Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Hoax dan Matinya Akal Sehat Publik di Era Post-Truth

5 May 2026 • 22:41 WIB

Indonesia Belum Selesai

5 May 2026 • 22:36 WIB

Ini Poin Pembahasan Peneliti Pustrajak MA dan Harian Kompas

5 May 2026 • 19:12 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Indonesia Belum Selesai
Berita

Indonesia Belum Selesai

Prof. Anhar Gonggong mengingatkan para hakim bahwa kemerdekaan adalah proyek peradaban yang harus terus dijaga melalui sejarah, integritas, dan keadilan.
Redpel SuaraBSDKRedpel SuaraBSDK5 May 2026 • 22:36 WIB6 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Jakarta, suarabsdk.com — Kemerdekaan Indonesia bukan hanya peristiwa politik 17 Agustus 1945. Ia adalah proyek panjang peradaban yang masih terus diuji hingga hari ini. Pesan itulah yang mengemuka dalam sesi Pendidikan Filsafat dan Keadilan bagi Hakim Peradilan Umum, Agama, Militer dan Tata Usaha Negara, Ad Hoc Seluruh Indonesia Gelombang 2, Selasa malam, 5 Mei 2026, yang menghadirkan sejarawan senior Prof. Anhar Gonggong.

Dalam sesi bertema “Melihat Masa Lalu dan Membincangkan Masa Depan Indonesia”, Prof. Anhar mengajak para hakim membaca sejarah bukan sebagai kumpulan tanggal, tokoh, dan peristiwa, melainkan sebagai cermin moral bangsa. Menurutnya, Indonesia tidak lahir sebagai bangsa yang sudah selesai, tetapi sebagai bangsa baru yang dibentuk melalui proses panjang, keberanian, dan kesediaan berbagai suku bangsa melepaskan ego kesukuan untuk membangun rumah bersama bernama Indonesia.

Prof. Anhar yang ayahhnya dan beberapa keluarganya juga menjadi korban kekejaman penjajahan Belanda memulai refleksinya dengan menyinggung sejarah panjang perlawanan rakyat Nusantara terhadap kolonialisme. Perlawanan Diponegoro, Sisingamangaraja, Panglima Polim, Pattimura, hingga dinamika kerajaan-kerajaan di berbagai daerah menunjukkan bahwa rakyat telah lama melawan ketidakadilan. Namun perlawanan-perlawanan itu belum menjadi kekuatan nasional karena masih bergerak secara lokal dan tercerai-berai.

Titik balik sejarah, menurut Prof. Anhar, terjadi ketika lahir kaum terdidik dan tercerahkan pada masa pergerakan nasional. Mereka bukan hanya pintar secara intelektual, tetapi memiliki keberanian moral untuk melampaui kepentingan dirinya sendiri.

“Pemimpin adalah orang yang mampu melampaui diri,” tegas Prof. Anhar.

Pakar Sejarah yang cukup senior ini mencontohkan Soekarno, Hatta, Sjahrir, Soepomo, dan tokoh-tokoh pergerakan lain yang sebenarnya memiliki peluang untuk hidup nyaman dengan pendidikan tinggi yang mereka miliki. Soekarno adalah insinyur, Hatta menempuh pendidikan ekonomi di Rotterdam, Sjahrir dan Soepomo juga berasal dari kalangan terdidik. Namun mereka tidak menggunakan ilmu semata untuk mengejar kedudukan dan kenyamanan pribadi. “Mereka lebih bersedia keluar masuk penjara daripada menggunakan ilmu yang telah dituntut bertahun-tahun untuk mendapatkan pekerjaan yang enak,” ujar Prof. Anhar.

Bagi Prof. Anhar, di situlah letak kemuliaan kaum pergerakan. Mereka menjadikan pendidikan sebagai alat pembebasan bangsa, bukan sekadar alat mobilitas sosial pribadi. Ilmu tidak berhenti di kepala, tetapi hidup dalam keberanian, pengorbanan, dan tanggung jawab sejarah.

Dalam paparannya, Prof. Anhar juga mengajak peserta kembali membaca Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Menurutnya, meskipun singkat, Pembukaan UUD 1945 menyimpan seluruh cita-cita besar bangsa merdeka: demokrasi, persatuan, keadilan sosial, ketuhanan, dan keterlibatan Indonesia dalam membangun ketertiban serta perdamaian dunia.

Namun setelah lebih dari delapan dekade merdeka, Prof. Anhar mengingatkan bahwa cita-cita tersebut belum sepenuhnya tercapai. Indonesia telah mengalami berbagai bentuk demokrasi: demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, demokrasi Pancasila, hingga demokrasi reformasi. Tetapi nama demokrasi, menurutnya, tidak cukup apabila tidak berdiri di atas hukum yang jelas dan lembaga kehakiman yang bekerja secara benar. “Tidak mungkin kita menjadi negara demokratis tanpa aturan yang jelas,” katanya.

Baca Juga  Revitalisasi Independensi Finansial Kekuasaan Kehakiman

Di hadapan ratusan para hakim dari berbagai lingkungan peradilan yang hadir secara online, Prof. Anhar menegaskan bahwa lembaga kehakiman memegang peran fundamental dalam menjaga kehidupan berbangsa. Negara tidak mungkin menciptakan kehidupan yang tenang, sejahtera, dan adil tanpa lembaga peradilan yang bekerja sebagaimana mestinya.

Sejarawan yang khas dengan rambut panjangnya ini menekankan bahwa Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, dan seluruh badan peradilan bukan sekadar institusi pemutus perkara. Lembaga kehakiman adalah penyangga moral negara hukum. Ketika pengadilan kuat, jernih, dan dipercaya, demokrasi memiliki sandaran. Sebaliknya, ketika lembaga kehakiman kehilangan integritas, kepercayaan publik terhadap negara hukum ikut terguncang.

Prof. Anhar juga mengingatkan pentingnya integritas dalam kehidupan publik. Menurutnya, krisis integritas sering bermula dari teladan buruk pemimpin. Ketika pemimpin kehilangan moralitas, bawahan dan lingkungan birokrasi juga berpotensi kehilangan keberanian untuk menjaga diri. Dalam konteks peradilan, pesan itu menjadi sangat dekat. Seorang hakim tidak cukup hanya memahami norma hukum. Hakim harus menjaga moralitas dirinya, lingkungan kerjanya, dan kehormatan jabatannya. Satu hakim yang runtuh integritasnya dapat melukai kepercayaan masyarakat kepada seluruh bangunan peradilan.

“Koruptor itu orang yang tidak tahu bersyukur,” ujar Prof. Anhar, ketika menyinggung pentingnya rasa syukur atas jabatan, pekerjaan, dan amanah publik.

Menurutnya, banyak orang tidak memiliki pekerjaan, bahkan sebagian mungkin lebih pintar dari mereka yang sedang memegang jabatan. Karena itu, jabatan tidak boleh dipandang sebagai ruang untuk mengambil keuntungan, tetapi sebagai amanah yang harus dijaga dengan rasa syukur dan tanggung jawab.

Prof. Anhar juga menyinggung pentingnya kesadaran sejarah lintas generasi. Setiap generasi memiliki tantangannya sendiri. Namun tanpa pengetahuan sejarah, generasi baru akan mudah kehilangan akar, salah membaca krisis, dan keliru menentukan arah masa depan. Ia mengingatkan bahwa sejarah yang diajarkan saja belum tentu didengar, apalagi jika sejarah makin dipinggirkan dari pendidikan dan percakapan publik. Karena itu, kegigihan mengajarkan sejarah adalah bagian dari ikhtiar menjaga ingatan bangsa.

Dalam refleksi lebih luas, Prof. Anhar menyinggung Pancasila sebagai dasar moral yang sesungguhnya dapat mencegah bangsa ini jatuh pada individualisme dan egoisme kekuasaan. Pancasila menempatkan manusia Indonesia sebagai pribadi yang bertuhan, berkemanusiaan, hidup dalam persatuan, bermusyawarah, dan mengejar keadilan sosial. Namun pertanyaan terpenting, menurutnya, bukan apakah Indonesia memiliki Pancasila, melainkan siapa yang sungguh-sungguh menjalankannya. Pancasila tidak boleh berhenti sebagai teks dalam pidato, upacara, atau dokumen resmi negara. Ia harus tampak dalam perilaku pejabat publik, kebijakan negara, putusan pengadilan, dan kehidupan masyarakat.

Baca Juga  Logika, Etika, dan Jebakan Logical Fallacy: Refleksi bagi Hakim dalam Memeriksa dan Mengadili Suatu Perkara

Sesi yang berlangsung secara daring tersebut dipandu oleh Irvan Mawardi dari Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung. Para peserta dari berbagai lingkungan peradilan mengikuti paparan dan diskusi dengan antusias, terutama karena materi sejarah yang disampaikan Prof. Anhar langsung ditarik pada relevansi tugas kehakiman masa kini. Sesi diskusi berlangsung menarik dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam dan kritis dari peserta “ Seumur hidup saya, baru malam ini saya menemukan forum yang diisi dengan pertanyaan yang sangat tajam dan berani dari Pegawai Negeri Sipil, karena dulu PNS yang bertanya seperti ini, langsung kena sanksi, diberhentikan. Dari dulu, tidak ada PNS yang berani bertanya seperti ini” ujar Prof Anhar dengan bangga dan apresiasi atas pertanyaan para peserta

Pada akhir sesi, moderator menegaskan bahwa pesan Prof. Anhar memiliki tiga simpul penting. Pertama, Indonesia lahir dari keberanian para pemimpin yang mampu melampaui diri. Kedua, kemerdekaan adalah proyek peradaban yang belum selesai. Ketiga, lembaga kehakiman adalah penjaga keadilan, kepercayaan publik, dan masa depan Indonesia sebagai bangsa merdeka.

Dengan demikian, pendidikan filsafat dan keadilan bagi hakim tidak semata menjadi ruang pengayaan pengetahuan. Ia menjadi ruang perenungan etis tentang jabatan, sejarah, dan tanggung jawab. Sebab hakim tidak hanya bekerja di ruang sidang. Hakim ikut menentukan apakah cita-cita kemerdekaan tetap hidup dalam praktik hukum dan keadilan.

Bangsa ini pernah dibangun oleh orang-orang yang mampu melampaui dirinya. Maka tugas generasi hari ini, terutama para penjaga hukum dan keadilan, adalah memastikan bahwa ilmu, jabatan, dan kewenangan tidak berhenti untuk diri sendiri, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar panjang menjaga Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, adil, dan beradab.

Maka benar, Indonesia belum selesai. Ia masih terus disusun melalui keberanian para pemimpinnya, integritas para pejabatnya, kesadaran sejarah generasi mudanya, dan terutama kejujuran para penegak hukumnya. Kemerdekaan telah memberi kita negara, tetapi keadilanlah yang akan menentukan apakah negara itu benar-benar menjadi rumah peradaban. Di titik itulah hakim memegang amanah penting: memastikan Indonesia tidak hanya merdeka dalam sejarah, tetapi juga adil dalam kenyataan.

Redpel SuaraBSDK
Kontributor
Redpel SuaraBSDK

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Anhar Gonggong Integritas Hakim Keadilan Sosial mahkamah agung Negara Hukum pancasila Pendidikan Hakim Peradilan Indonesia Reformasi Peradilan Sejarah Indonesia
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Ini Poin Pembahasan Peneliti Pustrajak MA dan Harian Kompas

5 May 2026 • 19:12 WIB

Logika, Etika, Logical Fallacy, dan Jalan Panjang Hakim Menemukan Keadilan

5 May 2026 • 18:40 WIB

PA Baturaja 100 Persen Bebas Kumdis Bawas MA RI priode Bulan April 2026

5 May 2026 • 17:04 WIB
Demo
Top Posts

NJA India, JTC Indonesia, dan Jalan Belajar Seorang Hakim

4 May 2026 • 09:43 WIB

Bagaimana Cara Hakim dan Lembaga Peradilan menghadapi Trial By Media “Sebuah Pembelajaran dari India”

2 May 2026 • 16:11 WIB

5 Hal Menarik dalam Sistem Peradilan India yang Tidak Ditemukan di Indonesia

1 May 2026 • 13:20 WIB

Lok Adalat: Tools Efektif Penyelesaian Perkara Perdata Hingga Pidana Ringan di India

29 April 2026 • 15:30 WIB
Don't Miss

Hoax dan Matinya Akal Sehat Publik di Era Post-Truth

By Khoiruddin Hasibuan5 May 2026 • 22:41 WIB0

Di era digital, kebenaran tidak lagi berjalan sendirian sebagai kebenaran. Ia harus berebut panggung dengan…

Indonesia Belum Selesai

5 May 2026 • 22:36 WIB

Ini Poin Pembahasan Peneliti Pustrajak MA dan Harian Kompas

5 May 2026 • 19:12 WIB

Hoaks dalam Perspektif Pers dan Hukum di Era Post-Truth

5 May 2026 • 18:45 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Hoax dan Matinya Akal Sehat Publik di Era Post-Truth
  • Indonesia Belum Selesai
  • Ini Poin Pembahasan Peneliti Pustrajak MA dan Harian Kompas
  • Hoaks dalam Perspektif Pers dan Hukum di Era Post-Truth
  • Logika, Etika, Logical Fallacy, dan Jalan Panjang Hakim Menemukan Keadilan

Recent Comments

  1. dapoxetine vs cialis on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  2. dapoxetine in kuwait on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  3. mesalamine otc alternatives on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  4. revatio coupon on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
  5. buy udenafil online on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.