Pendahuluan
Kekuasaan sering menjadi panggung bagi narasi yang riuh, namun di baliknya, ada sunyi yang menuntut pertanggungjawaban moral paling dalam. Sejarah telah mewariskan kepada kita sosok Abu Nawas bukan sekadar sebagai figur jenaka, melainkan seorang pemikir yang memilih kegilaan sebagai benteng terakhir integritasnya.
Melalui tulisan ini, saya mencoba menelusuri kembali fragmen sejarah tersebut sebagai sebuah pernyataan etis tentang beratnya memikul timbangan keadilan. Di tengah arus zaman yang sering terjebak dalam formalisme hukum yang kaku, narasi Abu Nawas hadir sebagai cermin filosofis bagi kita semua, khususnya dalam melihat hubungan antara integritas pribadi dan jabatan publik.
Artikel yang berjudul “Ironi Jubah Keadilan: ‘Kegilaan’ Abu Nawas dan Beban Etis Kekuasaan“ ini mencoba membedah bagaimana dialektika antara hukum formal dan etika batin bekerja melalui pendekatan yang cair namun tetap berbobot.
Dalam ingatan kolektif masyarakat, Abu Nawas hanya dianggap sebagai pelawak istana yang cerdik. Namanya seolah sepaket dengan lelucon ringan yang kita dengar saat kecil. Tapi, kalau kita tengok lebih dalam. Di balik tawa itu, ada seorang intelektual yang memakai humor sebagai senjata tajam untuk mengiris ketimpangan sosial. Abu Nawas itu bukan sekadar tukang omon omon dia adalah manifestasi hidup dari filsafat yang paling jujur (Nasr, 2020: 45).
Tingkah aneh yang dia lakukan sebenarnya adalah pantulan dari kegelisahan batin melihat realitas politik zamannya. Salah satu momen paling menggetarkan dalam sejarah hidupnya adalah ketika dia nekat berpura-pura kehilangan akal sehat. Kenapa? Karena dia ingin lari dari mandat jabatan Qadi atau hakim agung. Pilihan ini menunjukkan jurang lebar antara ambisi manusia biasa dengan ketakutan seorang sufi akan beratnya beban kekuasaan. Kegilaannya, adalah perlawanan diam-diam terhadap otoritas (Hadi, 2019: 112).
Mandat Sultan dan Timbangan yang Berat
Semuanya bermula waktu Khalifah Harun Al Rasyid butuh sosok berintegritas untuk menjadi hakim. Sultan langsung menunjuk Abu Nawas. Bagi kebanyakan orang, ini jackpot. Jabatan Qadi itu kursi basah status naik, harta terjamin, dan dekat dengan penguasa. Namun, bagi Abu Nawas, jabatan itu justru seperti lonceng kematian bagi kedamaian jiwanya. Dia melihat kursi hakim bukan sebagai tahta, melainkan ujian berat yang bisa menyeretnya ke jurang kezaliman jika dia sampai salah langkah (Zaidan, 2021: 88).
Dalam tradisi Islam, menjadi hakim itu risikonya nyawa dan akhirat. Ada beban metafisika di sana. Abu Nawas paham betul kalau memutus perkara itu bukan hanya soal pasal-pasal di atas kertas, tetapi persoalan mempertanggungjawabkan setiap ketukan palu di hadapan Tuhan. Dia merasa, satu saja kesalahan kecil dalam memutus keadilan, itu akan menjadi beban abadi yang dia bawa sampai mati (Al-Attas, 2018: 34).
Filsafat di Balik ‘Kegilaan’
Begitu mandat itu turun, Abu Nawas tidak membuat demo atau pidato politik. Dia justru memilih cara yang sangat absurd dia ambil pelepah kurma, menungganginya seperti kuda, lalu lari-lari di pasar sambil teriak tidak karuan. Dia sengaja menghancurkan martabatnya sendiri demi menyelamatkan nuraninya. Ini adalah langkah filosofis yang sangat ekstrem untuk menjaga kesucian hati dari racun ambisi (Fakhry, 2022: 156).
Dengan akting gila itu, Abu Nawas sebenarnya sedang menyindir kewarasan orang-orang di sekitarnya. Dia seolah berteriak bahwa di dunia yang penuh intrik dan kepalsuan ini, menjadi ‘gila’ adalah satu-satunya cara supaya batin tetap waras. Dia rela dianggap tidak waras oleh manusia asalkan tidak kehilangan kompas moral di depan Sang Pencipta. Ini adalah harga mahal yang dia bayar demi sebuah prinsip (Armstrong, 2019: 210).
Ironi Getir Kekuasaan
Ada sesuatu yang sangat perih di balik cerita ini. Orang-orang tertawa melihat Abu Nawas, termasuk Sultan. Tetapi tawa itu sebenarnya menutupi kenyataan yang pahit. Abu Nawas sedang menertawakan sebuah sistem yang gampang sekali menyerahkan timbangan keadilan kepada manusia yang penuh cacat. Dia sadar kekuasaan mempunyai daya rusak yang bisa mematikan nurani, makanya dia pilih menjauh supaya bisa tetap jujur memandang kebenaran (Soroush, 2021: 77).
Keputusan menjadi “orang gila” ini membuktikan kalau integritas itu harganya sangat mahal. Abu Nawas lebih suka dihina dan dianggap sampah oleh orang banyak daripada harus duduk di kursi hakim tapi hatinya terikat kepentingan penguasa. Ini sindiran keras bagi siapa saja yang haus jabatan tanpa mempunyai nyali untuk memikul tanggung jawab moralnya (Mernissi, 2020: 129).
Relevansi Moral di Era Modern
Kisah Abu Nawas ini masih sangat relevan kalau kita bawa ke konteks hari ini. Kita sekarang hidup di zaman di mana jabatan dikejar mati-matian seperti piala. Jarang ada orang yang merasa gemetar atau takut saat dikasih kekuasaan besar. Moralitas Abu Nawas mengajarkan kita untuk mawas diri. Dia menunjukkan kalau tindakan yang kelihatannya konyol bisa jadi sebagai bentuk keteguhan prinsip yang paling tinggi (Hardiman, 2023: 201).
Berani menolak kemewahan jabatan demi ketenangan batin adalah sikap yang sangat langka sekarang. Cerita ini juga mengingatkan kalau keadilan itu bukan hanya persoalan administrasi negara, tetapi persoalan getaran nurani. Kalau seseorang merasa tidak sanggup, mundur adalah langkah ksatria. Abu Nawas membuktikan kalau lebih baik menjadi rakyat jelata yang bebas merdeka daripada pejabat tinggi yang jiwanya terpenjara (Suseno, 2019: 92).
Dialektika Hukum dan Etika
Secara teoretis, apa yang dilakukan Abu Nawas menggambarkan benturan antara hukum formal dan hukum moral. Sebagai calon hakim, dia tahu hukum sering kali hanya menjadi alat penguasa untuk mencari pembenaran. Dengan menjaga jarak dari jabatan tersebut lewat cara yang satir, dia sebenarnya sedang menegakkan hukum yang lebih tinggi, yaitu jujur pada diri sendiri (Rahardjo, 2020: 144). Dia menolak menjadi stempel bagi kepentingan elite yang bertentangan dengan batinnya.
Fenomena pura-pura gila ini juga bisa kita baca sebagai kritik terhadap formalisme yang kaku. Kadang, jabatan membuat orang kehilangan sisi akal sehatnya karena terlalu sibuk dengan protokol dan harga diri. Abu Nawas, dengan gaya nyelenehnya, tetap menjaga kemurnian jiwanya sebagai manusia biasa. Dia tidak mau jubah hakim yang mentereng menutupi segala kekurangan dan kerapuhannya sebagai hamba (Madjid, 2018: 256).
Kesimpulan
Abu Nawas telah mengubah cara kita melihat apa itu kebijaksanaan. Ternyata bijaksana itu tidak harus pakai baju rapi atau bicara formal. Kadang, dia muncul lewat tawa dan perilaku yang dianggap aneh oleh orang umum. Pura-pura gila ini adalah monumen kejujuran seorang intelektual. Dia tidak mau membohongi diri sendiri atau rakyat banyak dengan menjadi hakim yang terpaksa.
Lewat aksinya, dia menyelamatkan dua hal yaitu wibawa hukum itu sendiri dan keselamatan jiwanya dari fitnah kekuasaan. Maka apabila kita dengar nama Abu Nawas, jangan hanya siap-siap buat tertawa. Kita juga harus siap untuk merenung. Di balik banyolannya, ada cermin besar yang memaksa kita bertanya: Berani tidak sejujur Abu Nawas saat jabatan dan kemewahan ada di depan mata?” (Nasution, 2022: 118).
Daftar Pustaka
Al-Attas, S. M. N. (2018). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.
Armstrong, K. (2019). Islam: A Short History. London: Modern Library.
Fakhry, M. (2022). A History of Islamic Philosophy. New York: Columbia University Press.
Hadi, A. (2019). Sufisme dan Kritik Sosial. Jakarta: Pustaka Jaya.
Hardiman, F. B. (2023). Seni Memahami. Yogyakarta: Kanisius.
Madjid, N. (2018). Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan.
Mernissi, F. (2020). The Veil and the Male Elite. Reading: Addison-Wesley.
Nasr, S. H. (2020). Living Sufism. Cambridge: Islamic Texts Society.
Nasution, H. (2022). Falsafah dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Rahardjo, S. (2020). Ilmu Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Soroush, A. (2021). Reason, Freedom, and Democracy in Islam. Oxford: Oxford University Press.
Suseno, F. M. (2019). Etika Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Zaidan, J. (2021). History of Islamic Civilization. New Delhi: Kitab Bhavan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


