Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

The Courtroom Before the Courtroom: Why Japan Lets Litigants Think Out Loud

October 9, 2026

Resensi Buku: Teori Proporsionalitas Pemidanaan – Kepentingan Hukum sebagai Kompas Pemidanaan

October 9, 2026

Dinamika Ujian Akhir Hingga Pamitan Hangat Peserta Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Bagi Hakim Peradilan Agama Seluruh Indonesia

October 9, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Kumulasi Petitum dalam Perkara Permohonan: Telaah atas Penggabungan Permohonan Perubahan Nama dan Data Kelahiran

Kumulasi Petitum dalam Perkara Permohonan: Telaah atas Penggabungan Permohonan Perubahan Nama dan Data Kelahiran

Ardiansyah Iksaniyah PutraBy Ardiansyah Iksaniyah PutraMay 26, 2026 · 09:40 WIB9 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pendahuluan

Dinamika permohonan perubahan data diri saat ini mengalami perkembangan hukum yang semakin kompleks. Permohonan perubahan data diri kependudukan merupakan salah satu dari beberapa jenis permohonan yang diajukan ke pengadilan, khususnya perubahan nama dan identitas diri lainnya yang termuat dalam dokumen kependudukan (Prasetyawati et al., 2025). Salah satu fenomena permohonan yang sangat menarik untuk dikaji adalah permohonan perubahan data diri yang menggabungkan permohonan perubahan nama sekaligus perubahan tempat, tanggal, dan bulan lahir dalam satu permohonan voluntair. Hal ini menarik karena di Indonesia, perubahan nama telah memiliki landasan normatifnya dalam undang-undang administrasi kependudukan, sedangkan perubahan tempat, tanggal dan bulan lahir sampai saat ini belum diatur secara eksplisit dalam suatu undang-undang ataupun peraturan di bawahnya, baik tata cara prosedur pemeriksaan maupun lembaga yang berwenang memeriksa kondisi faktualnya. Kondisi demikian menunjukkan adanya kekosongan norma yang berimplikasi pada kepastian hukum dalam praktik peradilan.

Perubahan nama warga negara memperoleh legitimasi dari undang-undang. Undang-Undang Nomor 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan mempersyaratkan adanya penetapan pengadilan sebagai dasar pencatatan perubahan dokumen identitas kependudukan. Namun undang-undang tidak secara tegas menentukan bagaimana prosedur dan/atau tata cara perubahan tempat, tanggal dan bulan lahir dalam dokumen kependudukan. Perubahan data kelahiran tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan administratif, akan tetapi mempunyai implikasi yuridis menyangkut keabsahan status keperdataan seseorang yang memiliki konsekuensi hukum luas terhadap pendidikan, pekerjaan, kewarganegaraan, hingga hak waris.

Kekosongan landasan hukum di atas memicu persoalan yuridis mengenai dasar kewenangan hakim dalam memeriksa dan mengadili suatu permohonan yang belum cukup diatur secara tegas dan jelas dalam peraturan perundang-undangan. Persoalan menjadi semakin menarik apabila dalam satu dokumen permohonan menggabungkan beberapa objek (petitum) yang secara substansi tunduk pada beberapa pengaturan yang berbeda. Dalam hal ini hakim menjadi dilema, antara mengedepankan prinsip legalitas atau prinsip ius curia novit di mana hakim dilarang menolak suatu perkara yang diajukan padanya dengan alasan tidak ada hukumnya, melainkan hakim harus menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan keadilan yang ada. Dengan demikian, timbul pertanyaan mengenai bagaimana batas-batas kewenangan hakim dalam menciptakan hukum melalui penetapan terhadap perkara voluntair yang belum memiliki landasan normatif yang memadai.

Di sisi lain, penggabungan beberapa objek (petitum) permohonan voluntair dalam satu dokumen permohonan menimbulkan problematika hukum acara. Saat ini konsep penggabungan petitum atau kumulasi gugatan masih berkembang dalam ranah perkara gugatan contentiosa (Sadewa & Hartanto, 2017). Dalam praktik, penggabungan gugatan (kumulasi gugatan) diperbolehkan berdasarkan yurisprudensi Mahkamah Agung dan peraturan teknis yang tersebar dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA 1 Tahun 2022). Perkembangan kumulasi sebagaimana tersebut di atas belum sepenuhnya terakomodir dalam perkara permohonan, bahkan mungkin belum dikenal. Akibatnya timbul ketidakpastian hukum yang memicu perdebatan apakah hakim berwenang memeriksa permohonan voluntair yang memuat lebih dari satu objek permohonan, khususnya apabila objek tersebut memiliki karakteristik dan dasar hukum yang berbeda. Hal ini menjadi penting karena berkaitan dengan prinsip peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan, namun di sisi lain menyangkut kepastian hukum dan legitimasi kewenangan mengadili.

Berdasarkan problematika yang telah diuraikan di atas, Penetapan Pengadilan Negeri Kayuagung Nomor 21/Pdt.P/2026/PN Kag menjadi menarik untuk diulas, bagaimana problematika di atas menjadi perkara nyata dalam praktik peradilan, serta bagaimana hakim menyikapi kekosongan hukum terhadap penggabungan permohonan perubahan identitas diri dalam perkara voluntair.

Studi atas Penetapan Nomor 21/Pdt.P/2026/PN Kag

Menurut penulis, Penetapan Pengadilan Negeri Kayuagung Nomor 21/Pdt.P/2026/PN Kag merupakan suatu putusan progresif yang bisa dicontoh dan patut dijadikan sebagai preseden terhadap perkara yang sama ke depannya. Dalam penetapan tersebut hakim tidak hanya berorientasi pada penerapan prosedur hukum secara tekstual, namun juga menempatkan hukum sebagai instrumen perlindungan hak-hak warga negara. Perkara ini berawal dari seorang warga negara yang mengajukan permohonan perubahan identitas pada Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK) dan Kutipan Akta Kelahiran (Akta Lahir) dari yang tertera atas nama “Dian Maryanti, lahir di Belitang, 30 Mei 2000” menjadi “Dianti, lahir di Oku Timur, 10 Februari 2000.” Permohonan diajukan dengan alasan karena seluruh dokumen Pendidikan Pemohon sejak Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Sekolah Menegah Atas (SMA) menggunakan identitas atas nama “DIANTI” dengan tempat dan tanggal lahir “OKU Timur, 10 Februari 2000.” Ketidaksesuaian data kependudukan tersebut menghambat Pemohon dalam memperoleh hak-haknya.

Baca Juga  Etika Bermedia Sosial bagi Hakim: Antara Ekspresi Diri dan Marwah Peradilan

Dalam perkara tersebut, hanya perubahan nama yang memiliki landasan normative. Di persidangan hakim tidak hanya memeriksa perubahan nama sebagaimana diatur dalam Pasal 52 Undang-Undang Administrasi Kependudukan, tetapi juga memeriksa perubahan tempat, tanggal, dan bulan lahir yang secara eksplisit belum diatur secara tegas dan jelas mekanisme maupun lembaga yang berwenang memeriksa kondisi faktualnya. Di sinilah tampak pendekatan progresif hakim. Hakim pemeriksa perkara tersebut mempertimbangkan tiga permasalahan hukum sekaligus, yakni: apakah hakim dapat memeriksa permohonan yang dasar hukumnya belum jelas, apakah hakim dapat memeriksa objek permohonan yang diatur dalam regulasi berbeda, dan apakah hakim dapat memeriksa lebih dari satu objek permohonan dalam satu perkara.

Terhadap persoalan tersebut, hakim mendasarkan pertimbangannya pada Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan bahwa hakim tidak boleh menolak perkara yang diajukan kepadanya dengan alasan tidak ada atau tidak jelas hukumnya. Bahkan Hakim menggunakan pendekatan rechtsvinding dan rechtsvorming dengan menyatakan bahwa hakim wajib menemukan dan membentuk hukum demi menjawab kebutuhan masyarakat. Pertimbangan hukum tersebut mencerminkan paradigma hukum progresif sebagaimana dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo, bahwa hukum untuk manusia bukan manusia untuk hukum, sehingga hukum tidak boleh terjebak dalam formalitas yang menciderai keadilan substantif.

Dalam hal ini hakim menunjukkan keberanian interpretatif dalam menilai perubahan tempat, tanggal dan bulan lahir yang pada dasarnya merupakan ranah administrasi kependudukan. Karena terdapat kekosongan hukum mengenai mekanisme perubahan data yang bukan hanya sekedar kesalahan redaksional, maka pengadilan memandang perlu hadir mengambil peran demi memberikan kepastian dan kemanfaatan hukum bagi masyarakat. Hakim Yoshito Siburian, bahkan menafsirkan frasa “surat keterangan/bukti perubahan peristiwa kependudukan” dalam Perpres Nomor 96 Tahun 2018 dapat berupa penetapan pengadilan ketika permohonan tersebut digabungkan dengan perubahan nama yang memang menjadi kewenangan pengadilan.

Aspek lain yang tidak kalah menarik dalam pertimbangan Hakim ialah ketika ia menerima penggabungan objek permohonan dalam satu perkara. Hakim mengkualifikasikan bahwa permohonan tersebut sebagai kumulasi objektif antara perubahan nama dan perubahan tempat, tanggal dan bulan lahir. Meskipun pengaturan kumulasi saat ini hanya dikenal dalam ranah perkara gugatan contentiosa, namun Hakim menilai bahwa penggabungan objek permohonan dimungkinkan sepanjang objeknya saling berkaitan dan bertujuan untuk penyederhanaan proses penyelesaian masalah. Guna memperkuat pertimbangannya, Hakim merujuk pada yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 677 K/Sip/1972 mengenai diperbolehkannya penggabungan perkara yang memiliki hubungan erat.

Pertimbangan tersebut merupakan implementasi dalam penerapan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan. Tidak bisa dibayangkan apabila Pemohon harus mengajukan permohonan secara terpisah antara permohonan perubahan nama dan permohonan perubahan tempat, tanggal dan bulan lahir, maka hal tersebut tentu akan menciderai efektivitas penyelesaian perkara, padahal substansi yang diperiksa berkaitan dengan satu identitas subyek hukum yang sama. Dengan mekanisme permohonan terpisah, maka bisa dipastikan Pemohon akan menghabiskan lebih banyak waktu, biaya dan tenaga. Prosedur yang demikian tentu cukup untuk dianggap mempersulit Masyarakat. Namun dengan memeriksa seluruh objek dalam satu permohonan, hakim justru menghadirkan kemanfaatan hukum yang nyata bagi masyarakat pencari keadilan.

Dalam proses pembuktian, secara formal hakim tidak terpaku pada dokumen administrasi kependudukan terbaru seperti KTP, KK dan Akta Lahir yang baru diterbitkan dalam rentang waktu tahun 2023 sampai dengan 2025. Namun sebaliknya hakim menggunakan pendekatan “tinjauan riwayat kehidupan” dengan menempatkan ijazah SD, SMP, dan SMA sebagai alat bukti yang lebih autentik karena telah digunakan Pemohon secara konsisten sejak tahun 2006 hingga 2018. Pendekatan ini merupakan wujud dari keberanian hakim dalam menggali kebenaran material secara substantif. bukan sekadar memutlakkan dokumen administratif formal yang justru lahir belakangan.

Wujud keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum nampak kuat dalam penetapan ini. Hakim mempertimbangkan kondisi sosial Pemohon, yang mana sejak kecil telah diasuh oleh keluarga lain dan mengalami kendala dalam mendapatkan layanan administrasi kependudukan. Mengutip keterangan saksi bahwa jangan sampai Pemohon “menjadi korban untuk kedua kalinya”, karena tidak dapat memanfaatkan ijazahnya untuk bekerja. Pertimbangan tersebut merupakan tindakan konkrit bahwa hakim tidak hanya memandang perkara secara normatif, tetapi juga secara humanis dan sosiologis.

Baca Juga  Penutupan Sertifikasi Lingkungan Hidup Angkatan XXIII Tahun 2026

Pada akhirnya, penetapan ini merupakan refleksi keseimbangan antara keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Wujud dari keadilan adalah pengakuan terhadap identitas asli berdasarkan fakta historis kehidupan Pemohon. Kemanfaatan diwujudkan dengan memberikan akses bagi Pemohon untuk memperoleh pekerjaan dan menjalankan hak sipilnya secara layak. Sedangkan kepastian hukum diwujudkan melalui legitimasi formal terhadap identitas Pemohon. Penetapan ini sekaligus menjadi preseden penting bahwa pengadilan dapat mengambil peran progresif ketika hukum positif belum mengatur secara lengkap persoalan yang hidup dan berkembang di masyarakat.

Kesimpulan

Peran Hakim yang progresif dalam mengisi kekosongan hukum merupakan suatu keharusan dalam praktik penegakan hukum, karena tidak selamanya hukum positif mampu mengakomodir segala persoalan yang dihadapi masyarakat. Hukum tertulis bersifat statis, sedangkan kehidupan masyarakat yang bersifat dinamis. Hal tersebut sejalan dengan adagium “Het recht hinkt achter de feiten aan” bahwa hukum tertulis selalu tertinggal dengan peristiwa yang hendak diaturnya (Arif, 2019, p. 185). Dalam Penetapan Pengadilan Negeri Kayuagung Nomor 21/Pdt.P/2026/PN Kag tersebut, Hakim menunjukkan peran progresifnya dalam mengisi kekosongan hukum, khususnya terkait dengan permohonan perubahan identitas yang mencakup perubahan nama serta perubahan tempat lahir, tanggal dan bulan lahir dalam satu permohonan sekaligus. Meskipun perubahan tempat, tanggal dan bulan lahir belum diatur secara jelas dan tegas dalam undang-undang, namun Hakim tetap memeriksa dan mengadili perkara dengan mendasarkan pada asas bahwa Hakim tidak boleh menolak perkara karena hukum tidak ada atau tidak jelas sebagaimana diatur dalam Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman.

Dengan keberanian dan semangat progresif yang tercermin dalam penetapan tersebut, Hakim memperluas penerapan konsep penggabungan objek (petitum) permohonan dalam satu perkara sekaligus, hal tersebut demi mewujudkan proses peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan sebagaimana amanat undang-undang. Pertimbangan Hakim dalam penetapan tersebut tidak hanya berorientasi pada formalitas administrasi, tetapi juga menggali kebenaran materiil melalui pendekatan “tinjauan riwayat kehidupan” Pemohon berdasarkan dokumen pendidikan yang konsisten digunakan sejak lama.

Hakim melalui Penetapannya tidak hanya memberikan kepastian hukum terhadap identitas Pemohon, tetapi juga mampu menghadirkan keadilan substantif dan kemanfaatan, khususnya dalam menjamin hak-hak Pemohon untuk memperoleh pekerjaan dan pengakuan identitas yang sesuai dengan keadaan sebenarnya. Penetapan tersebut juga bisa menjadi preseden baik serta acuan penyusunan regulasi bagi pemangku kebijakan kedepannya.

Referensi

Arif, M. Y. A. (2019). Penegakan Hukum dalam Perspektif Hukum Progresif. Undang: Jurnal Hukum, 2(1), 169 192. https://doi.org/10.22437/ujh.2.1.169-192

Prasetyawati, S. E., Ramasari, R. D., & Evandra, A. P. (2025). Pertimbangan Hakim Terhadap Perubahan Data Diri Pada Kartu Tanda Penduduk Dan Kartu Keluarga Oleh Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil (Studi Putusan Nomor : 176/PDT.P/2024/PN TJK). Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, 8(1), 599–608. https://doi.org/10.31004/jrpp.v8i1.41531

Sadewa, K., & Hartanto, S. (2017). Formulasi Kumulasi Gugatan Yang Dibenarkan Tata Tertib Acara Indonesia. 5(3). https://jurnal.uns.ac.id/verstek/article/download/33546/22140

Undang-Undang Nomor 23 tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan jo UU No. 24 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.

Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 96 Tahun 2018 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.

Surat Edaran Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun 2022 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2022 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan.

Mahkamah Agung Republik Indonesia: Putusan Nomor 677 K/Sip/1972.

Pengadilan Negeri Kayu Agung: Penetapan Nomor 21/Pdt.P/2026/PN Kag.

Ardiansyah Iksaniyah Putra
Kontributor
Ardiansyah Iksaniyah Putra
Hakim Pengadilan Negeri Serui

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

hakim Hukum Acara Hukum Progresif Penetapan Pengadilan peradilan PN Kayuagung Rechtsvinding
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

The Courtroom Before the Courtroom: Why Japan Lets Litigants Think Out Loud

October 9, 2026

Resensi Buku: Teori Proporsionalitas Pemidanaan – Kepentingan Hukum sebagai Kompas Pemidanaan

October 9, 2026

Hukum Acara Dispensasi Kawin 2: Mengasah Rasa dan Karsa Hakim dalam Melindungi Kepentingan Terbaik Anak

October 9, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Di mana Kesaktian Pancasila Diuji?

October 1, 2026

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 20261,549 Views

Titah Leviathan

September 11, 2026
Don't Miss

The Courtroom Before the Courtroom: Why Japan Lets Litigants Think Out Loud

By Cecep MustafaOctober 9, 20260

Imagine you are about to argue with your closest friend over who really owes whom…

Resensi Buku: Teori Proporsionalitas Pemidanaan – Kepentingan Hukum sebagai Kompas Pemidanaan

October 9, 2026

Dinamika Ujian Akhir Hingga Pamitan Hangat Peserta Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Bagi Hakim Peradilan Agama Seluruh Indonesia

October 9, 2026

Hukum Acara Dispensasi Kawin 2: Mengasah Rasa dan Karsa Hakim dalam Melindungi Kepentingan Terbaik Anak

October 9, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • The Courtroom Before the Courtroom: Why Japan Lets Litigants Think Out Loud
  • Resensi Buku: Teori Proporsionalitas Pemidanaan – Kepentingan Hukum sebagai Kompas Pemidanaan
  • Dinamika Ujian Akhir Hingga Pamitan Hangat Peserta Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Bagi Hakim Peradilan Agama Seluruh Indonesia
  • Hukum Acara Dispensasi Kawin 2: Mengasah Rasa dan Karsa Hakim dalam Melindungi Kepentingan Terbaik Anak
  • Menembus Labirin Reformasi Peradilan: Mengurai Diskusi Strategis Pustrajak MA RI dan Kamar TUN untuk Arah Kebijakan Hukum 2027

Recent Comments

  1. Abdul Mustopa on Membedah Rahasia Keberhasilan Wakai dan Chotei untuk Mediasi Indonesia
  2. H. Moh. Nasri on Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Sebagai Pembelajaran Diklat Pertama di Hari Pertama
  3. H. Moh. Nasri on Bedah Kasus di Akhir Kursus: Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Telah Sampai pada Intinya
  4. Pandu PW on Ketika Perkawinan Tidak Tercatat : Isbat Nikah sebagai Jalan Menuju Perlindungan Hak Anak
  5. Mery Donna Tiur Pasaribu on Praperadilan dan Batas Kekuasaan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reza Kresna Adipraya
  • Avatar photo Peltu Ricko Rikardo, S.H
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Rudi Hartoyo
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Wisnu Indradi
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.