Senin pagi di Bogor dimulai dengan suasana yang lebih serius dari biasanya. Rendra dan Ananta duduk di ruang pembukaan Pelatihan Penguatan Integritas dan Antikorupsi di Auditorium BSDK Mahkamah Agung bersama para pimpinan pengadilan dari berbagai daerah.
Di depan ruangan, Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non-Yudisial, Dr. Dwiarso Budi Santiarto, menyampaikan pesan yang nadanya tenang tetapi terasa tegas.
Mahkamah Agung, katanya, menerapkan zero tolerance terhadap pelanggaran integritas.
“Tidak ada kompromi, tidak ada pembenaran, tidak ada ruang abu-abu.”
Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi. Beberapa peserta sibuk mencatat, sebagian lain hanya diam sambil memandang kedepan melihat pasangan mereka di layar zoom.
Lalu beliau melanjutkan:
“Dalam setiap perubahan, satu hal yang tidak boleh berubah, yaitu komitmen kita terhadap integritas. Karena integritas bukan pilihan, integritas adalah kewajiban, integritas adalah harga mati kita.”
Rendra pelan-pelan menutup buku catatannya. Kalimat itu sederhana, tetapi cukup membuat orang berpikir lama. Sebab di dunia peradilan, banyak orang jatuh bukan karena tidak pintar, tetapi karena terlalu lama merasa aman.
Selesai acara, keduanya langsung bergerak menuju bandara untuk penerbangan ke Padang. Perjalanan terasa cepat. Baru pagi bicara soal integritas, sore sudah menembus awan menuju Ranah Minang untuk agenda berikutnya.
Sambil menunggu boarding, Ananta membaca kutipan terkenal dari Martin Luther King Jr. di ponselnya.
“If you can’t fly, then run. If you can’t run, then walk. If you can’t walk, then crawl. But whatever you do, you have to keep moving.”
Rendra membaca pelan lalu tersenyum kecil.
“Cocok buat aparatur pengadilan juga.”
“Kenapa?” tanya Ananta.
“Kalau tidak bisa lari, ya jalan. Kalau tidak bisa jalan, ya merangkak. Yang penting jangan berhenti kerja… dan jangan melanggar kode etik, nanti diperiksa Bawas.”
Ananta langsung tertawa.
“Berarti hidup hakim itu bukan cuma soal bergerak maju.”
“Betul,” jawab Rendra santai. “Tapi juga memastikan jalannya jangan belok-belok seperti kelok 9”
Saat pesawat mendarat di Padang, langit sudah mulai berubah warna menuju senja. Kota itu masih ramai seperti biasa. Lampu-lampu jalan mulai menyala, sementara obrolan di dalam mobil perlahan berubah jadi cerita lama.
Bagi Rendra dan Ananta, Padang bukan sekadar kota tempat pelatihan berlangsung. Kota ini penuh kenangan yang sulit dilupakan. Ada perjalanan lama menuju Solok, ada cerita pembangunan gedung pengadilan, ada tawa bersama kawan-kawan seperjuangan, dan ada banyak potongan masa lalu yang selalu terasa hidup setiap kali mereka kembali menginjak Ranah Minang.
Malam itu, sekitar habis Isya, mereka keluar bersama kawan lama. Tidak ada restoran mewah, tidak ada acara resmi. Hanya warung makan sederhana dengan nasi goreng putih, bihun panas, dan obrolan yang ngalir tanpa agenda.
Cerita lama kembali dibuka. Mulai dari pembangunan gedung pengadilan dengan konstruksi sarang laba-laba pertama yang revisi gambar terus-menerus sampai cerita masa-masa dahulu yang paling berkesan,
“Dulu kita pikir yang berat itu bangun gedung,” kata salah seorang sambil tertawa. “Ternyata yang paling berat itu mempertahankan semangatnya.”
Obrolan makin panjang ketika sate dangduang-dangduang dan teh talua datang ke meja. Asapnya naik perlahan, aromanya menyebar, dan suasana mendadak terasa seperti masa-masa lama yang datang kembali sebentar.
Tanpa terasa waktu sudah larut. Mereka baru kembali ke hotel mendekati malam penuh.
Dan justru di situlah drama sebenarnya dimulai.
Printer yang sudah disiapkan ternyata tidak mau tersambung ke laptop.
Awalnya semua masih tenang. Kabel dicabut lalu dipasang lagi dengan penuh keyakinan. Printer dimatikan lalu dinyalakan ulang seperti ritual wajib manusia modern saat teknologi bermasalah.
Tetap gagal.
Ananta mulai buka tutorial YouTube. Rendra mulai menekan tombol printer dengan ekspresi seperti sedang memimpin sidang penting.
Tidak ada perubahan.
“Biasanya begini,” kata Ananta serius. “Kalau acara besok penting, alat-alat langsung ikut tegang.”
Bahkan printer sempat digeser sedikit seolah posisi meja “feng shui” menentukan nasib koneksi.
Tetap tidak mau terhubung.
“Ini printer kayaknya ikut pelatihan integritas,” celetuk Rendra. “Tidak mau connect dengan sembarang pihak.”
mereka langsung tertawa keras.
Selasa pagi, suasana kembali resmi. Rendra dan Ananta menghadiri pembukaan Pelatihan Singkat Eksekusi Putusan Perdata bagi Hakim Tingkat Pertama Pengadilan Agama yang dibuka oleh Ketua Kamar Agama, Dr. Yasardin.
Dalam arahannya, beliau mengingatkan bahwa eksekusi adalah tugas penting yang dipimpin langsung oleh Ketua Pengadilan.
“Bagaimana bisa memimpin kalau tidak memahami tugasnya apa.”
Karena itu, menurut beliau, pelatihan seperti ini penting agar para hakim memahami tanggung jawab, risiko, dan teknis pelaksanaan eksekusi secara benar.
Bagi Rendra dan Ananta, perjalanan dari Bogor ke Padang itu akhirnya terasa seperti potongan kecil kehidupan yang saling menyambung.
Ada ruang pelatihan yang serius. Ada bandara dan perjalanan menembus awan. Ada cerita lama, kenangan lama, dari sate dangduang-dangduang, marawa beach sampai printer yang keras kepala.
Karena pada akhirnya, dunia peradilan juga dijalani oleh manusia-manusia biasa—yang tetap harus menjaga integritas, memahami dan menjalankan TUSI, sambil sesekali berdebat bagaimana cara menyambungkan printer ke laptop.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


