Ada sebuah negeri yang konon dibangun di atas fondasi kemerdekaan yang “ialah hak segala bangsa”. Sebuah negeri yang dalam pembukaan kitab sucinya bersumpah akan menghapuskan penjajahan dari muka bumi. Namun, belakangan ini, Burung Beo tampaknya sedang lelah terbang. Ia lebih memilih duduk manis di sebuah perjamuan elit bernama “Dewan Perdamaian Sejagat”, sebuah klub eksklusif tempat para serigala berdiskusi tentang cara terbaik melindungi domba, tanpa sedikit pun menyentuh menu daging di piring mereka.
Diplomasi “Anggukan Sopan”
Di ruang-ruang ber-AC yang aromanya wangi dupa kemapanan, delegasi kita tampil memukau. Mengenakan batik motif parang yang tajam, namun dengan lidah yang telah ditumpulkan oleh mentega diplomasi. Di sana, kita duduk satu meja dengan para arsitek kehancuran, para penyandang dana mesin tempur, dan para penguasa yang menganggap garis perbatasan lebih suci daripada nyawa manusia.
Betapa hebatnya Nusantaranesia! Kita berhasil masuk ke dalam jajaran elit itu. Kita sedang “berjuang dari dalam,” begitu dalihnya. Sebuah logika yang mirip dengan masuk ke dalam kandang singa untuk mengajarkan mereka cara menjadi vegetarian dengan hanya membawa selebaran brosur tentang manfaat bayam.
Falastin: Nama yang Menjadi Debu di Sepatu
Sementara itu, di sebuah tanah yang diberkati namun dikutuk oleh ambisi, saudara-saudara kita di Falastin sedang menghitung sisa-sisa nafas. Mereka tidak butuh “pernyataan keprihatinan yang mendalam” yang dirangkai dengan diksi-diksi cantik hasil revisi sepuluh kali di meja birokrat. Mereka butuh keberanian yang nyata, bukan sekadar basa-basi di meja bundar.
Namun, di Dewan Perdamaian itu, kata “Genosida” adalah kata terlarang—ia terlalu kasar untuk telinga para diplomat yang halus. Maka, delegasi Nusantaranesia pun belajar untuk menggunakan eufemisme. “Ketegangan yang meningkat,” “eskalasi konflik,” atau “perlunya menahan diri dari kedua belah pihak.” Seolah-olah seorang anak kecil dengan ketapel memiliki daya rusak yang sama dengan jet tempur yang menghujani sekolah dengan fosfor putih.
“Kita sedang meniti buih,” kata mereka. Padahal, kita sedang meniti mayat-mayat yang mengapung di atas sungai ketidakpedulian global, sembari memastikan dasi kita tidak miring saat difoto bersama para ‘pemimpin dunia’.
Satire di Atas Penderitaan
Sungguh ironis melihat bagaimana kita begitu bangga mendapatkan kursi di meja itu. Seolah-olah kursi itu lebih berharga daripada janji sejarah kita sendiri. Kita bertindak seolah-olah menjadi “penengah” adalah prestasi tertinggi, padahal menjadi penengah antara penindas dan yang tertindas sebenarnya adalah cara halus untuk berpihak pada penindas.
- Langkah 1: Kirim bantuan obat-obatan (untuk luka yang dibuat oleh senjata kawan semeja kita).
- Langkah 2: Terbitkan siaran pers penuh duka cita (yang sudah dipastikan tidak akan menyinggung perasaan negara adidaya).
- Langkah 3: Berfoto sambil tersenyum lebar karena Nusantaranesia “diakui peran internasionalnya”.
Bukankah ini panggung teater yang luar biasa? Kita membayar harga “kehormatan internasional” dengan kepingan nurani yang kita tinggalkan di pintu masuk gedung pertemuan.
Burung Beo yang Lupa Cara Mencengkeram
Jika “Bung Besar” melihat ini, mungkin beliau akan meminta izin untuk mati sekali lagi karena malu. Beliau yang dahulu meneriakkan “Go to hell with your aid!” kini digantikan oleh generasi yang berbisik, “Please, give us a seat.”
Kita terlalu takut dianggap radikal jika membela keadilan dengan suara lantang. Kita lebih memilih menjadi “anak manis” di pergaulan dunia, demi investasi, demi angka-angka pertumbuhan, dan demi tepuk tangan kosong dari mereka yang sebenarnya tidak pernah peduli apakah Falastin masih ada di peta besok pagi.
Penutup: Menunggu Fajar atau Menunggu Giliran?
Keikutsertaan kita dalam dewan-dewan megah itu tak lebih dari sekadar kosmetik. Kita merias wajah bangsa yang keriput oleh utang budi pada kekuatan global, sambil berharap dunia lupa bahwa kita punya hutang sejarah pada kemanusiaan.
Kita duduk di sana, menyesap kopi mahal, mendengarkan pidato-pidato membosankan tentang perdamaian, sementara di Zaga, suara yang terdengar hanyalah dentum reruntuhan dan tangis yang tak lagi punya air mata.
Selamat atas kursinya, Bapak-Bapak Diplomasi. Semoga kursinya empuk, cukup empuk untuk membuat lupa bahwa di bawah meja itu, tangan kalian sedang bersalaman dengan mereka yang tangannya masih basah oleh darah.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


