Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Tiga Pesan Penting Ketua PTA Palembang dalam Pelantikan Hakim Tinggi dan Panitera Pengganti

November 2, 2026

Menatap Wajah Keadilan dalam Penegakan Hukum Jinayat: Dialektika Syariat Lokal, Asas Hukum, dan Pembaruan Hukum Pidana Nasional

November 2, 2026

BSDK Buka Diklat SPPA Gelombang 2, Cetak Hakim Anak yang Humanis dan Berintegritas

November 2, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Menimbang ulang batas usia Hakim Ad Hoc PHI dengan Hakim Karir

Menimbang ulang batas usia Hakim Ad Hoc PHI dengan Hakim Karir

Abdi Munawar Daeng MangagangBy Abdi Munawar Daeng MangagangMarch 6, 2026 · 07:53 WIB5 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Batasan usia pensiun seharusnya menjadi penanda paling jelas suatu jabatan bersifat permanen, bukan sementara. Di satu sisi, negara menetapkan usia pensiun bagi hakim ad hoc Pengadilan Hubungan Industrial (PHI): sebuah ciri khas jabatan karier. Di sisi lain, posisi tersebut tetap diperlakukan seolah-olah sementara dan dibatasi secara ketat. Lebih ironis lagi, hakim karier yang telah pensiun justru diberikan ruang “napas kedua” untuk kembali menjabat sebagai hakim ad hoc di peradilan pidana khusus tanpa pembatasan serupa. Kontradiksi inilah yang mencerminkan standar ganda dalam sistem peradilan dan sekaligus mempertanyakan konsistensi logika keadilan yang digunakan.

Hakim karier, dengan segala penghormatan terhadap kompetensi yuridisnya, merupakan produk pendidikan hukum yang lama didominasi oleh positivisme hukum. Dalam tradisi ini, hakim kerap diposisikan sebagai “corong undang-undang” yang bekerja melalui logika silogisme: menerapkan aturan umum ke fakta konkret secara mekanistik. Pendekatan ini menjadi problematik ketika diterapkan dalam hubungan industrial yang secara inheren bersifat asimetris. Kesetaraan para pihak sering kali hanya menjadi konstruksi normatif, bukan realitas faktual.

Dalam praktiknya, relasi antara buruh dan pengusaha tidak pernah benar-benar seimbang. Kontrak kerja yang tampak sah secara formal kerap menyimpan tekanan ekonomi yang tidak terlihat. Ketika sengketa hanya dipandang semata dari teks perjanjian, hukum berisiko menutup mata terhadap relasi kuasa yang melatarbelakanginya.

Gagasan tentang hukum yang hidup dalam masyarakat menegaskan bahwa keadilan tidak cukup dicapai melalui kepatuhan pada teks normatif. Dalam konteks hubungan industrial, kebenaran substantif sering kali justru tersembunyi di balik dokumen yang tampak sah, tetapi tidak mencerminkan kondisi riil para pihak.

Di sinilah Hakim Ad Hoc PHI mengambil peran penting. Mereka hadir untuk menjembatani kesenjangan antara norma hukum dan realitas sosial. Dengan pengalaman praktis, hakim ad hoc memiliki kepekaan dalam membaca situasi yang tidak selalu tertangkap oleh pendekatan normatif mulai dari ketimpangan posisi tawar hingga praktik kerja yang secara formal sah namun substantif problematik.

Peran ini menjadikan hakim ad hoc sebagai elemen esensial dalam sistem peradilan hubungan industrial. PHI tidak dirancang sebagai pengadilan biasa, melainkan sebagai forum yang menggabungkan perspektif yuridis dengan pengalaman praktis dunia kerja. Tanpa kehadiran hakim ad hoc, putusan berisiko kehilangan konteks sosialnya dan terjebak dalam formalisme hukum.

Baca Juga  Membangun Kecakapan Yudisial Digital Hakim: Optimalisasi Diklat Bukti Elektronik dalam Perkara Waris

Namun, peran strategis ini justru tidak diikuti dengan pengakuan kelembagaan yang setara. Terdapat kontradiksi mencolok dalam praktik di lingkungan Mahkamah Agung. Hakim karier yang telah memasuki masa pensiun tetap diberi ruang untuk kembali mengabdi sebagai hakim ad hoc pada berbagai peradilan pidana khusus. Sistem membuka ruang pengabdian lanjutan sebagai bentuk pemanfaatan pengalaman dan keahlian yang telah terbangun.

Sebaliknya, dalam konteks PHI, hakim ad hoc justru dihadapkan pada batas usia pensiun yang lebih rendah, yakni 62 tahun di pengadilan tingkat pertama. Ketentuan ini menjadi titik krusial yang mencerminkan adanya perbedaan perlakuan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan prinsip keadilan dalam jabatan kehakiman.

Batas usia pensiun bukan sekadar angka administratif. Ia merupakan indikator penting dalam menentukan apakah suatu jabatan dipandang sebagai posisi sementara atau sebagai profesi yang bersifat permanen. Dalam praktik kelembagaan, keberadaan usia pensiun justru melekat pada jabatan yang diakui sebagai karier jangka panjang dan berkelanjutan.

Dengan demikian, keberadaan batas usia pensiun bagi Hakim Ad Hoc PHI sesungguhnya menegaskan bahwa jabatan ini memiliki karakter permanen dalam sistem peradilan. Negara secara implisit mengakui bahwa posisi tersebut bukan sekadar peran temporer, melainkan bagian dari struktur yang membutuhkan kesinambungan dan pengelolaan berbasis profesionalitas.

Namun pengakuan implisit ini belum diikuti dengan kebijakan yang konsisten. Jika hakim ad hoc PHI diposisikan sebagai bagian permanen, maka mekanisme pengangkatannya seharusnya juga mencerminkan prinsip keberlanjutan tersebut. Dalam konteks jabatan yang memiliki usia pensiun, pola yang lebih tepat bukanlah pembatasan yang kaku, melainkan sistem pengangkatan periodik berbasis evaluasi.

Artinya, hakim ad hoc PHI semestinya dapat diangkat kembali secara berkala, setiap lima tahun dengan didasarkan pada evaluasi internal yang berkelanjutan atas kinerja, integritas, dan profesionalitas. Model ini tidak hanya menjaga kualitas, tetapi juga memastikan adanya akuntabilitas tanpa mengorbankan kontinuitas pengalaman.

Ketimpangan semakin terlihat jelas ketika dibandingkan dengan praktik pada hakim ad hoc di peradilan pidana khusus. Dalam praktik tersebut, tidak dikenal pembatasan usia pensiun yang rigid sebagaimana berlaku di PHI. Bahkan, hakim yang telah purna dari jabatan karier masih dapat diangkat sebagai hakim ad hoc tanpa dibatasi oleh usia yang lebih rendah.

Baca Juga  8 Juni 1946 sebagai Tonggak Lahirnya Peradilan Militer Indonesia dalam Perspektif Negara Hukum

Kondisi ini menunjukkan bahwa secara sistemik, usia tidak dipandang sebagai faktor pembatas absolut dalam kapasitas seseorang untuk menjalankan fungsi kehakiman, khususnya dalam peran ad hoc. Oleh karena itu, pembatasan usia pada hakim ad hoc PHI menjadi tidak konsisten ketika dibandingkan dengan praktik yang berlaku di lingkungan peradilan lainnya.

Lebih dari itu, pembedaan ini tidak dapat dibenarkan jika ditinjau dari prinsip keadilan. Asas persamaan di hadapan hukum menuntut agar setiap jabatan dalam struktur peradilan diperlakukan secara setara sepanjang memiliki fungsi yang sebanding. Hakim ad hoc, baik dalam ranah pidana khusus maupun hubungan industrial, sama-sama menjalankan fungsi yudisial yang memerlukan independensi, integritas, dan kompetensi.

Dalam perspektif keadilan substantif, hukum tidak boleh berhenti pada penerapan asas secara formal. Ia harus mampu menjawab apakah suatu kebijakan benar-benar adil dalam praktiknya. Ketika dua posisi yang setara diperlakukan secara berbeda tanpa alasan rasional, maka di situlah hukum kehilangan legitimasi moralnya.

Keberadaan hakim ad hoc PHI sendiri sejalan dengan prinsip tripartit yang juga menjadi dasar praktik ketenagakerjaan global, sebagaimana dikembangkan oleh International Labour Organization. Prinsip ini menekankan pentingnya keterlibatan unsur pekerja, pengusaha, dan pemerintah dalam penyelesaian sengketa industrial.

Tanpa keterlibatan unsur praktisi, pengadilan berisiko kehilangan legitimasi sosial. Putusan yang tidak sensitif terhadap realitas lapangan justru dapat memperburuk konflik dan merusak stabilitas hubungan industrial.

Oleh karena itu, penting untuk menempatkan kembali posisi hakim ad hoc PHI dalam kerangka yang utuh. Jika jabatan ini telah memiliki batas usia pensiun, maka secara konseptual ia tidak lagi dapat dipandang sebagai peran sementara, melainkan sebagai bagian permanen dari sistem peradilan yang membutuhkan kesinambungan.

Pada akhirnya, keberadaan batas usia pensiun bagi Hakim Ad Hoc PHI menegaskan sifat permanen jabatan tersebut. Konsekuensinya, mekanisme pengangkatan seharusnya berbasis evaluasi berkala, bukan pembatasan yang kaku. Hakim Ad Hoc PHI semestinya dapat diangkat kembali setiap lima tahun melalui evaluasi internal yang berkelanjutan, hingga mencapai usia pensiun yang setara dengan hakim karier, sekarang 65 tahun yang sedang diusulkan menjadi 67 tahun.

Abdi Munawar Daeng Mangagang
Kontributor
Abdi Munawar Daeng Mangagang
Hakim Ad Hoc PHI Pengadilan Negeri Gresik

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

hakim ad hoc Hubungan Industrial Hukum Ketenagakerjaan Keadilan Substantif mahkamah agung Pengadilan Hubungan Industrial Reformasi Peradilan Sistem Peradilan Indonesia Standar Ganda Hukum Usia Pensiun Hakim
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menatap Wajah Keadilan dalam Penegakan Hukum Jinayat: Dialektika Syariat Lokal, Asas Hukum, dan Pembaruan Hukum Pidana Nasional

November 2, 2026

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Tiga Pesan Penting Ketua PTA Palembang dalam Pelantikan Hakim Tinggi dan Panitera Pengganti

By AmanNovember 2, 20260

PALEMBANG — Ketua Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Palembang Drs. Nur Khazim, SH, MH secara resmi…

Menatap Wajah Keadilan dalam Penegakan Hukum Jinayat: Dialektika Syariat Lokal, Asas Hukum, dan Pembaruan Hukum Pidana Nasional

November 2, 2026

BSDK Buka Diklat SPPA Gelombang 2, Cetak Hakim Anak yang Humanis dan Berintegritas

November 2, 2026

Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer

November 1, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Tiga Pesan Penting Ketua PTA Palembang dalam Pelantikan Hakim Tinggi dan Panitera Pengganti
  • Menatap Wajah Keadilan dalam Penegakan Hukum Jinayat: Dialektika Syariat Lokal, Asas Hukum, dan Pembaruan Hukum Pidana Nasional
  • BSDK Buka Diklat SPPA Gelombang 2, Cetak Hakim Anak yang Humanis dan Berintegritas
  • Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer
  • MOVE!

Recent Comments

  1. Abdul Mustopa on MOVE!
  2. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  3. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  4. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  5. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.