Pagi masih muda di Jabalpur. Udara sudah terasa panas dan sedikit pengap, meski matahari baru naik. Halaman Madhya Pradesh State Judicial Academy mulai ramai, staf berlalu-lalang menyiapkan agenda hari itu di lingkungan High Court of Madhya Pradesh.
Di kamar masing-masing, pagi berjalan seperti biasa—hingga berubah dalam satu momen kecil.
Shankar setelah membuka jendela dan masih menatap deretan kursi yang masih terpajang dihalaman belum dirapikan setelah menjadi sarana yang megah dalam penyambutan kedatangan rombongan malam tadi, menatap tas ranselnya sejenak.
Tidak ada baju putih.
Di waktu yang hampir bersamaan, di kamar lain, Kumar juga menyadari hal yang sama dalam diam—ia tidak membawa celana hitam.
Tidak ada percakapan. Tidak ada seruan panik.
Hanya jeda yang sedikit lebih panjang dari biasanya.
Shankar mengambil ponselnya. Ia menulis di grup WhatsApp rombongan:
“Pagi Bapak-bapak. Ada yang bawa kemeja lebih ga ya? Saya lupa bawa kemeja. Cuma jasnya doang yang kebawa 😀”
Tak lama, balasan masuk.“Saya ada, tapi sudah dipakai tadi malam.”
Shankar membalas singkat, “Tidak apa-apa, saya pinjam ya.”
Di lorong, tanpa banyak kata, kemeja putih itu berpindah tangan. Sederhana, tanpa formalitas, tapi terasa cukup.
Di sisi lain, Kumar juga menerima pinjaman celana hitam dari peserta lain—datang begitu saja, seolah semua sudah saling mengerti tanpa perlu banyak penjelasan.
“Namanya juga satu rombongan,” celetukan peserta laiinya yang merupakan pejabat disatuan kerjanya.
Beberapa saat kemudian, Setelah sampai di kompleks High Court of Madhya Pradesh rombongan diarahkan menuju ruang sidang setelah bertemu registrar general Dharminder Singh.
Seperti hari sebelumnya dan sebelumnya juga, setiap orang yang masuk dan keluar ruangan sidang menundukkan kepala. Bukan kepada hakim, tapi kepada persidangan.
Mereka ikut melakukannya, lalu duduk memperhatikan jalannya sidang.
Di depan, persidangan dipimpin oleh Sanjeev Sachdeva—Ketua Hakim (Chief Justice) High Court of Madhya Pradesh saat ini.
Namun perhatian Shankar tertuju pada sesuatu yang lebih diam.
Di dinding, tepat di atas hakim, menempel lambang Lion Capital of Ashoka—kepala singa Ashoka di atas roda Dharma (Dharma Chakra) dengan 32 jari-jari.
Ia sempat mengira itu hanya simbol.
Namun saat diperhatikan lebih saksama, di bawahnya terukir:
“यतो धर्मस्ततो जय:” (Yato Dharmastato Jayah).
Kumar mengikuti arah pandang itu, tanpa perlu ditunjukkan.
“Di mana ada kebenaran… di situ ada kemenangan,” ucapnya pelan.
Shankar mengangguk tipis. Seolah tidak perlu lagi dijelaskan.
Di ruang itu, pengunjung datang dengan berbagai pakaian—ada yang formal, ada yang sederhana. Tidak ada yang dipermasalahkan.
Yang tetap sama hanyalah satu hal: sikap.
Hakim dapat diganti. Namun persidangan tetap berjalan.
Simbol tetap di tempatnya. Makna tetap dijaga.
Pagi yang sempat terasa janggal itu perlahan menemukan bentuknya sendiri.
Bahwa hukum berdiri bukan pada siapa yang tampak paling rapi.
Melainkan pada proses yang dihormati. Dan pada nilai yang tidak berubah.
Saat mereka keluar dari ruang sidang, keduanya menundukkan kepala sejenak.
Tanpa saling melihat. Tanpa saling berkata.
Namun dengan pemahaman yang sama “DHARMMAYUKTI”
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


