dan Hambatan Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara dalam Menjaminnya

8 May 2026 • 19:00 WIB

Analisis Hukum Draft PERMA tentang Pelaksanaan Pemeriksaan Setempat (Bagian V sampai dengan Bagian VIII)

8 May 2026 • 18:37 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Penutupan Pendidikan Filsafat dan Keadilan bagi Hakim
  • Pewayangan sebagai Cermin Moral Kehakiman
  • Menjaga Hak Konstitusional atas Informasi Warga Negara di Era Digital dan Hambatan Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara dalam Menjaminnya
  • Analisis Hukum Draft PERMA tentang Pelaksanaan Pemeriksaan Setempat (Bagian V sampai dengan Bagian VIII)
  • Analisis Hukum Draft PERMA tentang Pelaksanaan Pemeriksaan Setempat (Bagian I sampai dengan Bagian IV)

Recent Comments

  1. dapoxetine vs cialis on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  2. dapoxetine in kuwait on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  3. mesalamine otc alternatives on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  4. revatio coupon on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
  5. buy udenafil online on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.