Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Seragam Baju, Seragam Pemikiran?

Seragam Baju, Seragam Pemikiran?

Catatan kecil dari ruang kerja IT High Court Madhya Pradesh: ketika kerapian tidak harus berarti keseragaman, dan birokrasi seharusnya belajar membedakan antara disiplin, substansi, dan sekadar pakaian.
Irvan MawardiBy Irvan MawardiApril 29, 2026 · 09:28 WIB8 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Ada pelajaran birokrasi yang kadang tidak datang dari ruang seminar, tidak pula dari dokumen kebijakan yang tebal dan file-file megabyte. Pelajaran itu justru muncul dari pemandangan sederhana: sebuah ruang kerja, beberapa meja komputer, petugas yang sibuk melayani sistem informasi pengadilan, dan pakaian kerja yang tidak seragam. Pagi itu, di salah satu ruangan IT High Court of Madhya Pradesh, Jabalpur, Ketika kami melakukan kunjungan beberapa hari lalu di Jabalpur, saya menangkap sesuatu yang tampak kecil, tetapi menyimpan pertanyaan besar: mengapa sebuah birokrasi harus selalu tampak sama untuk dianggap tertib?

Di ruangan itu, para pegawai bekerja sebagaimana layaknya aparatur peradilan modern bekerja. Ada layar komputer, sistem digital, dokumen elektronik, jaringan layanan, dan ritme kerja yang tertata. Namun ada satu hal yang segera menarik perhatian: mereka tidak mengenakan seragam yang sama. Ada yang memakai kemeja biru, ada yang berpakaian hijau, ada yang menggunakan busana kerja biasa. Para pegawai perempuan pun demikian. Tidak ada warna tunggal, tidak ada model pakaian yang dipaksakan, tidak ada simbol visual yang menyeragamkan seluruh orang dalam ruangan.

Saya sempat bertanya kepada salah seorang petugas: apakah Anda pegawai pemerintah? Jawabannya tegas: ya, official government. Mereka pegawai tetap. Lalu saya bertanya lagi, apakah tidak ada seragam? Jawabannya sederhana, tetapi menohok: tidak ada. Yang penting berpakaian rapi dan sopan.

Jawaban itu terasa biasa saja, tetapi bagi kita yang hidup dalam kultur birokrasi yang sangat akrab dengan seragam, ia menjadi semacam kejutan kecil. Di banyak kantor pemerintahan kita, pakaian tidak hanya menjadi urusan kerapian. Ia telah menjadi jadwal, kewajiban, simbol kepatuhan, bahkan terkadang menjadi ukuran disiplin. Hari Senin seragam tertentu, Selasa seragam lain, Rabu warna lain, Kamis motif tertentu, Jumat pakaian yang lain lagi. Yang tidak sama dianggap menyimpang. Yang tidak sesuai warna bisa ditegur. Yang berbeda mudah dianggap tidak disiplin.

Dari sinilah pertanyaan kritis itu muncul: sejak kapan birokrasi begitu percaya bahwa keseragaman adalah tanda ketertiban? Mengapa aparatur negara harus terus-menerus dilatih untuk tampak sama? Apakah kerapian tidak cukup? Apakah kesopanan tidak memadai? Apakah profesionalitas harus selalu dibuktikan melalui warna baju yang identik?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita sering membaca pemberitaan tentang anggaran pengadaan seragam di berbagai instansi, kantor, lembaga, bahkan organisasi sosial yang nilainya tidak kecil. Kadang angkanya ratusan juta. Kadang miliaran. Publik lalu bertanya: apakah benar seragam itu kebutuhan substantif, atau sekadar kebiasaan birokrasi yang sudah terlalu lama dianggap wajar?

Kehendak untuk berseragam rupanya tidak hanya hidup di kantor pemerintahan. Ia juga merembes ke berbagai komunitas sosial. Kelompok pengajian, organisasi informal, komunitas profesi, bahkan perkumpulan warga sering merasa perlu memiliki seragam. Seolah-olah kebersamaan belum lengkap tanpa warna pakaian yang sama. Seolah-olah identitas kolektif hanya dapat dilihat jika tubuh-tubuh manusia dibalut dengan model yang serupa.

Padahal, pengalaman singkat di High Court Madhya Pradesh memperlihatkan kemungkinan lain. Sebuah institusi tetap dapat terlihat rapi tanpa harus seragam. Sebuah kantor tetap dapat bekerja serius tanpa memaksakan warna pakaian tunggal. Sebuah birokrasi tetap dapat menjaga martabatnya tanpa mengubah seluruh pegawainya menjadi barisan visual yang serupa. Di titik ini, kita perlu membedakan antara disiplin dan keseragaman. Disiplin adalah soal tanggung jawab, ketepatan waktu, mutu kerja, akuntabilitas, dan kesungguhan melayani publik. Keseragaman hanyalah tampilan luar. Ia bisa membantu dalam konteks tertentu, tetapi tidak boleh menggantikan substansi. Ketika birokrasi terlalu sibuk mengatur tampilan, ia bisa lupa membangun nalar kerja.

Baca Juga  Menjemput Inspirasi Perubahan Jejak Studi Lapangan Kepemimpinan di Kota Malang

Yang lebih mengkhawatirkan, budaya seragam tidak berhenti pada pakaian. Ia dapat merembes menjadi budaya berpikir. Orang yang sejak kecil, sejak sekolah, sejak masuk kantor, terus-menerus dilatih untuk sama, lama-lama bisa takut berbeda. Takut mengambil inisiatif. Takut mengajukan gagasan baru. Takut melakukan terobosan. Takut berbeda pendapat. Takut dianggap tidak sejalan. Di sinilah bahaya keseragaman menjadi lebih dalam. Ia bukan lagi soal baju. Ia menjadi soal mentalitas. Birokrasi yang terlalu mencintai keseragaman mudah berubah menjadi birokrasi yang kaku. Semua orang menunggu contoh. Semua orang mencari pola yang aman. Semua orang berhitung agar tidak tampak berbeda. Akhirnya, yang tumbuh bukan kreativitas, melainkan kepatuhan formal. Bukan keberanian berpikir, melainkan kecemasan administratif.

Padahal tantangan birokrasi modern justru sebaliknya. Dunia berubah cepat. Teknologi digital bergerak melampaui prosedur lama. Kebutuhan publik semakin kompleks. Masalah hukum, sosial, ekonomi, dan administrasi tidak lagi bisa dijawab dengan cara berpikir tunggal. Birokrasi membutuhkan manusia-manusia yang rapi, tetapi juga kritis; tertib, tetapi juga imajinatif; patuh pada hukum, tetapi tidak kehilangan keberanian untuk menemukan jalan baru.

Refleksi ini terasa semakin kuat setelah beberapa hari mengikuti kegiatan di National Judicial Academy India di Bhopal. Selama lima hari berada di lingkungan akademi peradilan tersebut, hampir tidak tampak kultur aparatur yang dibangun melalui keseragaman pakaian. Para pejabat, pengajar, pegawai, dan aparatur pendukung hadir dengan pakaian kerja yang rapi, sopan, tetapi tidak disatukan oleh warna dan model seragam yang sama. Lingkungan akademi tetap berjalan tertib. Forum-forum tetap berlangsung serius. Otoritas kelembagaan tetap terasa. Tetapi semua itu tidak dibangun melalui penyeragaman tampilan.

Pemandangan ini penting dibaca lebih jauh, terutama bagi lembaga-lembaga yang bekerja di wilayah riset, pendidikan, pelatihan, dan pengembangan pemikiran. Lembaga seperti BRIN, badan-badan riset pemerintahan, maupun Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung, pada dasarnya bukan sekadar mesin administratif. Ia adalah ruang produksi gagasan. Ia adalah tempat di mana masalah dipikirkan, kebijakan dirumuskan, pengetahuan dikembangkan, dan masa depan kelembagaan dibayangkan.

Karena itu, kultur yang dibangun di lembaga riset dan pendidikan semestinya tidak terlalu dibebani oleh simbol-simbol birokratis yang berlebihan. Yang harus diperkuat bukanlah kesamaan warna pakaian, melainkan keberanian berpikir. Yang harus diutamakan bukanlah kepatuhan visual, melainkan ketajaman analisis. Yang harus dibesarkan bukanlah anggaran untuk tampilan, melainkan anggaran untuk riset, pengembangan kapasitas, pembacaan data, pembaruan kurikulum, dan penciptaan gagasan-gagasan strategis.

Dalam lembaga riset, seragam yang terlalu dominan bisa menjadi metafora yang kurang sehat. Ia dapat memberi pesan bahwa yang paling penting adalah tampak sama, bukan berpikir tajam. Padahal riset membutuhkan keberanian untuk bertanya, kesediaan untuk berbeda, dan kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut yang tidak lazim. Pendidikan aparatur juga demikian. Ia tidak boleh hanya menghasilkan pegawai yang patuh prosedur, tetapi harus melahirkan aparatur yang mampu membaca zaman, memahami perubahan, dan menawarkan jalan keluar.

Bagi lembaga pendidikan dan riset, kebebasan berpikir membutuhkan ruang psikologis. Aparatur yang setiap hari dibentuk dalam kultur formalistik yang terlalu ketat akan lebih mudah berhati-hati secara berlebihan. Ia bisa enggan berbeda. Ia bisa merasa tidak nyaman mengusulkan gagasan baru. Ia bisa lebih sibuk menebak kehendak atasan daripada menguji kekuatan argumen. Padahal lembaga strategis membutuhkan orang-orang yang tidak hanya taat, tetapi juga bernalar; tidak hanya rapi, tetapi juga reflektif; tidak hanya disiplin, tetapi juga berani membayangkan kemungkinan baru.

Maka, pengalaman 5 (lima) hari di National Judicial Academy India dan High Court Madhya Pradesh memberi pelajaran yang sama: kewibawaan lembaga tidak selalu lahir dari keseragaman tampilan. Kewibawaan lembaga justru lahir dari mutu kerja, kedalaman pengetahuan, integritas aparatur, dan keberanian untuk membangun tradisi berpikir yang terbuka. Di lembaga riset dan pendidikan, seragam terbaik bukanlah pakaian yang sama, melainkan komitmen yang sama terhadap ilmu pengetahuan, pembaruan, dan pelayanan publik yang bermutu.

Baca Juga  Fenomena The Blue Wall of Silence dan Upaya Membangun the Wall of Integrity: Belajar dari Kasus di Mahkamah Agung dan Kementerian Keuangan

Pelajaran lain dari India juga tampak dalam sejarah kepemimpinan High Court Madhya Pradesh. Setelah pembentukan negara bagian Madhya Pradesh, Ketua Pengadilan Tinggi pertamanya adalah Justice M. Hidayatullah, yang mulai menjabat pada 1 November 1956. Daftar resmi mantan Chief Justice High Court Madhya Pradesh mencatat namanya sebagai Ketua Pengadilan pertama, dan riwayatnya kemudian berlanjut hingga menjadi hakim Supreme Court of India serta Chief Justice of India.

Fakta ini menarik bukan hanya karena Hidayatullah adalah nama besar dalam sejarah peradilan India, tetapi juga karena ia memperlihatkan keberanian institusional untuk menempatkan kapasitas di atas identitas sempit. Dalam masyarakat yang mayoritas Hindu, seorang hakim Muslim dapat menjadi pimpinan pertama pengadilan tinggi di wilayah tersebut. Ini bukan sekadar catatan biografis. Ini adalah tanda bahwa sebuah komunitas hukum yang matang tidak semestinya takut pada perbedaan. Dari pakaian pegawai hingga sejarah kepemimpinan pengadilan, ada benang merah yang sama: institusi yang kuat tidak selalu membutuhkan keseragaman visual. Justru institusi yang percaya diri sanggup memberi ruang bagi keberagaman, selama profesionalitas, integritas, dan tanggung jawab tetap dijaga.

Mungkin inilah salah satu pekerjaan rumah birokrasi kita. Kita perlu merasionalkan kembali banyak hal yang selama ini diterima begitu saja. Apakah semua seragam benar-benar diperlukan? Apakah semua jadwal pakaian dinas memiliki dasar kebutuhan yang kuat? Apakah anggaran besar untuk uniform lebih penting daripada penguatan kapasitas pegawai, teknologi layanan, atau peningkatan kualitas kerja?

Tentu tidak semua seragam harus ditolak. Dalam keadaan tertentu, seragam dapat memiliki fungsi identifikasi, keamanan, pelayanan publik, atau kehormatan institusional. Tetapi ketika seragam berubah menjadi obsesi, ketika kesamaan tampilan lebih dihargai daripada kualitas kerja, ketika anggaran pakaian lebih mudah disetujui daripada anggaran peningkatan kapasitas, maka birokrasi perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya yang sedang kita bangun?

Kunjungan singkat ke ruang IT High Court Madhya Pradesh memberi saya satu refleksi sederhana: birokrasi masa depan tidak cukup dibangun dengan manusia-manusia yang berpakaian sama. Ia harus dibangun oleh manusia-manusia yang berani berpikir jernih, bekerja tekun, melayani dengan hormat, dan tidak takut berbeda sepanjang perbedaan itu mengarah pada kemajuan.

Dengan cara pandang itu, anggaran kelembagaan pun perlu dibaca ulang. Setiap rupiah yang dikeluarkan semestinya diarahkan pada penguatan kapasitas substantif: riset yang berkualitas, pelatihan yang relevan, teknologi pembelajaran, forum ilmiah, penerbitan pengetahuan, dan pengembangan kebijakan berbasis data. Bila ada pilihan antara memperkuat gagasan atau memperbanyak simbol, maka lembaga strategis seharusnya memilih gagasan. Sebab masa depan birokrasi tidak diselamatkan oleh pakaian yang seragam, melainkan oleh pikiran yang bekerja.

‘Alā Kulli Hāl pada akhirnya kita perlu bertanay secara jujur, apakah martabat birokrasi tidak terletak pada warna seragamnya?. Martabat birokrasi terletak pada akal sehatnya, integritasnya, keberaniannya memperbaiki diri, dan kemampuannya melayani publik tanpa kehilangan kemanusiaan. Seragam boleh sama, tetapi pikiran tidak boleh diseragamkan. Birokrasi boleh tertib, tetapi tidak boleh kehilangan keberanian untuk berbeda. wallahu a’lam bishawab

Irvan Mawardi
Kontributor
Irvan Mawardi
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil - Penulis Buku, Pemilu dalam Cengkraman Oligarki (2011)

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

birokrasi Budaya Kerja Budaya Organisasi Disiplin Kerja Inovasi Pemerintahan Kreativitas Aparatur Pemikiran Kritis Reformasi Birokrasi Seragam ASN Tata Kelola Pemerintahan
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak

October 30, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

By Wilmar Ibni Rusydan and Daniel H. NapitupuluOctober 31, 20260

Kabar meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Pemalang pada awal Oktober 2026 cukup menyita perhatian…

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Merawat Janji 1928: Pengadilan Agama Jakarta Pusat Gelar Upacara Sumpah Pemuda Ke-98 Bersama BSDK MA RI

October 31, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian
  • Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta
  • Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime
  • Merawat Janji 1928: Pengadilan Agama Jakarta Pusat Gelar Upacara Sumpah Pemuda Ke-98 Bersama BSDK MA RI
  • 90 Warga di Gugat, Hakim PN Dataran Hunipopu Cek Langsung Objek Sengketa

Recent Comments

  1. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  2. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  3. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  4. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  5. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.