Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Badilum Menorehkan Prestasi Di Lingkungan Akademik Di Universitas Jember Atas Program Pengembangan Tenaga Teknis

20 June 2026 • 23:25 WIB

Prof. Harkristuti: Semua Pasal KUHP yang Diuji di MK Ditolak, Doktrin Open Legal Policy dan Judicial Restraint Jadi Dasar

20 June 2026 • 19:46 WIB

Membentuk Hakim Ideal: Telaah Reflektif Perspektif Turats

20 June 2026 • 19:43 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Integritas sebagai Mahkota Moral bagi Hakim: Menimbang Logika, Meneguhkan Etika
Artikel

Integritas sebagai Mahkota Moral bagi Hakim: Menimbang Logika, Meneguhkan Etika

Anisa YustikaningtiyasAnisa Yustikaningtiyas5 May 2026 • 13:41 WIB7 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pendahuluan

Setelah panjang lebar membahas silogisme, logical fallacy, dan tarik-menarik antara civil law dan common law, Prof. Mahfud MD mengantar para hakim peserta forum menuju inti yang paling dalam yakni etika. Jika logika adalah alat, maka etika adalah fondasi. Jika logika membuat putusan benar secara nalar, maka etika membuat putusan diterima oleh hati Nurani baik hati nurani sang Hakim sendiri, maupun hati nurani Masyarakat pencari keadilan.

Etika: Bukan Sekadar Aturan, Melainkan Sikap Batin

Apakah etika itu? Prof. Mahfud merumuskannya dengan jernih bahwa etika adalah sikap batin sebagai ekspresi moral yang memberi arah dalam bersikap. Moral berbicara tentang benar dan salah, baik dan buruk sebagai nilai-nilai. Etika melangkah lebih jauh dengan bertanya mengapa sesuatu dianggap benar, mengapa sesuatu dinilai buruk, dan bagaimana caranya mewujudkan yang benar itu dalam perilaku. “Adil itu penting,” kata Prof. Mahfud, “etika itu menjelaskan bagaimana caranya berlaku adil, mengapa adil itu penting, dan bagaimana caranya.”

Dari sinilah lahir kode etik profesi dan standar integritas yang menjadi pegangan bersama. Pedoman perilaku itu bukanlah hukum dalam arti norma yang memuat ancaman pidana; ia adalah etika yang dituliskan. “Kalau pasal-pasal itu sebenarnya instrumen, bukan fondasi,” tegas Prof. Mahfud. “Etika itu fondasi.” Pernyataan ini radikal dalam kesederhanaannya karena menempatkan integritas moral di atas kecakapan teknis, karena tanpa fondasi etika, penguasaan pasal dan logika hanya akan menjadi alat pembenaran, bukan pencari kebenaran.

Integritas: Perpaduan Otak dan Watak

Hakim yang berintegritas adalah hakim yang mampu memadukan kecerdasan otak dan kecerdasan watak. Kecerdasan otak adalah logika seperti kemampuan bernalar, menguasai norma, menyusun silogisme. Kecerdasan watak adalah etika, keteguhan moral, kejujuran, konsistensi antara nilai, prinsip, dan tindakan. Di sinilah relevansi konstitusi sebagai sumber nilai. Undang-Undang Dasar kita berbicara tentang “mencerdaskan kehidupan bangsa” bukan sekadar mencerdaskan otak. Mencerdaskan kehidupan berarti mendidik manusia seutuhnya (logika dan etika), nalar dan hati nurani. Seorang Hakim yang hanya cerdas otaknya tetapi tumpul wataknya adalah ancaman bagi keadilan.

Elemen pokok dari etika adalah kejujuran dan konsistensi. Jujur berarti apa yang diputuskan selaras dengan apa yang diyakini sebagai benar. Konsisten berarti tidak berpindah-pindah perspektif hanya untuk memenangkan pihak tertentu. Misalkan, hari ini menggunakan dalil civil law, besok beralih ke common law, bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk membenarkan kepentingan. Seorang Hakim boleh berpindah dalil tapi harus konsisten untuk mencari yang terbaik, bukan mencari pembenaran, melainkan mencari kebenaran. Sehingga orang dapat dipercaya.

Di sinilah empat sifat kenabian menjadi metafora yang hidup 1) siddiq (jujur), 2) amanah (dapat dipercaya), 3) tabligh (menyampaikan kebenaran), dan 4) fathonah (cerdas). Seorang Hakim memerlukan keempat sifat kenabian tersebut secara utuh. Tanpa siddiq, ia menjadi manipulator. Tanpa amanah, ia menjadi pengkhianat keadilan. Tanpa tabligh, ia menyembunyikan kebenaran. Tanpa fathonah, ia sesat dalam bernalar.

Tiga Tujuan Hukum: Menimbang di Antara Keadilan, Kepastian, dan Kemanfaatan

Salah satu pemaparan paling kaya dalam sesi ini adalah tentang tiga tujuan hukum yang dirumuskan oleh Gustav Radbruch: keadilan, kepastian, dan kemanfaatan. Ketiganya, menurut Prof. Mahfud, selalu dalam keadaan spanning (saling tarik-menarik). Inilah medan tempat hakim diuji.

Baca Juga  Ironi Jubah Keadilan: 'Kegilaan' Abu Nawas dan Beban Etis Kekuasaan

Kepastian hukum penting karena memberikan pedoman dan memungkinkan prediktabilitas. Keadilan penting karena memberikan hak dan beban secara proporsional kepada setiap orang. Tetapi ada kalanya kepastian dan keadilan sudah terpenuhi, tetapi tidak membawa kemanfaatan bagi kehidupan bersama, bahkan bisa menimbulkan kekacauan baru. Di sinilah hakim dituntut untuk melakukan terobosan.

Kasus Pilkada Aceh 2012 yang diceritakan Prof. Mahfud adalah ilustrasi sempurna. Partai Aceh, yang menguasai 54% suara, menolak ikut pemilu karena calon independen dianggap melanggar Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Ketika pendaftaran resmi ditutup, Partai Aceh baru menyadari konsekuensinya. Mereka mengancam akan memerdekakan diri, gerakan separatis yang sebelumnya telah didamaikan akan bangkit lagi. Secara hukum, KPU sudah benar: pendaftaran telah ditutup sesuai aturan, ini sudah pasti dan adil. Tetapi, sebagaimana dikatakan Prof. Mahfud, “itu tidak bermanfaat, karena kalau ini dilakukan akhirnya akan ribut lagi.”

Mahkamah Konstitusi di bawah kepemimpinannya mengambil langkah yang jenius. Gugatan Menteri Dalam Negeri terhadap KPU diterima sebagai perkara kewenangan, dan selama proses pemeriksaan berlangsung, MK memerintahkan KPU membuka kembali pendaftaran untuk Aceh. Setelah Partai Aceh mendaftar dan perkara selesai diperiksa, MK membacakan putusan: gugatan Menteri Dalam Negeri ditolak, karena KPU memang benar menurut undang-undang. Tetapi pendaftaran yang telah dilakukan selama masa transisi itu dinyatakan sah. Hasilnya? Pilkada berjalan damai, Partai Aceh menang, dan ancaman disintegrasi mereda.

Ini bukanlah logical fallacy. Ini adalah seni menimbang tiga tujuan hukum secara seimbang. “Bagaimana cara kita itu membangun keseimbangan antara keadilan, kepastian, dan kemanfaatan?” tanya Prof. Mahfud retoris. Jawabannya terletak pada integritas dan jam terbang. Terobosan semacam ini memerlukan keberanian moral, tetapi juga kearifan yang lahir dari pengalaman panjang. “Hakim baru tiba-tiba bikin kemanfaatan, malah diejek orang,” katanya. Tetapi ketika integritas sudah terbukti, dan pengalaman sudah mengendap menjadi kebijaksanaan, terobosan semacam itu justru memperkuat legitimasi lembaga peradilan.

Independensi sebagai Pilar Etika

Pilar utama etika hakim adalah independensi. Bukan sekadar independensi kelembagaan—bahwa Mahkamah Agung harus merdeka dari DPR, dari BPK, dari pemerintah, melainkan juga independensi personal dan fungsional. Independensi personal berarti hakim tidak terpengaruh oleh opini publik, tidak takut tekanan, tidak tergoda imbalan, tidak menghitung-hitung peluang karier atas perkara yang ditanganinya. “Itu tidak independen secara moral, tidak independen secara fisik, profesional juga tidak independen.”

Pasca-reformasi, penyatuan atap kekuasaan kehakiman ke Mahkamah Agung adalah langkah besar menuju independensi institusional. Tetapi independensi institusional hanyalah separuh dari perjuangan. Separuh lainnya terletak pada pribadi masing-masing hakim. Di sinilah kode etik menemukan fungsinya sebagai pedoman perilaku yang mengingatkan bahwa independensi adalah soal moral, bukan sekadar soal struktur organisasi.

Kode Etik Mahkamah Agung merumuskannya dalam sepuluh pedoman perilaku: berlaku adil, jujur, arif dan bijaksana, mandiri, berintegritas, bertanggung jawab, menjaga harga diri, menjunjung tinggi martabat, bersikap rendah hati, dan bersikap profesional. Kode Etik Mahkamah Konstitusi memiliki rumusan yang serupa dalam substansinya: independensi, imparsialitas, tidak berpihak, integritas, kepantasan dan kesopanan, kesetaraan, kecakapan dan kesaksamaan, kearifan dan kebijaksanaan.

Baca Juga  Republikanisme dan Nalar Keadilan Hakim: Dari Polis hingga Non-Dominasi dalam Praktik Yudisial

Menarik untuk dicermati penekanan Prof. Mahfud tentang rendah hati. “Rendah hati itu, bahasa agamanya tawadhu, orang yang selalu menghargai orang lain, tidak merasa lebih hebat, tapi dia tegas dalam sikap. Kalau orang rendah diri, itu penakut, merasa lebih jelek, lebih bodoh, menghindar ketemu orang, takut, merasa lebih kecil.” Bedanya fundamental: rendah hati adalah kekuatan yang terkendali, rendah diri adalah kelemahan yang menyembunyikan diri. Seorang hakim harus rendah hati, terbuka pada kritik, tidak angkuh dengan pengetahuannya, tetapi tegas dalam putusan dan kokoh dalam prinsip.

Sanksi Heteronom dan Sanksi Autonom: Pertanggungjawaban Ganda

Penutup pemaparan ini mencapai kedalaman spiritual yang jarang tersentuh dalam forum-forum resmi. Prof. Mahfud mengingatkan bahwa setiap kesalahan, baik kesalahan hukum maupun kesalahan moral, selalu memiliki sanksi. Ada sanksi heteronom: sanksi yang dipaksakan oleh aparat negara, oleh polisi, jaksa, dan Hakim. Ini adalah sanksi yang tampak, yang tertulis dalam undang-undang, yang bisa dijatuhkan melalui proses formal.

Tetapi ada sanksi yang lebih dahsyat yakni sanksi autonom. Yaitu sanksi yang muncul dari batin atau hati nurani sendiri. Berupa penyesalan. Rasa takut. Malu. Cemas. Terisolasi dari kehidupan masyarakat. Bahkan, sebagaimana diyakini banyak orang, karma: “Kalau kamu bebas, anakmu tidak akan bebas. Kalau kamu bebas memperlakukan orang lain secara tidak adil, rumah tanggamu akan hancur juga.”

Sanksi autonom ini tidak bisa dihindari dengan kepintaran hukum, tidak bisa dimanipulasi dengan logical fallacy. Bagi seorang hakim, kesadaran akan adanya sanksi batin inilah yang menjadi benteng terakhir melawan godaan korupsi dan kolusi. Inilah mengapa etika menjadi fondasi, karena ia tidak hanya mengandalkan pengawasan dari luar, tetapi terutama menggantungkan diri pada pengawasan dari dalam.

Penutup

Sesi ini ditutup dengan kalimat yang sederhana namun penuh bobot: “Oleh sebab itu, seorang hakim tak cukup mengandalkan logika, tapi juga harus memegang teguh etika. Menguatkan logika, meneguhkan etika, menjauhi logical fallacy, maka anda akan menjadi hakim yang berintegritas, berwibawa, dipercaya, tidak tersandera, hidup nyaman, dan hidup terhormat.” Inilah muara dari seluruh pemaparan yang panjang dan berliku itu. Logika adalah alat yang harus diasah terus-menerus. Etika adalah fondasi yang harus dijaga tanpa henti. Logical fallacy adalah musuh yang selalu mengintai—baik dari luar maupun dari dalam diri sendiri. Dan di tengah semuanya, hati nurani adalah benteng terakhir yang tidak bisa ditawar-tawar.

Forum Pendidikan Filsafat dan Keadilan ini, dengan segala diskursusnya, adalah bagian dari ikhtiar kolektif untuk terus mengasah logika dan meneguhkan etika. Sebab, di tangan para hakimlah keadilan dititipkan. Dan keadilan bukanlah sekadar bunyi pasal yang diucapkan di ruang sidang, ia adalah keyakinan yang hidup di hati nurani para pencarinya, dan dirasakan oleh mereka yang menanti keadilan itu sendiri. Menjadi hakim bukanlah sekadar profesi. Ia adalah panggilan moral. Dan setiap putusan adalah cermin apakah logika telah berjalan bersama etika, atau justru logical fallacy telah menang dengan menyamar sebagai kebenaran

Anisa Yustikaningtiyas
Kontributor
Anisa Yustikaningtiyas
Hakim Pengadilan Negeri Pulang Pisau

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Etika Yudisial Filsafat Hukum Independensi Hakim Integritas Hakim Keadilan Substantif Kemanfaatan Hukum Kepastian Hukum Logika Hukum Mahfud MD Reformasi Peradilan
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Membentuk Hakim Ideal: Telaah Reflektif Perspektif Turats

20 June 2026 • 19:43 WIB

Hakim Agama Antara Teks Aturan dan Rasa Keadilan

20 June 2026 • 16:00 WIB

Hari Ini Mengadili Terdakwa, Kelak Kita Diadili oleh Perbuatan Kita Sendiri: Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Surabaya mengingatkan pentingnya integritas dan hati nurani dalam Seminar Nasional PERISAI BADILUM di Universitas Jember

20 June 2026 • 15:29 WIB
Demo
Top Posts

Peradilan Militer Bukan Ruang Gelap: Menepis Narasi Impunitas dengan Fakta dan Akuntabilitas

9 May 2026 • 18:38 WIB

NJA India, JTC Indonesia, dan Jalan Belajar Seorang Hakim

4 May 2026 • 09:43 WIB

Bagaimana Cara Hakim dan Lembaga Peradilan menghadapi Trial By Media “Sebuah Pembelajaran dari India”

2 May 2026 • 16:11 WIB

5 Hal Menarik dalam Sistem Peradilan India yang Tidak Ditemukan di Indonesia

1 May 2026 • 13:20 WIB
Don't Miss

Badilum Menorehkan Prestasi Di Lingkungan Akademik Di Universitas Jember Atas Program Pengembangan Tenaga Teknis

By Yoshito Siburian20 June 2026 • 23:25 WIB0

Jember, 20 Juni 2026 – Dalam acara PERISAI Episode ke-16, yang merupakan program rutin diskusi…

Prof. Harkristuti: Semua Pasal KUHP yang Diuji di MK Ditolak, Doktrin Open Legal Policy dan Judicial Restraint Jadi Dasar

20 June 2026 • 19:46 WIB

Membentuk Hakim Ideal: Telaah Reflektif Perspektif Turats

20 June 2026 • 19:43 WIB

Wakil Ketua PT Surabaya Urai Perjalanan KUHP dari Warisan Kolonial hingga ke Nasional

20 June 2026 • 19:22 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Badilum Menorehkan Prestasi Di Lingkungan Akademik Di Universitas Jember Atas Program Pengembangan Tenaga Teknis
  • Prof. Harkristuti: Semua Pasal KUHP yang Diuji di MK Ditolak, Doktrin Open Legal Policy dan Judicial Restraint Jadi Dasar
  • Membentuk Hakim Ideal: Telaah Reflektif Perspektif Turats
  • Wakil Ketua PT Surabaya Urai Perjalanan KUHP dari Warisan Kolonial hingga ke Nasional
  • Hakim Agama Antara Teks Aturan dan Rasa Keadilan

Recent Comments

  1. terbinafine adverse effects on “Dari Ruang Diklat Menuju Putusan Berkualitas: Transformasi Hakim Militer dan TUN di Era KUHAP Nasional”
  2. ketoconazole mechanism study on “Dari Ruang Diklat Menuju Putusan Berkualitas: Transformasi Hakim Militer dan TUN di Era KUHAP Nasional”
  3. toradol therapeutic uses on Debu di Atas Map Hijau
  4. terbinafine mechanism for nail fungus on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  5. ketoconazole shampoo basics on Mempererat Integritas dan Spiritualitas: Rangkaian Giat Ramadan 1447 H di Pengadilan Negeri Kotabaru
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.