Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer

November 1, 2026

MOVE!

November 1, 2026

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Bukan Aib Korban: Mengadili Penyebaran Konten Intim Non-Konsensual

Bukan Aib Korban: Mengadili Penyebaran Konten Intim Non-Konsensual

Muamar Azmar Mahmud FarigBy Muamar Azmar Mahmud FarigMay 29, 2026 · 15:00 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Dalam banyak perkara kekerasan seksual digital, korban tidak hanya berhadapan dengan pelaku. Korban juga berhadapan dengan pertanyaan sosial yang sering lebih melukai yakni mengapa foto itu ada, mengapa video itu dibuat, mengapa pernah dikirim, mengapa pernah dipercaya kepada orang lain?

Pertanyaan semacam itu tampak sederhana, tetapi sering menggeser pusat persoalan. Hukum yang seharusnya memeriksa tindakan pelaku justru berisiko ikut mengadili moralitas korban. Padahal, dalam penyebaran konten intim non-konsensual, inti masalahnya bukan terletak pada keberadaan konten intim itu sendiri, melainkan pada tindakan menyebarkan, mengancam menyebarkan, atau menggunakan konten tersebut tanpa persetujuan korban.

Di ruang digital, tubuh dapat dipindahkan menjadi file, kepercayaan dapat diubah menjadi senjata, dan relasi personal dapat berubah menjadi mekanisme penghukuman. Seseorang yang pernah dipercaya menyimpan foto atau video pribadi dapat menggunakan konten itu untuk mengancam, memeras, mempermalukan, atau mengontrol korban. Kekerasannya tidak selalu meninggalkan luka fisik, tetapi dapat menghancurkan rasa aman, martabat, reputasi, pekerjaan, relasi keluarga, dan keberanian korban untuk hadir kembali di ruang sosial.

Penyebaran konten intim non-konsensual atau non-consensual dissemination of intimate images merupakan salah satu bentuk Kekerasan Berbasis Gender Online yang telah dikenali sebagai fenomena global. Panduan Awas KBGO menyebutnya sebagai bentuk image-based sexual abuse, yaitu kekerasan seksual berbasis gambar yang terjadi ketika konten intim seseorang disebarkan tanpa persetujuan (SAFEnet, 2020).

Persetujuan yang dirampas

Dalam perkara semacam ini, pertanyaan hukum yang paling penting bukanlah apakah korban pernah berada dalam relasi intim dengan pelaku. Bukan pula apakah korban pernah membuat, menyimpan, atau mengirim konten tersebut. Pertanyaan yang seharusnya diletakkan di pusat pemeriksaan adalah: apakah korban memberikan persetujuan atas penyebaran konten itu?

Persetujuan dalam relasi pribadi tidak pernah identik dengan persetujuan untuk disebarluaskan. Seseorang dapat saja memberi kepercayaan dalam ruang relasi yang tertutup, tetapi kepercayaan itu tidak dapat diubah menjadi izin untuk membuka tubuhnya di hadapan publik. Yang privat tetap privat sampai pemilik tubuh dan data itu secara bebas, sadar, dan spesifik menyatakan kehendak sebaliknya.

Di sinilah hukum harus bekerja dengan jernih. Kesalahan pelaku bukan karena konten itu “tidak pantas” menurut ukuran moral tertentu, melainkan karena pelaku mengambil alih kendali korban atas tubuh, privasi, dan identitas digitalnya. Pelaku menjadikan tubuh korban sebagai alat tekanan. Tubuh yang semula berada dalam ruang kepercayaan dipindahkan ke ruang ancaman.

UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual telah memberi dasar penting melalui pengaturan kekerasan seksual berbasis elektronik, termasuk perbuatan merekam, mengambil gambar, mentransmisikan, atau menyebarluaskan informasi elektronik bermuatan seksual tanpa kehendak atau persetujuan orang yang menjadi objeknya. Norma ini penting karena menggeser cara pandang dari moralitas konten menuju perlindungan terhadap kehendak, privasi, dan martabat korban (Republik Indonesia, 2022).

Dengan demikian, dalam perkara penyebaran konten intim non-konsensual, consent bukan sekadar istilah etis. Consent adalah pusat gravitasi hukum. Tanpa persetujuan, penyebaran konten intim bukan ekspresi, bukan candaan, bukan urusan asmara yang gagal, melainkan kekerasan.

Victim blaming sebagai kekerasan kedua

Persoalan berikutnya adalah victim blaming. Korban sering tidak hanya takut kepada pelaku, tetapi juga takut kepada keluarga, lingkungan kerja, institusi pendidikan, komunitas agama, dan ruang digital yang siap menghakimi. Dalam banyak kasus, korban lebih dahulu dipermalukan sebelum didengar. Korban diperlakukan seolah-olah kehilangan hak atas perlindungan hanya karena pernah berada dalam relasi intim atau pernah mempercayai orang yang salah.

Baca Juga  PN Situbondo Vonis 20 Tahun Penjara bagi Ayah dan Paman Kandung yang Terbukti telah Memerkosa Anak

Di sinilah bias sosial bekerja dengan halus. Ketika konten intim tersebar, pertanyaan publik sering diarahkan kepada korban, mengapa mau difoto, mengapa mau direkam, mengapa tidak berhati-hati. Sementara itu, pertanyaan yang seharusnya diarahkan kepada pelaku justru terlambat diajukan yaitu mengapa menyebarkan, mengapa mengancam, mengapa menjadikan kepercayaan sebagai alat kekuasaan.

Hukum tidak boleh menyerap bias sosial itu tanpa kritik. Jika proses hukum lebih sibuk memeriksa kepantasan korban daripada perbuatan pelaku, ruang keadilan dapat berubah menjadi ruang kekerasan kedua. Korban dipaksa mengulang rasa malu, menjelaskan tubuhnya, membela masa lalunya, dan membuktikan bahwa dirinya layak dilindungi.

Padahal, martabat manusia tidak hilang karena seseorang pernah memiliki kehidupan privat. Privasi bukan hak orang yang sempurna secara moral. Privasi adalah hak setiap orang justru karena manusia memiliki ruang personal yang tidak boleh dibuka, diperdagangkan, atau dipersenjatai tanpa persetujuannya.

UNFPA memasukkan image-based abuse, yaitu penyebaran foto intim tanpa persetujuan, sebagai salah satu bentuk technology-facilitated gender-based violence bersama sextortion, doxing, cyberstalking, dan pelecehan seksual daring. Ini menunjukkan bahwa penyebaran konten intim non-konsensual bukan sekadar konflik personal, melainkan bagian dari kekerasan berbasis gender yang difasilitasi teknologi (UNFPA, 2024).

Karena itu, cara pandang peradilan harus berhati-hati. Yang perlu dihindari bukan hanya putusan yang keliru, tetapi juga proses yang membuat korban merasa kembali dihukum oleh sistem. Pertanyaan, pertimbangan, dan cara membaca fakta harus diarahkan pada perbuatan pelaku, relasi kuasa, dampak terhadap korban, serta ada atau tidaknya persetujuan. Bukan pada penilaian moral yang merendahkan korban.

Membaca file digital sebagai luka manusia

Penyebaran konten intim non-konsensual juga menantang cara pengadilan membaca bukti. Bukti yang diajukan dapat berupa tangkapan layar, tautan, rekaman percakapan, riwayat pesan, metadata, akun anonim, atau salinan unggahan. Pada satu sisi, hakim harus berhati-hati karena bukti digital mudah dimanipulasi. Pada sisi lain, kehati-hatian tidak boleh menjadi alasan untuk menutup mata terhadap pengalaman korban.

File digital tidak boleh dibaca hanya sebagai data. Di balik file itu ada tubuh yang dipermalukan, privasi yang dirampas, dan martabat yang sedang meminta perlindungan. Tangkapan layar bukan sekadar gambar. Riwayat pesan bukan sekadar percakapan. Ancaman menyebarkan konten intim bukan sekadar kalimat marah dalam konflik relasi, tetapi dapat menjadi alat kontrol yang membuat korban kehilangan kebebasan untuk mengambil keputusan.

Dalam konteks ini, PERMA Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan dengan Hukum tetap relevan sebagai kompas etik-yuridis. Hakim perlu mempertimbangkan relasi kuasa, ketidaksetaraan gender, stereotip, dampak psikis, serta kondisi khusus korban. Meskipun medium kekerasannya digital, bias yang melatarinya sering kali sangat lama: perempuan disalahkan karena tubuhnya, diragukan karena emosinya, dan dipermalukan karena kehidupan privatnya.

Laporan dan kerja-kerja advokasi mengenai KBGO juga menunjukkan bahwa kekerasan digital dapat berdampak serius terhadap kehidupan korban. Komnas Perempuan mencatat KBGO sebagai salah satu isu penting dalam Catatan Tahunan 2025, sementara SAFEnet telah lama mencatat peningkatan aduan terkait penyebaran konten intim non-konsensual, termasuk lonjakan signifikan pada masa awal pandemi (Komnas Perempuan, 2025; SAFEnet, 2021).

Baca Juga  Tiga Tahun Berkiprah, BPHPI Refleksikan Perjalanan dan Tantangan Hakim Perempuan di Era Digital

Maka, pengadilan perlu menjaga dua hal sekaligus. Pertama, akurasi pembuktian agar putusan tidak berdiri di atas bukti yang rapuh. Kedua, sensitivitas korban agar proses peradilan tidak menjadi panggung penghukuman moral. Keduanya tidak bertentangan. Justru keadilan yang matang menuntut keduanya hadir bersama: ketelitian terhadap bukti dan kepekaan terhadap manusia.

Dalam perkara semacam ini, pertimbangan hukum yang baik seharusnya mampu menegaskan bahwa relasi intim masa lalu tidak menghapus hak korban atas persetujuan. Keberadaan konten intim tidak membenarkan penyebaran. Rasa malu korban tidak boleh dipakai sebagai alasan untuk meragukan korban. Dan luka digital tidak boleh dianggap lebih ringan hanya karena tidak tampak di permukaan tubuh.

Penutup

Penyebaran konten intim non-konsensual memperlihatkan bagaimana teknologi dapat mengubah kepercayaan menjadi alat kekerasan. Yang semula berada dalam ruang privat dapat dipindahkan secara paksa ke ruang publik. Yang semula merupakan bagian dari relasi personal dapat digunakan untuk menghancurkan reputasi, menekan kehendak, dan merampas martabat korban.

Karena itu, hukum harus cukup jernih membedakan antara tubuh yang pernah dipercayakan dan tubuh yang kemudian dipersenjatai. Perkara semacam ini bukan tentang aib korban. Ini tentang tindakan pelaku yang merampas persetujuan dan menggunakan teknologi untuk mempermalukan manusia lain.

Pada akhirnya, konten intim yang disebarkan tanpa persetujuan bukan bukti rendahnya martabat korban. Ia adalah jejak kekerasan pelaku. Tugas hukum, terutama pengadilan, adalah memastikan jejak itu dibaca secara tepat: bukan sebagai alasan untuk mengadili korban, melainkan sebagai dasar untuk memulihkan martabatnya.

Daftar Referensi:

Komnas Perempuan. 2025. Lembar Fakta Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2025. Jakarta: Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

Komnas Perempuan. 2026. Siaran Pers Komnas Perempuan tentang Penyelesaian Dugaan Pelecehan Seksual Berbasis Online di Lingkungan Kampus. Jakarta: Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

Republik Indonesia. 2022. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

Republik Indonesia. 2022. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

Mahkamah Agung Republik Indonesia. 2017. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan dengan Hukum. Jakarta: Mahkamah Agung Republik Indonesia.

SAFEnet. 2020. Panduan Menghadapi Penyebaran Konten Intim Non-Konsensual. Jakarta: SAFEnet.

SAFEnet. 2024. Aspek Hukum untuk Jerat Pelaku: Panduan Seri Kedua Menghadapi Penyebaran Konten Intim Non-Konsensual. Jakarta: SAFEnet.

UNFPA. 2024. Technology-Facilitated Gender-Based Violence: An Infographic Guide. New York: United Nations Population Fund.

UNFPA. 2024. Technology-Facilitated Gender-Based Violence. New York: United Nations Population Fund.

OHCHR. 2025. Technology-Facilitated Gender-Based Violence. Geneva: Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights.

Muamar Azmar Mahmud Farig
Kontributor
Muamar Azmar Mahmud Farig
Hakim Pengadilan Negeri Poso

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

gender kekerasan seksual korban kekerasan seksual penyebaran konten victim blaming
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak

October 30, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer

By Bagus Partha WijayaNovember 1, 20260

Sebagai implementasi nyata sekaligus inisiasi program kepedulian dilingkungan Pengadilan Militer dibawah kepemimpinan Kolonel Laut (H)…

MOVE!

November 1, 2026

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer
  • MOVE!
  • Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian
  • Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta
  • Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

Recent Comments

  1. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  2. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  3. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  4. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  5. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.