Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

“Berubah Atau Punah?” Adaptif Merupakan Core Value Asn Yang Mengkolaborasi Seluruh Nilai

10 April 2026 • 18:41 WIB

Loyalitas Menjadi Pesan Penting Kepala Bsdk Dalam Pembukaan Latsar Cpns Gelombang 1 Tahun 2026

10 April 2026 • 18:33 WIB

Saat OJK Menggugat, Keadilan Diuji: Peradilan Agama Siap atau Tidak?

10 April 2026 • 15:55 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Saat OJK Menggugat, Keadilan Diuji: Peradilan Agama Siap atau Tidak?
Artikel

Saat OJK Menggugat, Keadilan Diuji: Peradilan Agama Siap atau Tidak?

Khoiruddin HasibuanKhoiruddin Hasibuan10 April 2026 • 15:55 WIB6 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Perlahan tapi pasti, lanskap perlindungan konsumen di sektor jasa keuangan Indonesia, mengalami pergeseran yang tidak bisa lagi dipahami dengan kacamata lama. Sengketa tidak lagi berdiri sebagai peristiwa individual yang sporadis, melainkan menjelma menjadi fenomena kolektif yang tersebar, senyap, namun berdampak luas. Dalam satu dekade terakhir, pola kerugian konsumen menunjukkan gejala yang nyaris seragam, diantaranya jumlah korban yang besar, kerugian yang relatif kecil secara individual tetapi signifikan secara agregat, serta pelanggaran yang bersifat sistemik.

Di titik inilah hukum diuji, bukan sekadar sebagai perangkat normatif, tetapi sebagai instrumen keadilan yang hidup. Gugatan perorangan menjadi tidak memadai. Mekanisme class action yang selama ini diandalkan pun, ternyata menyimpan keterbatasan struktural. Tidak semua korban siap menjadi representasi kelompok, beban pembuktian sering kali berat, dan kompleksitas perkara sektor keuangan membutuhkan keahlian teknis yang tidak selalu tersedia. Akibatnya, kesenjangan akses terhadap keadilan (access to justice gap), menjadi realitas yang tidak bisa disangkal.

Negara kemudian tidak lagi bisa bersikap pasif. Ia dituntut hadir, bukan sebagai penonton, melainkan sebagai aktor yang aktif melindungi kepentingan publik. Dalam konteks inilah, kewenangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengajukan gugatan, memperoleh relevansinya. Secara normatif, kewenangan itu sebenarnya telah tersedia dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011, sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023. Namun, selama bertahun-tahun, kewenangan tersebut berjalan tanpa koridor prosedural yang jelas.

Kekosongan hukum acara ini menciptakan ruang abu-abu. Legal standing OJK kerap diperdebatkan, standar pembuktian tidak seragam, dan hakim tidak memiliki pedoman yang pasti dalam memeriksa perkara. Dalam praktik, hal ini berpotensi melahirkan disparitas putusan, bahkan membuka ruang ketidakpastian hukum, yang justru merugikan pihak yang seharusnya dilindungi.

Lahirnya Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 4 Tahun 2025, menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut. Ia tidak berdiri sendiri, melainkan hadir sebagai pasangan dari POJK Nomor 38 Tahun 2025. Jika POJK memberikan landasan substantif atas kewenangan OJK, maka PERMA menyediakan kerangka prosedural bagi pengadilan, dalam memeriksa dan mengadili gugatan tersebut. Keduanya membentuk suatu simbiosis normatif, yang mencerminkan prinsip checks and balances, antara regulator dan kekuasaan kehakiman.

Di sini, terdapat garis batas yang tegas namun elegan, yaitu regulator boleh menggugat, tetapi keadilan tetap diputus oleh hakim. Dengan kata lain, negara dapat bertindak sebagai penggugat dalam kepentingan publik, namun tidak boleh menjadi hakim atas perkara yang diajukannya sendiri. PERMA 4/2025 memastikan, bahwa independensi peradilan tetap terjaga, sekaligus mencegah potensi regulatory overreach yang dapat mengganggu keseimbangan sistem hukum.

Lebih jauh, kehadiran dua regulasi ini menandai pergeseran paradigma yang cukup fundamental. Hukum tidak lagi semata-mata berorientasi pada keadilan individual, tetapi mulai bergerak menuju keadilan publik. Negara, melalui OJK, mengambil peran sebagai institutional guardian of consumers (penjaga kepentingan konsumen), yang tidak memiliki kapasitas untuk memperjuangkan haknya sendiri.

Baca Juga  Meneguhkan Sinergi Negara dalam Menjaga Keadilan dan Stabilitas dalam bentuk Penandatanganan bersama Nota Kesepahaman Mahkamah Agung, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan

Konsumen jasa keuangan, pada umumnya berada dalam posisi yang rentan. Mereka lemah dalam hal informasi, terbatas dalam daya tawar, dan sering kali tidak memiliki akses terhadap mekanisme litigasi yang efektif. Dalam situasi seperti ini, intervensi negara bukan hanya dibenarkan, tetapi menjadi keharusan moral dan konstitusional.

Secara karakteristik, gugatan OJK memiliki ciri yang berbeda dari gugatan perdata pada umumnya. Ia merupakan gugatan perbuatan melawan hukum yang diajukan oleh lembaga negara, dengan objek pelanggaran yang berdampak luas, massal, dan sistemik. Legal standing OJK tidak didasarkan pada kerugian pribadi, melainkan pada kewenangan yang diberikan oleh undang-undang. Hal ini membedakannya secara fundamental dari mekanisme class action yang mensyaratkan representasi korban.

Dalam kerangka ini, hakim tidak lagi menilai jumlah korban sebagai basis legitimasi gugatan, melainkan kewenangan institusional yang dimiliki oleh OJK. Ini adalah pergeseran epistemologis dalam cara hukum memandang legitimasi suatu perkara.

Dari sisi kompetensi, perkara gugatan OJK dapat diperiksa oleh pengadilan niaga dalam lingkungan peradilan umum maupun oleh peradilan agama, tergantung pada karakteristik hubungan hukum yang mendasarinya. Di sinilah peran peradilan agama menjadi semakin signifikan, terutama dalam konteks sengketa yang berkaitan dengan ekonomi syariah.

Peradilan agama, yang selama ini lebih diidentikkan sebagai forum penyelesaian perkara keluarga dan waris, kini dihadapkan pada realitas baru. Ekspansi kewenangan dalam bidang ekonomi syariah membuka ruang bagi keterlibatan dalam perkara-perkara yang memiliki kompleksitas tinggi, termasuk gugatan yang diajukan oleh OJK.

Peluang bagi peradilan agama dalam konteks ini cukup besar. Pertama, meningkatnya volume transaksi keuangan berbasis syariah, menciptakan kebutuhan akan forum penyelesaian sengketa, yang tidak hanya memahami hukum positif, tetapi juga prinsip-prinsip syariah. Kedua, keterlibatan OJK dalam menggugat pelaku usaha jasa keuangan syariah, memberikan legitimasi tambahan bagi peradilan agama, sebagai forum adjudikasi yang relevan dan kompeten. Ketiga, adanya PERMA 4/2025 memberikan pedoman prosedural, yang dapat diadaptasi dalam lingkungan peradilan agama, sehingga menciptakan standar yang lebih seragam dalam penanganan perkara.

Namun, peluang tersebut tidak datang tanpa tantangan. Kompleksitas perkara sektor jasa keuangan menuntut kapasitas teknis yang tinggi dari para hakim paradilan agama. Pemahaman terhadap instrumen keuangan, mekanisme pasar, serta regulasi sektoral menjadi prasyarat yang tidak bisa ditawar bagi setiap hakim peradilan agama. Dalam perkara gugatan OJK ini, tidak hanya berkutat pada aspek hukum, tetapi juga melibatkan analisis ekonomi dan keuangan syariah yang mendalam.

Selain itu, integrasi antara prinsip syariah dan hukum acara yang bersifat nasional, juga menjadi tantangan tersendiri. Peradilan agama harus mampu menjaga konsistensi dengan prinsip-prinsip syariah, tanpa mengabaikan ketentuan hukum acara yang diatur dalam PERMA. Ini membutuhkan pendekatan hermeneutik yang cermat, agar tidak terjadi disonansi antara norma agama dan norma positif.

Baca Juga  Menuju SDM Peradilan yang Profesional dan Berintegritas, BSDK MA RI Perbarui Silabus Pelatihan 2026

Tantangan lainnya terletak pada aspek kelembagaan. Peradilan agama perlu memperkuat kapasitas sumber daya manusia, baik melalui pelatihan maupun sertifikasi hakim peradilan agama, untuk menghadapi jenis perkara yang semakin kompleks. Infrastruktur pendukung, seperti sistem informasi dan akses terhadap data sektoral, juga menjadi faktor penting dalam memastikan efektivitas penanganan perkara.

Di sisi lain, terdapat pula tantangan dalam menjaga independensi peradilan. Keterlibatan OJK sebagai lembaga negara dalam posisi penggugat berpotensi menciptakan persepsi ketimpangan antara para pihak. Oleh karena itu, hakim dituntut untuk tetap menjaga jarak yang sama, memastikan bahwa setiap putusan didasarkan pada prinsip keadilan, bukan pada posisi institusional para pihak.

Prosedur yang diatur dalam PERMA 4/2025 sendiri menunjukkan karakter yang lebih ringkas dan terstruktur. Tidak adanya replik, duplik, maupun intervensi, mencerminkan upaya untuk mempercepat proses peradilan tanpa mengorbankan substansi. Tenggat waktu yang ketat, termasuk batas waktu pemeriksaan dan putusan kasasi, menunjukkan orientasi pada efisiensi dan kepastian hukum.

Namun, efisiensi ini juga membawa konsekuensi. Hakim peradilan agama harus mampu bekerja dalam tekanan waktu, tanpa mengurangi kualitas analisis. Di sinilah profesionalisme dan integritas menjadi kunci. Peradilan tidak hanya dituntut untuk cepat, tetapi juga tepat.

Pada akhirnya, kehadiran gugatan OJK sebagai instrumen perlindungan konsumen merupakan bagian dari evolusi sistem hukum Indonesia. Ia mencerminkan upaya untuk menyesuaikan diri, dengan dinamika masyarakat yang semakin kompleks. Dalam konteks ini, hukum tidak lagi bersifat statis, tetapi bergerak mengikuti kebutuhan zaman.

Peradilan agama, sebagai bagian dari sistem peradilan nasional, tidak bisa berada di pinggir perubahan ini. Ia harus mengambil peran, bukan hanya sebagai pelaksana hukum, tetapi juga sebagai penjaga keadilan dalam arti yang lebih luas. Peluang yang ada, harus dimanfaatkan untuk memperkuat posisi, sementara tantangan yang muncul, harus dijawab dengan inovasi dan peningkatan kapasitas tenaga teknis aparatur peradilan agama.

Dengan demikian, masa depan perlindungan konsumen di sektor jasa keuangan, tidak hanya bergantung pada regulasi yang ada, tetapi juga pada bagaimana institusi peradilan, termasuk peradilan agama, mampu mengimplementasikannya secara efektif. Di titik ini, hukum kembali pada esensinya, bukan sekadar aturan, tetapi alat untuk memastikan bahwa keadilan tidak hanya menjadi janji, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan oleh setiap warga negara. Pertanyaannya, apakah Peradilan Agama Siap atau Tidak?

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Ekonomi Syariah Gugatan Perdata ojk Perlindungan Konsumen Regulasi Keuangan
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Paradoks Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 49/PUU-XIV/2016 dalam Prosedur Pengangkatan Kembali Hakim Ad Hoc PHI

9 April 2026 • 21:17 WIB

Republikanisme dan Nalar Keadilan Hakim: Dari Polis hingga Non-Dominasi dalam Praktik Yudisial

9 April 2026 • 08:44 WIB

Les Misérables: Jean Valjean dan Dialektika antara Keadilan vs Hukum Positif

8 April 2026 • 08:30 WIB
Demo
Top Posts

Etika Bermedia Sosial bagi Hakim: Antara Ekspresi Diri dan Marwah Peradilan

13 March 2026 • 20:03 WIB

Hijrah Konstitusi, dari Serambi ke Serambi: Catatan Kritis Beban Kemanusiaan Peradilan

5 March 2026 • 18:28 WIB

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB

Beyond The Code: Filsafat Hukum dalam Penemuan Hukum (Rechtsvinding yang Progresif)

25 February 2026 • 14:35 WIB
Don't Miss

“Berubah Atau Punah?” Adaptif Merupakan Core Value Asn Yang Mengkolaborasi Seluruh Nilai

By Timbul Bonardo Siahaan10 April 2026 • 18:41 WIB0

Megamendung, 10 April 2026, – “Berubah atau Punah?”, bukan mereka yang Kuat dan Pintar yang…

Loyalitas Menjadi Pesan Penting Kepala Bsdk Dalam Pembukaan Latsar Cpns Gelombang 1 Tahun 2026

10 April 2026 • 18:33 WIB

Saat OJK Menggugat, Keadilan Diuji: Peradilan Agama Siap atau Tidak?

10 April 2026 • 15:55 WIB

Laksanakan Bintal Ketua PA Baturaja Tekankan Integritas lewat Keteladanan Umar bin Khattab

10 April 2026 • 09:19 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • “Berubah Atau Punah?” Adaptif Merupakan Core Value Asn Yang Mengkolaborasi Seluruh Nilai
  • Loyalitas Menjadi Pesan Penting Kepala Bsdk Dalam Pembukaan Latsar Cpns Gelombang 1 Tahun 2026
  • Saat OJK Menggugat, Keadilan Diuji: Peradilan Agama Siap atau Tidak?
  • Laksanakan Bintal Ketua PA Baturaja Tekankan Integritas lewat Keteladanan Umar bin Khattab
  • Mahkamah Agung Gelar Penyusunan Naskah Akademik Pembaruan Undang-Undang Peradilan Tata Usaha Negara

Recent Comments

  1. furosemide for dogs cost on Konsekuensi Hukum Penetapan Pengembalian Berkas oleh KPN dalam Proses MKR di Tingkat Penyidikan dan Penuntutan
  2. diflucan on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
  3. misoprostol 200mcg tablets price on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  4. stendra medication on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  5. metoprolol tartrate 50 mg on Mempererat Integritas dan Spiritualitas: Rangkaian Giat Ramadan 1447 H di Pengadilan Negeri Kotabaru
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Kolonel Dahlan Suherlan, S.H., M.H.
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.