Kegiatan pelatihan bertajuk “Filsafat dan Keadilan bagi Hakim Karier dan Ad Hoc Peradilan Umum, Agama, Militer, dan Tata Usaha Negara” resmi dibuka dan digelar secara daring mulai tanggal 6 April 2026 hingga 10 April 2026. Pelatihan ini menghadirkan pakar filsafat ternama, Dr. Phil. Reza A.A. Wattimena, sebagai pengajar utama yang akan membedah dimensi filosofis dalam ranah hukum. Beliau dikenal melalui berbagai karya pemikiran seperti Teori Transformasi Kesadaran Unlimited, Politik Progresif Inklusif, dan Etika Natural Empiris yang menjadi landasan materi dalam kegiatan ini.
Mahkamah Agung Republik Indonesia menunjukkan peran aktif dalam meningkatkan kapasitas intelektual para Hakim melalui penguatan pemikiran lintas batas dalam mencari kebenaran dan keadilan. Upaya ini dilakukan agar para Hakim dari seluruh Indonesia tidak hanya terpaku pada teks hukum formal, tetapi juga mampu menggali nilai-nilai kebenaran mutlak dan keadilan yang lebih dalam melalui metode transformasi kesadaran. Hal ini menjadi sangat krusial dalam menghadapi kompleksitas perkara di empat lingkungan peradilan guna mewujudkan penegakan hukum yang lebih humanis dan berintegritas.
Pada topik ketiga pelatihan yang dilaksanakan secara intensif, materi difokuskan pada tema “Kehidupan, Kebenaran, dan Keadilan dalam Pemikiran Lintas Peradaban”. Sesi ini dipandu oleh moderator Bapak Irwan Rosady, S.H., M.H., yang menjabat sebagai Wakil Ketua Pengadilan Negeri Pandeglang. Dalam sesi ini, Dr. Phil. Reza A.A. Wattimena mengajak para peserta untuk mengeksplorasi hubungan antara eksistensi kehidupan dengan pencarian kebenaran yang melampaui batas-batas tradisi tertentu demi mencapai keadilan yang substansial.
Materi pelatihan juga mendalami konsep “Bentuk dan Tingkatan Kesadaran” yang dikaitkan langsung dengan praktik politik dan hukum di Indonesia. Para Hakim dibekali dengan pemahaman mengenai Etika Natural Empiris sebagai instrumen untuk melihat hukum dari sudut pandang yang lebih organik dan nyata. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu Hakim dalam mengambil keputusan yang tidak hanya adil secara prosedural, tetapi juga adil secara moral dan etis berdasarkan kesadaran yang telah bertransformasi.
Kegiatan ini ditutup dengan kesimpulan yang menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai filosofis dalam tugas sehari-hari seorang Hakim. Dengan berakhirnya pelatihan pada 10 April 2026, diharapkan para Hakim karier maupun ad hoc memiliki perspektif baru yang lebih luas dalam memandang keadilan. Sinergi antara pemikiran lintas peradaban dan praktik hukum nasional ini menjadi langkah nyata bagi Mahkamah Agung dalam mencetak yuris yang memiliki kedalaman spiritual dan intelektual tinggi.
Peliput : Ghesa Agnanto Hutomo, S.H., dan Garin Purna Sanjaya, S.H.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


