Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

“Penguatan Kompetensi Jurusita untuk Peradilan Berkualitas”

27 July 2026 • 10:03 WIB

Reputasi dan Komunikasi Krisis: Menjaga Kepercayaan Publik di Era Digital

27 July 2026 • 07:04 WIB

Konvergensi Hukum Acara Peradilan Agama dan Pengawasan Sektor Jasa Keuangan: Analisis Implementasi PERMA Nomor 4 Tahun 2025

26 July 2026 • 09:00 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Menimbang ulang batas usia Hakim Ad Hoc PHI dengan Hakim Karir
Artikel

Menimbang ulang batas usia Hakim Ad Hoc PHI dengan Hakim Karir

Abdi Munawar Daeng MangagangAbdi Munawar Daeng Mangagang6 March 2026 • 07:53 WIB5 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Batasan usia pensiun seharusnya menjadi penanda paling jelas suatu jabatan bersifat permanen, bukan sementara. Di satu sisi, negara menetapkan usia pensiun bagi hakim ad hoc Pengadilan Hubungan Industrial (PHI): sebuah ciri khas jabatan karier. Di sisi lain, posisi tersebut tetap diperlakukan seolah-olah sementara dan dibatasi secara ketat. Lebih ironis lagi, hakim karier yang telah pensiun justru diberikan ruang “napas kedua” untuk kembali menjabat sebagai hakim ad hoc di peradilan pidana khusus tanpa pembatasan serupa. Kontradiksi inilah yang mencerminkan standar ganda dalam sistem peradilan dan sekaligus mempertanyakan konsistensi logika keadilan yang digunakan.

Hakim karier, dengan segala penghormatan terhadap kompetensi yuridisnya, merupakan produk pendidikan hukum yang lama didominasi oleh positivisme hukum. Dalam tradisi ini, hakim kerap diposisikan sebagai “corong undang-undang” yang bekerja melalui logika silogisme: menerapkan aturan umum ke fakta konkret secara mekanistik. Pendekatan ini menjadi problematik ketika diterapkan dalam hubungan industrial yang secara inheren bersifat asimetris. Kesetaraan para pihak sering kali hanya menjadi konstruksi normatif, bukan realitas faktual.

Dalam praktiknya, relasi antara buruh dan pengusaha tidak pernah benar-benar seimbang. Kontrak kerja yang tampak sah secara formal kerap menyimpan tekanan ekonomi yang tidak terlihat. Ketika sengketa hanya dipandang semata dari teks perjanjian, hukum berisiko menutup mata terhadap relasi kuasa yang melatarbelakanginya.

Gagasan tentang hukum yang hidup dalam masyarakat menegaskan bahwa keadilan tidak cukup dicapai melalui kepatuhan pada teks normatif. Dalam konteks hubungan industrial, kebenaran substantif sering kali justru tersembunyi di balik dokumen yang tampak sah, tetapi tidak mencerminkan kondisi riil para pihak.

Di sinilah Hakim Ad Hoc PHI mengambil peran penting. Mereka hadir untuk menjembatani kesenjangan antara norma hukum dan realitas sosial. Dengan pengalaman praktis, hakim ad hoc memiliki kepekaan dalam membaca situasi yang tidak selalu tertangkap oleh pendekatan normatif mulai dari ketimpangan posisi tawar hingga praktik kerja yang secara formal sah namun substantif problematik.

Peran ini menjadikan hakim ad hoc sebagai elemen esensial dalam sistem peradilan hubungan industrial. PHI tidak dirancang sebagai pengadilan biasa, melainkan sebagai forum yang menggabungkan perspektif yuridis dengan pengalaman praktis dunia kerja. Tanpa kehadiran hakim ad hoc, putusan berisiko kehilangan konteks sosialnya dan terjebak dalam formalisme hukum.

Baca Juga  Merajut Logika, Menimbang Etika: Pilar Keadilan dalam Negara Prismatik

Namun, peran strategis ini justru tidak diikuti dengan pengakuan kelembagaan yang setara. Terdapat kontradiksi mencolok dalam praktik di lingkungan Mahkamah Agung. Hakim karier yang telah memasuki masa pensiun tetap diberi ruang untuk kembali mengabdi sebagai hakim ad hoc pada berbagai peradilan pidana khusus. Sistem membuka ruang pengabdian lanjutan sebagai bentuk pemanfaatan pengalaman dan keahlian yang telah terbangun.

Sebaliknya, dalam konteks PHI, hakim ad hoc justru dihadapkan pada batas usia pensiun yang lebih rendah, yakni 62 tahun di pengadilan tingkat pertama. Ketentuan ini menjadi titik krusial yang mencerminkan adanya perbedaan perlakuan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan prinsip keadilan dalam jabatan kehakiman.

Batas usia pensiun bukan sekadar angka administratif. Ia merupakan indikator penting dalam menentukan apakah suatu jabatan dipandang sebagai posisi sementara atau sebagai profesi yang bersifat permanen. Dalam praktik kelembagaan, keberadaan usia pensiun justru melekat pada jabatan yang diakui sebagai karier jangka panjang dan berkelanjutan.

Dengan demikian, keberadaan batas usia pensiun bagi Hakim Ad Hoc PHI sesungguhnya menegaskan bahwa jabatan ini memiliki karakter permanen dalam sistem peradilan. Negara secara implisit mengakui bahwa posisi tersebut bukan sekadar peran temporer, melainkan bagian dari struktur yang membutuhkan kesinambungan dan pengelolaan berbasis profesionalitas.

Namun pengakuan implisit ini belum diikuti dengan kebijakan yang konsisten. Jika hakim ad hoc PHI diposisikan sebagai bagian permanen, maka mekanisme pengangkatannya seharusnya juga mencerminkan prinsip keberlanjutan tersebut. Dalam konteks jabatan yang memiliki usia pensiun, pola yang lebih tepat bukanlah pembatasan yang kaku, melainkan sistem pengangkatan periodik berbasis evaluasi.

Artinya, hakim ad hoc PHI semestinya dapat diangkat kembali secara berkala, setiap lima tahun dengan didasarkan pada evaluasi internal yang berkelanjutan atas kinerja, integritas, dan profesionalitas. Model ini tidak hanya menjaga kualitas, tetapi juga memastikan adanya akuntabilitas tanpa mengorbankan kontinuitas pengalaman.

Ketimpangan semakin terlihat jelas ketika dibandingkan dengan praktik pada hakim ad hoc di peradilan pidana khusus. Dalam praktik tersebut, tidak dikenal pembatasan usia pensiun yang rigid sebagaimana berlaku di PHI. Bahkan, hakim yang telah purna dari jabatan karier masih dapat diangkat sebagai hakim ad hoc tanpa dibatasi oleh usia yang lebih rendah.

Baca Juga  Ketika Hukum Bertemu Hati: Hakim dan Seni Me-rasa-kan Keadilan

Kondisi ini menunjukkan bahwa secara sistemik, usia tidak dipandang sebagai faktor pembatas absolut dalam kapasitas seseorang untuk menjalankan fungsi kehakiman, khususnya dalam peran ad hoc. Oleh karena itu, pembatasan usia pada hakim ad hoc PHI menjadi tidak konsisten ketika dibandingkan dengan praktik yang berlaku di lingkungan peradilan lainnya.

Lebih dari itu, pembedaan ini tidak dapat dibenarkan jika ditinjau dari prinsip keadilan. Asas persamaan di hadapan hukum menuntut agar setiap jabatan dalam struktur peradilan diperlakukan secara setara sepanjang memiliki fungsi yang sebanding. Hakim ad hoc, baik dalam ranah pidana khusus maupun hubungan industrial, sama-sama menjalankan fungsi yudisial yang memerlukan independensi, integritas, dan kompetensi.

Dalam perspektif keadilan substantif, hukum tidak boleh berhenti pada penerapan asas secara formal. Ia harus mampu menjawab apakah suatu kebijakan benar-benar adil dalam praktiknya. Ketika dua posisi yang setara diperlakukan secara berbeda tanpa alasan rasional, maka di situlah hukum kehilangan legitimasi moralnya.

Keberadaan hakim ad hoc PHI sendiri sejalan dengan prinsip tripartit yang juga menjadi dasar praktik ketenagakerjaan global, sebagaimana dikembangkan oleh International Labour Organization. Prinsip ini menekankan pentingnya keterlibatan unsur pekerja, pengusaha, dan pemerintah dalam penyelesaian sengketa industrial.

Tanpa keterlibatan unsur praktisi, pengadilan berisiko kehilangan legitimasi sosial. Putusan yang tidak sensitif terhadap realitas lapangan justru dapat memperburuk konflik dan merusak stabilitas hubungan industrial.

Oleh karena itu, penting untuk menempatkan kembali posisi hakim ad hoc PHI dalam kerangka yang utuh. Jika jabatan ini telah memiliki batas usia pensiun, maka secara konseptual ia tidak lagi dapat dipandang sebagai peran sementara, melainkan sebagai bagian permanen dari sistem peradilan yang membutuhkan kesinambungan.

Pada akhirnya, keberadaan batas usia pensiun bagi Hakim Ad Hoc PHI menegaskan sifat permanen jabatan tersebut. Konsekuensinya, mekanisme pengangkatan seharusnya berbasis evaluasi berkala, bukan pembatasan yang kaku. Hakim Ad Hoc PHI semestinya dapat diangkat kembali setiap lima tahun melalui evaluasi internal yang berkelanjutan, hingga mencapai usia pensiun yang setara dengan hakim karier, sekarang 65 tahun yang sedang diusulkan menjadi 67 tahun.

Abdi Munawar Daeng Mangagang
Kontributor
Abdi Munawar Daeng Mangagang
Hakim Ad Hoc PHI Pengadilan Negeri Gresik

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

hakim ad hoc Hubungan Industrial Hukum Ketenagakerjaan Keadilan Substantif mahkamah agung Pengadilan Hubungan Industrial Reformasi Peradilan Sistem Peradilan Indonesia Standar Ganda Hukum Usia Pensiun Hakim
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Reputasi dan Komunikasi Krisis: Menjaga Kepercayaan Publik di Era Digital

27 July 2026 • 07:04 WIB

Konvergensi Hukum Acara Peradilan Agama dan Pengawasan Sektor Jasa Keuangan: Analisis Implementasi PERMA Nomor 4 Tahun 2025

26 July 2026 • 09:00 WIB

Penguatan Kompetensi Jurusita di Tengah Tantangan Pelaksanaan Eksekusi Putusan Pengadilan Agama

24 July 2026 • 15:08 WIB
Leave A Reply

Demo
Top Posts

Menepi Sejenak di Tambak Bandeng

11 July 2026 • 09:06 WIB

Prediksi Juara World Cup 2026 Dari Pusdiklat Menpim

6 July 2026 • 21:16 WIB

Meneguhkan Negara Hukum Melalui Perlindungan Sosial: Sinergi Kebijakan Publik dan Lembaga Peradilan bagi Petani dan Pekerja Sektor Informal

1 July 2026 • 14:00 WIB

Peradilan Militer Bukan Ruang Gelap: Menepis Narasi Impunitas dengan Fakta dan Akuntabilitas

9 May 2026 • 18:38 WIB
Don't Miss

“Penguatan Kompetensi Jurusita untuk Peradilan Berkualitas”

By Ahmad Junaedi27 July 2026 • 10:03 WIB0

Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan fondasi utama dalam mewujudkan badan peradilan yang profesional, modern,…

Reputasi dan Komunikasi Krisis: Menjaga Kepercayaan Publik di Era Digital

27 July 2026 • 07:04 WIB

Konvergensi Hukum Acara Peradilan Agama dan Pengawasan Sektor Jasa Keuangan: Analisis Implementasi PERMA Nomor 4 Tahun 2025

26 July 2026 • 09:00 WIB

Menghadirkan Ilmu dan Hati Nurani dalam Putusan Pengadilan

25 July 2026 • 12:20 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • “Penguatan Kompetensi Jurusita untuk Peradilan Berkualitas”
  • Reputasi dan Komunikasi Krisis: Menjaga Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Konvergensi Hukum Acara Peradilan Agama dan Pengawasan Sektor Jasa Keuangan: Analisis Implementasi PERMA Nomor 4 Tahun 2025
  • Menghadirkan Ilmu dan Hati Nurani dalam Putusan Pengadilan
  • Penguatan Kompetensi Jurusita di Tengah Tantangan Pelaksanaan Eksekusi Putusan Pengadilan Agama

Recent Comments

  1. Michaeljes on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  2. Vivod iz zapoya na domy_otet on Adakah Lembaga Arbitrase di India?
  3. Vivod iz zapoya na domy_qkOl on Adakah Lembaga Arbitrase di India?
  4. Vivod iz zapoya na domy_eeet on Wamenkum dan DPR: Terhadap Putusan Bebas, Tidak Ada Upaya Hukum
  5. Vivod iz zapoya na domy_mbOl on Wamenkum dan DPR: Terhadap Putusan Bebas, Tidak Ada Upaya Hukum
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Dr. Satria Perdana, S.H., M.H.
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.