Perjalanan dari High Court of Madhya Pradesh di Jabalpur belum benar-benar berakhir. Justru, dari sanalah jeda kecil sebelum perjalanan panjang itu dimulai.
Rombongan bersiap kembali menuju National Judicial Academy di Bhopal—perjalanan tujuh jam sudah menanti. Namun sebelum benar-benar meninggalkan Jabalpur, bus berbelok sejenak.
“Teman-teman, kita tidak jadi mampir membeli oleh-oleh karena tidak cukup waktu, tapi sudah dikondisikan oleh teman-teman NJA untuk menuju air terjun,” kata salah satu peserta rombongan—berwajah tampan, klimis, dan bertugas sebagai hakim yustisial yang merangkap sebagai LO.
Beberapa peserta tampak keberatan. “Apa tidak lebih baik langsung ke Bhopal saja?” terdengar usulan dari belakang. Suasana sempat terbelah. Waktu terbatas, tenaga juga mulai terkuras.
Namun percakapan kecil itu tidak berubah menjadi perdebatan panjang. Justru perlahan mengarah pada sesuatu yang akrab bagi mereka—mediasi sederhana, musyawarah singkat, saling mendengar tanpa meninggikan suara.
Argumen disampaikan, dipertimbangkan, lalu ditimbang dengan kepentingan bersama. Tidak ada yang dipaksakan, tidak ada yang ditinggikan.
Seperti dalam ruang sidang, ketika majelis hakim tidak langsung menjatuhkan putusan, tetapi terlebih dahulu membuka ruang damai—memberi kesempatan bagi para pihak untuk mencapai kesepakatan melalui mediasi. Dan jika tidak tercapai, keputusan pun lahir dari musyawarah mufakat majelis, bukan dari satu suara, melainkan dari pertimbangan bersama yang matang.
Akhirnya, seperti putusan yang lahir dari mufakat, disepakati: mereka tetap menuju air terjun.
Bus pun melaju ke kawasan Dhuandhar Waterfall di aliran Narmada River.
Air jatuh deras dengan kekuatan yang berbeda. Tidak hanya mengalir, tapi menghantam batu, memecah diri menjadi kabut putih—seolah asap yang mengepul. Itulah sebabnya dinamakan Dhuandhar.
Rombongan menyebar untuk berfoto dari segala arah dan gaya. Spot-spot terbaik bahkan dibantu diamankan oleh polisi yang bertugas di sana, memastikan setiap orang bisa menikmati tanpa kehilangan rasa aman.
Shankar mendekat ke tepi. Saat ia mengetahui bahwa air yang mengalir di hadapannya adalah bagian dari Narmada River, langkahnya melambat. Ia menunduk, lalu membasuh wajahnya dengan air sungai itu.
Dingin. Ia diam beberapa detik lebih lama.
Konon, menurut kepercayaan setempat, air Narmada River dipercaya lahir dari tetesan keringat Shiva saat bermeditasi. Karena itu, Narmada dianggap suci—bahkan diyakini mampu membersihkan dosa hanya dengan disentuh atau dilihat.
Shankar mengusap wajahnya perlahan.
“Kalau benar bisa membersihkan…” gumamnya dalam hati, “mungkin ini pengingat, bukan jalan pintas.”
Ia terdiam sejenak, lalu pikirannya beralih:
Sebagai hakim ia sadar, tugas mereka bukan menghapus dosa manusia, bukan pula menjadi penentu akhir dari benar dan salah secara mutlak.
Tugas itu lebih sunyi.
Lebih berat.
Membuka ruang damai sebelum menjatuhkan putusan.
Mendorong para pihak menemukan jalan tengah melalui mediasi.
Dan ketika itu tidak tercapai, bermusyawarah dalam majelis, menyatukan pandangan, menimbang fakta, hingga lahir putusan yang bukan hanya sah secara hukum, tetapi juga adil secara nurani.
Seperti air di hadapannya yang terus mengalir tanpa memilih siapa yang disentuhnya.
Di belakangnya, Kumar berdiri sambil memperhatikan deretan kios kecil. Ia tidak terlalu larut dalam legenda, tapi ia menyukai benda yang bisa dibawa pulang.
Ia memilih sebuah mug keramik bergambar air terjun itu—sederhana, tapi cukup untuk menyimpan ingatan.
“Kadang yang kita bawa pulang bukan barangnya,” pikir Kumar, “tapi pengingatnya—bahwa kita pernah melihat sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.”
Sementara itu, Shankar berhenti di salah satu penjual kecil. Matanya tertarik pada untaian tasbih berwarna cokelat tua.
“Ini dari apa?” tanyanya.
“Rudraksha,” jawab penjual.
Ia mengangkatnya pelan. Tasbih itu terbuat dari biji Rudraksha—yang dalam tradisi Hindu dipercaya berasal dari air mata Shiva. Biji ini sering digunakan sebagai alat meditasi, doa, dan simbol ketenangan batin.
Di ujungnya tergantung simbol kecil: trisula, senjata Shiva.
“Tiga ujung,” kata penjual singkat. “Penciptaan, pemeliharaan, penghancuran.”
Shankar mengangguk. Ia tidak menawar.
Ia menggenggam tasbih itu lebih lama dari yang ia sadari.
Tiga ujung. Seperti tiga tanggung jawab dalam dunia peradilan:
Membuka jalan damai. Menjaga integritas proses. Dan menetapkan keadilan melalui putusan.
Angin kencang di Dhuandhar Waterfall menerjang mereka, membawa debu kering mendarat di wajah.
Shankar memutar tasbih rudraksha di tangannya. Ia teringat pada air yang membasuh wajahnya. Sebagai hakim, ia tahu satu hal pasti: tidak ada putusan yang bisa menghapus masa lalu seseorang sepenuhnya. Namun yang bisa dilakukan adalah memastikan setiap proses, dari mediasi hingga putusan, berjalan jujur, terbuka, dan adil.
Karena keadilan bukanlah hasil yang instan. Ia adalah proses yang didengar, dimusyawarahkan, dan diputuskan dengan tanggung jawab.
Di sampingnya, Kumar membungkus mug itu hati-hati.
Yang satu membawa makna. Yang satu membawa kenangan.
Dan di tengah gemuruh Dhuandhar Waterfall dan angin kencang yang kadang datang, keduanya berjalan dalam diam menuju bus yang sudah menanti mereka menuju Bhopal.
Langkah mereka pelan, tapi pasti.
Seperti peradilan yang baik: tidak selalu cepat, tidak selalu mudah, tetapi harus tetap berjalan.
Menjaga satu hal yang sama: Bahwa di mana ada dharma, di situlah keadilan harus ditegakkan.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


