Pagi itu cerah di Bhopal.
Shankar dan Kumar membuka pintu kamar lebar-lebar. Udara pagi masuk perlahan—hangat, sedikit pengap, namun cukup untuk menyadarkan mereka: ini hari terakhir.
Perjalanan panjang sudah menunggu—menuju Delhi, lalu transit ke Singapura, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.
Di meja kecil, bukan sarapan yang tersaji, melainkan bekal yang mereka bawa dari tanah air.
Pop Mie x Indomie Mi Goreng dibuka pelan. Di sampingnya, kopi hitam Kopi Liong masih setia mengepul, mengisi ruang kamar dengan aroma rumah yang jauh.
Namun pagi itu tidak sepenuhnya santai.
Di tengah suasana hari terakhir, Shankar membuka laptopnya. Sebuah agenda penting menunggu—rapat melalui Zoom, sesuai surat yang telah diterima sebelum keberangkatan.
Rapat itu bukan sekadar formalitas.
Ia adalah bagian dari persiapan kegiatan Bimbingan Teknis Peran Forensik Digital bagi Hakim di Pengadilan—sebuah kelanjutan dari apa yang baru saja mereka pelajari di National Judicial Academy.
Pukul 09.00 WIB, di Jakarta, rapat dimulai.
Di layar, satu per satu nama muncul.
Di antara mereka, hadir sosok yang tak asing—Kepala Badan Strategi Kebijakan Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI, Syamsul Arief.
Bagi Shankar dan Kumar, beliau bukan sekadar pimpinan.
Ia adalah sosok yang dulu menugaskan mereka berangkat ke India—bukan untuk sekadar melihat, bukan sekedar “umroh” tetapi untuk belajar, menyerap, dan membawa pulang pemahaman baru bagi dunia peradilan Indonesia.
Arahan itu masih mereka ingat:
bahwa perjalanan ini bukan perjalanan pribadi,
melainkan bagian dari ikhtiar kelembagaan.
Bahwa setiap langkah di negeri orang adalah investasi pengetahuan,
yang kelak harus kembali menjadi manfaat.
Di layar juga terlihat, Mas kabid Ardy Nugroho dan tim lainnya dari pusdiklat teknis.
Rapat membahas hal-hal yang tidak sederhana: koordinasi teknis pelaksanaan, kebutuhan materi, hingga bagaimana pemahaman forensik digital benar-benar dapat diintegrasikan ke dalam praktik peradilan.
Apa yang kemarin mereka pelajari dari Harold D’Costa dan Varun Kapoor kini terasa tersambung.
Tentang bukti elektronik.
Tentang jejak digital.
Tentang bagaimana hakim tidak cukup hanya menerima, tetapi harus memahami.
Bahwa di era ini, keadilan tidak hanya dibangun dari fakta yang terlihat, tetapi juga dari data yang tersembunyi.
Pelatihan yang sedang dirancang itu pun kembali menegaskan prinsip penting:
bahwa informasi elektronik dan dokumen elektronik adalah alat bukti hukum yang sah.
“Dari Bhopal ke Jakarta… tapi materinya sama,” gumam Kumar.
“Dari pelatihan ke implementasi,” jawab Shankar.
Namun kali ini, kalimat itu terasa lebih berat.
Karena mereka sadar—mereka bukan hanya peserta.
Mereka adalah perpanjangan dari amanah.
Apa yang mereka pelajari di luar negeri bukan untuk disimpan,
melainkan untuk dibawa pulang, dibagikan, dan dihidupkan.
Hari terakhir tetap harus dijalani dengan utuh—termasuk menikmati sarapan khas India yang telah disiapkan.
Pikiran mereka kembali ke hari sebelumnya.
Acara penutupan di National Judicial Academy masih terasa. Direktur NJA, Justice Anoop Kumar Mendiratta, menyampaikan pesan yang sederhana namun dalam:
bahwa setiap hakim bukan hanya membawa pulang ilmu,
tetapi juga tanggung jawab untuk menghidupkannya.
Kalimat itu kini bertemu dengan pesan dari tanah air.
Seolah menjadi satu garis yang sama.
Setelah itu, rombongan menuju museum.
Shankar dan Kumar memilih tidak turun.
Kaki mereka terlalu lelah.
Namun di New Market, mereka ikut berjalan.
Pasar itu hidup—tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat, dengan denyut yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Perjalanan berlanjut ke DB City Mall—wajah modern Bhopal yang kontras.
Di sanalah cerita kecil namun dalam itu terjadi.
Seorang hakim tinggi—yang mereka hormati seperti orang tua sendiri—kehilangan kacamatanya.
Bukan hilang karena ceroboh.
Kacamata itu disimpan rapi, digantung di tas. Tempatnya masih ada.
Namun kacamatanya jatuh—dan baru disadari setelah meninggalkan New Market.
“Bukan soal harganya,” kata beliau pelan.
“Sudah hampir lima tahun… kacanya boleh berganti. Tapi gagangnya itu…”
Ia berhenti sejenak.
“…yang selalu setia.”
Shankar terdiam. Di pagi terakhir ini—setelah rapat, setelah pelatihan, setelah perjalanan—ia memahami sesuatu yang terasa sederhana, tapi dalam: dalam dunia peradilan, yang berubah bisa banyak hal—perkara, teknologi, bahkan bentuk kejahatan.
Namun yang tidak boleh berubah adalah “gagang”-nya: cara pandang, integritas,
dan komitmen terhadap keadilan.
Bekal dari Indonesia hampir habis. Kopi tinggal setengah.
Hari terakhir di Bhopal bukan hanya tentang pulang.
Tetapi tentang merangkum—dari air Sungai Narmada,
ke ruang sidang, hingga ke layar digital.
Dan sebentar lagi, mereka benar-benar akan kembali.
Bukan hanya membawa cerita— tetapi membawa amanah.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


