Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Belajar Integritas Dari Monyet

Belajar Integritas Dari Monyet

Gerry Michael PurbaBy Gerry Michael PurbaJune 1, 2026 · 10:57 WIB12 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pada tahun 1964, sekelompok peneliti melakukan sebuah eksperimen yang kemudian menjadi salah satu penelitian paling terkenal dalam kajian perilaku primata. Mereka ingin mengetahui apakah seekor monyet hanya akan bertindak demi kepentingannya sendiri, ataukah ia juga mampu memperhatikan penderitaan sesamanya.

Dalam percobaan itu, seekor monyet yang lapar ditempatkan di dalam sebuah kandang. Di hadapannya terdapat mekanisme yang dapat dioperasikan untuk memperoleh makanan. Bagi monyet yang kelaparan, seharusnya pilihan tersebut sangat mudah, yaitu menarik tuas dan mendapatkan makanan. Namun para peneliti menambahkan sebuah kondisi yang tidak biasa. Setiap kali tuas tertentu ditarik, seekor monyet lain yang berada dalam jangkauan pandang akan menerima sengatan listrik yang menimbulkan rasa sakit.

Ketika percobaan dimulai, monyet yang lapar menyaksikan secara langsung akibat dari tindakannya. Ia melihat monyet lain meringis, terkejut, dan menunjukkan tanda-tanda kesakitan setiap kali makanan diperoleh melalui tuas tersebut. Setelah memahami hubungan antara tindakannya dan penderitaan monyet lain, perilakunya mulai berubah.

Alih-alih terus mengambil makanan, banyak monyet justru mengurangi frekuensi menarik tuas. Beberapa bahkan menghentikannya sama sekali. Mereka tetap lapar, namun memilih tidak melakukan tindakan yang akan menyebabkan monyet lain tersiksa. Dalam beberapa kasus yang paling mencolok, terdapat monyet yang menolak menggunakan tuas selama berhari-hari. Salah satunya bertahan tanpa memperoleh makanan dari mekanisme tersebut selama lima hari, sedangkan yang lain hingga dua belas hari.

Hasil penelitian tersebut menarik perhatian dunia ilmiah karena menunjukkan bahwa perilaku primata tidak selalu didorong oleh kepentingan pribadi yang sempit. Meskipun para ilmuwan berhati-hati untuk tidak menyamakan perilaku monyet dengan moralitas manusia, eksperimen itu memberikan petunjuk bahwa bentuk-bentuk dasar empati mungkin telah berkembang jauh sebelum munculnya manusia modern. Monyet-monyet tersebut tampak bersedia menanggung kerugian bagi dirinya sendiri demi menghindari penderitaan individu lain.

Sejak saat itu, penelitian tersebut sering dikutip sebagai ilustrasi bahwa kemampuan untuk merasakan atau merespons penderitaan sesama bukanlah sifat yang sepenuhnya unik bagi manusia. Walaupun alasan yang sebenarnya mungkin melibatkan empati, penularan emosi, atau mekanisme sosial lain yang masih diperdebatkan para ilmuwan, eksperimen tersebut tetap meninggalkan kesan mendalam: seekor monyet yang lapar terkadang memilih menahan rasa laparnya daripada menjadi penyebab penderitaan bagi temannya.

Palu Hakim adalah The Magic Wand

Pada artikel berjudul “Pengadilan adalah mesin dialektika” yang diterbitkan oleh SuaraBSDK, terdapat penjelasan dimana Putusan Pengadilan itu mengubah realitas keadaan yang nyata. Palu Hakim itu bagaikan The Magic Wand seperti Harry Potter dimana mantranya dan tongkatnya akan mengubah kenyataan. Hakim (dan juga legislatif dan eksekutif) bisa menentukan realitas yang bagaimana kehidupan ini menjadi apa kedepannya. Entah menjadi baik ataupun menjadi buruk. Jika hakim mampu menghadirkan keadilan, maka realitas yang baiklah terjadi dimana orang akan sejahtera, tentram, penuh cinta, punya pendapatan dan bahagia karena proses dialektika itu berjalan sebagaimana mestinya. Namun, jika hakim tidak menghadirkan keadilan dalam putusannya, maka tujuan itu tidak tercapai. Kasus tanah dimana seseorang dimenangkan kepada orang yang berhak, akan menciptakan sistem ekonomi yang baik dan kemudian lapangan pekerjaan meningkat dan akhirnya si “ucok” mendapatkan pekerjaan dan tidak menjadi pencopet yang kemudian harus berhadapan dengan Hakim di sidang Pidana. Namun sebaliknya, apabila orang yang tidak berhak dimenangkan, maka proses kemajuan ekonomi itu menjadi terhambat dan akhirnya moral orang untuk melakukan tindakan ekonomi akan tersendat, dan akhirnya lapangan pekerjaan menurun dan akhirnya si “ucok” kehilangan ibunya karena tidak sanggup membeli obat dikarenakan tidak ada pekerjaan dan perusahaan farmasi juga enggan membuka investasi disana karena tidak ada kepastian, kebebasan dan keadilan.

Putusan Hakim tidak hanya mengubah realita pada kasus yang ditanganinya saja, namun berdampak sistematis seperti butterfly effect pada keadaan ceteris paribus. Jika kita membandingkan Mahkamah Agung dengan Bank Sentral, maka kita akan melihat lebih detail lagi dampak sistemik tersebut. Ketika Bank Sentral menaikkan atau menurunkan suku bunganya, maka itu akan berdampak pada suku bunga pada bank komersil, yang mana akan mempengaruhi besaran bunga kepada peminjam dan akan mempengaruhi roda perekonomian di negara tersebut (bahkan di luar negara tersebut seperti di Amerika Serikat dimana Negara pada umumnya memiliki M0, M1 dan M2 tetapi Amerika Serikat mempunyai M3 dikarenakan mata uang mereka dipakai di luar Amerika Serikat).

Putusan Pengadilan juga memiliki pengaruh jauh lebih besar dari Bank Sentral dimana Putusan itu memiliki dampak sistemik salah satunya kepada Lembaga konsultan Hukum dan ekonomi baik yang bekerja secara nasional maupun internasional yang akan membandingkan hukum di Indonesia dengan Hukum negara lain dan melihat kelayakan melakukan investasi kedalamnya atau mengeksploitasi kelemahan hukum didalamnya, sehingga berdampak sistemik pada perekenomian kita. Ini hanya salah satu dampak dan dampaknya lebih besar dari Bank Sentral karena mempengaruhi strategi firma hukum dan lembaga konsultan yang notabene dampaknya sangat besar. Belum dampak selain daripada itu. Artinya Putusan Mahkamah Agung dan jajaran peradilan di bawahannya akan mempengaruhi masa depan Negara secara sistemik. Putusannya (dan kebijakannya) akan membuka tabir dimensi realitas. Dimana seperti gambar dibawah ini yang saya buat dengan bantuan chatgpt, putusan adil akan menghasilkan dampak seperti disebelah kiri yang mana masyarakat hidup dengan penuh cinta, setara, dan berkeadilan dan putusan tidak adil akan menghasilkan dampak disebelah kanan, dimana terjadi penindasan, pemerkosaan, kebencian, porak-poranda, kemungkaran, kesedihan, kemalangan, penderitaan, pengemis di pinggir jalan dan ketidakpercayaan satu sama lain.

(Sumber : Ide ilustrasi penulis dengan bantuan ChatGpt)

Baca Juga  Logika, Etika, dan Jebakan Logical Fallacy: Refleksi bagi Hakim dalam Memeriksa dan Mengadili Suatu Perkara

Apakah kita akan menarik tuas itu?

Suatu hari ketika saya masih seorang pengacara dan aktivis buruh garmen, saya pernah bertanya kepada aktivis di Eropa sebagai Negara pembeli garmen mengenai mengapa mereka peduli terhadap buruh-buruh yang ada di Asia Tenggara. Tidakkah seharusnya mereka diuntungkan dari produk-produk murah dari barang garmen dan tekstil hasil produksi Negara Asia Tenggara dengan buruh yang murah. Apa dasarnya mereka peduli? Padahal mayoritas dari mereka adalah atheis dan tidak percaya Tuhan dan juga tidak percaya dunia setelah kematian.

Mereka menjawab bahwa, walaupun mereka atheis, mereka peduli terhadap ethics. Mereka berbuat baik agar mereka nyaman melihat dirinya sendiri karena itu adalah salah satu bagian dari mental health mereka. Ketika mereka mengetahui bahwa makanan yang mereka makan mengandung CPO dari hasil perusakan hutan yang membuat satwa asli Indonesia kehilangan rumahnya, ketika dia memakai baju dari buruh-buruh garmen yang upahnya tidak dibayar dengan layak dan standard keselamatan kerjanya tidak dijamin, ketika dia mengetahui bahwa masih ada genosida yang terjadi di dunia, maka mereka tidak nyaman menikmati kemajuan yang mereka terima. Alasan yang egois. Tapi, egois yang membuat dunia menjadi baik. Karena pada dasarnya mereka berbuat baik adalah demi kepentingan diri sendiri. Cara pandang mereka ini sudah lama ada, salah satunya adalah politik etis Belanda yang terjadi setelah tulisan dari Max Havelaar yang menggambarkan penderitaan Pribumi Hindia Belanda. Jika membandingkan dengan moralitas di Indonesia, konsep ini sama seperti konsep halal di ajaran agama Islam, dimana bagi umat Muslim ketika memakan makanan yang tidak halal, maka akan menimbulkan ketidaknyamanan dan dosa bagi dirinya. Begitu juga dengan konsep ethics, dimana ketika barang yang mereka terima berasal dari tindakan yang tidak sesuai dengan ethics, tidak sesuai dengan kemanusiaan, tidak sesuai dengan kepedulian lingkungan, tidak sesuai dengan keadilan universal, maka mereka tidak nyaman menggunakannya. Tidak bangga memakainya. Teman-temannya akan melakukan shamming terhadapnya. Karena sejatinya, produk mewah adalah masalah keindahan. Namun, jika keindahan itu mengandung darah dan penderitaan, maka apa yang harus disombongkan dari situ? Kita memamerkan sesuatu karena kita bangga akan sejarahnya. Ini yang hilang di Indonesia. Hilang moral dan tidak tahu malu. Berjiwa pengemis, namun ingin flexing. Padahal, asal usul dari barang branded dan mengapa kita menghormati orang-orang kaya adalah karena menyimbolkan kontribusinya ke masyarakat. Dia kaya dan memberikan pekerjaan. Dia kaya karena memberikan inovasi. Sehingga, layaklah dia membeli barang-barang prestisetersebut. Dan ketika dia memamerkannya, kita bangga melihatnya karena menyimbolkan kontribusinya. Namun, yang terjadi di era sekarang, orang mengincar simbol prestise dan tidak lagi mempedulikan bagaimana dia mendapatkan prestise tersebut. Orang peduli terhadap gelar, tetapi tidak lagi mempedulikan proses mendapatkan gelar dan isi kepalanya. Apakah orang yang mendapatkan gelar tersebut berjiwa keilmuan atau tidak? Apakah memiliki hasrat rasa ingin tahu atau tidak? Itu sudah tidak dipedulikan lagi. Yang dipedulikan hanyalah simbol, dan tidak isi. Orang ingin jadi pejabat karena ingin dihormati sana sini, ingin memamerkan iring-iringan voorijder, ingin supaya dapat privilege, ingin dapat uang dari jabatannya, namun tidak lagi berfikir mengapa dia ingin menjabat? Apa idenya untuk membuat negara ini lebih baik dari jabatan itu?

Dahulu kaum elit diberikan fasilitas berlebih karena ada ide dikepalanya yang akan mengubah dunia, namun sekarang yang dikejar oleh para pejabat adalah fasilitasnya dan bukan hasrat pengimplementasian idenya. Ingin berkuasa, namun setelah berkuasa bingung menggunakan kekuasaanya. Berkuasa hanya untuk pamer bahwa dia bisa berkuasa. Padahal kekuasaan itu adalah pekerjaan. Padahal, awalnya orang ingin berkuasa karena dia punya ide di kepalanya yang ingin diaplikasikan ke dunia, agar keindahan yang dia inginkan di dunia ini terwujud.

Bukankah karena itu, mengapa oligarki ingin lebih kaya dan kaya lebih lagi? Suatu hari saya pernah bertanya kepada salah seorang “oligarki”. Saya bertanya mengapa dia ingin menjadi kaya dan kaya lebih lagi? Tidakkah uangnya sudah bisa untuk melakukan apa saja yang ingin dia mau? Bahkan dia dan keluarganya pun tidak sanggup menghabiskannya. Lantas, dia berkata bahwa dia ingin berkuasa. Dia ingin seperti pejabat, namun dia tidak bisa. Oleh karena itu, dia ingin menjadi “pejabat bayangan” dengan cara lobby sana sini agar secara tidak langsung dialah memegang kekuasaan tersebut, sehingga keindahan versinyalah yang terjadi. Di sisi lain, para pejabat bermental badut iri terhadap oligarki itu. Mereka pun ingin punya uang sebanyak oligarki itu dan kemudian merendahkan jabatannya agar bisa punya uang banyak. Padahal jika dihitung, uang yang dibutuhkan pejabat itu tidak sebanyak yang dia pikirkan. Namun, dia rela melacurkan dirinya, memberikan mahkotanya dan menjual ketenangannya untuk para oligarki. Yang mana justru seharusnya orang kaya itulah yang mestinya iri terhadap pejabat. Karena pejabat punya kekuatan untuk mengubah dunia ini menjadi indah seperti yang diinginkannya, yang mana oligarki tidak punya kekuasaan itu. Memang ini sudah diprediksi oleh filsuf bernama Jean Baudrillard tentang hyperreality, dimana realitas yang benar adalah simbol yang merepresentasikannya, bukan lagi realitas yang sejatinya. Inilah yang sedang terjadi didunia dan sudah selayaknya kita mendorong itu kembali kepada realitas yang sesungguhnya, bahwa raja adalah raja dan badut adalah badut. Jangan lagi ada badut di posisi raja dan raja diposisi badut. Kembalikan realitas itu sebagaimana mestinya.

Baca Juga  Pelatihan PRISMA Batch 4 digelar, Genap 160 Ketua Pengadilan Berkomitmen Wujudkan Pengadilan Berintegritas

Ketika kita telah memahami bahwa Putusan Pengadilan memiliki dampak sistemik kepada dunia dan realitas yang ada, lantas, apakah kita akan menarik “tuas” itu dimana membuat suatu Keputusan demi kepentingan sendiri, namun mendatangkan penderitaan pada masyarakat luas sama seperti monyet dalam eksperimen itu?

Mungkin ada yang berpikir bahwa dia tidak peduli terhadap orang-orang lain dan dampak sistemiknya. Dan tetap ingin mendapatkan keuntungan pribadi terlepas dari dampak yang dia hasilkan secara sistemik. Artinya dia ingin lebih rendah dari monyet.

[Guna mencegah orang-orang yang sudah tidak punya nurani seperti ini, saya pernah membuat tulisan berjudul analisis ekonomi terhadap kesejahteraan hakim yang diterbitkan pada salah satu platform yang mana pada waktu itu digunakan untuk memperjuangkan kesejahteraan Hakim dimana ide yang saya masukkan pada waktu itu adalah terinspirasi dari alignment interest dari Warren Buffet dalam menilai corporate good governance tentang bagaimana mengikatkan kepentingan pribadi dengan tujuan Negara. Salah satu idenya adalah dengan menjabarkan dampak indikator keadilan dan memberikan reward kepada seluruh hakim dan staff berdasarkan persentase APBN yang diterima oleh Mahkamah Agung jika mampu menaikkan dampak indikator keadilan serta memberikan persentase reward khusus kepada Hakim atau staff pengadilan yang bersangkutan yang mampu membuat Putusan ataupun ide tulisan yang berdampak pada naiknya dampak indikator keadilan tersebut. Serta bagaimana membuat calon koruptor berada dalam keadaan prisoner’s dilemma dengan mengadopsi leniency program yang digunakan untuk pemberantasan kartel di Uni Eropa.

Untuk orang-orang yang tidak punya Nurani tersebut yang mana sudah mengerti dampak sistemik dari apa yang dilakukannya bahwa akan menimbulkan penderitaan bagi orang lain, namun tetap melakukannya, maka kita dapat belajar dari kasus Anwar Congo berikut ini.

Anwar Congo (menurut pengakuannya sendiri dan orang lain) adalah seorang eksekutor terkenal dari Medan dimana ditugaskan untuk memberantas orang-orang yang dituduh sebagai komunis pada waktu itu. Dalam fim The Act of Killing tersebut, Anwar Congo ditawarkan untuk membuat film oleh seorang sutradara bernama Joshua Oppenheimer dimana dengan dalih bahwa untuk membuat film yang bagus dan serealistis mungkin, dia membutuhkan pemeran asli dan juga keadaan bagaimana dia melakukan tindakan pembasmian pada waktu itu. Ternyata, rekaan adegan ulang itulah film intinya.

Pada akhir rekaan ulang tersebut, Anwar Congo diperlihatkan rekaman reka ulang itu. Kemudian, dia merasa bersalah dan kemudian gejala PTSD keluar dari dalam kepalanya. Memori atas kesalahan yang dia buat tetap muncul walaupun telah lama itu terjadi.

(Sumber : Youtube – JAGAL – The Act of Killing )

“Tapi saya merasakan yos. Benar-benar saya rasakan.. atau saya mungkin… saya tuh.. apa dosa sama saya… banyak ya yos manusia yang saya pernah bikin begitu yos..apakah ini akan kembali dia kepada saya?” Anwar Congo ketika diperlihatkan reka adegan ulang yang dia lakukan.

Manusia sebejat apapun tetap memiliki hati Nurani dalam dirinya. Apalagi Hakim yang makanan sehari-hari tidak lepas dari moralitas. Karena selama dia berbahasa, maka selama itu pula dia meminjam definisi kebaikan itu dalam dirinya. Rekaan ulang dari kesalahan kita akan tetap ada didalam pikiran kita. Ada suatu penelitian, walaupun penelitian ini diperdebatkan karena datanya berdasarkan subjektifitas manusia, bernama Near Death Experience. Dimana orang yang koma atau hampir mati diceritakan mengenai bagaimana rasanya ketika akan mati. Ada satu benang merah yang Peneliti dapatkan dimana orang yang hampir mati itu mengalami reka ulang segala memori yang pernah mereka lakukan. Ketika kita akan mati nanti, proses menuju mati itu akan mengulang semua memori kita. Bahkan ketika kita masih hidup, memori itu masih ada di dalam diri kita dan berada dalam alam bawah sadar kita dan tanpa sadar mengutuki kita sendiri karena pada dasarnya kita tahu apa itu benar.

Mungkin itu mengapa alam semesta menampakkan hasil eksperimen mengenai monyet itu kepada kita. Mungkin alam ingin berkata bahwa ada konsekuensinya, walaupun tidak terlihat.

Daftar Pustaka :

Baudrillard, Jean. Simulacra and Simulation. Diterjemahkan oleh Sheila Faria Glaser. Ann Arbor: The University of Michigan Press, 1994.

Buffett, Warren. Surat kepada Pemegang Saham Berkshire Hathaway. Omaha: Berkshire Hathaway Inc., berbagai tahun.

Camerer, Colin. Teori Permainan Perilaku: Eksperimen dalam Interaksi Strategis. Princeton: Princeton University Press, 2003.

Masserman, Jules H., Stanley Wechkin, dan William Terris. “Perilaku Altruistik pada Monyet Rhesus.” American Journal of Psychiatry 121, no. 6 (1964): 584–585.

Oppenheimer, Joshua (sutradara). Jagal (The Act of Killing). Denmark: Final Cut for Real, 2012.

Artikel dan Sumber Daring

“Pengadilan adalah Mesin Dialektika.” Gerry Michael Purba : SuaraBSDK, 2026.

“JAGAL – The Act of Killing.” YouTube. Diakses tanggal 29 Mei 2026.

Gerry Michael Purba
Kontributor
Gerry Michael Purba
Hakim Pengadilan Negeri Sabang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Dampak Sistemik Empati Integritas Hakim keadilan nurani
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak

October 30, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

By Wilmar Ibni Rusydan and Daniel H. NapitupuluOctober 31, 20260

Kabar meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Pemalang pada awal Oktober 2026 cukup menyita perhatian…

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Merawat Janji 1928: Pengadilan Agama Jakarta Pusat Gelar Upacara Sumpah Pemuda Ke-98 Bersama BSDK MA RI

October 31, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian
  • Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta
  • Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime
  • Merawat Janji 1928: Pengadilan Agama Jakarta Pusat Gelar Upacara Sumpah Pemuda Ke-98 Bersama BSDK MA RI
  • 90 Warga di Gugat, Hakim PN Dataran Hunipopu Cek Langsung Objek Sengketa

Recent Comments

  1. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  2. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  3. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  4. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  5. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.