Di tengah bentangan samudra yang gelap dan nyaris tanpa batas, sebuah Kapal Perang terus melaju perlahan membelah ombak malam. Deru mesin kapal terdengar berat dan dalam, seperti napas panjang yang tidak pernah berhenti sejak kapal meninggalkan dermaga berbulan-bulan lalu. Angin laut berembus keras menerpa geladak, membawa hawa asin yang menusuk hingga ke tulang.
Di atas geladak kapal perang Fregat kelas Van Speijk yaitu KRI. Slamet Riyadi – 352 jenis kapal perusak, seorang prajurit TNI Angkatan Laut berdiri tegak memandang lautan yang biru membara. Namanya Juna.
Seorang prajurit biasa.
Bukan perwira besar.
Bukan pula sosok yang dikenal banyak orang.
Namun di pundaknya melekat tanggung jawab besar yang tidak semua orang mampu memikulnya.
Seragam loreng biru yang dikenakannya tampak gagah diterpa cahaya lampu kapal. Orang-orang yang melihat tentara sering kali hanya melihat ketegasan wajah, senjata di tangan, dan keberanian yang tampak dari luar. Mereka memandang tentara sebagai simbol kekuatan negara.
Padahal sesungguhnya, kebanggaan seorang tentara bukan karena senjata yang ada di tangannya, melainkan karena kehormatan yang hidup di dalam hatinya dan kehormatan itu sering kali menuntut pengorbanan yang sangat sunyi.
Sudah hampir enam bulan Juna berada di laut menjalankan operasi negara. Enam bulan tanpa pulang. Enam bulan tanpa memeluk istrinya. Enam bulan tanpa mendengar langsung tawa anak-anaknya Vita, Iken dan El di rumah.
Di saku kecil seragamnya tersimpan foto keluarga yang mulai kusam terkena lipatan dan udara laut. Foto itu sudah berkali-kali ia buka setiap malam ketika rasa rindu datang terlalu kuat untuk ditahan.
Dalam foto itu, istrinya Dias tersenyum lembut sambil menggendong anak bungsu mereka. Anak sulungnya berdiri di samping dengan seragam sekolah merah putih yang sedikit kebesaran.
Foto sederhana.
Namun bagi Juna, itu adalah rumah.
Malam itu cuaca memburuk lebih cepat dari biasanya. Langit berubah hitam pekat. Angin bertiup semakin keras hingga antena kapal bergoyang kasar diterpa badai.
“Tingkat kesiagaan satu!” teriak salah satu perwira jaga.
Sirene kapal terdengar panjang memecah malam.
Gelombang tinggi mulai menghantam lambung KRI dengan keras. Deburan ombak bahkan naik hingga ke geladak kapal, membasahi sepatu dan seragam para prajurit yang tetap berdiri di pos masing-masing.
Kapal perang itu berguncang hebat.
Sebagian awak kapal berpegangan erat pada besi-besi kapal agar tidak terjatuh. Suara logam beradu dengan hantaman ombak terdengar mencekam di tengah gelapnya laut.
Namun di tengah badai itu, radar operasi mendeteksi sebuah kapal asing memasuki wilayah perairan Indonesia.
“Kontak kapal di sektor timur!”
Suasana anjungan mendadak tegang.
Kapal itu teridentifikasi sebagai kapal penangkap ikan berbendera Filipina yang diduga melakukan illegal fishing di wilayah Indonesia.
Perintah pengejaran segera diberikan.
KRI meningkatkan kecepatan meski ombak tinggi terus menghantam dari berbagai arah. Hujan turun deras seperti menumpahkan seluruh isi langit ke tengah laut.
Juna bersama tim VBSS (Visit, Board, Search, and Seizure) bersiap dengan perlengkapan lengkap.
Wajahnya tetap tenang, meski air laut terus menghantam tubuhnya.
Di tengah badai seperti itu, satu kesalahan kecil saja bisa membuat seseorang jatuh ke laut dan hilang ditelan gelombang.
Namun tidak ada pilihan.
Tugas harus dijalankan.
Kapal asing itu ternyata berusaha kabur. Mesin mereka dipacu maksimal untuk menghindari pengejaran.
“Berikan peringatan pertama!” perintah komandan kapal. Lampu sorot diarahkan ke kapal asing. Pengeras suara menggema keras di tengah badai.
“The Indonesian Navy has stopped the vessel and cut its engines!”
Namun kapal itu tetap melaju.
Gelombang tinggi membuat pengejaran menjadi sangat berbahaya. Ombak besar berkali-kali menghantam haluan KRI hingga air laut menyapu geladak seperti banjir kecil.
Beberapa awak kapal hampir terpeleset, tetapi tetap bertahan.
Juna berdiri sambil menggenggam erat senjatanya.
Matanya fokus menatap kapal asing di kejauhan.
Hujan bercampur air laut membasahi wajahnya, tetapi pikirannya justru melayang sesaat kepada keluarganya.
Ia membayangkan anak-anaknya mungkin sedang tidur malam itu.
Tidak pernah tahu bahwa ayah mereka sedang bertaruh nyawa di tengah badai demi menjaga laut Indonesia.
“Peringatan kedua!”
Tembakan peringatan dilepaskan ke udara.
Suara letusan senjata memecah gelap malam di tengah amukan badai. Namun kapal asing itu tetap mencoba melarikan diri.
Akhirnya komandan memerintahkan tembakan peringatan ke arah buritan kapal.
Dentuman senjata terdengar keras.
Beberapa saat kemudian kapal asing mulai melambat. Mesin mereka akhirnya dimatikan.
Di tengah gelombang tinggi, tim pemeriksa bersiap mendekati kapal tersebut. Itu bukan tugas mudah. Perahu kecil yang digunakan untuk boarding naik turun dihantam ombak besar.
Juna melompat lebih dulu ke kapal asing dengan tubuh basah kuyup diterpa hujan dan air laut.
“Everyone gather round! Don’t move!” teriaknya tegas.
Para awak kapal asing akhirnya menyerah.
Pemeriksaan dilakukan di tengah cuaca buruk. Di dalam kapal ditemukan hasil tangkapan ikan dalam jumlah besar tanpa dokumen resmi.
Kapal tersebut kemudian dikawal menuju pangkalan TNI AL terdekat untuk proses hukum lebih lanjut.
Di atas geladak KRI, para prajurit mulai melaksanakan prosedur pengamanan. Sebagian awak kapal Filipina dipindahkan ke KRI untuk meminimalisir risiko perlawanan maupun upaya pelarian.
Hanya tiga orang yang tetap berada di kapal ikan tersebut: nahkoda, mualim satu, dan kepala kamar mesin. Mereka diperlukan untuk membantu pengoperasian kapal selama pengawalan menuju pangkalan TNI AL terdekat.
Komandan KRI kemudian memanggil Juna ke anjungan.
“Juna.”
“Siap, Komandan!”
“Kamu saya tunjuk sebagai ketua tim pengawal kapal itu menuju pangkalan. Pilih tiga anggota yang memahami navigasi, permesinan dan satu anggota bersenjata.”
“Siap laksanakan!”
Juna memberi hormat tegas.
Meski tubuhnya masih lelah dan basah oleh air laut, wajahnya tetap tenang seperti batu karang yang tidak mudah dihantam ombak.
Beberapa menit kemudian, Juna bersama tiga prajurit lainnya berpindah ke kapal ikan Filipina menggunakan tali dan perahu kecil di tengah gelombang yang masih tinggi.
Langkah mereka tidak mudah. Kapal terus naik turun dihantam ombak. Sekali lengah saja, tubuh mereka bisa jatuh ke laut gelap yang dinginnya mampu merenggut nyawa. Namun tidak ada keraguan di wajah mereka. Karena begitulah seorang prajurit laut dibentuk. Tetap berjalan meski laut sedang marah.
Setelah berada di atas kapal ikan itu, Juna segera melakukan pemeriksaan ulang. Mesin kapal masih berjalan normal meski beberapa bagian tampak dipaksa bekerja keras saat pengejaran tadi.
Sementara di kejauhan, KRI terus mengawal dengan jarak tertentu, lampunya tampak samar tertutup kabut malam.
Perjalanan menuju pangkalan TNI AL terdekat diperkirakan memakan waktu cukup panjang karena cuaca buruk.
Dan benar saja.
Semakin malam, ombak justru semakin mengganas.
Kapal ikan itu bergoyang keras ke kiri dan kanan. Air laut berkali-kali masuk ke geladak. Langit kembali gelap diselimuti awan tebal.
Di tengah perjalanan itu, drama kembali terjadi.
Juna yang berdiri di dekat ruang navigasi mulai menyadari arah kapal perlahan berubah. Tidak lagi menuju jalur yang telah ditentukan menuju pangkalan TNI AL. Matanya langsung tajam menatap nahkoda kapal Filipina.
“Which way are you turning?” suara Juna rendah namun tegas. Nahkoda itu tampak gugup. “No… No… huge waves…”
Namun Juna bukan prajurit yang mudah dibohongi. Pengalaman operasi laut bertahun-tahun membuat instingnya terlatih membaca keadaan. Ia segera melihat kompas dan arah haluan kapal.
Benar saja.
Kapal sengaja diarahkan menjauh.
Mereka mencoba melarikan diri di tengah cuaca buruk dengan harapan pengawalan lengah.
“Ambil alih kemudi!” perintah Juna tegas kepada salah satu anggotanya. Suasana mendadak menegang. Mualim satu kapal Filipina mencoba berdebat dalam bahasa campuran Inggris dan Tagalog, tetapi Juna melangkah maju dengan tatapan dingin penuh wibawa.
“Listen carefully,” katanya tegas.
“You are already under the surveillance of the Indinesian Navy; do not try to mess around in our waters.”
Suasana langsung hening. Deburan ombak terdengar jauh lebih keras daripada suara manusia malam itu.
Juna kemudian memerintahkan pemeriksaan ulang ruang mesin karena ia khawatir mereka juga mencoba merusak sistem kapal agar bisa berhenti di tengah laut dan mencari kesempatan kabur.
Benar saja.
Salah satu anggota tim menemukan adanya pengaturan mesin yang sengaja diubah perlahan untuk menurunkan performa kapal. Untungnya, prajurit yang dibawa Juna memahami permesinan kapal. Kerusakan kecil itu segera diatasi sebelum menjadi masalah besar di tengah badai.
Malam itu hampir tidak ada yang tidur. Juna dan timnya berjaga bergantian. Mata mereka terus mengawasi gerak-gerik awak kapal Filipina. Sementara ombak terus menghantam tanpa ampun.
Pada satu titik, gelombang besar menghantam sisi kapal begitu keras hingga seluruh badan kapal miring tajam. Barang-barang di dalam ruang navigasi berjatuhan.
Salah satu awak kapal Filipina bahkan tersungkur ketakutan sambil berpegangan kuat pada dinding kapal.
Namun Juna tetap berdiri tegak sambil memegang kemudi cadangan.
Di tengah badai dan ancaman pelarian, ketenangannya justru menjadi kekuatan bagi anggota lain. Saat itulah salah satu anggota tim memandang Juna dan berkata pelan “Bangga saya ikut operasi sama Abang.”
Juna hanya tersenyum tipis.
Lalu menjawab lirih “Bangga jadi tentara bukan karena senjata di tangan…”, sesaat Ia menatap laut hitam di hadapannya kemudian Juna meneruskan ucapannya “…tapi karena kehormatan di dalam hati.” Kalimat itu tenggelam bersama suara badai. Namun membekas kuat di hati anggota timnya.
Menjelang pagi, cuaca mulai sedikit membaik. Cahaya matahari perlahan muncul dari balik awan kelabu.
Dan akhirnya, setelah perjalanan panjang penuh ketegangan, pangkalan TNI AL terdekat mulai terlihat dari kejauhan.
Semua orang mengembuskan napas lega.
Kapal ikan Filipina itu akhirnya berhasil bersandar dengan pengawalan ketat. Tim pemeriksa pangkalan segera naik ke kapal untuk melaksanakan proses hukum dan pemeriksaan lanjutan.
Juna menyerahkan seluruh dokumen dan hasil pemeriksaan dengan tenang dan tegas.
Tugas selesai. Namun tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada perayaan. Karena bagi seorang prajurit, keberhasilan hanyalah bagian dari tanggung jawab yang memang harus dijalankan.
Setelah seluruh proses selesai, Juna bersama tiga anggotanya kembali menaiki perahu kecil menuju KRI yang telah menunggu untuk melanjutkan operasi berikutnya.
Saat kakinya kembali menginjak geladak kapal perang itu, Juna sempat menoleh ke arah daratan.
Entah mengapa, di tengah lelah yang luar biasa, hatinya kembali teringat rumah.
Teringat anak-anaknya. Teringat istrinya yang mungkin masih menunggu kabar di depan telepon. Namun hanya beberapa detik. Karena setelah itu, sirene operasi kembali terdengar.
KRI kembali bergerak membelah laut Indonesia menuju tugas berikutnya.
Dan Juna kembali berdiri tegak di atas geladak.
Seperti biasa.
Diam.
Kuat.
Meski di dalam hatinya, rindu itu belum pernah benar-benar selesai.
Beberapa jam kemudian Juna kembali duduk sendiri di sudut geladak kapal. Tangannya dingin. Tubuhnya letih. Tetapi yang paling berat tetaplah rasa rindu yang tidak pernah selesai.
Ia membuka telepon genggamnya perlahan dan melihat kembali video anak bungsunya yang tertidur sambil memeluk seragam loreng miliknya.
“Ibu bilang kalau kangen Ayah, peluk ini saja…”
Suara kecil itu kembali membuat dadanya sesak.
Saat itu Juna menundukkan kepala lama sekali. Untuk pertama kalinya ia merasa begitu lelah. Bukan lelah karena badai. Bukan lelah karena operasi pengejaran dan pengawalan. Tetapi lelah karena terlalu lama harus terlihat kuat.
Karena sesungguhnya, rasa sakit, pilu, dan rindu juga ingin diutarakan. Namun bagi dirinya sebagai seorang tentara, semua itu lebih pantas disimpan dalam hati. Bukan karena ia tidak memiliki perasaan. Melainkan karena rasa tanggung jawab membuatnya malu untuk mengeluh.
Menjelang siang, suara azan dari aplikasi kecil di telepon genggamnya terdengar lirih.
Juna menatap laut yang luas membentang yang tidak ada ujunganya.
Di balik seragam dan ketegasannya, ia hanyalah seorang ayah yang ingin pulang.
Tetapi selama bendera merah putih masih berkibar di atas KRI itu, ia akan tetap berdiri menjaga laut Indonesia dengan kehormatan.
Sebab bagi Juna, menjadi tentara bukan tentang kebanggaan memegang senjata.
Melainkan tentang menjaga kehormatan di dalam hati, meski harus menahan pilu seorang diri.
Dan mungkin benar……
sebagian tentara tidak pernah benar-benar pulang.
Karena separuh hati mereka telah lama tertinggal di rumah, bersama keluarga yang setiap malam tidak pernah berhenti menyebut namanya dalam doa.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


