Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kiat Membangun Dan Menguatkan Integritas Di Dunia Peradilan

10 February 2026 • 23:08 WIB

Integritas Peradilan Dalam Angka: Ketua Mahkamah Agung Buka Data Kepercayaan Publik Dan Tegaskan Zero Tolerance

10 February 2026 • 21:58 WIB

Bentuk Konkret Pengaruh Pelaksanaan Peradilan Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

10 February 2026 • 21:12 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Refleksi Sambut Tahun Baru 2026
Artikel Features Filsafat

Refleksi Sambut Tahun Baru 2026

SyihabuddinSyihabuddin31 December 2025 • 13:01 WIB6 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Time Flies

Tanpa terasa kita sudah berada di penghujung akhir 2025. Rasanya baru kemarin memasuki tahun di mana terdapat 1451 Hakim baru dikukuhkan oleh YM Ketua Mahkamah Agung di hadapan Presiden. Itu lah waktu, bergerak pelan, berjalan lambat, merangkak perlahan tapi pasti. Waktu akan terus berlalu dan berganti, tanpa ada yang dapat menghentikannya, kecuali Sang Pencipta Waktu itu sendiri. Demikianlah ketetapan Allah, sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya.

Pada umumnya pergantian masa atau waktu ditandai dengan berbagai peristiwa yang khas. Pergantian jam ditandai dengan dentingan bunyi lonceng atau bel. Pergantian siang ke malam ditandai keluarnya kelelawar dari sarangnya. Sebaliknya, kehadiran pagi yang menggantikan malam ditandai dengan berkokoknya ayam jantan. Demikian seterusnya, sehingga tidak mengherankan bila di masyarakat berkembang tradisi untuk merayakan pergantian tahun dengan berbagai peristiwa dan aktivitas yang indah dan mengesankan sebagai tanda pergantian tahun.

Lantas bagaimana sikap kita yang tepat dalam menyambut tahun baru? Merayakan tahun baru dengan berbagai kegiatan yang meriah tidaklah salah, asalkan tidak melanggar syariat (aturan). Namun yang terpenting dari itu adalah bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari kehidupan di masa lalu sebagai pelajaran untuk memasuki tahun baru. Sebagaimana diingatkan oleh Al Qur’an Surat Al Hasyr [59] ayat 18: “Hendaklah setiap orang memperhatikan perbuatan yang ia lakukan untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Yang Maha Mengetahui segala yang kamu lakukan.”

Introspeksi Diri

Perjalanan hidup manusia tidak ada yang dapat meramalkan. Bahkan sebuah Hadits Rasul mengingatkan kita, “bahwa seseorang yang di pagi hari masih berstatus beriman, tidak mustahil sore harinya menjadi kafir. Sebaliknya, ada yang di sore hari berpredikat beriman, tetapi pagi harinya telah menjadi kafir” (HR. Muslim). Itulah sebabnya, kita diperintahkan untuk muhasabah (introspeksi diri), menilai dan mengevaluasi aktivitas kita. Jangan sampai tergelincir pada keburukan atau kenistaan, sedang diri kita tidak menyadarinya.

Untuk itu, sudah semestinya kita membiasakan bercermin pada diri sendiri, sudahkah tepat sikap dan tingkah laku selama ini? Sudahkah kita menerapkan prinsip kejujuran, integritas dan akhlak mulia lainnya? Hasil muhasabah ini penting untuk mengatur dan merencanakan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Kesibukan sehari-hari tanpa sadar kadang mematikan hati. Kemarahan, kebencian, keangkuhan, kesombongan serta berbagai penyakit hati lainnya bila dibiarkan akan mendarah daging dan menjadi tabiat. Akibatnya kehidupan akan senantiasa diliputi oleh kesempitan dan kerupekan serta nihil dari ketenangan.

Baca Juga  Menjaga Ruang Privasi Digital: Jaminan Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Peradilan Pidana Modern (Era KUHAP Baru)

Banyak orang penting dan yang merasa sok penting di negeri ini ingin mengubah negara ini, tetapi mengubah anaknya sendiri tak kuasa. Mereka menginginkan negeri ini berubah, namun mengapa mengubah sikap bawahan atau bahkan suami/isteri sendiri saja tidak sanggup? Kenapa hal demikian bisa terjadi? Jawabnya barangkali adalah kita tidak pernah punya waktu yang memadai untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri.

Karenanya, kita perlu merenung, mungkin selama ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Terlalu banyak energi yang dikeluarkan untuk memikirkan selain diri kita, baik itu dalam bentuk kesalahan, keburukan, ataupun kelalaian orang lain. Namun ternyata sikap yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah. Akibatnya usaha untuk melakukan perubahan yang dikehendakipun, hasilnya nihil sama sekali.

Berani Mengakui Kesalahan

Kesalahan dan kekhilafan adalah suatu hal yang manusiawi. Tetapi entah kenapa tidak banyak orang yang secara lantang berani mengakui kesalahannya. Ketakutan mengakui kesalahan ini tidak jarang akan mendorong sikap kekerdilan. Ketika berbuat salah, melemparkan kesalahan pada orang lain. “Melempar sembunyi tangan”, demikian kata pepatah. Ujung-ujungnya ia akan melakukan segala cara untuk menutupi kesalahannya. Tindakan tersebut akan kontraproduktif, karena sepandai-pandai orang menyembunyikan bau busuk, akhirnya akan tercium juga. Kesalahan bukan untuk disembunyikan, tetapi untuk diubah, diperbaiki, dan disempurnakan.

Pemimpin besar manapun akan terhina manakala tidak mempunyai keberanian untuk mengubah dirinya. Orang sukses manapun akan ambruk kalau tidak memiliki keberanian untuk mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian, Berani mengejek itu gambang, apalagi ngrumpiin di belakang. Berani menghujat itu gampang, apalagi kalau ramai-ramai. Yang langka adalah orang yang berani melihat kesalahan dan kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang-orang sukses sejati.

Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain itu tidak istimewa. Sebab, itu bisa dilakukan oleh orang yang tidak punya apa-apa sekalipun. Tetapi kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu ia membuat sistem untuk melihat dan memperbaiki kekurangan dirinya, inilah calon orang besar.

Jadi bolehlah kita banyak bicara, sah-sah saja kita mengkritik orang dan atasan. Bahkan kita diperintahkan untuk “meluruskan” kesalahan dan kekhilafan orang lain. Tetapi perlu diingat, itu mesti dilaksanakan dalam kerangka amar ma’ruf nahi mungkar. Disampaikan  dengan penuh hikmah, atau melalui mauidloh hasanah, dan bila diperlukan perdebatan, maka mesti “billatii hiya ahsan” (dengan cara yang santun). Dan yang terpenting dari itu semua, sudahkan kita memiliki keberanian untuk melihat kekurangan dan keburukan diri sendiri? Sudahkan kita yakin berada pada jalan yang lurus? Jangan-jangan upaya kita untuk meluruskan orang lain itu dilaksanakan hanya untuk kepuasan diri atau malah bertujuan menyakiti orang tersebut. Jangan sampai terjadi kita ingin menyapu kotoran di lantai dengan menggunakan sapu yang kotor, maka bukan kebersihan yang akan kita hasilkan, tetapi sebaliknya, kita malah mengotori tempat lain.

Baca Juga  Dialektika Kepastian dan Moralitas: Pertemuan Filsafat Hukum Barat, Islam, dan Pancasila dalam Mencari Wajah Hukum Indonesia

Sampai di sini kita perlu merenungi puisi indah yang disadur oleh Komaruddin Hidayat (Penulis Buku Psikoloi KEmatian) yang dinukil dari puisi yang dipahat di sebuah makam di Westminster yang diberi judul “Hasrat untuk Berubah”:

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
aku bermimpi ingin mengubah dunia.
Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.
Maka cita-cita itu pun agak kupersempit,
lalu kuputuskan untuk mengubah negeriku,
namun tampaknya, hasrat itupun tiada hasilnya.
Ketika usiaku telah semakin senja,
dengan semangat yang masih tersisa,
Kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang-orang yang paling dekat denganku.
Tetapi celakanya, merekapun tidak mau diubah.
Dan kini,
sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
tiba-tiba kusadari:
“Andaikata yang pertama-tama kuubah adalah diriku,
maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan,
mungkin akan bisa mengubah keluargaku.
Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
bisa jadi akupun mampu memperbaiki negeriku;
Kemudian siapa tahu,
aku bahkan bisa mengubah dunia”.

Keberanian untuk mengubah diri dengan sadar tidak hanya berbuah positif bagi diri sendiri, tetapi itu juga dapat mendorong perubahahan pada diri orang lain. Walau kita tidak mengucap sepatah katapun, untuk perubahan itu, perbuatan kita sudah menjadi ucapan yang sangat fasih (baca: berarti) bagi orang lain. Bahasa agamanya itu adalah dakwah bil haal. Dengan kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya. Semoga renungan ini bisa mengantarkan kita pada perubahan menuju kebaikan dan kesuksesan! Selamat tahun baru 2026! Salam CADAS!

Syihabuddin
Kontributor
Syihabuddin
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

2026 artikel Refleksi
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Kiat Membangun Dan Menguatkan Integritas Di Dunia Peradilan

10 February 2026 • 23:08 WIB

Integritas Peradilan Dalam Angka: Ketua Mahkamah Agung Buka Data Kepercayaan Publik Dan Tegaskan Zero Tolerance

10 February 2026 • 21:58 WIB

Bentuk Konkret Pengaruh Pelaksanaan Peradilan Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

10 February 2026 • 21:12 WIB
Leave A Reply

Demo
Top Posts

Integritas Peradilan Dalam Angka: Ketua Mahkamah Agung Buka Data Kepercayaan Publik Dan Tegaskan Zero Tolerance

10 February 2026 • 21:58 WIB

Bentuk Konkret Pengaruh Pelaksanaan Peradilan Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

10 February 2026 • 21:12 WIB

Sistem Pengawasan “No Mercy” Untuk Melayakkan Kesejahteraan Finansial Hakim

10 February 2026 • 21:03 WIB

Alarm Integritas Menyala, Ketua Mahkamah Agung Minta Hakim Bercermin Dan Berbenah

10 February 2026 • 20:53 WIB
Don't Miss

Kiat Membangun Dan Menguatkan Integritas Di Dunia Peradilan

By Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.10 February 2026 • 23:08 WIB0

Penguatan integritas aparatur peradilan merupakan fondasi utama bagi terwujudnya lembaga peradilan yang dipercaya publik. Integritas…

Integritas Peradilan Dalam Angka: Ketua Mahkamah Agung Buka Data Kepercayaan Publik Dan Tegaskan Zero Tolerance

10 February 2026 • 21:58 WIB

Bentuk Konkret Pengaruh Pelaksanaan Peradilan Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

10 February 2026 • 21:12 WIB

Sistem Pengawasan “No Mercy” Untuk Melayakkan Kesejahteraan Finansial Hakim

10 February 2026 • 21:03 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Kiat Membangun Dan Menguatkan Integritas Di Dunia Peradilan
  • Integritas Peradilan Dalam Angka: Ketua Mahkamah Agung Buka Data Kepercayaan Publik Dan Tegaskan Zero Tolerance
  • Bentuk Konkret Pengaruh Pelaksanaan Peradilan Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat
  • Sistem Pengawasan “No Mercy” Untuk Melayakkan Kesejahteraan Finansial Hakim
  • Alarm Integritas Menyala, Ketua Mahkamah Agung Minta Hakim Bercermin Dan Berbenah

Recent Comments

No comments to show.
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com :  redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok
Filsafat Roman Satire Video
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Zulfahmi, S.H., M.Hum.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.