Senja belum sepenuhnya turun ketika langkah-langkah itu mulai berkumpul di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Waktu menunjukkan pukul 19.20 WIB, namun semangat tiga puluh delegasi hakim dari seluruh penjuru Indonesia, terasa jauh lebih terang daripada lampu-lampu bandara. Mereka datang dari empat lingkungan peradilan (peradilan umum, peradilan agama, peradilan tata usaha negara, dan peradilan militer), ditambah para hakim yustisial dari Mahkamah Agung serta Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan. Dalam satu barisan yang sama walaupun berbeda latar belakang, ternyata mampu melebur menjadi satu, yaitu semangat untuk terus belajar, memperluas cakrawala, dan menjemput masa depan peradilan yang lebih adaptif terhadap zaman.
Perjalanan panjang itu, dimulai dengan lepas landas menuju Singapura. Malam menjadi saksi awal sebuah perjalanan yang tidak sekadar berpindah ruang, tetapi juga melintasi batas pengetahuan dan pengalaman. Setelah beberapa jam di udara, rombongan tiba di Singapore Changi Airport, sebuah simpul global yang mempertemukan manusia dari berbagai penjuru dunia. Di sana, selama kurang lebih empat jam transit, para delegasi memanfaatkan waktu untuk beristirahat sejenak, berdiskusi ringan, atau sekadar merenung. Mungkin tentang perkara-perkara yang pernah mereka tangani, atau tentang tantangan hukum yang semakin kompleks di era digital.
Perjalanan kembali berlanjut. Dari Singapura, pesawat membawa mereka menuju Indira Gandhi International Airport di Delhi, India. Saat itu, sang faajar belum lama menyapa, ketika mereka tiba pada pukul 05.40 waktu setempat. Namun, perjalanan belum benar-benar mencapai titik jeda. Proses keimigrasian dan transit yang memakan waktu sekitar enam jam, menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan ini. Sebuah Perjalanan yang sejatinya menguji kesabaran, sekaligus ketahanan fisik. Namun, tekad yang kuat dan semangat yang menyala untuk mengikuti Interactive training program di National Judicial Academy di India, tidak menyurutkan semangat dan jejak Langkah mereka.
Waktu terasa berjalan lambat, tetapi tujuan yang jelas membuat setiap menit tetap bermakna. Hingga akhirnya, pada pukul 12.00 siang waktu setempat, perjalanan dilanjutkan menuju Bhopal, ibu kota negara bagian Madhya Pradesh, yang dikenal sebagai “Kota Danau”. Dari udara, bentang India tampak luas dan berlapis-lapis: kota, sungai, dan jejak peradaban yang telah lama berdiri.
Setibanya di Raja Bhoj Airport, sekitar pukul 14.00 waktu India (atau 15.30 WIB), suasana berubah menjadi lebih hangat, bukan hanya karena udara, tetapi juga karena sambutan yang diberikan. Para delegasi disambut dengan penuh kehormatan oleh pihak kampus National Judicial Academy (NJA). Pengawalan dari pihak kepolisian setempat, mengiringi perjalanan mereka menuju kampus, seakan menegaskan bahwa kehadiran para hakim ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan bagian dari kerja sama penting dalam pengembangan kapasitas peradilan lintas negara.
Sekitar pukul 14.30 waktu setempat, rombongan akhirnya tiba di kampus NJA, Bhopal. Perjalanan panjang yang melelahkan itu, seharusnya cukup untuk membuat siapa pun ingin segera beristirahat. Namun yang tampak justru sebaliknya, semangat para delegasi tetap menyala. Tidak ada kelelahan yang mampu mengalahkan kesadaran bahwa mereka sedang berada di sebuah ruang pembelajaran yang penting.
Mereka datang untuk mengikuti sebuah program pelatihan interaktif yang berfokus pada penguatan kapasitas di bidang siber, teknologi informasi dan komunikasi, peningkatan keterampilan yudisial, serta pemahaman atas isu-isu transnasional yang semakin kompleks, termasuk persoalan lingkungan, kejahatan lintas negara, hingga mekanisme penyelesaian sengketa alternatif. Semua tema itu bukan sekadar wacana akademik, melainkan kebutuhan nyata dalam praktik peradilan saat ini di Indonesia.
Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, wajah kejahatan pun ikut berubah. Kejahatan tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi merambah ruang digital yang tanpa batas. Dalam konteks ini, hakim tidak hanya dituntut memahami hukum secara normatif, tetapi juga harus mampu membaca pola-pola baru kejahatan yang kerap tersembunyi di balik teknologi.
Perjalanan ke Bhopal ini, dengan segala transit dan kelelahan yang menyertainya, pada akhirnya menjadi simbol dari sesuatu yang lebih besar, bahwa menjadi hakim di era modern, berarti terus bergerak, terus belajar, dan terus menyesuaikan diri. Sebab keadilan tidak boleh tertinggal oleh zaman.
Di kampus National Judicial Academy yang terletak di kota Bhopal yang tenang, dan didekat Danau Bhojtal (Upper Lake) yang legendaris, tiga puluh delegasi dari Indonesia memulai babak baru. Mereka bukan hanya sebagai peserta pelatihan, tetapi sebagai pembawa harapan akan wajah peradilan yang lebih tanggap, lebih cerdas, dan lebih siap menghadapi kemajuan dibidang Siber, Teknologi Informasi dan Komunikasi dan pemahaman atas isu-isu transnasional yang kompleks.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


