Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi

September 16, 2026

Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan

September 16, 2026

Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok

September 16, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Seragam Baju, Seragam Pemikiran?

Seragam Baju, Seragam Pemikiran?

Catatan kecil dari ruang kerja IT High Court Madhya Pradesh: ketika kerapian tidak harus berarti keseragaman, dan birokrasi seharusnya belajar membedakan antara disiplin, substansi, dan sekadar pakaian.
Irvan MawardiIrvan MawardiApril 29, 20268 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Ada pelajaran birokrasi yang kadang tidak datang dari ruang seminar, tidak pula dari dokumen kebijakan yang tebal dan file-file megabyte. Pelajaran itu justru muncul dari pemandangan sederhana: sebuah ruang kerja, beberapa meja komputer, petugas yang sibuk melayani sistem informasi pengadilan, dan pakaian kerja yang tidak seragam. Pagi itu, di salah satu ruangan IT High Court of Madhya Pradesh, Jabalpur, Ketika kami melakukan kunjungan beberapa hari lalu di Jabalpur, saya menangkap sesuatu yang tampak kecil, tetapi menyimpan pertanyaan besar: mengapa sebuah birokrasi harus selalu tampak sama untuk dianggap tertib?

Di ruangan itu, para pegawai bekerja sebagaimana layaknya aparatur peradilan modern bekerja. Ada layar komputer, sistem digital, dokumen elektronik, jaringan layanan, dan ritme kerja yang tertata. Namun ada satu hal yang segera menarik perhatian: mereka tidak mengenakan seragam yang sama. Ada yang memakai kemeja biru, ada yang berpakaian hijau, ada yang menggunakan busana kerja biasa. Para pegawai perempuan pun demikian. Tidak ada warna tunggal, tidak ada model pakaian yang dipaksakan, tidak ada simbol visual yang menyeragamkan seluruh orang dalam ruangan.

Saya sempat bertanya kepada salah seorang petugas: apakah Anda pegawai pemerintah? Jawabannya tegas: ya, official government. Mereka pegawai tetap. Lalu saya bertanya lagi, apakah tidak ada seragam? Jawabannya sederhana, tetapi menohok: tidak ada. Yang penting berpakaian rapi dan sopan.

Jawaban itu terasa biasa saja, tetapi bagi kita yang hidup dalam kultur birokrasi yang sangat akrab dengan seragam, ia menjadi semacam kejutan kecil. Di banyak kantor pemerintahan kita, pakaian tidak hanya menjadi urusan kerapian. Ia telah menjadi jadwal, kewajiban, simbol kepatuhan, bahkan terkadang menjadi ukuran disiplin. Hari Senin seragam tertentu, Selasa seragam lain, Rabu warna lain, Kamis motif tertentu, Jumat pakaian yang lain lagi. Yang tidak sama dianggap menyimpang. Yang tidak sesuai warna bisa ditegur. Yang berbeda mudah dianggap tidak disiplin.

Dari sinilah pertanyaan kritis itu muncul: sejak kapan birokrasi begitu percaya bahwa keseragaman adalah tanda ketertiban? Mengapa aparatur negara harus terus-menerus dilatih untuk tampak sama? Apakah kerapian tidak cukup? Apakah kesopanan tidak memadai? Apakah profesionalitas harus selalu dibuktikan melalui warna baju yang identik?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita sering membaca pemberitaan tentang anggaran pengadaan seragam di berbagai instansi, kantor, lembaga, bahkan organisasi sosial yang nilainya tidak kecil. Kadang angkanya ratusan juta. Kadang miliaran. Publik lalu bertanya: apakah benar seragam itu kebutuhan substantif, atau sekadar kebiasaan birokrasi yang sudah terlalu lama dianggap wajar?

Kehendak untuk berseragam rupanya tidak hanya hidup di kantor pemerintahan. Ia juga merembes ke berbagai komunitas sosial. Kelompok pengajian, organisasi informal, komunitas profesi, bahkan perkumpulan warga sering merasa perlu memiliki seragam. Seolah-olah kebersamaan belum lengkap tanpa warna pakaian yang sama. Seolah-olah identitas kolektif hanya dapat dilihat jika tubuh-tubuh manusia dibalut dengan model yang serupa.

Padahal, pengalaman singkat di High Court Madhya Pradesh memperlihatkan kemungkinan lain. Sebuah institusi tetap dapat terlihat rapi tanpa harus seragam. Sebuah kantor tetap dapat bekerja serius tanpa memaksakan warna pakaian tunggal. Sebuah birokrasi tetap dapat menjaga martabatnya tanpa mengubah seluruh pegawainya menjadi barisan visual yang serupa. Di titik ini, kita perlu membedakan antara disiplin dan keseragaman. Disiplin adalah soal tanggung jawab, ketepatan waktu, mutu kerja, akuntabilitas, dan kesungguhan melayani publik. Keseragaman hanyalah tampilan luar. Ia bisa membantu dalam konteks tertentu, tetapi tidak boleh menggantikan substansi. Ketika birokrasi terlalu sibuk mengatur tampilan, ia bisa lupa membangun nalar kerja.

Baca Juga  Pengadilan Negeri Gresik Perteguh Integritas Melalui Giat Spiritual Rutin, Doakan KPN Menuju Tanah Suci

Yang lebih mengkhawatirkan, budaya seragam tidak berhenti pada pakaian. Ia dapat merembes menjadi budaya berpikir. Orang yang sejak kecil, sejak sekolah, sejak masuk kantor, terus-menerus dilatih untuk sama, lama-lama bisa takut berbeda. Takut mengambil inisiatif. Takut mengajukan gagasan baru. Takut melakukan terobosan. Takut berbeda pendapat. Takut dianggap tidak sejalan. Di sinilah bahaya keseragaman menjadi lebih dalam. Ia bukan lagi soal baju. Ia menjadi soal mentalitas. Birokrasi yang terlalu mencintai keseragaman mudah berubah menjadi birokrasi yang kaku. Semua orang menunggu contoh. Semua orang mencari pola yang aman. Semua orang berhitung agar tidak tampak berbeda. Akhirnya, yang tumbuh bukan kreativitas, melainkan kepatuhan formal. Bukan keberanian berpikir, melainkan kecemasan administratif.

Padahal tantangan birokrasi modern justru sebaliknya. Dunia berubah cepat. Teknologi digital bergerak melampaui prosedur lama. Kebutuhan publik semakin kompleks. Masalah hukum, sosial, ekonomi, dan administrasi tidak lagi bisa dijawab dengan cara berpikir tunggal. Birokrasi membutuhkan manusia-manusia yang rapi, tetapi juga kritis; tertib, tetapi juga imajinatif; patuh pada hukum, tetapi tidak kehilangan keberanian untuk menemukan jalan baru.

Refleksi ini terasa semakin kuat setelah beberapa hari mengikuti kegiatan di National Judicial Academy India di Bhopal. Selama lima hari berada di lingkungan akademi peradilan tersebut, hampir tidak tampak kultur aparatur yang dibangun melalui keseragaman pakaian. Para pejabat, pengajar, pegawai, dan aparatur pendukung hadir dengan pakaian kerja yang rapi, sopan, tetapi tidak disatukan oleh warna dan model seragam yang sama. Lingkungan akademi tetap berjalan tertib. Forum-forum tetap berlangsung serius. Otoritas kelembagaan tetap terasa. Tetapi semua itu tidak dibangun melalui penyeragaman tampilan.

Pemandangan ini penting dibaca lebih jauh, terutama bagi lembaga-lembaga yang bekerja di wilayah riset, pendidikan, pelatihan, dan pengembangan pemikiran. Lembaga seperti BRIN, badan-badan riset pemerintahan, maupun Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung, pada dasarnya bukan sekadar mesin administratif. Ia adalah ruang produksi gagasan. Ia adalah tempat di mana masalah dipikirkan, kebijakan dirumuskan, pengetahuan dikembangkan, dan masa depan kelembagaan dibayangkan.

Karena itu, kultur yang dibangun di lembaga riset dan pendidikan semestinya tidak terlalu dibebani oleh simbol-simbol birokratis yang berlebihan. Yang harus diperkuat bukanlah kesamaan warna pakaian, melainkan keberanian berpikir. Yang harus diutamakan bukanlah kepatuhan visual, melainkan ketajaman analisis. Yang harus dibesarkan bukanlah anggaran untuk tampilan, melainkan anggaran untuk riset, pengembangan kapasitas, pembacaan data, pembaruan kurikulum, dan penciptaan gagasan-gagasan strategis.

Dalam lembaga riset, seragam yang terlalu dominan bisa menjadi metafora yang kurang sehat. Ia dapat memberi pesan bahwa yang paling penting adalah tampak sama, bukan berpikir tajam. Padahal riset membutuhkan keberanian untuk bertanya, kesediaan untuk berbeda, dan kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut yang tidak lazim. Pendidikan aparatur juga demikian. Ia tidak boleh hanya menghasilkan pegawai yang patuh prosedur, tetapi harus melahirkan aparatur yang mampu membaca zaman, memahami perubahan, dan menawarkan jalan keluar.

Bagi lembaga pendidikan dan riset, kebebasan berpikir membutuhkan ruang psikologis. Aparatur yang setiap hari dibentuk dalam kultur formalistik yang terlalu ketat akan lebih mudah berhati-hati secara berlebihan. Ia bisa enggan berbeda. Ia bisa merasa tidak nyaman mengusulkan gagasan baru. Ia bisa lebih sibuk menebak kehendak atasan daripada menguji kekuatan argumen. Padahal lembaga strategis membutuhkan orang-orang yang tidak hanya taat, tetapi juga bernalar; tidak hanya rapi, tetapi juga reflektif; tidak hanya disiplin, tetapi juga berani membayangkan kemungkinan baru.

Maka, pengalaman 5 (lima) hari di National Judicial Academy India dan High Court Madhya Pradesh memberi pelajaran yang sama: kewibawaan lembaga tidak selalu lahir dari keseragaman tampilan. Kewibawaan lembaga justru lahir dari mutu kerja, kedalaman pengetahuan, integritas aparatur, dan keberanian untuk membangun tradisi berpikir yang terbuka. Di lembaga riset dan pendidikan, seragam terbaik bukanlah pakaian yang sama, melainkan komitmen yang sama terhadap ilmu pengetahuan, pembaruan, dan pelayanan publik yang bermutu.

Baca Juga  PTA Kepri Luncurkan Buku Saku “Pembangunan Pengadilan Berpredikat Informatif”, Karya Agen Perubahan Tahun 2026

Pelajaran lain dari India juga tampak dalam sejarah kepemimpinan High Court Madhya Pradesh. Setelah pembentukan negara bagian Madhya Pradesh, Ketua Pengadilan Tinggi pertamanya adalah Justice M. Hidayatullah, yang mulai menjabat pada 1 November 1956. Daftar resmi mantan Chief Justice High Court Madhya Pradesh mencatat namanya sebagai Ketua Pengadilan pertama, dan riwayatnya kemudian berlanjut hingga menjadi hakim Supreme Court of India serta Chief Justice of India.

Fakta ini menarik bukan hanya karena Hidayatullah adalah nama besar dalam sejarah peradilan India, tetapi juga karena ia memperlihatkan keberanian institusional untuk menempatkan kapasitas di atas identitas sempit. Dalam masyarakat yang mayoritas Hindu, seorang hakim Muslim dapat menjadi pimpinan pertama pengadilan tinggi di wilayah tersebut. Ini bukan sekadar catatan biografis. Ini adalah tanda bahwa sebuah komunitas hukum yang matang tidak semestinya takut pada perbedaan. Dari pakaian pegawai hingga sejarah kepemimpinan pengadilan, ada benang merah yang sama: institusi yang kuat tidak selalu membutuhkan keseragaman visual. Justru institusi yang percaya diri sanggup memberi ruang bagi keberagaman, selama profesionalitas, integritas, dan tanggung jawab tetap dijaga.

Mungkin inilah salah satu pekerjaan rumah birokrasi kita. Kita perlu merasionalkan kembali banyak hal yang selama ini diterima begitu saja. Apakah semua seragam benar-benar diperlukan? Apakah semua jadwal pakaian dinas memiliki dasar kebutuhan yang kuat? Apakah anggaran besar untuk uniform lebih penting daripada penguatan kapasitas pegawai, teknologi layanan, atau peningkatan kualitas kerja?

Tentu tidak semua seragam harus ditolak. Dalam keadaan tertentu, seragam dapat memiliki fungsi identifikasi, keamanan, pelayanan publik, atau kehormatan institusional. Tetapi ketika seragam berubah menjadi obsesi, ketika kesamaan tampilan lebih dihargai daripada kualitas kerja, ketika anggaran pakaian lebih mudah disetujui daripada anggaran peningkatan kapasitas, maka birokrasi perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya yang sedang kita bangun?

Kunjungan singkat ke ruang IT High Court Madhya Pradesh memberi saya satu refleksi sederhana: birokrasi masa depan tidak cukup dibangun dengan manusia-manusia yang berpakaian sama. Ia harus dibangun oleh manusia-manusia yang berani berpikir jernih, bekerja tekun, melayani dengan hormat, dan tidak takut berbeda sepanjang perbedaan itu mengarah pada kemajuan.

Dengan cara pandang itu, anggaran kelembagaan pun perlu dibaca ulang. Setiap rupiah yang dikeluarkan semestinya diarahkan pada penguatan kapasitas substantif: riset yang berkualitas, pelatihan yang relevan, teknologi pembelajaran, forum ilmiah, penerbitan pengetahuan, dan pengembangan kebijakan berbasis data. Bila ada pilihan antara memperkuat gagasan atau memperbanyak simbol, maka lembaga strategis seharusnya memilih gagasan. Sebab masa depan birokrasi tidak diselamatkan oleh pakaian yang seragam, melainkan oleh pikiran yang bekerja.

‘Alā Kulli Hāl pada akhirnya kita perlu bertanay secara jujur, apakah martabat birokrasi tidak terletak pada warna seragamnya?. Martabat birokrasi terletak pada akal sehatnya, integritasnya, keberaniannya memperbaiki diri, dan kemampuannya melayani publik tanpa kehilangan kemanusiaan. Seragam boleh sama, tetapi pikiran tidak boleh diseragamkan. Birokrasi boleh tertib, tetapi tidak boleh kehilangan keberanian untuk berbeda. wallahu a’lam bishawab

Irvan Mawardi
Kontributor
Irvan Mawardi
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

birokrasi Budaya Kerja Budaya Organisasi Disiplin Kerja Inovasi Pemerintahan Kreativitas Aparatur Pemikiran Kritis Reformasi Birokrasi Seragam ASN Tata Kelola Pemerintahan
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi

September 16, 2026

Meredefinisi Peran Ahli Hukum dalam Persidangan Perkara Pidana

September 16, 2026

Jadi Hakim Tuh Harus Pinter!

September 14, 2026
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 20261,401 Views

Titah Leviathan

September 11, 2026

Di Balik Tradisi ‘Mohon Izin’: Meneguhkan Etika dan Jati Diri Prajurit pada HUT ke-81 TNI AL

September 10, 2026
Don't Miss

Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi

By Sri Nurmina Sari, S.HSeptember 16, 20260

PENDAHULUAN Salah satu adagium hukum yang pertama kali diperkenalkan pada telinga penulis saat menjadi mahasiswa…

Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan

September 16, 2026

Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok

September 16, 2026

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi
  • Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan
  • Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok
  • Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe
  • Meredefinisi Peran Ahli Hukum dalam Persidangan Perkara Pidana

Recent Comments

  1. Masjudul Haq on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  2. Ahmad Satiri on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  3. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  4. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  5. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Sri Nurmina Sari, S.H
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.