Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

BSDK MA RI Terima Sertifikat Lahan Hibah di Bali

September 10, 2026

Terbukti Bantu Sembunyikan Jasad Chelsea alias Santi dalam Karung, Dua Pemuda di Halmahera Utara Divonis 8 Bulan Penjara

September 10, 2026

Terbukti Pembunuhan Berencana dan Sembunyikan Mayat Korban dalam Karung, Pria di Halmahera Utara Divonis 19 Tahun Penjara

September 10, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Nafkah dalam Rumah Tangga Modern: Antara Istri Bekerja dan Fenomena Split Bill

Nafkah dalam Rumah Tangga Modern: Antara Istri Bekerja dan Fenomena Split Bill

Aulia Rochmani LazuardiAulia Rochmani LazuardiJuly 2, 202618 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp
  1. PENDAHULUAN

Perkawinan sebagaiman diatur dalam Pasal 1 Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk  keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan merupakan ikatan yang suci atau mitsaqan ghalizha antara seorang laki-laki dan perempuan, yang mana ikatan suci ini membawa tanggungjawab besar dalam berumah tangga. Perkawinan juga merupakan bagian dari ibadah yang bertujuan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Perkawinan bukan hanya menyatukan dua orang dalam ikatan lahir dan batin, tetapi juga menimbulkan akibat hukum berupa hak dan kewajiban bagi suami dan istri. Dalam kehidupan rumah tangga, masing-masing pihak memiliki peran, tanggung jawab, serta kewajiban untuk saling menghormati, melindungi, dan memenuhi kebutuhan bersama demi terciptanya keluarga yang harmonis. Hak dan kewajiban tersebut lahir sejak perkawinan berlangsung dan menjadi dasar dalam membangun hubungan yang seimbang serta bertanggung jawab. Hak dan kewajiban dalam perkawinan diatur dalam  Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Pasal 31 hingga 34 UU Perkawinan menegaskan kewajiban suami untuk menjadi kepala keluarga, memberi nafkah, serta melindungi istri dan anak-anak. Di sisi lain, istri diwajibkan mendukung suami dan mengatur urusan rumah tangga dengan baik.

Tentang hak dan kewajiban antara suami dan istri dalam kehidupan berumah tangga dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 228:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِۖ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌࣖ 

Artinya: “Mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan atas mereka. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Dalam praktiknya, pelaksanaan hak dan kewajiban suami istri dalam berumahtangga tidak selalu berjalan dengan mulus. Banyak kendala yang dihadapi, seperti perbedaan pemahaman mengenai peran dalam rumah tangga, pengaruh budaya patriarki, serta kurangnya pemahaman agama. Misalnya, masih terdapat suami yang mengabaikan kewajiban nafkah atau kurang terlibat dalam urusan anak dan urusan rumah tangga, sementara sebagian istri kurang menghormati atau mengabaikan peran suami. Dalam perspektif Hukum Islam, kewajiban memberikan nafkah merupakan tanggung jawab seorang suami dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga.

 Ditambah dalam beberapa kasus suami dan istri sama-sama bekerja, sehingga waktu untuk menjalankan peran rumah tangga menjadi terbatas. Meningkatnya kesadaran tentang kesetaraan gender terkadang berbenturan dengan pola pikir yang masih konservatif, sehingga menimbulkan konflik dalam rumah tangga. Dalam istilah Fiqih, nafkah adalah makanan, pakaian, tempat tinggal, dan segala sesuatu yang dipersamakan dengan hal-hal tersebut. Seorang suami harus mencukupi kebutuhan istri  dan anaknya. Istri harus  mendukung suaminya secara finansial, berdoa untuknya, dan memberikan segala  kemampuan kepada suami dalam mencari nafkah.[1]

Di era modern saat ini, banyak rumah tangga di mana suami dan istri sama-sama bekerja. Kondisi ini memunculkan fenomena split bill dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Dikutip dari Finansialku, split bill atau pembagian tagihan merupakan praktik finansial di mana pasangan berbagi tanggung jawab atas pengeluaran bersama. Konsep ini mengharuskan kedua pihak berkontribusi secara proporsional terhadap biaya yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. Umumnya masing-masing pasangan menyisihkan sebagian pendapatan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, seperti biaya tempat tinggal, listrik, makanan, dan kebutuhan lainnya. Kondisi ini kerap dipandang sebagai bentuk kerja sama ekonomi dalam memenuhi kebutuhan keluarga, terutama ketika suami dan istri sama-sama memiliki penghasilan dan tanggung jawab finansial.

  1. PEMBAHASAN
  2. Nafkah dalam Perspektif Hukum Islam

Islam telah mengatur hak dan kewajiban suami dan istri dalam kehidupan berumah tangga. Diantaranya kewajiban nafkah atas seorang suami. Nafkah berasal dari bahasa Arab an-nafaqaat (النفقات) yang merupakan bentuk jamak dari an-nafaqah (النفقة). An-nafaqah terambil dari kata al-infaq (الإنفاق), asalnya adalah  anfaqa-yunfiqu (انفق – ينفق) yang artinya mengeluarkan, menghabiskan. Nafkah juga berarti  belanja, maksudnya sesuatu yang diberikan oleh seorang suami kepada isteri, seorang bapak kepada anak, dan kerabat dari miliknya sebagai keperluan pokok bagi mereka.[2]

Kewajiban suami dalam mberikan nafkah disebutkan dalam Al Qur’an, Hadits, maupun Ijma sebagai berikut;

Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 233:

 وَالْوٰلِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَادَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَاعَةَۗ وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۗ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ اِلَّا وُسْعَهَاۚ لَا تُضَاۤرَّ وَالِدَةٌ ۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُوْدٌ لَّهٗ بِوَلَدِهٖ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذٰلِكَۚ فَاِنْ اَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَاۗ وَاِنْ اَرَدْتُّمْ اَنْ تَسْتَرْضِعُوْٓا اَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِذَا سَلَّمْتُمْ مَّآ اٰتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوْفِۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Artinya: ‘Ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani, kecuali sesuai dengan kemampuannya. Janganlah seorang ibu dibuat menderita karena anaknya dan jangan pula ayahnya dibuat menderita karena anaknya. Ahli waris pun seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) berdasarkan persetujuan dan musyawarah antara keduanya, tidak ada dosa atas keduanya. Apabila kamu ingin menyusukan anakmu (kepada orang lain), tidak ada dosa bagimu jika kamu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.’

Al-Qur’an surat At-Thalaq ayat 7 :

لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖۗ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهٗ فَلْيُنْفِقْ مِمَّآ اٰتٰىهُ اللّٰهُۗ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا مَآ اٰتٰىهَاۗ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًا

Artinya: ‘ًHendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.’

Ayat tersebut menjelaskan bahwa nafkah yang diberikan kepada istri disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki suami. Namun, “sesuai kemampuan” bukan berarti suami boleh pasif atau tidak berusaha. Justru, suami memiliki kewajiban untuk berikhtiar secara sungguh-sungguh dalam mencari rezeki. Dengan demikian, ukuran “kemampuan” dalam ayat tersebut bukan hanya dilihat dari hasil yang diperoleh, tetapi juga dari kesungguhan usaha yang dilakukan suami dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

Selain firman Allah dalam Al Qur’an, kewajiban nafkah juga terdapat dalam hadits Rasulullah SAW diantaranya;

فَاتَّقُوْا اللهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوْطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُوْنَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Artinya : “Bertakwalah kepada Allah tentang (urusan) wanita, karena sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kalian mempunyai hak yang menjadi kewajiban mereka, yaitu mereka tidak boleh memasukkan ke rumah kalian orang yang tidak kalian sukai. Jika mereka melakukannya maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Mereka pun memiliki hak yang menjadi kewajiban kalian, yaitu nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang makruf” (HR Malik, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, an-Nasai, ad-Darimi, Ahmad, Ibn Hibban, al-Baihaqi, Ibn Khuzaimah, Abad bin Humaid, Ibn Abi Syaibah, dll)

Dalam Riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda:

دَخَلَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ امْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ، لَا يُعْطِينِي مِنَ النَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ، فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ

Artinya:“Dari ‘Aisyah r.a berkata: “Bahwa Hindun binti “Utbah Isteri Abu Sufyan telah menghadap kepada Rasulullah SAW dan ia berkata: “Wahai Rasulullah, Sesungguhnya Abu Sufyan itu adalah orang yang kikir, ia tidak mau memberi belanja yang cukup buat saya da anak-anak saya, melainkan dengan hartanya yang saya ambil tanpa setahu dia, apakah itu dosa bagi saya. Maka beliau bersabda: “Ambillah dari hartanya yang cukup buat kamu dan anak-anakmu dengan cara yang baik.”[3]

  Makna dari hadits ini adalah bahwa Rasulullah SAW secara tegas menyebutkan bahwa ukuran nafkah adalah kecukupan (al-kifāyah). Maka hadits ini menunjukkan bahwa nafkah istri ditetapkan berdasarkan kebutuhan yang cukup (bukan jumlah tetap), sesuai adat yang berlaku. Kadar kecukupan tidak ditentukan secara baku, tetapi yang menjadi patokan adalah apa yang diyakini benar-benar mencukupi kebutuhan, sesuai dengan keadaan orang dan waktu.[4]

Baca Juga  Membedah "Wakil Tuhan": Kekuasaan Tanpa Intervensi Dan Tanggung Jawab Moral Sang Hakim

  Sabda Rasulullah SAW: “Dari Jabir r.a dari Nabi SAW dalam hadits haji yang panjang. Beliau bersabda: tentang menyebutkan wanita: “Kalian wajib memberi nafkah kepada mereka dan memberi pakaian dengan cara yang baik” (H.R. Muslim). Jadi berdasarkan hadits tersebut di atas, seorang suami wajib memberi nafkah kepada isterinya, memenuhi kebutuhan hidupnya selama ikatan perkawinan masih berjalan, dalam hal istri tidak nusyuz dan tidak ada sebab lain yang akan menyebabkan terhalangnya nafkah. Begitu pula sebaliknya si isteri wajib mematuhi perintah suaminya dan taat kepada suaminya, karena dengan adanya aqad nikah menimbulkan hak dan kewajiban antara mereka.[5]

  • Nafkah dalam Perspektif Hukum Indonesia

Kewajiban nafkah dalam perundang-undangan di Indonesia tidak ada sub bab khusus melainkan hanya beberapa pasal yang dapat ditarik sebagai suatu kajian yang menunjukkan adanya kewajiban suami dalam rumah tangga yang wajib dilaksanakan diantaranya terdapat dalam Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Inpresi Nomor 1 Tahun 1991 atau Kompilasi Hukum Islam (KHI). Pasal 32 ayat (1) dan (2) menyebutkan ‘Suami isteri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap. Suami isteri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap. Rumah kediaman yang dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini ditentukan oleh suami isteri bersama”. Kemudian dalam pasal 34 ayat (1), disebutkan, “Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala kebutuhan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya”. Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa UUP memberikan aturan tentang pemenuhan keperluan keluarga dan adanya tempat tinggal bersama dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Pasal 80 ayat (4) Kompilasi Hukum Islam menyebutkan ‘(4) sesuai dengan penghasilannya suami menanggung :

a. nafkah, kiswah dan tempat kediaman bagi isteri;

b. biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi isteri dan anak;

c. biaya pendididkan bagi anak.’

Sedangkan isi Pasal 80 ayat (2), sama dengan ketentuan pasal 34 ayat (1) Undang Undang Perkawinan, “Suami wajib melidungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya”.Ketentuan pasal ini menunjukkan bahwa melaksanakan kewajiaban nafkah bagi seorang suami kepada isterinya disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki.[6]

  • Wanita yang bekerja dalam Perspektif Hukum Islam

Fenomena wanita karir sebagai wujud nyata otonomi perempuan di era modern semakin menggugah penafsiran ulang terhadap konsep nafkah dalam hukum keluarga Islam. Keterlibatan perempuan di ruang publik kini tidak lagi dianggap tabu, melainkan telah menjadi bagian dari kebutuhan ekonomi sekaligus sarana aktualisasi diri yang sulit dihindari.[7]

Upaya memahami kembali konsep nafkah dengan perspektif gender telah dilakukan oleh beberapa pemikir Muslim kontemporer. Misalnya, Murtaḍhā Muṭhahhari melihat nafkah bukan hanya kewajiban suami, tetapi sebagai tanggung jawab bersama antara suami dan istri untuk membangun keluarga yang harmonis. Sementara itu, Faqihuddin Abdul Kodir memperkenalkan konsep mubādalah (kesalingan), yaitu hubungan suami-istri yang didasarkan pada kerja sama dan saling melengkapi, bukan dominasi salah satu pihak. Pendekatan ini memberi ruang bagi perempuan untuk memiliki hak dan tanggung jawab yang setara dengan laki-laki dalam keluarga dan masyarakat.[8]

Wanita yang bekerja sejatinya bukanlah hal baru yang ditemui di era kontemporer. Wanita dalam sejarah Islam, seperti Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah SAW, merupakan seorang pebisnis sukses. Safiyah binti Huyay, belia sebagai perias pengantin, dan Zainab binti Jahsh, belia bekerja dalam bidang home industri pada proses menyamak kulit binatang. Perempuan  lainnya  adalah  Qilat  Ummi  Banu  Ammar  yang  pernah datang kepada Nabi meminta pentunjuk terkait dengan jual beli. Ritah, istri Abd Allah bin Mas’ud, sahabat Nabi juga aktif berbisnis dikarenakan suaminya tidak mampu  mencukupi  kebutuhan  keluarga.  Juga  al-Shifa,  seorang  perempuan yang di tugasi oleh Umar untuk mengurusi pasar di kota Madinah. Bahkan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 32:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْاۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَۗ وَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

Artinya: “Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Makna dari ayat tersebut menyatakan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak atas apa yang mereka usahakan. Ini menunjukkan bahwa wanita memiliki hak untuk bekerja dan berkontribusi dalam bidang ekonomi. Dalam Mahzab Hanafi, perempuan diperbolehkan bekerja diluar rumah selama pekerjaan tersebut tidak merugikan keluarga atau melanggar norma agama. Adapun syarat yang harus dipenuhi apabila wanita hendak bekerja antara lain:

  1. Adanya izin suami.
  2. Keseimbangan tanggungjawab.
  3. Menjaga kehormatan.

Sedangkan menurut Imam Syafii, tugas utama seorang wanita adalah mengurus rumah tangga dan anak-anaknya. Namun apabila seorang wanita memilih untuk bekerja, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain:

  1. Izin suami.
  2. Prioritas keluarga.
  3. Pekerjaan yang sesuai.

Beberapa ulama kontemporer dari Mahzab Syafii mulai mengakui pentingnya finansial bagi perempuan di era modern ini. Mahzab Maliki juga menekankan beberapa persyaratan bagi wanita yang bekerja seperti adanya izin suami, keseimbangan tanggungjawab, dan pekerjaan etis atau sesuai dengan nilai-nilai moral islam. Mahzab Maliki bependapat bahwa jika seorang wanita memiliki kemampuan dan keahlian tertentu, maka diperbolehkan untuk bekerja di sektor publik dengan syarat menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Mazhab Hanbali memandang peran wanita secara cukup ketat. Wanita boleh bekerja di luar rumah, tetapi dengan beberapa syarat: harus mendapat izin suami, menjaga kehormatan diri dan keluarga, serta memilih pekerjaan yang sesuai dengan karakter perempuan dan tidak melanggar syariat. Namun, pekerjaan tetap diperbolehkan jika membawa manfaat bagi masyarakat dan tidak mengabaikan nilai-nilai agama.[9]

  Baik dalam Al-Qur’an maupun hadits tidak ada larangan yang tegas bagi perempuan untuk memilih profesi, selama pekerjaan itu halal dan dilakukan dalam suasana terhormat serta mencegah hal-hal yang menimbulkan kemaksiatan.[10]

Lantas bagaimana hukum nafkah oleh suami kepada istrinya yang bekerja?

  • Hukum Nafkah oleh suami bagi istri yang bekerja

Sebagian suami di zaman sekarang beranggapan bahwa ketika istri sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, maka kewajiban memberi nafkah tidak lagi sepenuhnya berada di pundak suami. Mereka melihat realitas ekonomi modern yang menuntut kerja sama finansial, sehingga muncul pemikiran bahwa kebutuhan rumah tangga bisa ditanggung bersama. Dari sudut pandang ini, gaji istri dianggap sebagai kontribusi yang wajar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bukan semata hak pribadi.

Pandangan ulama Hanafiyyah, apabila seorang istri bekerja tanpa mendapatkan ridha suami maka suami tidak wajib memberikan nafkah kepada istrinya. Tetapi apabila istri tersebut mendapatkan ridha suami, maka suami tetap wajib menafkahi istrinya. Ridha atau izin suami dalam satu kondisi tidak selalu berlaku dalam kondisi lain. Apabila dalam suatu kondisi tertentu, suami masih memiliki hak untuk memberi batasan atau melarang istri bekerja jika ada alasan yang dianggap sah menurut syariat. Jika istri mengabaikan larangan suami untuk bekerja, maka istri tersebut nusyuz. Jika seorang istri dianggap nusyuz, maka gugur kewajiban menafkahinya.[11]

Pendapat ini juga dianut oleh sebagian ulama dari kalangan Mazhab Syafi’I serta beberapa ulama kontemporer, seperti Dr. Sulaiman Al-Asyqar. Pendapat ini didasarkan pada prinsip bahwa salah satu hak suami adalah memperoleh pengabdian dan pelayanan dari istrinya secara penuh, apabila istri tidak dapat memenuhi peran tersebut karena kesibukan diluar rumah tanpa izin suami, maka ia tidak berhak atas nafkah tersebut.[12]

Baca Juga  Dualisme Kewenangan dan Formasi Majelis: Solusi Penyelesaian Sengketa Niaga Syari’ah di Pengadilan Niaga

Dikutip dari KlikSunnah TV,  Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA. menjelaskan bahwa dalam kondisi seorang istri sebelum menikah dengan suaminya telah memiliki pekerjaan dan tetap ingin melanjutkan profesinya dan suaminya mengizinkan, maka wajib bagi suami menafkahi istrinya tersebut.[13]

Menurut pendapat Usadz Danusiri dalam Suara Aisyiyah, meskipun istri lebih tinggi pendidikan dan pendapatannya, kewajiban suami menafkahi istri tidaklah hilang. Sedangkan dalam kasus istri yang bekerja dan membantu finansial rumah tangga bersifat sukarela atau sedekah, serta tidak menghapus kewajiban suami dalam memberikan nafkah,[14]

  • Fenomena Split Bill dalam rumah tangga

Istilah split bill sebenarnya mengacu pada suatu suatu kondisi dimana setiap orang dalam suatu kelompok memilih untuk membayar tagihan masing-masing, atau istilah lainnya ‘patungan’. Split bill banyak dijumpai di kalangan anak muda baik dalam hubungan pertemanan, hubungan romantis, dan bahkan hubungan rumah tangga.

Dikutip dalam Mubadalah.id, Split bills dalam rumah tangga adalah pembagian dalam pelunasan atau pembayaran kebutuhan-kebutuhan yang ada dalam rumah tangga. Kebutuhan-kebutuhan tersebut tentu kebutuhan yang masuk dalam aspek ekonomi keluarga. Contohnya seperti suami menanggung biaya sekolah anak dan istri fokus menabung untuk investasi, atau contoh yang lain. Pada intinya, split bills dalam rumah tangga adalah adanya pembagian dalam menanggung beban keuangan keluarga.[15]

Secara tradisional, nafkah dipandang sebagai suatu kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan bagi istri dan anaknya. Namun di era kontemporer, seiring dengan evolusi peran gender khususnya wanita dalam masyarakat, telah menciptakan situasi baru mengenai nafkah itu sendiri. Pemahaman tradisional yang menempatkan tanggung jawab nafkah secara absolut pada suami mulai dipertanyakan dalam konteks kesetaraan gender dan realitas ekonomi keluarga modern, di mana istri juga berkontribusi secara ekonomi.[16]

Peran istri yang bekerja memberikan beberapa pengaruh yang cukup besar, terlepas dari pro dan kontra, diantaranya:

  1. Istri yang bekerja dapat membantu meringankan beban tanggungan suami dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  2. Istri menjadi lebih produktif karena memanfaatkan waktunya dengan kegiatan yang bermanfaat.
  3. Beberapa peran tidak bisa kerjakan oleh kaum laki-laki, sehingga peran wanita dalam masyarakat sangat penting untung menjaga tatanan sosial di masyarakat.[17]

Faktanya banyak profesi yang  masih didominasi oleh perempuan, seperti bidan, karena berkaitan dengan pelayanan kesehatan ibu hamil dan persalinan, guru PAUD, yang mana dianggap memiliki pendekatan emosional dan kesabaran tinggi dalam mendidik anak usia dini, konselor keluarga dan perempuan, terapis kecantikan, penjahit busana, ahli gizi dan konsultan laktasi, pengelola daycare, terapis dan masih banyak lagi.

Dikutip dalam Islamqa, permasalahan mengenai biaya rumah tangga dalam hal suami dan istri sama-sama bekerja, sebaiknya diselesaikan dengan jalan musalahah (kompromi). Apabila suami dan istri sejak awal sepakat bahwa biaya rumah tangga ditanggung bersama, maka pembagian tersebut dapat dilaksanakan berdasarkan kesepakatan bersama. Namun apabila tidak terdapat kesepakatan demikian, kewajiban nafkah tetap berada pada suami. Adapun kontribusi istri terhadap kebutuhan rumah tangga diperbolehkan sepanjang dilakukan secara sukarela, termasuk apabila istri rela memberikan sebagian penghasilannya untuk kepentingan keluarga.[18] Hal ini sejalan dengan Surat An Nisa ayat 4:

وَاٰتُوا النِّسَاۤءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةًۗ فَاِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْۤـــًٔا مَّرِيْۤـــًٔا

Artinya : “Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (mahar) itu dengan senang hati, terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.”

  1. PENUTUP
  2. Kesimpulan

Kesimpulannya, kewajiban nafkah dalam rumah tangga menurut hukum Islam dan hukum positif di Indonesia pada dasarnya tetap berada pada suami sebagai kepala keluarga. Kewajiban tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan hidup istri dan anak, seperti makan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, serta kebutuhan lain yang layak sesuai kemampuan suami. Ketentuan ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, hadits, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, serta Kompilasi Hukum Islam. Meskipun perkembangan sosial membuka ruang bagi perempuan untuk bekerja dan berkontribusi dalam sektor publik, keberadaan penghasilan istri tidak secara otomatis menghapus tanggung jawab nafkah yang dibebankan kepada suami. Dalam perspektif hukum Islam, perempuan memiliki hak untuk bekerja selama tetap menjaga nilai-nilai agama, kehormatan diri, serta keseimbangan tanggung jawab dalam keluarga.

Di sisi lain, fenomena split bill dalam rumah tangga modern menunjukkan adanya perubahan pola relasi ekonomi antara suami dan istri yang lebih bersifat kolaboratif. Pembagian biaya rumah tangga dapat diterapkan apabila didasarkan pada musyawarah dan kesepakatan bersama, terutama dalam keluarga di mana kedua belah pihak memiliki penghasilan. Namun, apabila tidak terdapat kesepakatan mengenai pembagian tanggung jawab finansial, maka kewajiban nafkah tetap berada pada suami. Kontribusi istri terhadap kebutuhan rumah tangga pada prinsipnya diperbolehkan sepanjang dilakukan secara sukarela dan tidak lahir dari paksaan atau pengalihan kewajiban nafkah. Dengan demikian, konsep nafkah dalam rumah tangga modern perlu dipahami secara proporsional, yakni menjaga prinsip tanggung jawab suami sebagaimana diatur syariat dan hukum, sekaligus membuka ruang kerja sama ekonomi yang adil dan harmonis dalam kehidupan keluarga.


[1] Sandra, “Pemberian Nafkah Suami kepada Istri Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif ” JSL: Journal Smart Law  Vol. 2, No. 2, September-Maret 2024, 219.

[2] Syamsul Bahri, “Konsep Nafkah Dalam Hukum Islam  Conjugal Need Concept In Islamic Law” Kanun Jurnal Ilmu Hukum No. 66 Th XVII (Agustus 2015), 381.

[3] Ibid, hlm. 383

[4] Wiranto, Muhammad Amar Adly, dan Heri Firmansyah, “Nafkah Dalam Perspektif Qawa’id Fiqhiyyah”, Ahlana: Jurnal Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol. 2, No. 1 (2025), pp-35-52, 41.

[5] Syamsul Bahri, Op. Cit, hlm. 387.

[6] Hazarul Aswat dan Arif Rahman, “Kewajiban Suami Memberi Nafkah dalam Kompilasi Hukum Islam”, Jurnal Al-Iqtishod Vol. 5 No 1 (2021) Maret, 19.

[7] Hardianti dan Nurchaliq Majid, “Rekonstruksi Konsep Nafkah Dalam Hukum Keluarga Islam: Perspektif Gender dan Otonomi Perempuan”, USRAH:Jurnal Hukum Keluarga Islam, Vol. 6 No. 3, July 2025, 69.

[8] Ibid, hlm. 71.

[9] Norhilma, “Pandangan Empat Mazhab Tentang Wanita Karier Dalam Perspektif Hukum Islam”, An-Nahdhah, Vol 17. No. 2, Juli-Desember 2024, 80.

[10] Syaidun, “Tinjauan Fiqh Klasik tentang Nafkah bagi Istri yang Bekerja”, Launul Ilmi : Journal of Islam dan Civilization Vol. 3 No. 1, Juni 2025, 52.

[11] Ibid, hlm 50.

[12] Meria Husnaldi, Muhammad Hidayat, Nasrullah, dan Arif Daman Huri, “Nafkah Istru dalam Rumah Tangga Modern: Analisis Maqashid Syari’ah terhadap Status Nafkah Istri yang Bekerja”, Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial, October 2025, 174-175.

[13] KlikSunnah TV. (6 Juli 2018). Istri Bekerja Apakah Suami Masih Wajib Menafkahi – Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA. Istri Bekerja Apakah Suami Masih Wajib Menafkahi – Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.

[14] Suara Aisyiyah, “Suami Paksa Istri Patungan Biaya Rokok, Bagaimana Hukumnya?”, 15 Desember 2025, Suami Paksa Istri Patungan Biaya Pokok, Bagaimana Hukumnya? – Majalah Suara ‘Aisyiyah.

[15] Khoniq Nur Afifah, “Split bills dalam Rumah Tangga Sisi Lain dari Wajah Konsep mubadalah”, 8 November 2021, Split bills dalam Rumah Tangga Sisi Lain dari Mubadalah

[16] Wiranto, Muhammad Amar Adly, dan Heri Firmansyah, Op.Cit, hlm. 37.

[17] Yasmin Aulia Fajrin, M. Abdul Somad, dan Nurti Budiyanti. “Peran Wanita Dalam Membangun Ekonomi Rumah Tangga Menurut Perspektif Hukum Islam”, Tadris, 2021, Volume 15 No. 1, 80.

[18] Fiqih Keluarga, Tanya Jawab Seputar Islam. 11 November 2025, Jika Seorang Wanita Bekerja, Apakah Ia Wajib Menanggung Biaya Rumah Tangga ? – Soal Jawab Tentang Islam.

Aulia Rochmani Lazuardi
Kontributor
Aulia Rochmani Lazuardi
Hakim Pengadilan Agama Batulicin

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Hukum Islam Istri Bekerja nafkah suami Rumah Tangga Split Bill
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Cermin di Balik Layar Kaca: Filosofi Gawai, Kepribadian, dan Manajemen Peradilan Modern

September 7, 2026

Living Law dalam KUHP Nasional: Ruang Keadilan atau Ancaman bagi Kepastian Hukum?

September 7, 2026

Menelaah Subjek Kalimat dalam Bahasa Hukum

September 4, 2026
Leave A Reply


Demo
Top Posts

Di Balik Tradisi ‘Mohon Izin’: Meneguhkan Etika dan Jati Diri Prajurit pada HUT ke-81 TNI AL

September 10, 2026

Resensi Game: Final Fantasy VII

September 7, 2026

Menanam Nilai, Menjaga Masa Depan

September 1, 2026

Sayap Patah dan Keadilan Yang Tersisa Bagi Elang

August 15, 2026
Don't Miss

BSDK MA RI Terima Sertifikat Lahan Hibah di Bali

By Henri SetiawanSeptember 10, 20260

BALI – Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung Republik Indonesia…

Terbukti Bantu Sembunyikan Jasad Chelsea alias Santi dalam Karung, Dua Pemuda di Halmahera Utara Divonis 8 Bulan Penjara

September 10, 2026

Terbukti Pembunuhan Berencana dan Sembunyikan Mayat Korban dalam Karung, Pria di Halmahera Utara Divonis 19 Tahun Penjara

September 10, 2026

PP IKAHI Dorong Penguatan kapasitas Hakim dalam Penyelesaian Sengketa Reforma Agraria

September 10, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • BSDK MA RI Terima Sertifikat Lahan Hibah di Bali
  • Terbukti Bantu Sembunyikan Jasad Chelsea alias Santi dalam Karung, Dua Pemuda di Halmahera Utara Divonis 8 Bulan Penjara
  • Terbukti Pembunuhan Berencana dan Sembunyikan Mayat Korban dalam Karung, Pria di Halmahera Utara Divonis 19 Tahun Penjara
  • PP IKAHI Dorong Penguatan kapasitas Hakim dalam Penyelesaian Sengketa Reforma Agraria
  • Di Balik Tradisi ‘Mohon Izin’: Meneguhkan Etika dan Jati Diri Prajurit pada HUT ke-81 TNI AL

Recent Comments

  1. Burhan on Dari Prajurit Hukum ke Mahkamah Agung: Letkol Chk Sudiyo Pesan ‘Menulis dan Menulislah’
  2. Vanimut on Ketua PTA Kepri Buka Pendampingan Monev KIP Tahun 2026
  3. Ekasari on BSDK MA Run 2026: 10 Kilometer Pelari CADAS, Berlari Bersama Menjaga Semangat Pengabdian dan Integritas
  4. Abdul Hafid PP PA Sleman on Alumni Bersuara dari PA Sleman : Diklat Panitera Pengganti Harus Update, Merata, dan Berbasis Praktik
  5. kumalasari on Di Mana Negara Menempatkan, Di Sana Pengabdian Dijalankan: Kisah PNS Non-Homebase Menemukan Arti Ketulusan di Tanah yang Jauh dari Rumah
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbah S.T., M.Eng.
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Teddy Lahati
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
  • Avatar photo Zidny Taqiyya
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.