Pelatihan bagi Hakim dan Personel Yudisial Indonesia yang diselenggarakan melalui program Indian Technical and Economic Cooperation (ITEC) pada tanggal 24 sampai dengan 28 April 2026 di National Judicial Academy (NJA) India bukan sekadar forum pembelajaran teknis, melainkan suatu proses pembentukan perspektif yudisial yang lebih luas, kritis, dan adaptif terhadap perkembangan hukum modern. Dalam konteks tersebut, pengalaman keseharian para peserta selama mengikuti pelatihan justru menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran itu sendiri.
Setiap pagi, kegiatan dimulai dengan sarapan bersama yang diikuti oleh tiga puluh peserta. Suasana yang terbangun pada momen ini mencerminkan kesederhanaan sekaligus kedekatan yang perlahan mengikis sekat-sekat formal antarindividu. Dari ruang makan menuju kelas, para peserta berjalan kaki menempuh jarak kurang lebih dua ratus meter. Dalam kondisi suhu udara yang mencapai sekitar 41 derajat Celsius, perjalanan tersebut secara objektif bukanlah sesuatu yang ringan. Namun demikian, yang tampak justru sebaliknya: langkah-langkah yang mantap, percakapan yang mengalir, serta senda gurau yang muncul secara spontan.
Fenomena ini tidak dapat dipandang sebagai sekadar ekspresi kebersamaan yang bersifat kasuistik. Ia merefleksikan adanya kesadaran kolektif bahwa proses memperoleh pengetahuan menuntut kesiapan fisik sekaligus mental. Dalam situasi cuaca yang ekstrem sekalipun, para peserta tetap menunjukkan disiplin dan antusiasme yang konsisten. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa profesionalitas dalam dunia peradilan tidak hanya dibentuk melalui kecakapan intelektual, tetapi juga melalui ketahanan dan komitmen dalam menghadapi berbagai kondisi.
Proses pembelajaran secara formal dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat dan berlangsung hingga pukul 16.30. Selama rentang waktu tersebut, metode yang digunakan tidak bersifat satu arah. Diskusi menjadi instrumen utama dalam menggali pemahaman yang lebih mendalam, khususnya dalam membandingkan berbagai aspek hukum acara dan praktik peradilan antara Indonesia dan India. Pertukaran pandangan ini memperlihatkan bahwa perbedaan sistem hukum bukanlah hambatan, melainkan ruang untuk memperkaya perspektif.
Dalam forum diskusi, terlihat dengan jelas bagaimana para peserta tidak hanya berperan sebagai penerima materi, tetapi juga sebagai subjek aktif yang menguji, mempertanyakan, dan mengaitkan setiap konsep dengan praktik yang selama ini dijalankan di Indonesia. Pendekatan komparatif ini menjadi krusial, mengingat kompleksitas persoalan hukum dewasa ini semakin dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk perkembangan teknologi dan karakter lintas batas dari berbagai sengketa. Dalam forum ini, para narasumber dari NJA tidak menjaga jarak secara kaku. Interaksi yang terbangun terasa terbuka, bahkan dalam beberapa kesempatan berlangsung dengan nuansa yang cair namun tetap terarah.
Keakraban antara peserta dan narasumber ini memiliki implikasi yang signifikan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak berhenti pada tataran normatif, tetapi berkembang menjadi kritik yang konstruktif. Para peserta merasa memiliki ruang yang cukup untuk menguji gagasan, sementara narasumber merespons dengan pendekatan yang tidak defensif, melainkan dialogis. Situasi ini menciptakan atmosfer pembelajaran yang hidup, di mana pertukaran perspektif berlangsung secara jujur dan produktif.
Dalam diskusi-diskusi tersebut, tampak jelas bahwa perbandingan sistem hukum tidak dimaksudkan untuk menilai superioritas satu sistem terhadap yang lain. Sebaliknya, pendekatan komparatif digunakan sebagai alat refleksi untuk melihat kekuatan dan keterbatasan masing-masing sistem. Para peserta secara aktif mengaitkan materi yang disampaikan dengan praktik peradilan di Indonesia, khususnya dalam menghadapi tantangan modern seperti digitalisasi peradilan, penyelesaian sengketa yang efisien, serta meningkatnya kompleksitas perkara lintas batas.
Setelah sesi pembelajaran berakhir, para peserta kembali ke mess dengan berjalan kaki. Suhu udara pada sore hari yang masih berkisar di angka 30 – 35 derajat Celsius tidak serta-merta mengurangi semangat yang telah terbangun sejak pagi. Justru dalam perjalanan kembali tersebut, suasana kebersamaan kembali terasa hidup. Percakapan ringan yang diselingi tawa menunjukkan bahwa kelelahan fisik tidak menggerus motivasi intelektual yang telah terbangun sepanjang hari.
Dari keseluruhan rangkaian kegiatan ini, dapat ditarik suatu pemahaman yang lebih mendasar bahwa pembelajaran yudisial yang efektif tidak hanya terletak pada materi yang disampaikan di dalam kelas, tetapi juga pada proses pembentukan karakter yang berlangsung di luar ruang formal. Keteguhan untuk tetap berjalan di bawah terik matahari, kedisiplinan mengikuti setiap sesi pembelajaran, serta keterbukaan dalam berdiskusi merupakan indikator nyata dari keseriusan para peserta dalam menyerap ilmu.
Dengan demikian, pelatihan ini harus dipandang sebagai bagian dari strategi yang lebih luas dalam memperkuat kapasitas peradilan Indonesia. Semangat yang tercermin dalam langkah kaki para peserta bukanlah simbol yang kosong, melainkan representasi dari komitmen untuk membawa pulang pengetahuan, memperkaya praktik peradilan, serta merespons tantangan hukum modern secara lebih tegas, terukur, dan berorientasi pada keadilan substantif.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


