Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Dari Nalanda ke Bhopal: Menjemput Marwah Intelektual Sriwijaya dalam Diplomasi Peradilan Modern

23 April 2026 • 18:45 WIB

Seberapa Cerdaskah Anda?

23 April 2026 • 15:19 WIB

Hakim Militer di Persimpangan: Menegakkan Keadilan dalam Paradigma KUHAP Baru

23 April 2026 • 11:44 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Virus Inkompetensi Lebih “Mematikan” daripada Kejahatan?
Features

Virus Inkompetensi Lebih “Mematikan” daripada Kejahatan?

Khoiruddin HasibuanKhoiruddin Hasibuan20 December 2025 • 13:20 WIB8 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Bahaya inkompetensi

Inkompetensi sering hadir sebagai kesunyian, yang tidak dianggap ancaman. Ia tidak mendobrak pintu seperti kejahatan, tidak meninggalkan jejak darah, dan tidak menimbulkan rasa takut seperti kriminalitas. Namun dalam kajian risiko, manajemen bencana, dan teori organisasi, para ahli sepakat bahwa kegagalan terbesar, justru lahir dari kesalahan manusia dan disfungsi organisasi yang tampak sepele. Misalnya, sebuah memo yang terlambat diterima, sebuah prosedur yang tidak dipahami anggota organisasi, sebuah keputusan yang dibuat tanpa data, atau sebuah struktur yang tidak siap saat diuji oleh keadaan.

Di Indonesia, terutama di wilayah rawan bencana seperti Sumatera, kenyataan akademik itu terasa amat dekat. Bila kita meraba luka-luka masyarakat yang tertimpa bencana, terasa betul bahwa kegagalan bukan selalu dilahirkan oleh keburukan moral, melainkan oleh ketidaksanggupan untuk bertindak tepat pada waktunya.

Dalam literatur keselamatan kerja dan ilmu penerbangan, James Reason memperkenalkan teori Swiss Cheese Model, yang menggambarkan bagaimana kecelakaan terjadi, bukan karena satu kesalahan tunggal, tetapi karena adanya serangkaian lubang kecil dalam lapisan pertahanan sistem, yang seharusnya mencegah kecelakaan. Setiap lubang dapat berupa human error, kegagalan komunikasi, lemahnya kepemimpinan, atau sistem yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketika lubang-lubang itu menjadi sejajar secara bersamaan, kecelakaan ataupun bencana menjadi tentu tidak dapat terhindarkan.

Jika model Reason diterapkan secara metaforis, pada kasus bencana alam yang terjadi di pulau Sumatera, kita dapat melihat bagaimana curah hujan ekstrem, bukanlah peluru yang menembus pertahanan, melainkan hanya menjadi pemicu terakhir bencana.

Sejatinya, lubang-lubang itu sudah terbentuk lama. Tata ruang yang dipaksakan, hutan yang ditebang tanpa kalkulasi risiko tanah, drainase yang tidak terawat, sistem peringatan dini yang tidak diperbaharui, dan koordinasi lintas-instansi yang berjalan setengah hati, membuat lubang-lubang sistem pertahanan kian menganga, yang akhirnya membentuk kombinasi kelemahan dalam suatu sistem pertahanan pada tanah, sehingga banjir dan longsor pun tidak segan menyapa.

Banjir di Aceh atau longsor di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, sering dipahami sebagai fenomena alam, tetapi dalam analisis risiko bencana modern, istilah yang lebih tepat adalah natural hazard turning into disaster. Alam hanya menghadirkan bahaya, manusialah yang mengubahnya menjadi petaka.

Ironi tersebut tentunya sangat menyesakkan hati siapa saja. Bukan karena warga di hilir tidak tahu bahaya, tetapi karena sistem negara yang seharusnya melindungi mereka, akhirnya gagal menjalankan apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya. Organizational failure selalu tampak birokratis di atas kertas, tetapi di lapangan ia berubah menjadi tragedi kemanusiaan.

Inkompetensi di Ranah Peradilan

Dalam dunia hukum, kegagalan serupa juga dapat ditemukan. Hakim, dalam pandangan teoritis dan filosofis, adalah organ moral negara. Putusan mereka tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga dapat menjaga keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum. Namun, teori judicial error dan bounded rationality mengajarkan, bahwa manusia yang memutus perkara, selalu terikat oleh pengetahuan yang terbatas, bias kognitif, kelelahan, tekanan administratif, serta struktur organisasi pengadilan itu sendiri.

Human error dalam proses yudisial bukan sekadar salah tulis atau salah membaca berkas, tetapi kesalahan memahami konteks sosial, keliru menafsirkan alat bukti, seperti keterangan saksi maupun ahli, gagal melihat kepentingan terbaik bagi anak, atau terlalu percaya pada dokumen yang pada dasarnya lemah. Kesalahan hakim bukanlah kejahatan. Ia bahkan sering lahir dari keyakinan, bahwa dirinya telah bertindak benar.

Baca Juga  MEWARISKAN BUMI YANG SAKIT: UTANG KEADILAN EKOLOGIS PADA GENERASI MENDATANG

Tetapi seperti halnya bencana alam, putusan yang keliru dapat melahirkan bencana sosial. Satu ketukan palu bisa merenggut hak seorang ibu, menghancurkan masa depan seorang anak, atau memindahkan hak tanah suatu komunitas kepada pihak yang lebih kuat.

Dari semua itu, yang paling menyayat hati adalah kesalahan tersebut sering kali tidak tercatat sebagai sebuah bencana sosial. Ia hanya menjadi angka koreksi di pengadilan tinggi, atau sebuah “judicial slip”. Namun bagi masyarakat awam, kesalahan tersebut dapat menjadi bencana yang mengubah jalan hidupnya.

Inkompetensi Pimpinan

Kepemimpinan dalam teori organisasi pun menghadapi paradoks yang sama. Banyak pemimpin jatuh bukan karena mereka jahat, tetapi karena mereka tidak mampu memahami kompleksitas tugas yang diemban.

Pemimpin yang tidak memiliki niat jahat, namun selalu membuat kebijakan dengan penuh keyakinan tanpa dasar, dapat menciptakan suatu kejahatan yang tidak kelihatan di permukaan, namun dapat dirasakan dalam relung hati setiap anggota organisasi. Biasanya, pemimpin seperti itu, kelihatan soleh dari penampilan dan tutur katanya. Ibarat sopir yang tidak bisa membaca peta, tetapi tetap memaksa diri untuk mengemudi di jalan pegunungan yang tidak pernah ia lewati, dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi, justru akan mempercepat terjadinya kecelakaan.

Tidak ada pemimpin yang ingin dihujat. Hampir semua pemimpin merasa telah mengambil keputusan dengan tepat, dan meyakini bahwa itulah yang terbaik. Tetapi pada kenyataannya, seringkali mengatakan hal lain. Kecelakaan maupun bencana, tidak selalu lahir dari keburukan, tetapi bisa tercipta dari sebuah keyakinan seorang pemimpin, yang menganggap diri memiliki kompetensi, padahal sejatinya ia inkompeten.

Kejahatan membunuh secara kasat mata. Inkompetensi membunuh secara diam-diam, melalui sistem, kebijakan, prosedur, maupun keputusan sehari-hari. Itulah ironinya, orang jahat ada sedikit, tetapi orang yang keliru mengambil keputusan, ada di mana-mana.

Mengapa Inkompetensi Lebih “Mematikan” daripada Kejahatan?

Kejahatan biasanya disadari dan ditindak. Ada polisi, jaksa, pengadilan, dan, bila perlu, penjara. Inkompetensi?

Ia tidak membuat orang dicurigai, karena sering terlihat sopan, baik, dan tulus. Ia tidak dilaporkan polisi, tidak masuk berita, tidak menjadi kasus hukum, karena ia seringkali dianggap hanya melakukan “kesalahan biasa.”

Dalam high reliability organization theory, organisasi yang mampu menghindari bencana, justru dipimpin oleh mereka yang memiliki preoccupation with failure, yang selalu waspada, selalu mendengar ahli, selalu menguji ulang asumsi. Namun, dalam realitas pemerintahan dan birokrasi, pemimpin yang paling percaya diri, sering kali menjadi yang paling tidak siap menghadapi situasi krisis.

Keputusan sering kali diambil dalam ruang rapat yang jauh dari medan lapangan. Suara middle manager dan lower manajer atau anggota organisasi yang paling rendah posisinya, seringkali tidak didengar. Data-data yang dipaparkan, selalu diabaikan karena tidak sesuai dengan narasi politik. Kritik dan saran yang membangun sering dianggap ancaman. Dan hal-hal baik lainnya, yang seharusnya dapat memperbaiki sistem seringkali diacuhkan begitu saja.

Kesalahan kebijakan bukan sesuatu yang dapat dilihat dalam hitungan detik. Ia bekerja perlahan, merambat melalui sistem, dan baru terasa setelah bertahun-tahun. Jalan yang retak bukan hanya akibat hujan, tetapi akibat tender yang diberikan kepada pihak yang tidak kompeten. Daerah yang tenggelam bukan hanya karena badai, tetapi karena anggaran mitigasi, dialihkan pada proyek yang lebih menarik secara politis. Masyarakat miskin makin terpinggirkan bukan karena tak berusaha, tetapi karena kebijakan dibuat dari ruang yang terlalu jauh dari realitas mereka. Pada titik inilah teori organizational failure menjadi begitu manusiawi, bahkan menyakitkan. Ia menunjukkan bahwa bencana terbesar, sering berakar pada keputusan-keputusan kecil, bukan pada niat jahat.

Baca Juga  Outbound Seru Warnai Pelatihan Sertifikasi Hakim Lingkungan Hidup Angkatan XXII di Leuwi Areuy Sentul

Ketika kita menggabungkan semua teori itu —human error, bounded rationality, swiss cheese model, organizational failure— kita akan menemukan satu fakta yang sulit ditolak, yaitu banyak tragedi di negeri ini bukan disebabkan oleh keburukan moral, tetapi oleh keterbatasan kapasitas.

Inkompetensi adalah bahaya yang tidak pernah memukul meja, tidak pernah memaksa orang menunduk karena takut, tetapi ia menghancurkan dari balik layar. Ia dapat menjadikan “singa-singa mengaum” menjadi “mengembik.” Ia juga dapat membuat manusia menjadi mayat-mayat hidup.

Begitu pula ia dapat membunuh massal jiwa dan nyawa siapa saja, melalui mekanisme sistem yang dibuat tanpa dasar, tanpa mendengar, tanpa mengkaji, tanpa melihatkan anggota organisasi, yang kesemuanya seharusnya menjadi perisai dan penyelamat banyak nyawa.

Pada akhirnya, tulisan ini tidak sedang menghakimi siapa pun. Ini bukan tuduhan, tetapi pengingat bahwa kita semua pernah salah. Bahwa kita semua pernah mengira tahu sesuatu, padahal tidak. Bahwa kita semua pernah mengambil keputusan yang salah tanpa niat buruk. Namun bedanya ada pada skala dampak yang dihasilkan dari setiap keputusan yang dikeluarkan.

Seorang warga biasa yang salah mengambil keputusan, mungkin hanya merugikan dirinya sendiri. Tetapi, seorang pejabat, hakim, atau pemimpin, ketika salah mengambil keputusan, bisa merugikan jutaan orang.

Karena itu, kompetensi bukan sekadar keahlian teknis, tetapi kewajiban moral.  Pulau Sumatera membutuhkan lebih banyak orang kompeten untuk mengelola risiko bencananya.

Ruang-ruang sidang membutuhkan hakim yang lebih tajam membaca fakta, dan lebih rendah hati mempelajari hal yang belum dipahami. Pemerintahan membutuhkan pemimpin yang berani berkata “saya perlu mendengar suara dari anggota organisasi saya.” Semua ini bukan soal menghindari kejahatan. Ini soal menghindari tragedi yang lahir dari hal yang tak terlihat: inkompetensi.

Mari mengakui, bahwa kita inkompeten di suatu bidang pekerjaan atau jataban yang ditawarkan, yang memang tidak kita kuasai ilmunya. Kita mengakui bahwa kita rapuh, dan karena itu sistem harus kuat. Bahwa kita terbatas, dan karena itu organisasi harus belajar. Bahwa kita mudah keliru, dan karena itu keputusan penting harus ditopang dengan ilmu pengetahuan, bukan intuisi semata atau berdasarkan “katanya”. Pengakuan terhadap inkompetensi akan menyelamatkan jutaan nyawa.

Ketika Sumatera kembali diterjang banjir atau gempa, ketika ruang sidang kembali menimbang nasib manusia, ketika pemimpin kembali menyusun kebijakan yang menentukan arah hidup masyarakat dan anggota organisasinya, maka kita hanya bisa berharap, bahwa setiap orang di tempat-tempat itu mengingat satu hal: kesalahan kecil dalam sistem besar dapat melahirkan tragedi yang tidak kecil.

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

aceh bencana hutan lingkungan
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Dari Penyambutan KBRI hingga Pelatihan NJA: Langkah Strategis Penguatan Peradilan Indonesia

23 April 2026 • 11:28 WIB

BSDK Perbarui Kurikulum 2026: Integrasikan Isu Hukum Global dan Terobosan KUHP Baru

22 April 2026 • 10:13 WIB

Menjawab Tantangan Hukum Lingkungan: BSDK Pertajam Kurikulum Sertifikasi Hakim Tahun 2026

21 April 2026 • 17:20 WIB
Demo
Top Posts

Dari Penyambutan KBRI hingga Pelatihan NJA: Langkah Strategis Penguatan Peradilan Indonesia

23 April 2026 • 11:28 WIB

Etika Bermedia Sosial bagi Hakim: Antara Ekspresi Diri dan Marwah Peradilan

13 March 2026 • 20:03 WIB

Hijrah Konstitusi, dari Serambi ke Serambi: Catatan Kritis Beban Kemanusiaan Peradilan

5 March 2026 • 18:28 WIB

Sembilan Sekawan dalam Pencarian Batu Bertuah

27 February 2026 • 15:17 WIB
Don't Miss

Dari Nalanda ke Bhopal: Menjemput Marwah Intelektual Sriwijaya dalam Diplomasi Peradilan Modern

By Ari Gunawan23 April 2026 • 18:45 WIB0

BHOPAL – Riuh rendah mesin pesawat yang membawa 30 delegasi dari Mahkamah Agung yang terdiri…

Seberapa Cerdaskah Anda?

23 April 2026 • 15:19 WIB

Hakim Militer di Persimpangan: Menegakkan Keadilan dalam Paradigma KUHAP Baru

23 April 2026 • 11:44 WIB

Dari Penyambutan KBRI hingga Pelatihan NJA: Langkah Strategis Penguatan Peradilan Indonesia

23 April 2026 • 11:28 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Dari Nalanda ke Bhopal: Menjemput Marwah Intelektual Sriwijaya dalam Diplomasi Peradilan Modern
  • Seberapa Cerdaskah Anda?
  • Hakim Militer di Persimpangan: Menegakkan Keadilan dalam Paradigma KUHAP Baru
  • Dari Penyambutan KBRI hingga Pelatihan NJA: Langkah Strategis Penguatan Peradilan Indonesia
  • Pusdiklat Teknis Peradilan Matangkan Finalisasi Kurikulum Sertifikasi Lingkungan Hidup 2026 Melalui Diskusi Kelompok

Recent Comments

  1. sildenafil daily dosage on Mempererat Integritas dan Spiritualitas: Rangkaian Giat Ramadan 1447 H di Pengadilan Negeri Kotabaru
  2. viagra pill meaning on Menapak Batas di Suprau: Descente PTUN Jayapura di Pesisir Kota Sorong
  3. cialis dosage recommendations on “Dari Ruang Diklat Menuju Putusan Berkualitas: Transformasi Hakim Militer dan TUN di Era KUHAP Nasional”
  4. orlistat constant diarrhea on Rekonstruksi Tanggung Jawab Perdata Melalui PERMA 4/2025: Gugatan OJK Terhadap Pihak Non – Pelaku Jasa Keuangan (PUJK) Beriktikad Tidak Baik
  5. voriconazole fda on Fenomena The Blue Wall of Silence dan Upaya Membangun the Wall of Integrity: Belajar dari Kasus di Mahkamah Agung dan Kementerian Keuangan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.