Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi

September 16, 2026

Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan

September 16, 2026

Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok

September 16, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Virus Inkompetensi Lebih “Mematikan” daripada Kejahatan?

Virus Inkompetensi Lebih “Mematikan” daripada Kejahatan?

Khoiruddin HasibuanKhoiruddin HasibuanDecember 20, 20258 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Bahaya inkompetensi

Inkompetensi sering hadir sebagai kesunyian, yang tidak dianggap ancaman. Ia tidak mendobrak pintu seperti kejahatan, tidak meninggalkan jejak darah, dan tidak menimbulkan rasa takut seperti kriminalitas. Namun dalam kajian risiko, manajemen bencana, dan teori organisasi, para ahli sepakat bahwa kegagalan terbesar, justru lahir dari kesalahan manusia dan disfungsi organisasi yang tampak sepele. Misalnya, sebuah memo yang terlambat diterima, sebuah prosedur yang tidak dipahami anggota organisasi, sebuah keputusan yang dibuat tanpa data, atau sebuah struktur yang tidak siap saat diuji oleh keadaan.

Di Indonesia, terutama di wilayah rawan bencana seperti Sumatera, kenyataan akademik itu terasa amat dekat. Bila kita meraba luka-luka masyarakat yang tertimpa bencana, terasa betul bahwa kegagalan bukan selalu dilahirkan oleh keburukan moral, melainkan oleh ketidaksanggupan untuk bertindak tepat pada waktunya.

Dalam literatur keselamatan kerja dan ilmu penerbangan, James Reason memperkenalkan teori Swiss Cheese Model, yang menggambarkan bagaimana kecelakaan terjadi, bukan karena satu kesalahan tunggal, tetapi karena adanya serangkaian lubang kecil dalam lapisan pertahanan sistem, yang seharusnya mencegah kecelakaan. Setiap lubang dapat berupa human error, kegagalan komunikasi, lemahnya kepemimpinan, atau sistem yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketika lubang-lubang itu menjadi sejajar secara bersamaan, kecelakaan ataupun bencana menjadi tentu tidak dapat terhindarkan.

Jika model Reason diterapkan secara metaforis, pada kasus bencana alam yang terjadi di pulau Sumatera, kita dapat melihat bagaimana curah hujan ekstrem, bukanlah peluru yang menembus pertahanan, melainkan hanya menjadi pemicu terakhir bencana.

Sejatinya, lubang-lubang itu sudah terbentuk lama. Tata ruang yang dipaksakan, hutan yang ditebang tanpa kalkulasi risiko tanah, drainase yang tidak terawat, sistem peringatan dini yang tidak diperbaharui, dan koordinasi lintas-instansi yang berjalan setengah hati, membuat lubang-lubang sistem pertahanan kian menganga, yang akhirnya membentuk kombinasi kelemahan dalam suatu sistem pertahanan pada tanah, sehingga banjir dan longsor pun tidak segan menyapa.

Banjir di Aceh atau longsor di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, sering dipahami sebagai fenomena alam, tetapi dalam analisis risiko bencana modern, istilah yang lebih tepat adalah natural hazard turning into disaster. Alam hanya menghadirkan bahaya, manusialah yang mengubahnya menjadi petaka.

Ironi tersebut tentunya sangat menyesakkan hati siapa saja. Bukan karena warga di hilir tidak tahu bahaya, tetapi karena sistem negara yang seharusnya melindungi mereka, akhirnya gagal menjalankan apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya. Organizational failure selalu tampak birokratis di atas kertas, tetapi di lapangan ia berubah menjadi tragedi kemanusiaan.

Inkompetensi di Ranah Peradilan

Dalam dunia hukum, kegagalan serupa juga dapat ditemukan. Hakim, dalam pandangan teoritis dan filosofis, adalah organ moral negara. Putusan mereka tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga dapat menjaga keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum. Namun, teori judicial error dan bounded rationality mengajarkan, bahwa manusia yang memutus perkara, selalu terikat oleh pengetahuan yang terbatas, bias kognitif, kelelahan, tekanan administratif, serta struktur organisasi pengadilan itu sendiri.

Human error dalam proses yudisial bukan sekadar salah tulis atau salah membaca berkas, tetapi kesalahan memahami konteks sosial, keliru menafsirkan alat bukti, seperti keterangan saksi maupun ahli, gagal melihat kepentingan terbaik bagi anak, atau terlalu percaya pada dokumen yang pada dasarnya lemah. Kesalahan hakim bukanlah kejahatan. Ia bahkan sering lahir dari keyakinan, bahwa dirinya telah bertindak benar.

Baca Juga  Deforestasi dan Bencana Ekologis di Sumatera: Tuntutan Penegakan Hukum Lingkungan yang Tegas dan Nyata

Tetapi seperti halnya bencana alam, putusan yang keliru dapat melahirkan bencana sosial. Satu ketukan palu bisa merenggut hak seorang ibu, menghancurkan masa depan seorang anak, atau memindahkan hak tanah suatu komunitas kepada pihak yang lebih kuat.

Dari semua itu, yang paling menyayat hati adalah kesalahan tersebut sering kali tidak tercatat sebagai sebuah bencana sosial. Ia hanya menjadi angka koreksi di pengadilan tinggi, atau sebuah “judicial slip”. Namun bagi masyarakat awam, kesalahan tersebut dapat menjadi bencana yang mengubah jalan hidupnya.

Inkompetensi Pimpinan

Kepemimpinan dalam teori organisasi pun menghadapi paradoks yang sama. Banyak pemimpin jatuh bukan karena mereka jahat, tetapi karena mereka tidak mampu memahami kompleksitas tugas yang diemban.

Pemimpin yang tidak memiliki niat jahat, namun selalu membuat kebijakan dengan penuh keyakinan tanpa dasar, dapat menciptakan suatu kejahatan yang tidak kelihatan di permukaan, namun dapat dirasakan dalam relung hati setiap anggota organisasi. Biasanya, pemimpin seperti itu, kelihatan soleh dari penampilan dan tutur katanya. Ibarat sopir yang tidak bisa membaca peta, tetapi tetap memaksa diri untuk mengemudi di jalan pegunungan yang tidak pernah ia lewati, dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi, justru akan mempercepat terjadinya kecelakaan.

Tidak ada pemimpin yang ingin dihujat. Hampir semua pemimpin merasa telah mengambil keputusan dengan tepat, dan meyakini bahwa itulah yang terbaik. Tetapi pada kenyataannya, seringkali mengatakan hal lain. Kecelakaan maupun bencana, tidak selalu lahir dari keburukan, tetapi bisa tercipta dari sebuah keyakinan seorang pemimpin, yang menganggap diri memiliki kompetensi, padahal sejatinya ia inkompeten.

Kejahatan membunuh secara kasat mata. Inkompetensi membunuh secara diam-diam, melalui sistem, kebijakan, prosedur, maupun keputusan sehari-hari. Itulah ironinya, orang jahat ada sedikit, tetapi orang yang keliru mengambil keputusan, ada di mana-mana.

Mengapa Inkompetensi Lebih “Mematikan” daripada Kejahatan?

Kejahatan biasanya disadari dan ditindak. Ada polisi, jaksa, pengadilan, dan, bila perlu, penjara. Inkompetensi?

Ia tidak membuat orang dicurigai, karena sering terlihat sopan, baik, dan tulus. Ia tidak dilaporkan polisi, tidak masuk berita, tidak menjadi kasus hukum, karena ia seringkali dianggap hanya melakukan “kesalahan biasa.”

Dalam high reliability organization theory, organisasi yang mampu menghindari bencana, justru dipimpin oleh mereka yang memiliki preoccupation with failure, yang selalu waspada, selalu mendengar ahli, selalu menguji ulang asumsi. Namun, dalam realitas pemerintahan dan birokrasi, pemimpin yang paling percaya diri, sering kali menjadi yang paling tidak siap menghadapi situasi krisis.

Keputusan sering kali diambil dalam ruang rapat yang jauh dari medan lapangan. Suara middle manager dan lower manajer atau anggota organisasi yang paling rendah posisinya, seringkali tidak didengar. Data-data yang dipaparkan, selalu diabaikan karena tidak sesuai dengan narasi politik. Kritik dan saran yang membangun sering dianggap ancaman. Dan hal-hal baik lainnya, yang seharusnya dapat memperbaiki sistem seringkali diacuhkan begitu saja.

Kesalahan kebijakan bukan sesuatu yang dapat dilihat dalam hitungan detik. Ia bekerja perlahan, merambat melalui sistem, dan baru terasa setelah bertahun-tahun. Jalan yang retak bukan hanya akibat hujan, tetapi akibat tender yang diberikan kepada pihak yang tidak kompeten. Daerah yang tenggelam bukan hanya karena badai, tetapi karena anggaran mitigasi, dialihkan pada proyek yang lebih menarik secara politis. Masyarakat miskin makin terpinggirkan bukan karena tak berusaha, tetapi karena kebijakan dibuat dari ruang yang terlalu jauh dari realitas mereka. Pada titik inilah teori organizational failure menjadi begitu manusiawi, bahkan menyakitkan. Ia menunjukkan bahwa bencana terbesar, sering berakar pada keputusan-keputusan kecil, bukan pada niat jahat.

Baca Juga  Menjalin Jejak Kolaborasi Hijau: BSDK dan Departemen Kehakiman AS Bahas Kerja Sama Pelatihan Penegakan Hukum Satwa Liar

Ketika kita menggabungkan semua teori itu —human error, bounded rationality, swiss cheese model, organizational failure— kita akan menemukan satu fakta yang sulit ditolak, yaitu banyak tragedi di negeri ini bukan disebabkan oleh keburukan moral, tetapi oleh keterbatasan kapasitas.

Inkompetensi adalah bahaya yang tidak pernah memukul meja, tidak pernah memaksa orang menunduk karena takut, tetapi ia menghancurkan dari balik layar. Ia dapat menjadikan “singa-singa mengaum” menjadi “mengembik.” Ia juga dapat membuat manusia menjadi mayat-mayat hidup.

Begitu pula ia dapat membunuh massal jiwa dan nyawa siapa saja, melalui mekanisme sistem yang dibuat tanpa dasar, tanpa mendengar, tanpa mengkaji, tanpa melihatkan anggota organisasi, yang kesemuanya seharusnya menjadi perisai dan penyelamat banyak nyawa.

Pada akhirnya, tulisan ini tidak sedang menghakimi siapa pun. Ini bukan tuduhan, tetapi pengingat bahwa kita semua pernah salah. Bahwa kita semua pernah mengira tahu sesuatu, padahal tidak. Bahwa kita semua pernah mengambil keputusan yang salah tanpa niat buruk. Namun bedanya ada pada skala dampak yang dihasilkan dari setiap keputusan yang dikeluarkan.

Seorang warga biasa yang salah mengambil keputusan, mungkin hanya merugikan dirinya sendiri. Tetapi, seorang pejabat, hakim, atau pemimpin, ketika salah mengambil keputusan, bisa merugikan jutaan orang.

Karena itu, kompetensi bukan sekadar keahlian teknis, tetapi kewajiban moral.  Pulau Sumatera membutuhkan lebih banyak orang kompeten untuk mengelola risiko bencananya.

Ruang-ruang sidang membutuhkan hakim yang lebih tajam membaca fakta, dan lebih rendah hati mempelajari hal yang belum dipahami. Pemerintahan membutuhkan pemimpin yang berani berkata “saya perlu mendengar suara dari anggota organisasi saya.” Semua ini bukan soal menghindari kejahatan. Ini soal menghindari tragedi yang lahir dari hal yang tak terlihat: inkompetensi.

Mari mengakui, bahwa kita inkompeten di suatu bidang pekerjaan atau jataban yang ditawarkan, yang memang tidak kita kuasai ilmunya. Kita mengakui bahwa kita rapuh, dan karena itu sistem harus kuat. Bahwa kita terbatas, dan karena itu organisasi harus belajar. Bahwa kita mudah keliru, dan karena itu keputusan penting harus ditopang dengan ilmu pengetahuan, bukan intuisi semata atau berdasarkan “katanya”. Pengakuan terhadap inkompetensi akan menyelamatkan jutaan nyawa.

Ketika Sumatera kembali diterjang banjir atau gempa, ketika ruang sidang kembali menimbang nasib manusia, ketika pemimpin kembali menyusun kebijakan yang menentukan arah hidup masyarakat dan anggota organisasinya, maka kita hanya bisa berharap, bahwa setiap orang di tempat-tempat itu mengingat satu hal: kesalahan kecil dalam sistem besar dapat melahirkan tragedi yang tidak kecil.

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

aceh bencana hutan lingkungan
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 2026

Titah Leviathan

September 11, 2026
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 20261,403 Views

Titah Leviathan

September 11, 2026

Di Balik Tradisi ‘Mohon Izin’: Meneguhkan Etika dan Jati Diri Prajurit pada HUT ke-81 TNI AL

September 10, 2026
Don't Miss

Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi

By Sri Nurmina Sari, S.HSeptember 16, 20260

PENDAHULUAN Salah satu adagium hukum yang pertama kali diperkenalkan pada telinga penulis saat menjadi mahasiswa…

Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan

September 16, 2026

Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok

September 16, 2026

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Evolusi Hukum Keluarga Indonesia: Refleksi Atas Putusan Mahkamah Konstitusi
  • Menelusuri Jejak Uang: Dari Data Intelijen Keuangan hingga Pembuktian di Persidangan
  • Memutus Aliran Dana Kejahatan: 25 Hakim Perdalam Penanganan Perkara TPPU di Depok
  • Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe
  • Meredefinisi Peran Ahli Hukum dalam Persidangan Perkara Pidana

Recent Comments

  1. Masjudul Haq on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  2. Ahmad Satiri on Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan
  3. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  4. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  5. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Sri Nurmina Sari, S.H
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.