Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Samara dan Siluman Matu

5 September 2026 • 14:08 WIB

Menelaah Subjek Kalimat dalam Bahasa Hukum

4 September 2026 • 17:53 WIB

Memperkuat Integritas dan Pengetahuan Hukum: PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi SEMA, PERMA, Hingga SK KMA Bersama Aparat Penegak Hukum

4 September 2026 • 14:46 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Badai, Kapal Perang, dan Rindu Seorang Prajurit Laut

Badai, Kapal Perang, dan Rindu Seorang Prajurit Laut

Ahmad JunaediAhmad Junaedi17 May 2026 • 13:21 WIB10 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Di tengah bentangan samudra yang gelap dan nyaris tanpa batas, sebuah Kapal Perang terus melaju perlahan membelah ombak malam. Deru mesin kapal terdengar berat dan dalam, seperti napas panjang yang tidak pernah berhenti sejak kapal meninggalkan dermaga berbulan-bulan lalu. Angin laut berembus keras menerpa geladak, membawa hawa asin yang menusuk hingga ke tulang.

Di atas geladak kapal perang Fregat kelas Van Speijk yaitu KRI. Slamet Riyadi – 352 jenis kapal perusak, seorang prajurit TNI Angkatan Laut berdiri tegak memandang lautan yang biru membara. Namanya Juna.

Seorang prajurit biasa.
Bukan perwira besar.
Bukan pula sosok yang dikenal banyak orang.
Namun di pundaknya melekat tanggung jawab besar yang tidak semua orang mampu memikulnya.

Seragam loreng biru yang dikenakannya tampak gagah diterpa cahaya lampu kapal. Orang-orang yang melihat tentara sering kali hanya melihat ketegasan wajah, senjata di tangan, dan keberanian yang tampak dari luar. Mereka memandang tentara sebagai simbol kekuatan negara.

Padahal sesungguhnya, kebanggaan seorang tentara bukan karena senjata yang ada di tangannya, melainkan karena kehormatan yang hidup di dalam hatinya dan kehormatan itu sering kali menuntut pengorbanan yang sangat sunyi.

Sudah hampir enam bulan Juna berada di laut menjalankan operasi negara. Enam bulan tanpa pulang. Enam bulan tanpa memeluk istrinya. Enam bulan tanpa mendengar langsung tawa anak-anaknya Vita, Iken dan El di rumah.

Di saku kecil seragamnya tersimpan foto keluarga yang mulai kusam terkena lipatan dan udara laut. Foto itu sudah berkali-kali ia buka setiap malam ketika rasa rindu datang terlalu kuat untuk ditahan.

Dalam foto itu, istrinya Dias tersenyum lembut sambil menggendong anak bungsu mereka. Anak sulungnya berdiri di samping dengan seragam sekolah merah putih yang sedikit kebesaran.

Foto sederhana.
Namun bagi Juna, itu adalah rumah.

Malam itu cuaca memburuk lebih cepat dari biasanya. Langit berubah hitam pekat. Angin bertiup semakin keras hingga antena kapal bergoyang kasar diterpa badai.

“Tingkat kesiagaan satu!” teriak salah satu perwira jaga.

Sirene kapal terdengar panjang memecah malam.

Gelombang tinggi mulai menghantam lambung KRI dengan keras. Deburan ombak bahkan naik hingga ke geladak kapal, membasahi sepatu dan seragam para prajurit yang tetap berdiri di pos masing-masing.

Kapal perang itu berguncang hebat.

Sebagian awak kapal berpegangan erat pada besi-besi kapal agar tidak terjatuh. Suara logam beradu dengan hantaman ombak terdengar mencekam di tengah gelapnya laut.

Namun di tengah badai itu, radar operasi mendeteksi sebuah kapal asing memasuki wilayah perairan Indonesia.

“Kontak kapal di sektor timur!”
Suasana anjungan mendadak tegang.

Kapal itu teridentifikasi sebagai kapal penangkap ikan berbendera Filipina yang diduga melakukan illegal fishing di wilayah Indonesia.

Perintah pengejaran segera diberikan.

KRI meningkatkan kecepatan meski ombak tinggi terus menghantam dari berbagai arah. Hujan turun deras seperti menumpahkan seluruh isi langit ke tengah laut.

Juna bersama tim VBSS (Visit, Board, Search, and Seizure) bersiap dengan perlengkapan lengkap.
Wajahnya tetap tenang, meski air laut terus menghantam tubuhnya.

Di tengah badai seperti itu, satu kesalahan kecil saja bisa membuat seseorang jatuh ke laut dan hilang ditelan gelombang.

Namun tidak ada pilihan.
Tugas harus dijalankan.

Kapal asing itu ternyata berusaha kabur. Mesin mereka dipacu maksimal untuk menghindari pengejaran.

“Berikan peringatan pertama!” perintah komandan kapal. Lampu sorot diarahkan ke kapal asing. Pengeras suara menggema keras di tengah badai.

“The Indonesian Navy has stopped the vessel and cut its engines!”

Namun kapal itu tetap melaju.

Gelombang tinggi membuat pengejaran menjadi sangat berbahaya. Ombak besar berkali-kali menghantam haluan KRI hingga air laut menyapu geladak seperti banjir kecil.

Beberapa awak kapal hampir terpeleset, tetapi tetap bertahan.

Juna berdiri sambil menggenggam erat senjatanya.

Matanya fokus menatap kapal asing di kejauhan.

Hujan bercampur air laut membasahi wajahnya, tetapi pikirannya justru melayang sesaat kepada keluarganya.

Ia membayangkan anak-anaknya mungkin sedang tidur malam itu.

Tidak pernah tahu bahwa ayah mereka sedang bertaruh nyawa di tengah badai demi menjaga laut Indonesia.

“Peringatan kedua!”

Tembakan peringatan dilepaskan ke udara.

Baca Juga  Pengadilan Militer I-05 Palembang Menyelenggarakan Cek Kesehatan Gratis Bagi Seluruh Personel

Suara letusan senjata memecah gelap malam di tengah amukan badai. Namun kapal asing itu tetap mencoba melarikan diri.

Akhirnya komandan memerintahkan tembakan peringatan ke arah buritan kapal.

Dentuman senjata terdengar keras.

Beberapa saat kemudian kapal asing mulai melambat. Mesin mereka akhirnya dimatikan.

Di tengah gelombang tinggi, tim pemeriksa bersiap mendekati kapal tersebut. Itu bukan tugas mudah. Perahu kecil yang digunakan untuk boarding naik turun dihantam ombak besar.

Juna melompat lebih dulu ke kapal asing dengan tubuh basah kuyup diterpa hujan dan air laut.

“Everyone gather round! Don’t move!” teriaknya tegas.

Para awak kapal asing akhirnya menyerah.

Pemeriksaan dilakukan di tengah cuaca buruk. Di dalam kapal ditemukan hasil tangkapan ikan dalam jumlah besar tanpa dokumen resmi.

Kapal tersebut kemudian dikawal menuju pangkalan TNI AL terdekat untuk proses hukum lebih lanjut.

Di atas geladak KRI, para prajurit mulai melaksanakan prosedur pengamanan. Sebagian awak kapal Filipina dipindahkan ke KRI untuk meminimalisir risiko perlawanan maupun upaya pelarian.

Hanya tiga orang yang tetap berada di kapal ikan tersebut: nahkoda, mualim satu, dan kepala kamar mesin. Mereka diperlukan untuk membantu pengoperasian kapal selama pengawalan menuju pangkalan TNI AL terdekat.

Komandan KRI kemudian memanggil Juna ke anjungan.

“Juna.”

“Siap, Komandan!”

“Kamu saya tunjuk sebagai ketua tim pengawal kapal itu menuju pangkalan. Pilih tiga anggota yang memahami navigasi, permesinan dan satu anggota bersenjata.”

“Siap laksanakan!”

Juna memberi hormat tegas.

Meski tubuhnya masih lelah dan basah oleh air laut, wajahnya tetap tenang seperti batu karang yang tidak mudah dihantam ombak.

Beberapa menit kemudian, Juna bersama tiga prajurit lainnya berpindah ke kapal ikan Filipina menggunakan tali dan perahu kecil di tengah gelombang yang masih tinggi.

Langkah mereka tidak mudah. Kapal terus naik turun dihantam ombak. Sekali lengah saja, tubuh mereka bisa jatuh ke laut gelap yang dinginnya mampu merenggut nyawa. Namun tidak ada keraguan di wajah mereka. Karena begitulah seorang prajurit laut dibentuk. Tetap berjalan meski laut sedang marah.

Setelah berada di atas kapal ikan itu, Juna segera melakukan pemeriksaan ulang. Mesin kapal masih berjalan normal meski beberapa bagian tampak dipaksa bekerja keras saat pengejaran tadi.

Sementara di kejauhan, KRI terus mengawal dengan jarak tertentu, lampunya tampak samar tertutup kabut malam.

Perjalanan menuju pangkalan TNI AL terdekat diperkirakan memakan waktu cukup panjang karena cuaca buruk.

Dan benar saja.
Semakin malam, ombak justru semakin mengganas.

Kapal ikan itu bergoyang keras ke kiri dan kanan. Air laut berkali-kali masuk ke geladak. Langit kembali gelap diselimuti awan tebal.

Di tengah perjalanan itu, drama kembali terjadi.

Juna yang berdiri di dekat ruang navigasi mulai menyadari arah kapal perlahan berubah. Tidak lagi menuju jalur yang telah ditentukan menuju pangkalan TNI AL. Matanya langsung tajam menatap nahkoda kapal Filipina.

“Which way are you turning?” suara Juna rendah namun tegas. Nahkoda itu tampak gugup. “No… No… huge waves…”

Namun Juna bukan prajurit yang mudah dibohongi. Pengalaman operasi laut bertahun-tahun membuat instingnya terlatih membaca keadaan. Ia segera melihat kompas dan arah haluan kapal.

Benar saja.
Kapal sengaja diarahkan menjauh.
Mereka mencoba melarikan diri di tengah cuaca buruk dengan harapan pengawalan lengah.

“Ambil alih kemudi!” perintah Juna tegas kepada salah satu anggotanya. Suasana mendadak menegang. Mualim satu kapal Filipina mencoba berdebat dalam bahasa campuran Inggris dan Tagalog, tetapi Juna melangkah maju dengan tatapan dingin penuh wibawa.

“Listen carefully,” katanya tegas.
“You are already under the surveillance of the Indinesian Navy; do not try to mess around in our waters.”

Suasana langsung hening. Deburan ombak terdengar jauh lebih keras daripada suara manusia malam itu.

Juna kemudian memerintahkan pemeriksaan ulang ruang mesin karena ia khawatir mereka juga mencoba merusak sistem kapal agar bisa berhenti di tengah laut dan mencari kesempatan kabur.

Benar saja.

Salah satu anggota tim menemukan adanya pengaturan mesin yang sengaja diubah perlahan untuk menurunkan performa kapal. Untungnya, prajurit yang dibawa Juna memahami permesinan kapal. Kerusakan kecil itu segera diatasi sebelum menjadi masalah besar di tengah badai.

Baca Juga  Implementasi Mekanisme Keadilan Restoratif Dalam Kuhap 2025

Malam itu hampir tidak ada yang tidur. Juna dan timnya berjaga bergantian. Mata mereka terus mengawasi gerak-gerik awak kapal Filipina. Sementara ombak terus menghantam tanpa ampun.

Pada satu titik, gelombang besar menghantam sisi kapal begitu keras hingga seluruh badan kapal miring tajam. Barang-barang di dalam ruang navigasi berjatuhan.

Salah satu awak kapal Filipina bahkan tersungkur ketakutan sambil berpegangan kuat pada dinding kapal.

Namun Juna tetap berdiri tegak sambil memegang kemudi cadangan.

Di tengah badai dan ancaman pelarian, ketenangannya justru menjadi kekuatan bagi anggota lain. Saat itulah salah satu anggota tim memandang Juna dan berkata pelan “Bangga saya ikut operasi sama Abang.”

Juna hanya tersenyum tipis.
Lalu menjawab lirih “Bangga jadi tentara bukan karena senjata di tangan…”, sesaat Ia menatap laut hitam di hadapannya kemudian Juna meneruskan ucapannya “…tapi karena kehormatan di dalam hati.” Kalimat itu tenggelam bersama suara badai. Namun membekas kuat di hati anggota timnya.

Menjelang pagi, cuaca mulai sedikit membaik. Cahaya matahari perlahan muncul dari balik awan kelabu.

Dan akhirnya, setelah perjalanan panjang penuh ketegangan, pangkalan TNI AL terdekat mulai terlihat dari kejauhan.

Semua orang mengembuskan napas lega.

Kapal ikan Filipina itu akhirnya berhasil bersandar dengan pengawalan ketat. Tim pemeriksa pangkalan segera naik ke kapal untuk melaksanakan proses hukum dan pemeriksaan lanjutan.

Juna menyerahkan seluruh dokumen dan hasil pemeriksaan dengan tenang dan tegas.

Tugas selesai. Namun tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada perayaan. Karena bagi seorang prajurit, keberhasilan hanyalah bagian dari tanggung jawab yang memang harus dijalankan.

Setelah seluruh proses selesai, Juna bersama tiga anggotanya kembali menaiki perahu kecil menuju KRI yang telah menunggu untuk melanjutkan operasi berikutnya.

Saat kakinya kembali menginjak geladak kapal perang itu, Juna sempat menoleh ke arah daratan.

Entah mengapa, di tengah lelah yang luar biasa, hatinya kembali teringat rumah.

Teringat anak-anaknya. Teringat istrinya yang mungkin masih menunggu kabar di depan telepon. Namun hanya beberapa detik. Karena setelah itu, sirene operasi kembali terdengar.

KRI kembali bergerak membelah laut Indonesia menuju tugas berikutnya.

Dan Juna kembali berdiri tegak di atas geladak.
Seperti biasa.
Diam.
Kuat.
Meski di dalam hatinya, rindu itu belum pernah benar-benar selesai.

Beberapa jam kemudian Juna kembali duduk sendiri di sudut geladak kapal. Tangannya dingin. Tubuhnya letih. Tetapi yang paling berat tetaplah rasa rindu yang tidak pernah selesai.

Ia membuka telepon genggamnya perlahan dan melihat kembali video anak bungsunya yang tertidur sambil memeluk seragam loreng miliknya.

“Ibu bilang kalau kangen Ayah, peluk ini saja…”

Suara kecil itu kembali membuat dadanya sesak.

Saat itu Juna menundukkan kepala lama sekali. Untuk pertama kalinya ia merasa begitu lelah. Bukan lelah karena badai. Bukan lelah karena operasi pengejaran dan pengawalan. Tetapi lelah karena terlalu lama harus terlihat kuat.

Karena sesungguhnya, rasa sakit, pilu, dan rindu juga ingin diutarakan. Namun bagi dirinya sebagai seorang tentara, semua itu lebih pantas disimpan dalam hati. Bukan karena ia tidak memiliki perasaan. Melainkan karena rasa tanggung jawab membuatnya malu untuk mengeluh.

Menjelang siang, suara azan dari aplikasi kecil di telepon genggamnya terdengar lirih.

Juna menatap laut yang luas membentang yang tidak ada ujunganya.

Di balik seragam dan ketegasannya, ia hanyalah seorang ayah yang ingin pulang.

Tetapi selama bendera merah putih masih berkibar di atas KRI itu, ia akan tetap berdiri menjaga laut Indonesia dengan kehormatan.

Sebab bagi Juna, menjadi tentara bukan tentang kebanggaan memegang senjata.

Melainkan tentang menjaga kehormatan di dalam hati, meski harus menahan pilu seorang diri.

Dan mungkin benar……

sebagian tentara tidak pernah benar-benar pulang.

Karena separuh hati mereka telah lama tertinggal di rumah, bersama keluarga yang setiap malam tidak pernah berhenti menyebut namanya dalam doa.

Ahmad Junaedi
Kontributor
Ahmad Junaedi
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Cerita Militer Illegal Fishing Indonesia Maritim Operasi Laut Patriot Bangsa Peradilan Militer TNI AL
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Samara dan Siluman Matu

5 September 2026 • 14:08 WIB

Jejak Langkah Sang Penggagas : Dari Megamendung ke Medan Merdeka Utara

2 September 2026 • 10:05 WIB

Di Mana Negara Menempatkan, Di Sana Pengabdian Dijalankan: Kisah PNS Non-Homebase Menemukan Arti Ketulusan di Tanah yang Jauh dari Rumah

25 August 2026 • 08:35 WIB
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Menanam Nilai, Menjaga Masa Depan

1 September 2026 • 13:29 WIB

Sayap Patah dan Keadilan Yang Tersisa Bagi Elang

15 August 2026 • 14:32 WIB

Secangkir Cocopresso dari Seorang Yang Mulia

15 August 2026 • 12:22 WIB

Dari Monitoring Hingga Titik Nol: Sebuah Perjalanan Tentang Pengabdian

30 July 2026 • 15:00 WIB
Don't Miss

Samara dan Siluman Matu

By Syamsul Arief5 September 2026 • 14:08 WIB0

Sains dan puisi pada suatu hari yang sunyi, berjanji untuk bertemu di altar yang sama.…

Menelaah Subjek Kalimat dalam Bahasa Hukum

4 September 2026 • 17:53 WIB

Memperkuat Integritas dan Pengetahuan Hukum: PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi SEMA, PERMA, Hingga SK KMA Bersama Aparat Penegak Hukum

4 September 2026 • 14:46 WIB

Membuka Sosialisasi Perma Nomor 2 Tahun 2026, Wkma Bidang Yudisial Tekankan Independensi Hakim Harus Berjalan Bersama Akuntabilitas

4 September 2026 • 14:42 WIB
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Samara dan Siluman Matu
  • Menelaah Subjek Kalimat dalam Bahasa Hukum
  • Memperkuat Integritas dan Pengetahuan Hukum: PN Dataran Hunipopu Gelar Sosialisasi SEMA, PERMA, Hingga SK KMA Bersama Aparat Penegak Hukum
  • Membuka Sosialisasi Perma Nomor 2 Tahun 2026, Wkma Bidang Yudisial Tekankan Independensi Hakim Harus Berjalan Bersama Akuntabilitas
  • Plt. Kepala BSDK MA RI Sampaikan Laporan Penyelenggaraan Sosialisasi PERMA Nomor 2 Tahun 2026 di Bali

Recent Comments

  1. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  2. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  3. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
  4. Abdul Hafid PP PA Sleman on Alumni Bersuara dari PA Sleman : Diklat Panitera Pengganti Harus Update, Merata, dan Berbasis Praktik
  5. kumalasari on Di Mana Negara Menempatkan, Di Sana Pengabdian Dijalankan: Kisah PNS Non-Homebase Menemukan Arti Ketulusan di Tanah yang Jauh dari Rumah
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Ferdian Permadi
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.