Perkenalkan nama saya Rahma Aulia seorang Hakim yang saat ini ditugaskan sebagai WKPN Paringin, pengalaman 20 tahun sebagai Hakim mengajarkan kepada saya, Tuhan selalu menyertai dan melindungi Hakim yang mempunyai nilai kejujuran dan integritas, dibanyak peristiwa ketika saya menyidangkan suatu perkara pertolongan Tuhan selalu datang ketika ancaman pembunuhan datang, atau ketika kesulitan mengungkap suatu tiba-tiba ilham datang sehingga ada pertanyaan kunci yang membongkar peristiwa yang sengaja ditutup-tutupi, pertolongan Tuhan pula tiba-tiba muncul ketika sebagai Jubir Pengadilan menghadapi massa pendemo yang urung masuk ke Pengadilan dan membubarkan diri dengan tertib.
Saat itu saya sedang mengadili perkara antara Ibu Asiah dengan Ny. Vina, latar belakang Ibu Asiah adalah seorang Janda yang ditinggal mati suaminya 3 tahun yang lalu serta tidak dikaruniai keturunan, semenjak ditinggal suaminya Ibu Asiah berjuang sendiri mencari nafkah dengan menjadi pengumpul barang bekas (pemulung) sementara itu Ny. Vina adalah seorang yang kaya yang cara mendapatkan kekayaannya menjadi rentenir meminjamkan uang dengan bunga yang amat besar dengan jaminan rumah atau kebun.
Almarhum suami Ibu Asiah mempunyai hutang kepada Ny. Vina sehingga begitu mendengar suami Ibu Asiah meninggal dunia, Ny. Vina bersama Syarif ajudan setia Ny. Vina menuju rumah Ibu Asiah dan langsung mengusir Ibu Asiah dari rumahnya.
Pada saat itu Ny. Vina berkata kepada Ibu Vina “Suami kau sudah meninggal dan kau tidak punya keturunan sebaiknya kau jual rumah ini kepada saya untuk melunasi utangmu”. Dijawab oleh Ibu Asiah “Rumah ini satu-satunya peninggalan almarhum suamiku, dan aku masih sanggup mencicil utang itu dengan berjualan nasi pecel, karena rumah ini letaknya dipinggir jalan ke arah pasar”. Bu Vina menghardik “Ah mana mau aku dicicil, kalau tak sanggup membayar cash, Syariifff usiiirrr paksa wanita ini keluar”.
Dengan berurai air mata bu Asiah akhirnya terpaksa meninggalkan rumah peninggalan suaminya, hanya berbekal pakaian seadanya bu Asiah berjalan lunglai tidak tahu akan tidur dimana, karena dia pun tidak punyai sanak saudara ketika dibawa suaminya ke kota Paringin, teringat pula kebaikan-kebaikan suaminya waktu masih hidup walaupun tidak dikaruniai anak sampai usia senja berpesan agar rumah ini tetap dijaga dan ditempati.
Akhirnya Ibu Asiah tidur di trotoar-trotoar karena kehilangan tempat tinggal, dan untuk menyambung hidupnya bu Asiah menjadi pemulung mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual ke pengumpul.
Sebenarnya Ibu Asiah pasrah dalam keadaan yang demikian, namun dia selalu dibayang-bayangi pesan almarhum suaminya agar mempertahankan rumah tersebut bagaimanapun caranya, dia pun sebenarnya pesimis untuk mempertahankan rumah tersebut karena banyak mendengar dari orang-orang kalau hukum tidak akan berpihak kepada orang-orang lemah seperti dirinya.
Setelah menunaikan sholat istikharah akhirnya Ibu Asiah seperti mendapat petunjuk agar menggugat haknya di Pengadilan, dan diapun mendapat informasi dari Kepala Desa kalau orang tidak mampu seperti dia, tidak akan dikenai biaya sepeserpun karena ada program PIAN UNDAS Program layanan hukum gratis kerjasama PN Paringin dengan Pemda Tk.II Balangan.
Akhirnya Ibu Asia menggugat Ny. Vina karena sebenarnya dia mau membayar utang almarhum suaminya, namun Ny. Vina menginginkan rumah itu karena bernilai tinggi. Ibu Asiah berharap ada hakim yang adil yang mau mendengar kesulitan hidupnya dan memutuskan secara adil.
Sebelum perkara disidangkan, dengan berbagai cara Ny. Vina ingin menemui saya untuk melakukan upaya penyuapan baik secara langsung maupun melalui perantara agar dimenangkan.
Terakhir Ny. Vina berhasil membujuk Lukman, asisten kepercayaan saya dengan memberikan tips agar bisa bertemu dengan saya di kantor, Lukman mengetuk ruangan saya, terlihat keringat dingin membasahi wajahnya, dia tahu betul karakter saya yang sangat tegas terhadap praktek-praktek korupsi baik untuk diri saya maupun jajaran dibawah saya, entah mengapa pada hari itu dia nekad menyampaikan kepada saya ada Ny.Vina yang ingin menemui saya di ruang kerja saya. Belum sempat saya menjawab Ny. Vina berhasil menerobos sampai ke ruangan saya, awalnya dia berkata “bu tidak ada manusia yang tidak butuh uang, saat ini saya tahu bu Rahma menderita sakit kanker dan membutuhkan uang untuk pengobatan, jadi terima saja uang ini dan tolak permintaan si Asiah itu”. Sejenak saya berpikir sebenarnya saya tidak dalam keadaan baik-baik saja karena secara finansial perekonomiannya berantakan, penghasilan saya dihabiskan untuk berobat, saya menderita kanker stadium 4 sesuai dengan hasil diagnosa dr.Alfianoor. Namun keadaan ini tidak ada seorangpun yang tahu baik keluarga maupun pimpinan, saya berusaha tegar menjalankan profesi walaupun persidangan bisa berlangsung sampai tengah malam hampir setiap hari namun seketika ada cahaya putih yang menaungi saya seakan menyadarkan saya untuk tidak menerima uang ini langsung saya bilang ke Ny.Vina “sebenarnya Nyonya dilarang masuk ke ruang kerja saya apalagi menyerahkan uang, silahkan pergi dengan baik atau saya panggilkan keamanan” Ny. Vina bukannya tersadar akan ucapan saya tetapi tidak terduga secara paksa menyorongkan uang yang ditempatkan pada map merah diserahkan kepada saya, langsung secara spontan saya berteriak keamanan tolong keluarkan Nyonya dari ini dari ruangan saya, selanjutnya karena terjadi keributan Ny. Vina diamankan oleh Security PN.
Setelah ruangan kembali sunyi, saya kembali membaca hasil diagnosa dr. Alfiannoor dan tiba-tiba saya sesak nafas dan batuk berdarah, saya merasa ajal saya tidak lama lagi akan datang menghampiri.
Tiba saat yang menentukan, dengan agenda putusan, Bu Asiah datang berjalan kaki dengan menggendong barang rongsokan menuju pengadilan, disambut hangat dan senyuman oleh Security, bu Asiah diarahkan ke ruang tunggu pengunjung, setelah duduk di ruang tunggu pengunjung sambil menunggu sidang bu Asiah berdzikir dan berdoa berharap keadilan akan hadir untuknya, sementara Ny. Vina datang kemudian dengan mengendarai mobil Fortuner lengkap dengan sopir dan ajudan, dengan sikap pongahnya langsung masuk ke ruang sidang.
Setelah membacakan berbagai pertimbangan dalam putusan akhirnya saya mengabulkan permintaan Bu Asiah agar Ny. Vina mengembalikan rumah Ibu Asiah, mendengar putusan tersebut di ruang persidangan Ny. Vina langsung marah dan menunjuk-nunjuk saya dan bu Asiah dengan tuduhan yang tidak-tidak, mengatakan saya telah menerima uang dari bu Asiah karena terjadi kericuhan Ny. Vina diamankan oleh Security.
Selesai menutup persidangan saya merasakan dirinya tiba-tiba lemas dan dingin, namun tetap berusaha berjalan ke luar ruang sidang, setelah menutup pintu khusus akses hakim badan saya ambruk ada darah yang mengalir pada bagian mulut dan hidung, tidak ada yang melalui akses tersebut sehingga keadaan tersebut sampai berlangsung 5 menit, akhirnya diketahui oleh acil sahrini yang biasa mengantar minum untuk orang kantor terkejut sampai minuman yang dibawakan tumpah dan berteriak minta tolong akhirnya banyak pegawai datang menggotong saya menuju ruang kesehatan menunggu ambulance.
Setelah berbaring di ruang kesehatan, dengan suara lirih saya menyampaikan permintaan maaf kepada semuanya dan merasa ajalnya sudah dekat, dalam keadaan antara sadar datang sosok lelaki berjubah putih memberikan salam dan mengatakan putusan terakhir yang dibacakan ternyata mengguncang arsy Tuhan karena putusan itu sungguh adil, doa bu Asiah dikabulkan melalui putusan saya, dan menjadikan sebab Allah mengampuni dosa saya dan saya ditambakkan pintu surga yang sangat indah sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata betapa indahnya pemandangan itu, saya hanya bisa tersenyum setelah itu seakan-akan nyawa ditarik hingga kerongkongan dan saya menutup mata serta menghembuskan nafas terakhir.
Berbeda dengan keadaan yang dialami saya saat itu, ketika saya merasakan telah meninggalkan jasad saya, tangisan mendalam dialami oleh segenap rekan-rekan kerja saya, mereka benar-benar kehilangan sosok Rahma karena selama hidupnya dikenal sebagai orang yang baik, ramah, jujur, bersih, dermawan.
Demikian Jalan Pengadil sejati, dengan masih menggunakan toga hakim bu Rahma menghembuskan nafas terakhirnya.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

