Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Pemberitahuan Pembatalan Kegiatan Pelatihan Sertifikasi Perikanan Tahun Anggaran 2026

November 5, 2026

Di Balik Mangrove, Ada Keadilan yang Harus Diperjuangkan

November 4, 2026

Amanah Baru di Balik Ruang Sidang, Pelda Fikriansyah Resmi Dilantik dan Disumpah sebagai Panitera Pengganti Dilmil IV-16 Balikpapan

November 4, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » 5 Hal Menarik dalam Sistem Peradilan India yang Tidak Ditemukan di Indonesia

5 Hal Menarik dalam Sistem Peradilan India yang Tidak Ditemukan di Indonesia

Khoiruddin HasibuanBy Khoiruddin HasibuanMay 1, 2026 · 13:20 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pendahuluan

Sistem peradilan di setiap negara, selalu berkembang dari tahun ke tahun, yang menciptakan budaya, dan sistem hukum yang berbeda-beda. Indonesia, yang menganut sistem civil law, memiliki pendekatan yang relatif terstruktur dan berbasis kodifikasi undang-undang. Sementara itu, India mengadopsi sistem common law yang kuat, dipengaruhi oleh warisan kolonial Inggris.

Perbedaan tersebut melahirkan berbagai praktik unik dalam dunia peradilan India, mulai dari cara berpakaian hakim, fleksibilitas majelis, hingga fasilitas yang diberikan negara. Beberapa di antaranya bahkan terasa cukup “asing,” jika dibandingkan dengan praktik peradilan di Indonesia.

Berikut ini ada beberapa hal menarik yang ada di peradilan India, yang tidak ditemukan dalam sistem peradilan Indonesia:

  1. India Berani Keluar dari Pakem Formalistik

    Ada satu hal yang jarang kita akui secara jujur, ketika membicarakan sistem peradilan Indonesia, yaitu terlalu bangga pada keteraturan, tetapi sering lupa pada keberanian. Kita membangun sistem hukum yang rapi, penuh prosedur, tertib secara administratif, namun kerap kehilangan daya hidupnya. Di titik inilah, perbandingan dengan India menjadi menarik, bahkan sedikit mengganggu.

    India bukan negara tanpa masalah. Justru sebaliknya, beban perkara di sana sangat besar, kompleksitas sosialnya tinggi, dan ketimpangan akses keadilan masih menjadi isu serius. Namun, di tengah segala keterbatasan itu, sistem peradilan India justru menunjukkan sesuatu yang jarang terlihat di Indonesia, yaitu keberaniannya untuk keluar dari pakem formal, demi menjangkau keadilan yang lebih luas.

    Di Indonesia, kita sangat percaya pada struktur. Majelis hakim harus tiga orang, prosedur harus berlapis, bahasa harus tunggal, dan semua harus berjalan sesuai teks undang-undang. Dalam banyak hal, ini memang penting. Kepastian hukum tidak lahir dari kekacauan. Namun persoalannya, ketika struktur itu menjadi terlalu dominan, hukum berubah menjadi ritual. Ia kehilangan fleksibilitas untuk merespons realitas sosial yang dinamis.

    Bandingkan dengan India, di mana sidang bisa dipimpin oleh satu hakim atau dua hakim, tanpa harus terjebak pada angka ganjil demi menghindari kebuntuan. Fleksibilitas ini bukan sekadar teknis, tetapi mencerminkan cara berpikir yang berbeda, dimana hukum adalah alat, bukan tujuan itu sendiri. Indonesia, sebaliknya, sering memperlakukan prosedur sebagai tujuan akhir, seolah-olah keadilan akan otomatis tercapai jika semua tahapan administratif telah dipenuhi;
  2. Legal Standing VS Public Interest Litigation

    Kritik yang lebih mendasar terlihat dalam akses terhadap keadilan. Di Indonesia, untuk membawa perkara ke pengadilan, seseorang harus memenuhi berbagai syarat formal, seperti kedudukan hukum (legal standing) yang jelas, bukti awal yang memadai, dan prosedur administratif yang tidak sederhana. Ini masuk akal dalam kerangka civil law, tetapi juga menciptakan jarak antara hukum dan masyarakat.

    India mengambil jalan yang jauh lebih radikal melalui konsep Public Interest Litigation (PIL). Di sana, seseorang bahkan tidak harus menjadi korban langsung untuk mengajukan perkara. Cukup dengan menunjukkan bahwa ada kepentingan publik yang dirugikan, pengadilan dapat membuka pintunya. Bahkan dalam praktik ekstrem, sebuah surat sederhana bisa berubah menjadi perkara hukum yang serius. Bayangkan kontrasnya dengan Indonesia, di mana gugatan sering kandas hanya karena persoalan legal standing.

    Di titik ini, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah sistem kita benar-benar dirancang untuk mencari keadilan, atau sekadar untuk memastikan bahwa semua prosedur dipatuhi?

    Indonesia memang mengenal konsep gugatan kepentingan umum seperti gugatan class action atau gugatan citizen lawsuit, tetapi penerapannya masih sangat terbatas, dan sering kali dibatasi oleh interpretasi yang sempit serta implementasinya yang seringkali tidak seragam. Hukum di Indonesia seolah masih curiga pada masyarakatnya sendiri, seakan-akan membuka akses terlalu luas akan mengganggu stabilitas sistem. India justru mengambil risiko sebaliknya, dengan membuka akses selebar mungkin, lalu membiarkan hakim menyaringnya melalui interpretasi.
  3. Hakim bukan Corong Undang-Undang

    Perbedaan lain yang mencolok adalah peran hakim. Di Indonesia, hakim cenderung ditempatkan sebagai “corong undang-undang”. Sebuah istilah klasik yang menekankan bahwa hakim hanya menerapkan hukum, bukan menciptakannya. Dalam praktiknya, kepatuhan terhadap asas “kepastian hukum” sering kali membuat hakim bersikap sangat hati-hati, bahkan defensif, dalam menafsirkan aturan.

    Di India, hakim tidak segan mengambil peran lebih aktif. Mereka tidak hanya keluar dari asas “kepastian hukum” dalam menafsirkan hukum yang ada, tetapi juga telah mampu membuat ketentuan hukum baru, dalam membentuk arah kebijakan nasional melalui putusan hakim. Dalam banyak kasus, pengadilan menjadi motor perubahan sosial, mulai dari isu lingkungan hingga hak-hak buruh. Misalnya, putusan tentang doktrin “basic structure of the constitution,” yang lahir dari putusan perakara Kesavananda Bharati vs State of Kerala, putusan perkara Swapnil Tripathi vs Supreme Court of India, tentang siaran langsung di persidangan merupakan bagian dari prinsip keterbukaan peradilan, putusan perkara Arnab Manoranjan Goswami vs State of Maharashtra, yang menegaskan bahwa data peradilan harus dimanfaatkan untuk menjamin akses keadilan secara merata dan hak publik untuk memperoleh informasi, dan putusan-putusan hakim lainnya. Tentu saja, pendekatan ini tidak bebas dari kritik, karena membuka potensi judicial overreach. Namun setidaknya, ada keberanian untuk menjadikan hukum sebagai instrumen perubahan, bukan sekadar alat administrasi.

    Indonesia, di sisi lain, masih sering terjebak dalam paradigma legalistik yang sempit. Putusan yang terlalu “aman” karena selalu mengedapankan asas “kepastian hukum”, yang sering kali lebih dihargai, daripada putusan yang progresif yang keluar dari pakem. Akibatnya, hukum berkembang sangat lambat, bahkan tertinggal dari dinamika masyarakat yang berubah cepat.
  4. Simbol dan Fasilitas Hakim

    Aspek lain yang jarang dibahas tetapi penting adalah simbol dan fasilitas yang diberikan kepada Hakim. Di India, hakim mendapatkan mobil dinas, rumah dinas, bahkan identitas visual yang jelas seperti label “JUDGE” pada kendaraan mereka. Ini mungkin terlihat sepele atau bahkan berlebihan, tetapi mencerminkan satu hal, yang menggambarkan negara secara eksplisit menegaskan posisi dan perlindungan bagi aparat peradilan.

    Di Indonesia, pendekatan yang diambil justru cenderung sebaliknya, lebih menahan diri dalam menampilkan simbol. Ada alasan di balik ini, termasuk upaya menjaga netralitas dan menghindari kesan elitisme. Namun di sisi lain, kita juga sering melihat bagaimana posisi hakim tidak selalu didukung secara optimal, baik dari segi fasilitas maupun perlindungan.
  5. Inovasi Alternatif Penyelesaian Perkara

    Budaya formalitas di Indonesia, sering kali menghambat inovasi, dan menjadi pedang bermata dua sehingga. Di satu sisi, ia menjaga wibawa peradilan. Di sisi lain, ia menciptakan jarak psikologis antara pengadilan dan masyarakat. Ruang sidang terasa kaku, prosedur terasa rumit, dan hukum menjadi sesuatu yang “jauh” dari kehidupan sehari-hari.

    India memang juga menjunjung tinggi formalitas, bahkan mungkin lebih simbolik dalam hal pakaian dan tata cara bersidang. Namun formalitas itu tidak menghalangi inovasi mereka dalam menyelesaikan perkara dengan asas sederhana, cepat dan berbiaya ringan (contante justitie). India memiliki sistem penyelesaian perkara Lok Adalat, sebuah mekanisme penyelesaian sengketa yang cepat, murah, dan berbasis kesepakatan. Mereka juga memiliki Fast Track Court untuk mempercepat perkara tertentu. Sistem mediasi hybrid, med-arb arb-med, Online Dispute Resolution (ODR)dan inovasi alternatif penyelesaian perkara lainnya. Artinya, formalitas sistem peradilan di India, tidak menjadi penghalang untuk beradaptasi dan menciptakan inovasi, sebagai alternatif dalam penyelesaian perkara secara sederhana, cepat dan berbiaya ringan.

    Indonesia, sebenarnya sudah memiliki mediasi dan berbagai upaya percepatan perkara. Namun implementasinya sering kali tidak konsisten dan kurang terasa dampaknya bagi masyarakat luas. Inovasi hukum masih bergerak lambat, seolah-olah setiap perubahan harus melalui proses panjang yang melelahkan.
Baca Juga  Membaca Ulang Kepercayaan Publik terhadap Peradilan

Penutup

Masalah terbesar peradilan di Indonesia, mungkin bukan pada kurangnya aturan, tetapi ada pada cara memandang hukum itu sendiri. Peradilan di Indonesia, mungkin terlalu fokus pada menjaga sistem tetap rapi, tetapi kurang berani mengganggu kenyamanan itu, demi mewujudkan keadilan yang lebih luas pada masyarakat pencari keadilan.

Perbandingan dengan India, bukan berarti peradilan di Indonesia, harus meniru semuanya. Sistem common law dan civil law memiliki logika masing-masing. Namun ada pelajaran penting yang tidak bisa diabaikan, yaitu: hukum harus berani beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat.

Indonesia, memiliki potensi besar untuk berkembang. Infrastruktur hukum sudah ada, sumber daya manusia terus meningkat, dan kesadaran masyarakat terhadap hak-haknya semakin tinggi. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk keluar dari zona nyaman, dengan melihat hukum bukan hanya sebagai kumpulan aturan, tetapi sebagai alat untuk menyelesaikan masalah nyata.

Jika tidak, kita akan terus memiliki sistem peradilan yang rapi di atas kertas, tetapi terasa jauh dari rasa keadilan di lapangan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus kita jawab bukanlah apakah sistem kita sudah sesuai prosedur, tetapi apakah ia benar-benar bekerja untuk masyarakat. India, dengan segala kekurangannya, setidaknya menunjukkan bahwa hukum bisa lebih hidup, lebih responsif, dan lebih berani. Dan mungkin, justru di situlah peradilan Indonesia perlu belajar banyak dari peradilan India.

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

ADR Civil Law common law hakim progresif Inovasi Hukum Peradilan India Peradilan Indonesia Perbandingan Hukum Public Interest Litigation Reformasi Peradilan
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Cepat dan Cermat: Cara Mahkamah Agung Menyelesaikan Perkara

November 4, 2026

Pengadilan Pajak Mandiri atau Menumpang di PTUN? Hakim Agung Yodi Martono Bedah Skema Desentralisasi

November 4, 2026

Pengadilan Pajak Menuju Atap Baru: MA dan Unila Uji Publik Rekomendasi Desentralisasi Pengadilan Pajak

November 4, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Pemberitahuan Pembatalan Kegiatan Pelatihan Sertifikasi Perikanan Tahun Anggaran 2026

By Pusdiklat Teknis PeradilanNovember 5, 20260

Sehubungan dengan rencana pelaksanaan Pelatihan Sertifikasi Perikanan bagi Hakim Peradilan Umum Tahun Anggaran 2026, yang…

Di Balik Mangrove, Ada Keadilan yang Harus Diperjuangkan

November 4, 2026

Amanah Baru di Balik Ruang Sidang, Pelda Fikriansyah Resmi Dilantik dan Disumpah sebagai Panitera Pengganti Dilmil IV-16 Balikpapan

November 4, 2026

Tingkatkan Kualitas Dan Profesionalitas: Para Ketua dan Panitera Mahkamah Syar’iyah sewilayah Hukum Mahkamah Syar’iyah Aceh Ikuti Pelatihan Singkat Eksekusi di Hotel Hermes Palace Banda Aceh

November 4, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Pemberitahuan Pembatalan Kegiatan Pelatihan Sertifikasi Perikanan Tahun Anggaran 2026
  • Di Balik Mangrove, Ada Keadilan yang Harus Diperjuangkan
  • Amanah Baru di Balik Ruang Sidang, Pelda Fikriansyah Resmi Dilantik dan Disumpah sebagai Panitera Pengganti Dilmil IV-16 Balikpapan
  • Tingkatkan Kualitas Dan Profesionalitas: Para Ketua dan Panitera Mahkamah Syar’iyah sewilayah Hukum Mahkamah Syar’iyah Aceh Ikuti Pelatihan Singkat Eksekusi di Hotel Hermes Palace Banda Aceh
  • Cepat dan Cermat: Cara Mahkamah Agung Menyelesaikan Perkara

Recent Comments

  1. Herman on Di Balik Mangrove, Ada Keadilan yang Harus Diperjuangkan
  2. Abdul Mustopa on MOVE!
  3. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  4. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  5. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Arie Guntoro
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ainun Najib
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.