Dalam beberapa tahun terakhir, publik semakin akrab dengan satu ungkapan sinis: no viral, no justice. Sebuah kalimat pendek yang mencerminkan rasa frustasi masyarakat terhadap penegakan hukum. Seolah-olah keadilan baru akan bergerak ketika sebuah kasus menjadi viral di media sosial.
Fenomena ini tentu tidak lahir dari ruang kosong. Ia muncul dari pengalaman publik yang berulang kali melihat perkara baru ditangani secara serius setelah mendapat sorotan luas. Dalam kondisi seperti ini, media sosial seolah menjadi “pengadilan awal” sebelum perkara benar-benar masuk ke ruang sidang.
Namun, jika kita jujur, keadaan ini sesungguhnya bukanlah sesuatu yang sehat bagi sistem hukum. Penegakan hukum yang bergantung pada viralitas adalah tanda bahwa kepercayaan publik terhadap institusi formal sedang mengalami erosi.
Di tengah situasi itulah konsep Zona Integritas (ZI) di lingkungan pengadilan rasanya dapat diharapkan memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada sekadar program administratif atau penilaian reformasi birokrasi. Jika disusun dan dijalankan secara benar, Zona Integritas bukan hanya instrumen tata kelola. Ia bisa menjadi fondasi untuk mengakhiri budaya no viral, no justice.
Di atas kertas, Zona Integritas adalah program yang sangat ideal. Ia menekankan pembangunan sistem yang transparan, akuntabel, bersih dari korupsi, serta berorientasi pada pelayanan publik. Namun dalam praktiknya, tidak jarang Zona Integritas terjebak dalam ritual administratif, yakni hanya berkutat pada penyusunan dokumen, pengumpulan eviden, pembuatan video inovasi, hingga berbagai presentasi formal.
Semua itu tentu penting sebagai bagian dari proses evaluasi. Tetapi jika fokus hanya berhenti pada pemenuhan indikator penilaian, maka Zona Integritas berisiko berubah menjadi proyek tahunan yang sibuk di atas kertas, tetapi kurang terasa di ruang pelayanan. Padahal inti dari Zona Integritas bukanlah pada dokumen yang rapi, melainkan pada sistem yang bekerja bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
Bayangkan sebuah pengadilan yang benar-benar menjalankan Zona Integritas secara substantif. Semua informasi perkara dapat diakses dengan mudah. Proses pelayanan berjalan cepat dan transparan, jadwal sidang jelas, putusan tersedia secara terbuka, mudah mengakses informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan layanan yang dibutuhkan, serta adanya mekanisme pengaduan yang berjalan efektif. Di dalam sistem seperti ini, masyarakat tidak perlu menunggu viral untuk mendapatkan perhatian. Sistem itu sendiri sudah memastikan setiap perkara diperlakukan secara adil dan profesional.
Dengan kata lain, pengadilan tidak bekerja karena tekanan publik, melainkan karena sistemnya memang dirancang untuk bekerja dengan benar. Di sinilah Zona Integritas sebenarnya memiliki potensi besar yakni membangun sistem yang otomatis menjaga integritas lembaga. Dari perspektif yang lain, yakni dari sudut pandang hakim dan aparatur pengadilan, Zona Integritas sesungguhnya juga merupakan kebutuhan internal. Sistem yang transparan dan tertata baik justru melindungi aparat peradilan dari berbagai tudingan yang tidak berdasar. Hakim sering kali bekerja dalam tekanan yang tidak kecil. Di satu sisi, ia harus menjaga independensi. Di sisi lain, ia menghadapi ekspektasi publik yang semakin tinggi.
Ketika sistem pengadilan tidak cukup transparan, setiap keputusan mudah dicurigai. Putusan yang sebenarnya didasarkan pada pertimbangan hukum bisa saja ditafsirkan sebagai hasil intervensi atau transaksi. Namun jika sistem pengadilan dibangun secara terbuka dan dengan proses yang dapat dilacak, informasi yang mudah diakses, serta mekanisme kontrol yang jelas, maka rasanya ruang spekulasi akan semakin menyempit. Zona Integritas yang berjalan dengan baik bukan hanya melindungi publik, tetapi juga menjaga kehormatan profesi hakim dan marwah Peradilan.
Media sosial tentu tidak bisa dihindari dalam era digital. Ia telah menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi, termasuk kritik terhadap lembaga peradilan. Namun penegakan hukum yang sehat tidak seharusnya bergantung pada algoritma media sosial. Viralitas bukanlah ukuran kebenaran, dan keadilan tidak boleh ditentukan oleh seberapa ramai sebuah perkara dibicarakan. Zona Integritas yang dibangun secara serius harusnya dapat menjadi jawaban terhadap fenomena tersebut. Dengan sistem pelayanan yang transparan dan akuntabel, masyarakat dapat melihat bahwa keadilan tetap berjalan bahkan ketika tidak ada kamera yang menyorot. Ketika publik mulai merasakan konsistensi tersebut, perlahan-lahan kepercayaan insyaallah akan kembali tumbuh.
Perlu disadari bahwa tantangan terbesar Zona Integritas sebenarnya bukan pada penyusunan program, melainkan pada perubahan budaya organisasi. Integritas tidak lahir dari slogan, melainkan dari kebiasaan yang terus dipraktikkan. Ia terbentuk dari keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari oleh para aparat peradilan tentang bagaimana melayani pencari keadilan, bagaimana menjaga profesionalisme, dan bagaimana menempatkan hukum di atas kepentingan pribadi.
Jika Zona Integritas hanya dipandang sebagai proyek penilaian, maka dampaknya akan terbatas. Namun jika ia benar-benar diinternalisasi sebagai budaya kerja, maka perubahan yang dihasilkan bisa jauh lebih besar. Karena pada prinsipnya kepercayaan publik terhadap pengadilan tidak dibangun melalui kampanye besar atau slogan yang menarik. Ia tumbuh dari pengalaman nyata masyarakat ketika berhadapan dengan sistem peradilan.
Ketika masyarakat merasakan bahwa pengadilan bekerja secara profesional, transparan, dan adil, maka persepsi terhadap lembaga peradilan akan berubah dengan sendirinya. Zona Integritas yang dijalankan secara sungguh-sungguh dapat menjadi titik awal dari perubahan tersebut. Ia bukan sekadar proyek reformasi birokrasi, tetapi fondasi untuk membangun pengadilan yang benar-benar dipercaya.
Jika hal itu dapat terwujud, maka perlahan-lahan kita tidak lagi perlu mendengar ungkapan sinis no viral, no justice. Sebab keadilan sudah bekerja dengan sendirinya dalam kondisi yang tenang, konsisten, dan bermartabat di setiap ruang sidang dan di setiap kantor pengadilan di seluruh Indonesia.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


