Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi

September 16, 2026

Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan

September 16, 2026

Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok

September 16, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Antara Kealpaan, Pemulihan, dan Pemaafan Hakim: Catatan atas Putusan PN Merauke Nomor 27/Pid.B/2026/PN Mrk

Antara Kealpaan, Pemulihan, dan Pemaafan Hakim: Catatan atas Putusan PN Merauke Nomor 27/Pid.B/2026/PN Mrk

Membaca penerapan keadilan restoratif, pengakuan bersalah, dan pemaafan hakim dalam wajah baru peradilan pidana Indonesia.
Unggul SenoajiUnggul SenoajiMay 2, 20267 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Kealpaan yang Berujung Petaka

Ada perkara pidana yang tidak lahir dari niat jahat, melainkan dari satu kelengahan yang berakibat serius bagi orang lain. Tidak ada dendam. Tidak ada rencana. Tidak ada kehendak untuk melukai. Yang ada hanyalah satu momen kerja yang bergerak terlalu cepat, satu prosedur keselamatan yang luput dijalankan, dan satu akibat yang kemudian membawa manusia ke ruang sidang.

Peristiwa itu terjadi di area kerja perkebunan tebu PT Global Papua Abadi, Merauke. Sore itu, para pekerja sedang menyelesaikan aktivitas. Peralatan kerja dikemas. Drone dan perlengkapannya hendak dipindahkan. Sebuah John Deere/Tractor dengan gandengan tangki air berada di sekitar lokasi. Dalam suasana kerja yang tampak biasa, tiba-tiba terjadi peristiwa yang mengubah semuanya: seorang pekerja, Jujur Renaldi Samosir, terlindas roda gandengan tangki air yang ditarik traktor.

Dari peristiwa itulah Putusan Pengadilan Negeri Merauke Nomor 27/Pid.B/2026/PN Mrk menjadi menarik untuk dibaca. Ia bukan semata perkara kecelakaan kerja. Ia adalah potret kecil dari bagaimana hukum pidana nasional yang baru mulai menemukan bentuk konkretnya dalam ruang sidang. Di dalamnya ada kealpaan, ada penderitaan korban, ada pengakuan bersalah, ada upaya perdamaian, ada ganti kerugian, dan pada akhirnya ada pemaafan hakim.

Terdakwa dalam perkara ini, Asep Seputra Setia Mulya, adalah pekerja berusia 19 tahun. Ia bekerja sebagai operator atau pengemudi traktor. Korban juga merupakan pekerja di lingkungan perusahaan yang sama. Mereka bukan orang yang sedang bermusuhan. Mereka bukan dua pihak yang sejak awal berdiri berhadap-hadapan. Justru karena itulah perkara ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari: bahwa dalam dunia kerja, kelalaian kecil dapat melahirkan akibat hukum yang besar.

Kealpaan, Pengakuan Bersalah, dan Pemulihan

Fakta persidangan menunjukkan bahwa terdakwa tidak membunyikan klakson ketika hendak menjalankan traktor. Padahal, berdasarkan Standar Operasional Prosedur, klakson harus dibunyikan satu kali ketika hendak maju dan dua kali ketika hendak mundur. Terdakwa juga tidak memperhatikan spion saat hendak menjalankan kendaraan. Dalam putusan, keadaan ini dinilai sebagai bentuk ceroboh, teledor, dan kurang hati-hati. Dengan kata lain, hukum membaca peristiwa itu sebagai kealpaan.

Namun, kealpaan tidak boleh dipahami sebagai sesuatu yang sepele. Dalam hukum pidana, kelalaian tetap dapat menimbulkan pertanggungjawaban apabila akibat yang dilarang benar-benar terjadi. Dalam perkara ini, korban mengalami luka dan tidak dapat bekerja dalam waktu yang cukup lama. Karena itu, pengadilan menyatakan unsur Pasal 474 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP telah terpenuhi, yakni karena kealpaannya mengakibatkan orang lain luka sehingga timbul halangan menjalankan mata pencaharian selama waktu tertentu.

Di titik ini, putusan tersebut menunjukkan ketegasan hukum. Hakim tidak mengaburkan kesalahan. Tidak pula membiarkan kelalaian larut begitu saja dalam bahasa maaf. Terdakwa tetap dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. Ini penting, karena keadilan bagi korban menuntut pengakuan bahwa suatu peristiwa memang terjadi, suatu kelalaian memang dilakukan, dan suatu penderitaan memang dialami.

Baca Juga  Wakil Ketua MA Bidang Yudisial : KUHP Baru Bukan Sekadar Pergantian Undang-Undang, Melainkan Perubahan Paradigma Pemidanaan

Akan tetapi, hukum yang matang tidak berhenti hanya pada pernyataan bersalah. Ia juga bertanya: apa yang terjadi setelah peristiwa itu? Apakah pelaku menunjukkan tanggung jawab? Apakah korban memperoleh pemulihan? Apakah hubungan sosial yang rusak dapat diperbaiki? Apakah pidana masih menjadi satu-satunya jawaban yang paling adil?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadikan putusan PN Merauke tersebut bernilai lebih dari sekadar putusan pidana biasa. Setelah pembacaan dakwaan, mekanisme keadilan restoratif sempat diupayakan. Pada tahap awal, upaya itu belum berhasil. Kemudian, terdakwa menyatakan pengakuan bersalah. Perkara pun beralih ke acara pemeriksaan singkat sebagaimana mekanisme yang diatur dalam KUHAP 2025.

Dalam pemeriksaan berikutnya, hakim kembali membuka ruang perdamaian. Ruang sidang tidak hanya dipakai untuk menguji unsur pidana, tetapi juga untuk mempertemukan kembali manusia yang terluka oleh peristiwa pidana. Terdakwa meminta maaf. Korban memaafkan. Terdakwa bersedia membayar ganti kerugian sebesar Rp50.000.000, sedangkan biaya pengobatan korban telah ditanggung oleh perusahaan. Dari sana, hakim menilai bahwa secara substansial tujuan keadilan restoratif telah tercapai.

Keadilan Subtantif Terwujud dalam Pemaafan Hakim

Melalui putusan yang dijatuhkan oleh Hakim Pengadilan Negeri Merauke, Ahmad Syah Putra, S.H., perkara ini memperlihatkan bahwa pembaruan hukum pidana tidak berhenti sebagai teks undang-undang. Ia mulai menemukan bentuknya dalam ruang sidang, ketika hakim menimbang kesalahan, mendengar pemulihan, dan menempatkan pidana secara proporsional dalam terang keadilan serta kemanusiaan.

Bagian paling penting dari putusan ini terletak pada keberanian untuk membedakan antara kesalahan yang harus diakui dan pidana yang belum tentu harus dijatuhkan. Dalam konstruksi KUHP Nasional, hakim diberi ruang untuk mempertimbangkan ringannya perbuatan, keadaan pribadi pelaku, keadaan pada saat tindak pidana dilakukan, serta keadaan yang terjadi setelahnya. Bahkan, dalam keadaan tertentu, hakim dapat menyatakan terdakwa terbukti bersalah, tetapi tidak menjatuhkan pidana atau tindakan.

Di sinilah pemaafan hakim memperoleh tempatnya. Pemaafan hakim bukan berarti perbuatan terdakwa dianggap benar. Bukan pula berarti korban diabaikan. Justru sebaliknya, pemaafan hakim hanya mungkin bernilai apabila kesalahan telah dinyatakan, korban telah didengar, dan pemulihan telah sungguh-sungguh diperhatikan. Ia bukan penghapusan peristiwa, melainkan penilaian yang lebih utuh terhadap manusia, akibat, tanggung jawab, dan masa depan.

Dalam perkara ini, hakim mempertimbangkan bahwa terdakwa baru pertama kali melakukan tindak pidana. Perbuatan terjadi karena kealpaan, bukan karena niat jahat. Setelah mengetahui korban terlindas, terdakwa tidak melarikan diri. Ia berusaha menghentikan kendaraan, membantu korban, meminta maaf, dan membayar ganti kerugian. Korban pun menerima permintaan maaf tersebut. Keadaan-keadaan inilah yang kemudian membentuk dasar bagi pemberian pemaafan hakim.

Baca Juga  Perwakilan Mahkamah Agung Hadiri Konsinyasi Persiapan Pembahasan RUU Hukum Perdata Internasional

Putusan ini menjadi menarik karena memperlihatkan hukum pidana yang tidak kehilangan arah kemanusiaannya. Di satu sisi, hukum tetap menjaga pesan penting bahwa keselamatan kerja bukan perkara kecil. Standar Operasional Prosedur bukan sekadar formalitas administrasi perusahaan. Ia adalah pagar keselamatan manusia. Ketika pagar itu diabaikan, akibatnya dapat melukai tubuh, pekerjaan, dan kehidupan orang lain.

Namun, di sisi lain, putusan ini juga mengingatkan bahwa pidana penjara tidak selalu menjadi jawaban terbaik bagi setiap kesalahan. Terutama ketika perbuatan lahir dari kealpaan, pelaku menunjukkan tanggung jawab, korban memperoleh pemulihan, dan hubungan sosial telah diperbaiki. Dalam keadaan demikian, hukum pidana tidak perlu selalu berbicara dengan bahasa penjeraan. Kadang, ia justru lebih bermartabat ketika berbicara dengan bahasa pemulihan.

Pembaruan hukum pidana nasional memang tidak cukup dibaca dari perubahan pasal. Ia harus dibaca dari perubahan cara pandang. KUHP Nasional dan KUHAP 2025 membawa pesan bahwa pemidanaan bukan reaksi otomatis atas terpenuhinya unsur delik. Hakim diberi ruang untuk menimbang secara lebih jernih: tujuan pemidanaan, keadaan pelaku, kepentingan korban, pemulihan sosial, serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.

Putusan PN Merauke ini memperlihatkan bagaimana gagasan besar itu bekerja dalam perkara konkret. Dari sebuah kecelakaan kerja di kebun tebu, hukum menemukan pelajaran penting tentang proporsionalitas. Dari satu kelalaian, pengadilan menunjukkan bahwa kesalahan tetap harus disebut sebagai kesalahan. Tetapi dari penyesalan, pemaafan, dan ganti kerugian, pengadilan juga menunjukkan bahwa keadilan tidak harus selalu berakhir pada penghukuman.

Di sanalah nilai putusan ini. Ia tidak melemahkan hukum pidana. Justru ia menguatkannya, karena hukum yang kuat bukanlah hukum yang selalu keras, melainkan hukum yang mampu membedakan dengan jernih. Kapan pidana harus dijatuhkan. Kapan pemulihan harus diutamakan. Kapan seseorang harus dihukum. Dan kapan seseorang yang bersalah, setelah bertanggung jawab dan dimaafkan, masih layak diberi kesempatan untuk memperbaiki hidupnya.

Pada akhirnya, perkara ini mengingatkan bahwa ruang sidang bukan hanya tempat negara menyatakan salah dan benar. Ia juga tempat manusia dipertemukan kembali dengan tanggung jawab, dengan akibat perbuatannya, dan dengan kemungkinan untuk menjadi lebih baik. Dalam wajah baru hukum pidana Indonesia, keadilan tidak lagi dipahami semata sebagai pidana yang dijatuhkan, tetapi juga sebagai keseimbangan yang dipulihkan.

Dari Merauke, putusan ini memberi pesan yang tenang tetapi kuat: hukum pidana tetap harus tegas terhadap kelalaian, tetapi tidak boleh kehilangan kelembutan terhadap pemulihan. Sebab, keadilan yang sejati bukan hanya menghukum manusia karena kesalahannya, melainkan juga memberi ruang agar manusia belajar dari kesalahan itu tanpa kehilangan martabatnya.

Sumber: Putusan Pengadilan Negeri Merauke Nomor 27/Pid.B/2026/PN Mrk.

Unggul Senoaji
Kontributor
Unggul Senoaji
Hakim Ad Hoc Pengadilan Negeri Merauke

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

hukum pidana Keadilan Restoratif Keadilan Substantif KUHP Baru pemaafan hakim Pemulihan Korban pengakuan bersalah Peradilan Indonesia Putusan PN Merauke Reformasi Hukum
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi

September 16, 2026

Meredefinisi Peran Ahli Hukum dalam Persidangan Perkara Pidana

September 16, 2026

Disamping Pemidanaan, Putusan PN Muara Enim juga Perintahkan Polisi Buru Aktor Intelektual dalam Kasus Batu Bara Ilegal

September 15, 2026
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 20261,403 Views

Titah Leviathan

September 11, 2026

Di Balik Tradisi ‘Mohon Izin’: Meneguhkan Etika dan Jati Diri Prajurit pada HUT ke-81 TNI AL

September 10, 2026
Don't Miss

Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi

By Sri Nurmina Sari, S.HSeptember 16, 20260

PENDAHULUAN Salah satu adagium hukum yang pertama kali diperkenalkan pada telinga penulis saat menjadi mahasiswa…

Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan

September 16, 2026

Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok

September 16, 2026

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi
  • Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan
  • Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok
  • Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe
  • Meredefinisi Peran Ahli Hukum dalam Persidangan Perkara Pidana

Recent Comments

  1. Masjudul Haq on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  2. Ahmad Satiri on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  3. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  4. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  5. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Sri Nurmina Sari, S.H
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.