Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Anatomi Putusan Adil: Integrasi Regulasi, Nurani, dan Pesan Ilahi di Tengah Arus Opini Publik

11 May 2026 • 14:55 WIB

Temuwicara MA – BI – OJK Tahun 2026: Sinergi Menjaga Keadilan dan Stabilitas Negeri

11 May 2026 • 12:24 WIB

Ironi Jubah Keadilan: ‘Kegilaan’ Abu Nawas dan Beban Etis Kekuasaan

11 May 2026 • 08:30 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Ironi Jubah Keadilan: ‘Kegilaan’ Abu Nawas dan Beban Etis Kekuasaan
Artikel

Ironi Jubah Keadilan: ‘Kegilaan’ Abu Nawas dan Beban Etis Kekuasaan

AmanAman11 May 2026 • 08:30 WIB6 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pendahuluan

Kekuasaan sering menjadi panggung bagi narasi yang riuh, namun di baliknya, ada sunyi yang menuntut pertanggungjawaban moral paling dalam. Sejarah telah mewariskan kepada kita sosok Abu Nawas bukan sekadar sebagai figur jenaka, melainkan seorang pemikir yang memilih kegilaan sebagai benteng terakhir integritasnya.

Melalui tulisan ini, saya mencoba menelusuri kembali fragmen sejarah tersebut sebagai sebuah pernyataan etis tentang beratnya memikul timbangan keadilan. Di tengah arus zaman yang sering  terjebak dalam formalisme hukum yang kaku, narasi Abu Nawas hadir sebagai cermin filosofis bagi kita semua, khususnya dalam melihat hubungan antara integritas pribadi dan jabatan publik.

Artikel yang berjudul “Ironi Jubah Keadilan: ‘Kegilaan’ Abu Nawas dan Beban Etis Kekuasaan“ ini mencoba membedah bagaimana dialektika antara hukum formal dan etika batin bekerja melalui pendekatan yang cair namun tetap berbobot.

Dalam ingatan kolektif masyarakat, Abu Nawas hanya dianggap sebagai pelawak istana yang cerdik. Namanya seolah sepaket dengan lelucon ringan yang kita dengar saat kecil. Tapi, kalau kita tengok lebih dalam. Di balik tawa itu, ada seorang intelektual yang memakai humor sebagai senjata tajam untuk mengiris ketimpangan sosial. Abu Nawas itu bukan sekadar tukang omon omon  dia adalah manifestasi hidup dari filsafat yang paling jujur (Nasr, 2020: 45).

Tingkah aneh yang dia lakukan sebenarnya adalah pantulan dari kegelisahan batin melihat realitas politik zamannya. Salah satu momen paling menggetarkan dalam sejarah hidupnya adalah ketika dia nekat berpura-pura kehilangan akal sehat. Kenapa? Karena dia ingin lari dari mandat jabatan Qadi atau hakim agung. Pilihan ini menunjukkan jurang lebar antara ambisi manusia biasa dengan ketakutan seorang sufi akan beratnya beban kekuasaan. Kegilaannya, adalah perlawanan diam-diam terhadap otoritas (Hadi, 2019: 112).

Mandat Sultan dan Timbangan yang Berat

Semuanya bermula waktu Khalifah Harun Al Rasyid butuh sosok berintegritas untuk menjadi hakim. Sultan langsung menunjuk Abu Nawas. Bagi kebanyakan orang, ini jackpot. Jabatan Qadi itu kursi basah status naik, harta terjamin, dan dekat dengan penguasa. Namun, bagi Abu Nawas, jabatan itu justru seperti lonceng kematian bagi kedamaian jiwanya. Dia melihat kursi hakim bukan sebagai tahta, melainkan ujian berat yang bisa menyeretnya ke jurang kezaliman jika dia sampai salah langkah (Zaidan, 2021: 88).

Dalam tradisi Islam, menjadi hakim itu risikonya nyawa dan akhirat. Ada beban metafisika di sana. Abu Nawas paham betul kalau memutus perkara itu bukan hanya soal pasal-pasal di atas kertas, tetapi persoalan mempertanggungjawabkan setiap ketukan palu di hadapan Tuhan. Dia merasa, satu saja kesalahan kecil dalam memutus keadilan, itu akan menjadi beban abadi yang dia bawa sampai mati (Al-Attas, 2018: 34).

Baca Juga  Membedah "Wakil Tuhan": Kekuasaan Tanpa Intervensi Dan Tanggung Jawab Moral Sang Hakim

Filsafat di Balik ‘Kegilaan’

Begitu mandat itu turun, Abu Nawas tidak membuat demo atau pidato politik. Dia justru memilih cara yang sangat absurd dia ambil pelepah kurma, menungganginya seperti kuda, lalu lari-lari di pasar sambil teriak tidak karuan. Dia sengaja menghancurkan martabatnya sendiri demi menyelamatkan nuraninya. Ini adalah langkah filosofis yang sangat ekstrem untuk menjaga kesucian hati dari racun ambisi (Fakhry, 2022: 156).

Dengan akting gila itu, Abu Nawas sebenarnya sedang menyindir kewarasan orang-orang di sekitarnya. Dia seolah berteriak bahwa di dunia yang penuh intrik dan kepalsuan ini, menjadi ‘gila’ adalah satu-satunya cara supaya batin tetap waras. Dia rela dianggap tidak waras oleh manusia asalkan tidak kehilangan kompas moral di depan Sang Pencipta. Ini adalah harga mahal yang dia bayar demi sebuah prinsip (Armstrong, 2019: 210).

Ironi Getir Kekuasaan

Ada sesuatu yang sangat perih di balik cerita ini. Orang-orang tertawa melihat Abu Nawas, termasuk Sultan. Tetapi tawa itu sebenarnya menutupi kenyataan yang pahit. Abu Nawas sedang menertawakan sebuah sistem yang gampang sekali menyerahkan timbangan keadilan kepada manusia yang penuh cacat. Dia sadar kekuasaan mempunyai daya rusak yang bisa mematikan nurani, makanya dia pilih menjauh supaya bisa tetap jujur memandang kebenaran (Soroush, 2021: 77).

Keputusan menjadi “orang gila” ini membuktikan kalau integritas itu harganya sangat mahal. Abu Nawas lebih suka dihina dan dianggap sampah oleh orang banyak daripada harus duduk di kursi hakim tapi hatinya terikat kepentingan penguasa. Ini sindiran keras bagi siapa saja yang haus jabatan tanpa mempunyai nyali untuk memikul tanggung jawab moralnya (Mernissi, 2020: 129).

Relevansi Moral di Era Modern

Kisah Abu Nawas ini masih sangat relevan kalau kita bawa ke konteks hari ini. Kita sekarang hidup di zaman di mana jabatan dikejar mati-matian seperti piala. Jarang ada orang yang merasa gemetar atau takut saat dikasih kekuasaan besar. Moralitas Abu Nawas mengajarkan kita untuk mawas diri. Dia menunjukkan kalau tindakan yang kelihatannya konyol bisa jadi sebagai bentuk keteguhan prinsip yang paling tinggi (Hardiman, 2023: 201).

Berani menolak kemewahan jabatan demi ketenangan batin adalah sikap yang sangat langka sekarang. Cerita ini juga mengingatkan kalau keadilan itu bukan hanya persoalan administrasi negara, tetapi persoalan getaran nurani. Kalau seseorang merasa tidak sanggup, mundur adalah langkah ksatria. Abu Nawas membuktikan kalau lebih baik menjadi rakyat jelata yang bebas merdeka daripada pejabat tinggi yang jiwanya terpenjara (Suseno, 2019: 92).

Dialektika Hukum dan Etika

Secara teoretis, apa yang dilakukan Abu Nawas menggambarkan benturan antara hukum formal dan hukum moral. Sebagai calon hakim, dia tahu hukum sering kali hanya menjadi alat penguasa untuk mencari pembenaran. Dengan menjaga jarak dari jabatan tersebut lewat cara yang satir, dia sebenarnya sedang menegakkan hukum yang lebih tinggi, yaitu jujur pada diri sendiri (Rahardjo, 2020: 144). Dia menolak menjadi stempel bagi kepentingan elite yang bertentangan dengan batinnya.

Baca Juga  Memprediksi Risiko di Masa Depan

Fenomena pura-pura gila ini juga bisa kita baca sebagai kritik terhadap formalisme yang kaku. Kadang, jabatan membuat orang kehilangan sisi akal sehatnya karena terlalu sibuk dengan protokol dan harga diri. Abu Nawas, dengan gaya nyelenehnya, tetap menjaga kemurnian jiwanya sebagai manusia biasa. Dia tidak mau jubah hakim yang mentereng menutupi segala kekurangan dan kerapuhannya sebagai hamba (Madjid, 2018: 256).

Kesimpulan

Abu Nawas telah mengubah cara kita melihat apa itu kebijaksanaan. Ternyata bijaksana itu tidak harus pakai baju rapi atau bicara formal. Kadang, dia muncul lewat tawa dan perilaku yang dianggap aneh oleh orang umum. Pura-pura gila ini adalah monumen kejujuran seorang intelektual. Dia tidak mau membohongi diri sendiri atau rakyat banyak dengan menjadi hakim yang terpaksa.

Lewat aksinya, dia menyelamatkan dua hal yaitu  wibawa hukum itu sendiri dan keselamatan jiwanya dari fitnah kekuasaan. Maka apabila kita dengar nama Abu Nawas, jangan hanya siap-siap buat tertawa. Kita juga harus siap untuk merenung. Di balik banyolannya, ada cermin besar yang memaksa kita bertanya: Berani tidak sejujur Abu Nawas saat jabatan dan kemewahan ada di depan mata?” (Nasution, 2022: 118).

Daftar Pustaka

Al-Attas, S. M. N. (2018). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.

Armstrong, K. (2019). Islam: A Short History. London: Modern Library.

Fakhry, M. (2022). A History of Islamic Philosophy. New York: Columbia University Press.

Hadi, A. (2019). Sufisme dan Kritik Sosial. Jakarta: Pustaka Jaya.

Hardiman, F. B. (2023). Seni Memahami. Yogyakarta: Kanisius.

Madjid, N. (2018). Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan.

Mernissi, F. (2020). The Veil and the Male Elite. Reading: Addison-Wesley.

Nasr, S. H. (2020). Living Sufism. Cambridge: Islamic Texts Society.

Nasution, H. (2022). Falsafah dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Rahardjo, S. (2020). Ilmu Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Soroush, A. (2021). Reason, Freedom, and Democracy in Islam. Oxford: Oxford University Press.

Suseno, F. M. (2019). Etika Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Zaidan, J. (2021). History of Islamic Civilization. New Delhi: Kitab Bhavan.

Aman
Kontributor
Aman
Wakil Ketua Pengadilan Agama Baturaja

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel hukum Etika Kekuasaan Filsafat Hukum integritas keadilan Moralitas pemikiran islam
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Anatomi Putusan Adil: Integrasi Regulasi, Nurani, dan Pesan Ilahi di Tengah Arus Opini Publik

11 May 2026 • 14:55 WIB

Menakar Ulang Keadilan Sosial dari Rakyat, untuk Rakyat dan oleh Rakyat

10 May 2026 • 15:30 WIB

Landasan Penjatuhan Putusan Lepas dalam KUHAP Baru

10 May 2026 • 14:20 WIB
Demo
Top Posts

Peradilan Militer Bukan Ruang Gelap: Menepis Narasi Impunitas dengan Fakta dan Akuntabilitas

9 May 2026 • 18:38 WIB

NJA India, JTC Indonesia, dan Jalan Belajar Seorang Hakim

4 May 2026 • 09:43 WIB

Bagaimana Cara Hakim dan Lembaga Peradilan menghadapi Trial By Media “Sebuah Pembelajaran dari India”

2 May 2026 • 16:11 WIB

5 Hal Menarik dalam Sistem Peradilan India yang Tidak Ditemukan di Indonesia

1 May 2026 • 13:20 WIB
Don't Miss

Anatomi Putusan Adil: Integrasi Regulasi, Nurani, dan Pesan Ilahi di Tengah Arus Opini Publik

By Aman11 May 2026 • 14:55 WIB0

Pendahuluan Peradilan Indonesia tahun 2026 berada pada fase krusial implementasi UU No. 1 Tahun 2023…

Temuwicara MA – BI – OJK Tahun 2026: Sinergi Menjaga Keadilan dan Stabilitas Negeri

11 May 2026 • 12:24 WIB

Ironi Jubah Keadilan: ‘Kegilaan’ Abu Nawas dan Beban Etis Kekuasaan

11 May 2026 • 08:30 WIB

Menakar Ulang Keadilan Sosial dari Rakyat, untuk Rakyat dan oleh Rakyat

10 May 2026 • 15:30 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Anatomi Putusan Adil: Integrasi Regulasi, Nurani, dan Pesan Ilahi di Tengah Arus Opini Publik
  • Temuwicara MA – BI – OJK Tahun 2026: Sinergi Menjaga Keadilan dan Stabilitas Negeri
  • Ironi Jubah Keadilan: ‘Kegilaan’ Abu Nawas dan Beban Etis Kekuasaan
  • Menakar Ulang Keadilan Sosial dari Rakyat, untuk Rakyat dan oleh Rakyat
  • Landasan Penjatuhan Putusan Lepas dalam KUHAP Baru

Recent Comments

  1. dapoxetine vs cialis on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  2. dapoxetine in kuwait on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  3. mesalamine otc alternatives on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  4. revatio coupon on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
  5. buy udenafil online on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.