Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer

November 1, 2026

MOVE!

November 1, 2026

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Antara Kealpaan, Pemulihan, dan Pemaafan Hakim: Catatan atas Putusan PN Merauke Nomor 27/Pid.B/2026/PN Mrk

Antara Kealpaan, Pemulihan, dan Pemaafan Hakim: Catatan atas Putusan PN Merauke Nomor 27/Pid.B/2026/PN Mrk

Membaca penerapan keadilan restoratif, pengakuan bersalah, dan pemaafan hakim dalam wajah baru peradilan pidana Indonesia.
Unggul SenoajiBy Unggul SenoajiMay 2, 2026 · 14:21 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Kealpaan yang Berujung Petaka

Ada perkara pidana yang tidak lahir dari niat jahat, melainkan dari satu kelengahan yang berakibat serius bagi orang lain. Tidak ada dendam. Tidak ada rencana. Tidak ada kehendak untuk melukai. Yang ada hanyalah satu momen kerja yang bergerak terlalu cepat, satu prosedur keselamatan yang luput dijalankan, dan satu akibat yang kemudian membawa manusia ke ruang sidang.

Peristiwa itu terjadi di area kerja perkebunan tebu PT Global Papua Abadi, Merauke. Sore itu, para pekerja sedang menyelesaikan aktivitas. Peralatan kerja dikemas. Drone dan perlengkapannya hendak dipindahkan. Sebuah John Deere/Tractor dengan gandengan tangki air berada di sekitar lokasi. Dalam suasana kerja yang tampak biasa, tiba-tiba terjadi peristiwa yang mengubah semuanya: seorang pekerja, Jujur Renaldi Samosir, terlindas roda gandengan tangki air yang ditarik traktor.

Dari peristiwa itulah Putusan Pengadilan Negeri Merauke Nomor 27/Pid.B/2026/PN Mrk menjadi menarik untuk dibaca. Ia bukan semata perkara kecelakaan kerja. Ia adalah potret kecil dari bagaimana hukum pidana nasional yang baru mulai menemukan bentuk konkretnya dalam ruang sidang. Di dalamnya ada kealpaan, ada penderitaan korban, ada pengakuan bersalah, ada upaya perdamaian, ada ganti kerugian, dan pada akhirnya ada pemaafan hakim.

Terdakwa dalam perkara ini, Asep Seputra Setia Mulya, adalah pekerja berusia 19 tahun. Ia bekerja sebagai operator atau pengemudi traktor. Korban juga merupakan pekerja di lingkungan perusahaan yang sama. Mereka bukan orang yang sedang bermusuhan. Mereka bukan dua pihak yang sejak awal berdiri berhadap-hadapan. Justru karena itulah perkara ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari: bahwa dalam dunia kerja, kelalaian kecil dapat melahirkan akibat hukum yang besar.

Kealpaan, Pengakuan Bersalah, dan Pemulihan

Fakta persidangan menunjukkan bahwa terdakwa tidak membunyikan klakson ketika hendak menjalankan traktor. Padahal, berdasarkan Standar Operasional Prosedur, klakson harus dibunyikan satu kali ketika hendak maju dan dua kali ketika hendak mundur. Terdakwa juga tidak memperhatikan spion saat hendak menjalankan kendaraan. Dalam putusan, keadaan ini dinilai sebagai bentuk ceroboh, teledor, dan kurang hati-hati. Dengan kata lain, hukum membaca peristiwa itu sebagai kealpaan.

Namun, kealpaan tidak boleh dipahami sebagai sesuatu yang sepele. Dalam hukum pidana, kelalaian tetap dapat menimbulkan pertanggungjawaban apabila akibat yang dilarang benar-benar terjadi. Dalam perkara ini, korban mengalami luka dan tidak dapat bekerja dalam waktu yang cukup lama. Karena itu, pengadilan menyatakan unsur Pasal 474 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP telah terpenuhi, yakni karena kealpaannya mengakibatkan orang lain luka sehingga timbul halangan menjalankan mata pencaharian selama waktu tertentu.

Di titik ini, putusan tersebut menunjukkan ketegasan hukum. Hakim tidak mengaburkan kesalahan. Tidak pula membiarkan kelalaian larut begitu saja dalam bahasa maaf. Terdakwa tetap dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. Ini penting, karena keadilan bagi korban menuntut pengakuan bahwa suatu peristiwa memang terjadi, suatu kelalaian memang dilakukan, dan suatu penderitaan memang dialami.

Baca Juga  Landasan Penjatuhan Putusan Lepas dalam KUHAP Baru

Akan tetapi, hukum yang matang tidak berhenti hanya pada pernyataan bersalah. Ia juga bertanya: apa yang terjadi setelah peristiwa itu? Apakah pelaku menunjukkan tanggung jawab? Apakah korban memperoleh pemulihan? Apakah hubungan sosial yang rusak dapat diperbaiki? Apakah pidana masih menjadi satu-satunya jawaban yang paling adil?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadikan putusan PN Merauke tersebut bernilai lebih dari sekadar putusan pidana biasa. Setelah pembacaan dakwaan, mekanisme keadilan restoratif sempat diupayakan. Pada tahap awal, upaya itu belum berhasil. Kemudian, terdakwa menyatakan pengakuan bersalah. Perkara pun beralih ke acara pemeriksaan singkat sebagaimana mekanisme yang diatur dalam KUHAP 2025.

Dalam pemeriksaan berikutnya, hakim kembali membuka ruang perdamaian. Ruang sidang tidak hanya dipakai untuk menguji unsur pidana, tetapi juga untuk mempertemukan kembali manusia yang terluka oleh peristiwa pidana. Terdakwa meminta maaf. Korban memaafkan. Terdakwa bersedia membayar ganti kerugian sebesar Rp50.000.000, sedangkan biaya pengobatan korban telah ditanggung oleh perusahaan. Dari sana, hakim menilai bahwa secara substansial tujuan keadilan restoratif telah tercapai.

Keadilan Subtantif Terwujud dalam Pemaafan Hakim

Melalui putusan yang dijatuhkan oleh Hakim Pengadilan Negeri Merauke, Ahmad Syah Putra, S.H., perkara ini memperlihatkan bahwa pembaruan hukum pidana tidak berhenti sebagai teks undang-undang. Ia mulai menemukan bentuknya dalam ruang sidang, ketika hakim menimbang kesalahan, mendengar pemulihan, dan menempatkan pidana secara proporsional dalam terang keadilan serta kemanusiaan.

Bagian paling penting dari putusan ini terletak pada keberanian untuk membedakan antara kesalahan yang harus diakui dan pidana yang belum tentu harus dijatuhkan. Dalam konstruksi KUHP Nasional, hakim diberi ruang untuk mempertimbangkan ringannya perbuatan, keadaan pribadi pelaku, keadaan pada saat tindak pidana dilakukan, serta keadaan yang terjadi setelahnya. Bahkan, dalam keadaan tertentu, hakim dapat menyatakan terdakwa terbukti bersalah, tetapi tidak menjatuhkan pidana atau tindakan.

Di sinilah pemaafan hakim memperoleh tempatnya. Pemaafan hakim bukan berarti perbuatan terdakwa dianggap benar. Bukan pula berarti korban diabaikan. Justru sebaliknya, pemaafan hakim hanya mungkin bernilai apabila kesalahan telah dinyatakan, korban telah didengar, dan pemulihan telah sungguh-sungguh diperhatikan. Ia bukan penghapusan peristiwa, melainkan penilaian yang lebih utuh terhadap manusia, akibat, tanggung jawab, dan masa depan.

Dalam perkara ini, hakim mempertimbangkan bahwa terdakwa baru pertama kali melakukan tindak pidana. Perbuatan terjadi karena kealpaan, bukan karena niat jahat. Setelah mengetahui korban terlindas, terdakwa tidak melarikan diri. Ia berusaha menghentikan kendaraan, membantu korban, meminta maaf, dan membayar ganti kerugian. Korban pun menerima permintaan maaf tersebut. Keadaan-keadaan inilah yang kemudian membentuk dasar bagi pemberian pemaafan hakim.

Baca Juga  Optimalisasi Mediasi Berbuah Manis: Indeks Perdamaian Peradilan Agama Tembus 60,51%

Putusan ini menjadi menarik karena memperlihatkan hukum pidana yang tidak kehilangan arah kemanusiaannya. Di satu sisi, hukum tetap menjaga pesan penting bahwa keselamatan kerja bukan perkara kecil. Standar Operasional Prosedur bukan sekadar formalitas administrasi perusahaan. Ia adalah pagar keselamatan manusia. Ketika pagar itu diabaikan, akibatnya dapat melukai tubuh, pekerjaan, dan kehidupan orang lain.

Namun, di sisi lain, putusan ini juga mengingatkan bahwa pidana penjara tidak selalu menjadi jawaban terbaik bagi setiap kesalahan. Terutama ketika perbuatan lahir dari kealpaan, pelaku menunjukkan tanggung jawab, korban memperoleh pemulihan, dan hubungan sosial telah diperbaiki. Dalam keadaan demikian, hukum pidana tidak perlu selalu berbicara dengan bahasa penjeraan. Kadang, ia justru lebih bermartabat ketika berbicara dengan bahasa pemulihan.

Pembaruan hukum pidana nasional memang tidak cukup dibaca dari perubahan pasal. Ia harus dibaca dari perubahan cara pandang. KUHP Nasional dan KUHAP 2025 membawa pesan bahwa pemidanaan bukan reaksi otomatis atas terpenuhinya unsur delik. Hakim diberi ruang untuk menimbang secara lebih jernih: tujuan pemidanaan, keadaan pelaku, kepentingan korban, pemulihan sosial, serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.

Putusan PN Merauke ini memperlihatkan bagaimana gagasan besar itu bekerja dalam perkara konkret. Dari sebuah kecelakaan kerja di kebun tebu, hukum menemukan pelajaran penting tentang proporsionalitas. Dari satu kelalaian, pengadilan menunjukkan bahwa kesalahan tetap harus disebut sebagai kesalahan. Tetapi dari penyesalan, pemaafan, dan ganti kerugian, pengadilan juga menunjukkan bahwa keadilan tidak harus selalu berakhir pada penghukuman.

Di sanalah nilai putusan ini. Ia tidak melemahkan hukum pidana. Justru ia menguatkannya, karena hukum yang kuat bukanlah hukum yang selalu keras, melainkan hukum yang mampu membedakan dengan jernih. Kapan pidana harus dijatuhkan. Kapan pemulihan harus diutamakan. Kapan seseorang harus dihukum. Dan kapan seseorang yang bersalah, setelah bertanggung jawab dan dimaafkan, masih layak diberi kesempatan untuk memperbaiki hidupnya.

Pada akhirnya, perkara ini mengingatkan bahwa ruang sidang bukan hanya tempat negara menyatakan salah dan benar. Ia juga tempat manusia dipertemukan kembali dengan tanggung jawab, dengan akibat perbuatannya, dan dengan kemungkinan untuk menjadi lebih baik. Dalam wajah baru hukum pidana Indonesia, keadilan tidak lagi dipahami semata sebagai pidana yang dijatuhkan, tetapi juga sebagai keseimbangan yang dipulihkan.

Dari Merauke, putusan ini memberi pesan yang tenang tetapi kuat: hukum pidana tetap harus tegas terhadap kelalaian, tetapi tidak boleh kehilangan kelembutan terhadap pemulihan. Sebab, keadilan yang sejati bukan hanya menghukum manusia karena kesalahannya, melainkan juga memberi ruang agar manusia belajar dari kesalahan itu tanpa kehilangan martabatnya.

Sumber: Putusan Pengadilan Negeri Merauke Nomor 27/Pid.B/2026/PN Mrk.

Unggul Senoaji
Kontributor
Unggul Senoaji
Hakim Ad Hoc Pengadilan Negeri Merauke

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

hukum pidana Keadilan Restoratif Keadilan Substantif KUHP Baru pemaafan hakim Pemulihan Korban pengakuan bersalah Peradilan Indonesia Putusan PN Merauke Reformasi Hukum
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak

October 30, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer

By Bagus Partha WijayaNovember 1, 20260

Sebagai implementasi nyata sekaligus inisiasi program kepedulian dilingkungan Pengadilan Militer dibawah kepemimpinan Kolonel Laut (H)…

MOVE!

November 1, 2026

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer
  • MOVE!
  • Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian
  • Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta
  • Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

Recent Comments

  1. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  2. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  3. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  4. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  5. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.