Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kolaborasi PT Kalimantan Utara dan Badilum Learning Center Tingkatkan Kompetensi Kepaniteraan untuk Percepatan Penyelesaian Perkara

24 July 2026 • 03:57 WIB

Problematika Saudara Kandung Yang Dijadikan Sebagai Saksi Dalam Perkara Perdata Gugatan PMH Oleh Para Pihak

23 July 2026 • 15:50 WIB

Pengadilan Negeri Jakarta Timur Kabulkan Eksepsi Dokter Tifa : Surat Dakwaan Dinyatakan Batal Demi Hukum. Apa pertimbangannya?

23 July 2026 • 15:47 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Keadilan Restoratif dan Bayang-Bayang Paradigma Retributif
Artikel

Keadilan Restoratif dan Bayang-Bayang Paradigma Retributif

Nisrina Irbah SatiNisrina Irbah Sati10 March 2026 • 11:00 WIB9 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pembaruan hukum pidana formil dan materiil di Indonesia telah secara normatif menegaskan eksistensi keadilan restoratif (restorative justice) sebagai paradigma yang mendasari bangunan hukum pidana di Indonesia. Penegasan ini terlihat dari dimuatnya definisi keadilan restoratif dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (selanjutnya disebut KUHAP Baru) hingga disusunnya Mekanisme Keadilan Restoratif sebagai suatu prosedur baru. Nuansa keadilan restoratif juga tampak pada rangkaian norma Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang bukan hanya mengatur pemidanaan berdasarkan double track system, namun juga menekankan perlunya pertimbangan secara komprehensif dan multidimensional dalam menentukan pemidanaan. Terlepas dari pembaruan norma tersebut, perlu diingat kembali bahwa keadilan restoratif pada mulanya merupakan suatu paradigma dan bukan mekanisme belaka. Tulisan ini bermaksud untuk menyegarkan ingatan akan eksistensi  keadilan restoratif sebagai suatu paradigma, tujuannya tak lain agar kita dapat mengingat kembali bagaimana keadilan restoratif tidak terkurung dalam norma yang sudah ada dan terlepas begitu saja dari upaya membangun paradigma keadilan yang baru.

Mengingat Nilai Luhur Keadilan Restoratif

Perkembangan paradigma keadilan restoratif dapat dirujuk pertama-tama pada pemikiran Howard Zehr dalam Changing Lenses yang menggagas perlu digunakannya suatu ‘lensa’ baru dalam mengamati hakikat dari suatu perbuatan pidana secara lebih membumi, yakni sebagai bentuk percederaan di tengah masyarakat. Zehr berangkat dari pemahaman bahwa terjadinya perbuatan pidana sering kali berakar pada konflik, dan penentuan konflik sebagai perbuatan pidana muncul sebagai konsekuensi dari adanya sistem hukum sebagai otoritas yang berwenang menentukan derajat konflik-konflik tersebut, hal ini juga yang menjadi dasar pemikiran bahwa tidak seluruh perbuatan pidana dapat diselesaikan dengan pendekatan keadilan restoratif, karena terdapat perbuatan tertentu yang tidak dapat dipandang oleh masyarakat maupun negara sebagai konflik yang dapat diselesaikan. Berangkat dari pemikiran akan hakikat perbuatan pidana sebagai suatu percederaan, Zehr berpendapat bahwa penanganannya pun harus berupa pemulihan yang dapat mengakomodasi kebutuhan korban, pelaku, hubungan antar individu, dan masyarakat. Hal inilah yang secara mendasar membedakan cara pandang melalui lensa restoratif dari cara pandang melalui lensa retributif, karena dengan adanya kesadaran mengenai hakikat perbuatan pidana sebagai suatu konflik serta pemetaan pemangku kepentingan, lensa restoratif memungkinkan penekanan pada ditentukannya pemulihan yang tepat.

Gagasan serupa dikemukakan pula oleh Tony F. Marshall dalam Restorative Justice An Overview yang lagi-lagi mengakui bahwa keadilan restoratif bukanlah semata-mata merujuk pada teori di bidang hukum pidana, melainkan suatu akumulasi praktik penyelesaian masalah-masalah sehubungan dengan tindak pidana yang berangkat dari adanya pengakuan akan pentingnya keterlibatan pihak-pihak tertentu, dalam hal ini korban, pelaku, masyarakat, dan institusi penegak hukum. Marshall menjelaskan bagaimana keadilan restoratif pada prinsipnya berpijak pada: (i) tersedianya ruang untuk melibatkan pihak terkait (seperti korban, keluarga, masyarakat) secara personal; (ii) memahami perbuatan pidana sebagai permasalahan sosial; (iii) berorientasi pada penyelesaian masalah; dan (iv) bersifat fleksibel dan mengutamakan kreativitas. Penyelesaian perkara pidana berdasarkan prinsip keadilan restoratif itu sendiri memiliki beberapa tipologi berdasarkan pihak yang terlibat, antara lain: (i) korban—pelaku, yang menekankan pada adanya perbaikan terhadap kerugian korban dan seringkali kurang memperhatikan kebutuhan masyarakat, sehingga tipologi ini butuh difasilitasi dengan keterlibatan pihak yang kompeten,; (ii) korban—masyarakat, yang mana dalam tipologi ini cenderung lebih mengutamakan dukungan terhadap kebutuhan dan kerugian korban, (iii) pelaku—masyarakat, di mana penyelesaian konflik menurut tipologi ini lebih menekankan pada reintegrasi pelaku ke masyarakat; dan (iv) korban, pelaku, dan masyarakat,  tipologi ini dinilai sebagai bentuk paling ideal karena bukan hanya memperhatikan kebutuhan korban, namun juga kebutuhan pelaku dan masyarakat, sehingga rehabilitasi terhadap pelaku akan dapat menguntungkan seluruh pihak terkait.

Dalam tataran internasional, prinsip dan praktik tersebut kemudian diakomodasi melalui UN Basic Principles on the Use of Restorative Justice Programmes in Criminal Matters (2002). Secara umum, UN Basic Principles tersebut memuat ketentuan umum yang tidak jauh berbeda dengan konsep dasar keadilan restoratif sebagaimana telah diuraikan dalam berbagai referensi di atas: (i) mekanisme keadilan restoratif harus dilakukan sesuai dengan pedoman, standar, atau peraturan tertentu; (ii) penyelesaian didasarkan pada konsensus di antara para pihak; (iii) bersifat tertutup, kecuali apabila disetujui para pihak atau diharuskan menurut hukum; (iv) bertujuan untuk mencapai kesepakatan; (v) dalam hal tidak ada kesepakatan, maka pemeriksaan dilanjutkan sesuai dengan hukum acara yang berlaku.

Baca Juga  Trial Advocacy Dan Wajah Baru KUHAP

Seiring perkembangan teori, praktik, dan norma-norma yang dinilai berangkat dari paradigma keadilan restoratif pun semakin bermunculan di berbagai yurisdiksi. Kendati demikian, perkembangan tersebut tidak menghilangkan esensi keadilan restoratif sebagai suatu pengupayaan pemulihan bagi korban, masyarakat, maupun pelaku secara partisipatif dengan menghindari adanya pembalasan. Oleh karena itulah, mekanisme berlandaskan paradigma keadilan restoratif mensyaratkan adanya fleksibilitas dalam ukuran tertentu, semata-mata agar tujuan tercapainya pemulihan itu sendiri dapat terpenuhi.

Keadilan Restoratif: Membeku dalam Pembakuan

Melihat bagaimana keadilan restoratif mengalami perkembangan yang cukup signifikan dalam skala global, maka menjadi mengkaji bangunan norma yang disusun berdasarkan paradigma keadilan restoratif pun menjadi penting untuk dilakukan. Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, penegasan akan digunakannya paradigma keadilan restoratif dalam hukum acara pidana secara umum baru mendapat tempat pada KUHAP 2025 yang pada Pasal 1 angka 31 mendefinisikan keadilan restoratif sebagai “pendekatan dalam penanganan perkara tindak pidana yang dilakukandengan melibatkan para pihak, baik korban, keluarga korban, tersangka, keluarga tersangka, terdakwa, keluarga terdakwa, dan/atau pihak lain yang terkait, yang bertujuan mengupayakan pemulihan keadaan semula.” Kendati demikian, norma serta mekanisme penyelesaian perkara pidana berbasis keadilan restoratif telah terlebih dahulu diterapkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (selanjutnya disebut Undang-Undang SPPA), yang mana dalam Pasal 1 angka 6 mendefinisikan keadilan restoratif sebagai: “penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, dan bukan pembalasan.” Di samping muatan definisi yang tidak jauh berbeda di antara keduanya, terdapat pula persamaan lainnya, yakni dimungkinkannya penerapan mekanisme penyelesaian perkara secara berjenjang, di mana Undang-Undang SPPA memungkinkan mekanisme ini dilakukan sedari tahap penyidikan, penuntutan, dan persidangan, sedangkan KUHAP dalam Pasal 79 ayat (8) memungkinkan mekanisme ini dilaksanakan sedari tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, hingga persidangan.

Sekalipun sama-sama menjunjung semangat keadilan restoratif, Penulis berpendapat bahwa konstruksi yang terdapat di antara kedua undang-undang tersebut rupanya memiliki perbedaan yang amat signifikan, terutama pada tahap pemeriksaan di pengadilan. Perbedaan ini tidak dapat dilepaskan dari ‘rancang bangun’ yang ada pada keduanya: Undang-Undang SPPA merancang ‘bangunan’ bernama Diversi sebagai upaya menerapkan paradigma keadilan restoratif, sedangkan KUHAP Baru merancang ‘kerangka baru’ yang bernama Mekanisme Keadilan Restoratif. Merujuk pada definisinya, diversi memberikan rancang bangun yang lebih menjanjikan: “pengalihan penyelesaian perkara Anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana,” rancangan inilah yang tidak ditemukan pada Mekanisme Keadilan Restoratif menurut KUHAP Baru, di mana di samping tidak terdapat rumusan definitif mengenai esensi dari mekanisme tersebut, KUHAP Baru tidak pula menjanjikan konsekuensi yang tegas dari pelaksanaannya, terutama dalam tingkat pemeriksaan persidangan.

Penulis berpendapat bahwa perihal ketidakjelasan konsekuensi ini menjadi problem utama yang menjadikan jalan panjang menuju tercapainya keadilan restoratif justru seolah memasuki rute memutar. Sebagai perbandingan dengan bangunan Diversi, Pasal 12 ayat (5) Undang-Undang SPPA secara tegas menyatakan bahwa tercapai dan terlaksananya kesepakatan diversi menjadi dasar untuk dilakukannya penghentian penyidikan atau penuntutan, demikian halnya terhadap diversi yang berhasil mencapai kesepakatan dan terlaksana setelah perkara dilimpah ke pengadilan, Pasal 52 ayat (5) Undang-Undang SPPA mengatur agar dibuatkan suatu penetapan, selanjutnya Pasal 52 ayat (6) memberikan pembatasan bahwa persidangan dilanjutkan hanya terhadap perkara yang diversinya tidak berhasil. Merujuk kepada bagian sebelumnya, tampak bagaimana mekanisme Diversi tampak telah tersusun di atas fondasi yang dibangun teori dan prinsip-prinsip keadilan restoratif yang telah ada.

Baca Juga  Perdana, PN Ungaran Jatuhkan Putusan Pemaafan Hakim dalam Perkara Anak

Hal itulah yang tidak ditemukan dalam kerangka Mekanisme Keadilan Restoratif. Kita boleh merujuk ketentuan Pasal 83 ayat (3) dan (4) serta Pasal 85 ayat (3) KUHAP Baru terlebih dahulu, di mana ditentukan bahwa dalam hal tercapai kesepakatan, maka Mekanisme Keadilan Restoratif mewajibkan dihentikannya penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan, hal ini juga ditemukan dalam Diversi menurut Undang-Undang SPPA dan setidaknya cukup menggambarkan semangat non-retributif yang tidak memaksakan pembalasan menurut hukum secara kaku. Kendati demikian, konsekuensi senada tidak ditemukan dalam proses persidangan pengadilan, merujuk pada ketentuan Pasal 87 KUHAP Baru yang secara jelas menyatakan: “penerapan mekanisme Keadilan Restoratif dilakukan… melalui Putusan Pengadilan dan pelaksanaan Putusan Pengadilan,” hal mana menyiratkan bahwa penjelmaan keadilan restoratif seolah hanya terdapat dalam ranah putusan. Secara lebih elaboratif, Pasal 204 ayat (5) sampai dengan ayat (9) mengatur adanya ‘perdamaian’, yang sering dimaknai sebagai bentuk penerapan Mekanisme Keadilan Restoratif di tahap pemeriksaan persidangan, namun sekalipun KUHAP Baru mengatur syarat dapat dilakukannya perdamaian dan syarat suatu perdamaian, sejalan dengan ketentuan pada Pasal 87, pasal ini pun mengatur bahwa konsekuensi dari tercapainya perdamaian tersebut hanyalah: “…menjadi alasan yang meringankan hukuman dan/ atau menjadi pertimbangan untuk menjatuhkan pidana pengawasan.” Rangkaian norma tersebut seolah bertentangan dengan prinsip keadilan restoratif itu sendiri, di mana justru terdapat pembatasan pada jenis pidana tertentu, seolah terlepas dari keragaman yang ditawarkan KUHP Nasional melalui double track system pemidanaan, norma tersebut juga tidak mendorong ditentukannya pidana maupun tindakan yang responsif sesuai dengan perbedaan karakteristik pada masing-masing perkara. Di titik inilah, Penulis berpendapat, kebaruan yang ditawarkan melalui kerangka Mekanisme Keadilan Restoratif itu seolah merupakan jelmaan dari paradigma keadilan retributif yang skalanya telah diperkecil.

Sekalipun harus diakui bahwa penilaian terhadap Mekanisme Keadilan Restoratif boleh jadi masih terlalu dini, mengingat peraturan pelaksana yang dijanjikan oleh KUHAP Baru masih dalam proses penyusunan, namun garis besar Mekanisme Keadilan Restoratif yang seyogyanya cukup dimuat dalam batang tubuh KUHAP Baru kiranya meninggalkan terlalu banyak tanda tanya. Dalam perkembangan penyusunan rancangan Peraturan Pemerintah saat ini, terdapat wacana untuk menyediakan mekanisme mediasi penal sebagai forum di luar persidangan yang mengakomodasi kebutuhan para pemangku kepentingan secara dialogis. Penyediaan forum ini tentunya patut diapresiasi karena mengejawantahkan karakteristik paradigma keadilan restoratif yang fleksibel, namun keadilan restoratif tidak terletak semata-mata pada bertambah atau berkurangnya kerumitan acara persidangan, tidak pula terletak semata-mata pada semakin berat atau semakin ringannya pidana atau bahkan tindakan. Keadilan restoratif, pada esensinya adalah perihal pemulihan, sehingga acara maupun pemidanaan benar-benar didasarkan pada paradigma restoratif, seyogyanya dimulai dari pertanyaan seputar kapasitas pengaturan tersebut untuk membawa kita lebih dekat pada tercapainya pemulihan. Tanpa kebulatan hati untuk mendorong pemulihan, norma-norma terkait keadilan restoratif dikhawatirkan hanya menjadi nama lain dari paradigma keadilan retributif yang seharusnya sedang berupaya kita tinggalkan.

REFERENSI

  • Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
  • Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
  • United Nations Basic Principles on the Use of Restorative Justice Programmes in Criminal Matters (2002).
  • Marshall, Tony F. Restorative Justice An Overview. London: Home Office Research Development and Statistics Directorate, 1999. Zehr, Howard. Changing Lenses: Restorative Justice for Our Times. Canada: Herald Press, 1990.

Nisrina Irbah Sati
Kontributor
Nisrina Irbah Sati
Hakim Pengadilan Negeri Payakumbuh

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

artikel Keadilan Restoratif paradigma paradigma retributif
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Problematika Saudara Kandung Yang Dijadikan Sebagai Saksi Dalam Perkara Perdata Gugatan PMH Oleh Para Pihak

23 July 2026 • 15:50 WIB

Perlindungan Perempuan dan Anak Melalui Ijtihad Intiqā’i: Telaah atas Dua Putusan Pengadilan Agama Gresik Tahun 2009

22 July 2026 • 19:00 WIB

Relevansi Asas Motiveringsplicht dalam Meminimalisasi Putusan Onvoldoende Gemotiveerd

22 July 2026 • 16:00 WIB
Leave A Reply

Demo
Top Posts

Menepi Sejenak di Tambak Bandeng

11 July 2026 • 09:06 WIB

Prediksi Juara World Cup 2026 Dari Pusdiklat Menpim

6 July 2026 • 21:16 WIB

Meneguhkan Negara Hukum Melalui Perlindungan Sosial: Sinergi Kebijakan Publik dan Lembaga Peradilan bagi Petani dan Pekerja Sektor Informal

1 July 2026 • 14:00 WIB

Peradilan Militer Bukan Ruang Gelap: Menepis Narasi Impunitas dengan Fakta dan Akuntabilitas

9 May 2026 • 18:38 WIB
Don't Miss

Kolaborasi PT Kalimantan Utara dan Badilum Learning Center Tingkatkan Kompetensi Kepaniteraan untuk Percepatan Penyelesaian Perkara

By Redpel SuaraBSDK24 July 2026 • 03:57 WIB0

Tanjung Selor – Pengadilan Tinggi Kalimantan Utara terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas pelayanan peradilan…

Problematika Saudara Kandung Yang Dijadikan Sebagai Saksi Dalam Perkara Perdata Gugatan PMH Oleh Para Pihak

23 July 2026 • 15:50 WIB

Pengadilan Negeri Jakarta Timur Kabulkan Eksepsi Dokter Tifa : Surat Dakwaan Dinyatakan Batal Demi Hukum. Apa pertimbangannya?

23 July 2026 • 15:47 WIB

Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial Rapatkan Barisan Terkait Pemeriksaan Bersama dalam Perkuat Pengawasan Hakim dan Aparatur Peradilan

23 July 2026 • 13:06 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Kolaborasi PT Kalimantan Utara dan Badilum Learning Center Tingkatkan Kompetensi Kepaniteraan untuk Percepatan Penyelesaian Perkara
  • Problematika Saudara Kandung Yang Dijadikan Sebagai Saksi Dalam Perkara Perdata Gugatan PMH Oleh Para Pihak
  • Pengadilan Negeri Jakarta Timur Kabulkan Eksepsi Dokter Tifa : Surat Dakwaan Dinyatakan Batal Demi Hukum. Apa pertimbangannya?
  • Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial Rapatkan Barisan Terkait Pemeriksaan Bersama dalam Perkuat Pengawasan Hakim dan Aparatur Peradilan
  • Pengadilan Negeri Pangkal Pinang Putus Bebas dokter Ratna Setia Asih dari Tindak Pidana Kesehatan

Recent Comments

  1. Vivod iz zapoya na domy_dfEn on Adakah Lembaga Arbitrase di India?
  2. Vivod iz zapoya na domy_gsEn on Wamenkum dan DPR: Terhadap Putusan Bebas, Tidak Ada Upaya Hukum
  3. Vivod iz zapoya na domy_enEn on Membuat “Roadmap” Dalam Meniti Karir Asn Dengan Menggali Potensi Individu
  4. Vivod iz zapoya na domy_uiEn on Independensi Pengawasan Syariah Dan Implikasinya Terhadap Kewenangan Pengadilan Agama Dalam Sengketa Ekonomi SYARIAH
  5. MathewNus on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Dr. Satria Perdana, S.H., M.H.
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.