Ada sekelompok orang yang tampaknya sudah memesan tempat paling depan di surga. Pakaiannya rapi, penampilannya soleh, ucapannya fasih melafalkan ayat-ayat agama, dalilnya berlapis-lapis, suaranya lembut ketika menyebut “amanah”, “maslahat”, “taat aturan”, dan “demi organisasi”.
Mereka rajin beribadah. Rajin membaca kitab suci. Rajin hadir di majelis keagamaan. Rajin mengutip ayat-ayat suci. Rajin menasihati orang lain agar ikhlas menerima keputusan. Bahkan, kalau perlu, mereka bisa menangis ketika bicara tentang agama dan akhirat.
Sayangnya, air mata itu sering jatuh tepat di atas berkas promosi jabatan keluarga sendiri.
Inilah kelompok manusia yang kalau membaca surah Al-Ghasyiyah ayat 2–7, merasa sedang membaca nasib orang lain. Padahal, jangan-jangan cermin itu sedang menghadap tepat ke wajah mereka: wajah yang tertunduk, bekerja keras, lelah, tetapi lelahnya bukan karena mencari ridha Tuhan. Lelahnya karena membangun tangga karier dengan batu bata agama.
Di hadapan umum, mereka bicara tentang keadilan. Di ruang tertutup, mereka menyusun daftar nama: anak siapa, istri siapa, sepupu siapa, kawan satu almamater, sahabat satu daerah, orang satu suku, teman satu lingkaran, murid satu pengajian, satu keanggotan ormas, dan siapa saja yang pernah berjasa mengamankan kursi.
Kalau yang diusulkan adalah orang dekat, dalilnya mengalahkan dalil agama.
“Kebutuhan organisasi.”
“Pertimbangan kemanusiaan.”
“Jauh dari keluarga.”
“Harus ditolong.”
“Ini bagian dari ukhuwah.”
“Bukankah agama menyuruh kita membantu saudara?”
Luar biasa. Ayat suci turun seperti hujan ketika keluarga sendiri butuh payung.
Namun, ketika orang lain datang dengan kondisi yang sama, tiba-tiba langit menjadi kering. Tidak ada ayat suci. Tidak ada dalil agama. Tidak ada empati. Yang muncul justru pasal, catatan profiling, catatan disiplin, riwayat konflik, dan kalimat sakti: “Kita harus objektif atau mengikuti aturan.”
Objektif mengikuti aturan, tentu saja, adalah nama lain dari: “Anda bukan bagian dari kami.”
Kalau ada yang menghalangi jalan, ia disebut pembangkang.
Kalau ada yang mengkritik, ia disebut tidak paham adab.
Kalau ada yang meminta aturan ditegakkan, ia disebut tidak ikhlas.
Kalau ada yang menuntut transparansi, ia disebut haus jabatan.
Begitulah cara ayat-ayat suci dijual murah: bukan di pasar gelap, tetapi di meja rapat berpendingin ruangan. Tafsirnya disesuaikan dengan kebutuhan mutasi. Hadisnya dipilih sesuai arah angin kepentingan. Agama dijadikan stempel, bukan petunjuk. Tuhan disebut-sebut, tetapi keadilan disuruh menunggu di luar ruangan. Aturan bisa dibelokkan, jika berbenturan dengan dalil-dalil agama.
Mereka mungkin bekerja keras. Sangat keras. Tetapi kerja keras itu untuk menjaga dinasti kecil, bukan menjaga amanah. Mereka letih, tetapi letih oleh strategi. Mereka sibuk, tetapi sibuk mengatur posisi. Mereka tampak saleh, tetapi kesalehannya seperti map dinas: rapi di luar, penuh catatan titipan di dalam.
Satire paling pahit dari semua ini adalah: mereka mengira sedang bekerja atas dasar ajaran agama, maupun membela agama (seolah-olah agama itu butuh pembelaan), padahal yang mereka bela adalah kenyamanan sendiri dengan berselimutkan seragam agama.
Lalu bagaimana seharusnya seorang pimpinan bersikap?
Seorang pimpinan yang benar tidak perlu membawa-bawa agama untuk membenarkan ketidakadilan. Ia cukup takut kepada Tuhan, lalu berlaku adil.
Ia tidak menjadikan jabatan sebagai kebun keluarga. Ia tidak memandang organisasi sebagai warisan pribadi. Ia tidak memakai kata “amanah” untuk menyembunyikan ambisi. Ia tahu bahwa kursi jabatan bukan singgasana, melainkan timbangan.
Jika ada anak, istri, saudara, sahabat, atau orang dekat yang layak, mereka tetap harus melalui ukuran yang sama. Jika tidak layak, kedekatan tidak boleh menjadi mukjizat administratif. Jika orang yang tidak disukai ternyata memenuhi syarat, maka kebencian pribadi tidak boleh menjadi undang-undang baru.
Pimpinan yang baik tidak alergi terhadap kritik. Ia tidak menganggap semua penentang sebagai musuh Tuhan. Ia paham bahwa dalam organisasi, loyalitas tertinggi bukan kepada wajah pimpinan, melainkan kepada nilai, aturan, dan kemaslahatan yang nyata.
Ia tidak mencari dalil setelah keputusan dibuat. Ia mencari kebenaran sebelum keputusan diambil.
Ia tidak bertanya, “Siapa orang kita?”
Ia bertanya, “Siapa yang paling layak?”
Ia tidak bertanya, “Apa untungnya bagi kelompok saya?”
Ia bertanya, “Apa akibatnya bagi keadilan?”
Ia tidak bertanya, “Bagaimana agar keputusan ini tampak religius?”
Ia bertanya, “Apakah keputusan ini akan sanggup saya pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa?”
Itulah wajah kedua dalam surah Al-Ghasyiyah ayat 8-16: wajah yang tidak sibuk memoles citra, tetapi tenang karena tidak mengkhianati amanah. Wajah yang tidak perlu menindas orang lain untuk naik. Wajah yang puas bukan karena berhasil menempatkan keluarga, melainkan karena berhasil menempatkan keadilan.
Di dunia, mungkin mereka tidak selalu paling populer. Tidak selalu paling banyak tepuk tangan. Tidak selalu dikelilingi penjilat yang memanggil semua keputusan sebagai hikmah. Tetapi mereka punya sesuatu yang lebih mahal: tidur yang tenang.
Sebab jabatan akan selesai. SK akan berganti. Papan nama akan diturunkan. Orang-orang yang dulu menunduk mungkin akan mencari matahari baru. Tetapi bekas ketidakadilan akan tetap berjalan, mencari pemiliknya.
Maka berhati-hatilah pada kesalehan yang terlalu sibuk mengatur nasib orang lain, tetapi lupa mengadili dirinya sendiri.
Karena neraka tidak selalu dimulai dari maksiat yang terang-terangan. Kadang ia dimulai dari rapat yang dibuka dengan basmalah, lalu diakhiri dengan keputusan zalim yang diberi nama maslahat.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


