Sistem merit dalam buku panduan resmi ibarat bintang kejora birokrasi. Ia digambarkan sebagai jalan tol menuju keadilan, transparansi dan profesionalisme. Semua orang ditempatkan sesuai kompetensi, promosi berdasarkan prestasi dan jabatan hanya boleh diisi oleh mereka yang benar-benar layak dan teruji.
Indah sekali bukan? Seperti brosur pariwisata yang menjanjikan pantai biru jernih padahal sampai lokasi airnya lebih mirip kolam ikan lele.
Apabila kita mau melihatnya secara jujur dan objektif sistem merit sering kali lebih mirip dongeng sebelum tidur. Di atas kertas ia laksana simfoni Mozart, kenyataan di panggung lebih mirip karaoke dengan mic rusak yang diakhiri dengan tepuk tangan palsu penonton.
Bayangkan dalam sebuah seminar resmi, seorang pejabat dengan penuh semangat berkata: “Dengan sistem merit, kita akan menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat!”
Semua peserta bertepuk tangan. Ada yang sampai berdiri, ada yang mengangguk penuh harapan. Rasanya seperti menonton iklan obat herbal yang menjanjikan sembuh dari segala penyakit.
Begitupun di brosur sistem merit digambarkan sebagai kompetensi di atas segalanya, prestasi sebagai tiket emas dan transparansi yang tak bisa diganggu gugat. Seolah-olah birokrasi akan berubah menjadi startup modern, penuh anak muda kreatif dengan laptop tipis dan kopi dingin.
Namun begitu seminar selesai kenyataan kembali menampar. Sistem merit di lapangan sering kali lebih mirip sistem “siapa dekat, dia dapat”.
- Kompetensi? Kadang yang lebih penting adalah kompetensi “berteman dengan orang penting”.
- Prestasi? Prestasi paling gemilang justru sering berupa kemampuan hadir di setiap acara tanpa pernah absen.
- Transparansi? Transparan sekali… sampai-sampai semua orang bisa melihat jelas siapa yang “ditunjuk” bahkan sebelum seleksi dimulai.
Kalau diumpamakan seperti lomba lari sistem merit bilang: “Siapa yang paling cepat sampai garis finish, dialah pemenangnya.”
Faktanya ada peserta yang sudah duduk manis di kursi juara bahkan sebelum peluit dibunyikan. Peserta lain tetap berlari tapi lebih mirip olahraga rutin daripada kompetisi.
Mari kita bandingkan:
- Buku Panduan: ASN dipromosikan berdasarkan kinerja.
- Buku Mimpi: ASN dipromosikan berdasarkan siapa yang paling sering tersenyum di depan bos.
- Buku Panduan: Semua orang punya kesempatan yang sama.
- Buku Mimpi: Kesempatan itu sama…, sama-sama tahu siapa yang akan naik jabatan.
Sistem merit di atas kertas memang seperti resep masakan dari chef internasional: rapi, bergizi dan menggugah selera.
Tapi di dapur birokrasi sering kali yang keluar justru mie instan yang dimasak buru-buru lengkap dengan telur setengah matang.
Sistem merit sebenarnya lebih cocok dijadikan materi stand-up comedy. Bayangkan seorang komika naik panggung:
“Katanya sistem merit itu adil. Tapi saya lihat, yang naik jabatan justru orang yang paling rajin bikin grup WhatsApp keluarga pejabat. Itu namanya merit based on sticker kiriman!”
Penonton-pun tertawa karena mereka tahu itu bukan sekadar lelucon, itu realita.
Jujurlah, sistem merit versi dunia nyata itu adalah kompetisi jabatan yang sering kali lebih mirip lomba unik di acara 17 Agustus-an:
- Ada lomba siapa paling cepat mengirim ucapan ulang tahun ke atasan.
- Ada lomba siapa paling pandai mengangguk saat rapat.
- Ada lomba siapa paling tahan berdiri di belakang bos saat foto bersama.
Pemenang lomba ini sering kali lebih berpeluang naik jabatan daripada mereka yang benar-benar punya ide brilian.
Harus diakui secara teori sistem merit menekankan pada kinerja, sedangkan kinerja sering kali diukur dari laporan. Dan publik pasti sudah mafhum kalau laporan itu seperti seni lukis, bisa dimanipulasi.
Ada ASN yang jago membuat laporan indah dan grafik penuh warna-warni padahal isi kegiatannya lebih mirip rapat rutin dengan konsumsi nasi kotak. Ada juga yang pandai menulis kalimat bombastis: “Program ini meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara signifikan.” Padahal yang dimaksud “masyarakat” adalah tiga orang tetangga yang kebetulan lewat.
Di sisi lain sistem merit butuh pengawasan independen tapi lagi-lagi pengawas kadang lebih mirip penjaga kebun yang ketiduran. Ketika ada penyimpangan mereka hanya berkata: “Nanti kita evaluasi.” Evaluasi itu seperti janji diet, selalu dimulai dengan kata “nanti”.
Akibatnya ASN berprestasi merasa seperti pemain bola yang selalu duduk di bangku cadangan karena adanya nepotisme gaya baru yang tumbuh subur seperti tanaman liar. Akhirnya reformasi birokrasi berjalan lambat lebih mirip siput yang sedang piknik sehingga publik kehilangan kepercayaan karena tahu sistem merit lebih sering jadi slogan daripada kenyataan.
Terus bagaimana solusinya? Biarkan mereka para pemangku jabatan yang berpikir, mereka kan punya alat untuk menemukan solusinya.
Sekali lagi Penulis ulangi bahwa sistem merit itu adalah konsep indah seperti janji surga. Tapi di dunia nyata ia sering berubah menjadi komedi situasi. Di atas kertas ia adalah simfoni tapi di panggung ia laksana karaoke dengan mic rusak. Di brosur pantai biru, di realita kolam ikan lele.
Tulisan ini bukan untuk menolak sistem merit. Justru sebaliknya, untuk mengingatkan bahwa sistem merit harus benar-benar dijalankan bukan sekadar tulisan yang dipampang dan disebarluaskan.
Pada akhirnya sistem merit seperti diet sehat. Semua orang tahu manfaatnya dan mengaku melakukannya tapi di meja makan tetap saja nasi padang yang jadi pilihan.
Dan begitulah yang terjadi di birokrasi negara tetangga, sistem merit tetap jadi slogan, sementara faktanya… ya, kita sebagai jiran masih tertawa pahit sambil menunggu keajaiban.
Seharusnya birokrasi di negara jiran tersebut berguru atau melakukan study banding ke birokrasi/institusi yang ada di Indonesia biar mereka tau cara menerapkan sistem merit yang sebenarnya.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


