Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Menata Ulang Pembuktian di Era Digital: Pelajaran dari Sistem Bukti Elektronik di India

28 April 2026 • 19:08 WIB

PN Gresik Kembangkan Jurnal Ilmiah “Grissee Court”, Perkuat Tradisi Riset dan Epistemologi Hukum Peradilan

28 April 2026 • 19:05 WIB

Dr. Varun Kapoor : Ancaman Kejahatan Siber ada di sekitar kita. Bagaimana cara menyikapinya?

28 April 2026 • 19:04 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Sistem Merit: Simfoni Mozart yang Berakhir Konser Tepuk Tangan Palsu
Satire

Sistem Merit: Simfoni Mozart yang Berakhir Konser Tepuk Tangan Palsu

SahramSahram12 March 2026 • 08:18 WIB5 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Sistem merit dalam buku panduan resmi ibarat bintang kejora birokrasi. Ia digambarkan sebagai jalan tol menuju keadilan, transparansi dan profesionalisme. Semua orang ditempatkan sesuai kompetensi, promosi berdasarkan prestasi dan jabatan hanya boleh diisi oleh mereka yang benar-benar layak dan teruji.

Indah sekali bukan? Seperti brosur pariwisata yang menjanjikan pantai biru jernih padahal sampai lokasi airnya lebih mirip kolam ikan lele.

Apabila kita mau melihatnya secara jujur dan objektif sistem merit sering kali lebih mirip dongeng sebelum tidur. Di atas kertas ia laksana simfoni Mozart, kenyataan di panggung lebih mirip karaoke dengan mic rusak yang diakhiri dengan tepuk tangan palsu penonton.

Bayangkan dalam sebuah seminar resmi, seorang pejabat dengan penuh semangat berkata: “Dengan sistem merit, kita akan menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat!”

Semua peserta bertepuk tangan. Ada yang sampai berdiri, ada yang mengangguk penuh harapan. Rasanya seperti menonton iklan obat herbal yang menjanjikan sembuh dari segala penyakit.

Begitupun di brosur sistem merit digambarkan sebagai kompetensi di atas segalanya, prestasi sebagai tiket emas dan transparansi yang tak bisa diganggu gugat. Seolah-olah birokrasi akan berubah menjadi startup modern, penuh anak muda kreatif dengan laptop tipis dan kopi dingin.

Namun begitu seminar selesai kenyataan kembali menampar. Sistem merit di lapangan sering kali lebih mirip sistem “siapa dekat, dia dapat”.

  • Kompetensi? Kadang yang lebih penting adalah kompetensi “berteman dengan orang penting”.
  • Prestasi? Prestasi paling gemilang justru sering berupa kemampuan hadir di setiap acara tanpa pernah absen.
  • Transparansi? Transparan sekali… sampai-sampai semua orang bisa melihat jelas siapa yang “ditunjuk” bahkan sebelum seleksi dimulai.

Kalau diumpamakan seperti lomba lari sistem merit bilang: “Siapa yang paling cepat sampai garis finish, dialah pemenangnya.”

Faktanya ada peserta yang sudah duduk manis di kursi juara bahkan sebelum peluit dibunyikan. Peserta lain tetap berlari tapi lebih mirip olahraga rutin daripada kompetisi.

Baca Juga  Reformasi Pola Mutasi dan Promosi Kepaniteraan, Tim peneliti laksanakan FGD untuk Badan peradilan Umum

Mari kita bandingkan:

  • Buku Panduan: ASN dipromosikan berdasarkan kinerja.
  • Buku Mimpi: ASN dipromosikan berdasarkan siapa yang paling sering tersenyum di depan bos.
  • Buku Panduan: Semua orang punya kesempatan yang sama.
  • Buku Mimpi: Kesempatan itu sama…, sama-sama tahu siapa yang akan naik jabatan.

Sistem merit di atas kertas memang seperti resep masakan dari chef internasional: rapi, bergizi dan menggugah selera.

Tapi di dapur birokrasi sering kali yang keluar justru mie instan yang dimasak buru-buru lengkap dengan telur setengah matang.

Sistem merit sebenarnya lebih cocok dijadikan materi stand-up comedy. Bayangkan seorang komika naik panggung:

“Katanya sistem merit itu adil. Tapi saya lihat, yang naik jabatan justru orang yang paling rajin bikin grup WhatsApp keluarga pejabat. Itu namanya merit based on sticker kiriman!”

Penonton-pun tertawa karena mereka tahu itu bukan sekadar lelucon, itu realita.

Jujurlah, sistem merit versi dunia nyata itu adalah kompetisi jabatan yang sering kali lebih mirip lomba unik di acara 17 Agustus-an:

  • Ada lomba siapa paling cepat mengirim ucapan ulang tahun ke atasan.
  • Ada lomba siapa paling pandai mengangguk saat rapat.
  • Ada lomba siapa paling tahan berdiri di belakang bos saat foto bersama.

Pemenang lomba ini sering kali lebih berpeluang naik jabatan daripada mereka yang benar-benar punya ide brilian.

Harus diakui secara teori sistem merit menekankan pada kinerja, sedangkan kinerja sering kali diukur dari laporan. Dan publik pasti sudah mafhum kalau laporan itu seperti seni lukis, bisa dimanipulasi.

Ada ASN yang jago membuat laporan indah dan grafik penuh warna-warni padahal isi kegiatannya lebih mirip rapat rutin dengan konsumsi nasi kotak. Ada juga yang pandai menulis kalimat bombastis: “Program ini meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara signifikan.” Padahal yang dimaksud “masyarakat” adalah tiga orang tetangga yang kebetulan lewat.

Baca Juga  Sudah Punya Nama, Jangan Cari Muka

Di sisi lain sistem merit butuh pengawasan independen tapi lagi-lagi pengawas kadang lebih mirip penjaga kebun yang ketiduran. Ketika ada penyimpangan mereka hanya berkata: “Nanti kita evaluasi.” Evaluasi itu seperti janji diet, selalu dimulai dengan kata “nanti”.

Akibatnya ASN berprestasi merasa seperti pemain bola yang selalu duduk di bangku cadangan karena adanya nepotisme gaya baru yang tumbuh subur seperti tanaman liar. Akhirnya reformasi birokrasi berjalan lambat lebih mirip siput yang sedang piknik sehingga publik kehilangan kepercayaan karena tahu sistem merit lebih sering jadi slogan daripada kenyataan.

Terus bagaimana solusinya? Biarkan mereka para pemangku jabatan yang berpikir, mereka kan punya alat untuk menemukan solusinya.

Sekali lagi Penulis ulangi bahwa sistem merit itu adalah konsep indah seperti janji surga. Tapi di dunia nyata ia sering berubah menjadi komedi situasi. Di atas kertas ia adalah simfoni tapi di panggung ia laksana karaoke dengan mic rusak. Di brosur pantai biru, di realita kolam ikan lele.

Tulisan ini bukan untuk menolak sistem merit. Justru sebaliknya, untuk mengingatkan bahwa sistem merit harus benar-benar dijalankan bukan sekadar tulisan yang dipampang dan disebarluaskan.

Pada akhirnya sistem merit seperti diet sehat. Semua orang tahu manfaatnya dan mengaku melakukannya tapi di meja makan tetap saja nasi padang yang jadi pilihan.

Dan begitulah yang terjadi di birokrasi negara tetangga, sistem merit tetap jadi slogan, sementara faktanya… ya, kita sebagai jiran masih tertawa pahit sambil menunggu keajaiban.

Seharusnya birokrasi di negara jiran tersebut berguru atau melakukan study banding ke birokrasi/institusi yang ada di Indonesia biar mereka tau cara menerapkan sistem merit yang sebenarnya.

Sahram
Kontributor
Sahram
Hakim Pengadilan Agama Sungailiat

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

ASN birokrasi Good Governance sistem merit transparansi
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Seberapa Cerdaskah Anda?

23 April 2026 • 15:19 WIB

Sosialisasi di PTA Kepri: Komitmen dan Dukungan Pimpinan Kunci Sukses Keterbukaan Informasi Publik!

22 April 2026 • 12:27 WIB

Sinergi Strategis IKAHI, KPK, dan PPATK dalam Memperkokoh Integritas Peradilan dan Pencegahan Korupsi di Purwokerto

17 April 2026 • 10:08 WIB
Demo
Top Posts

Menata Ulang Pembuktian di Era Digital: Pelajaran dari Sistem Bukti Elektronik di India

28 April 2026 • 19:08 WIB

Dr. Varun Kapoor : Ancaman Kejahatan Siber ada di sekitar kita. Bagaimana cara menyikapinya?

28 April 2026 • 19:04 WIB

Bisakah Hakim Mempercayai Jejak Digital?

28 April 2026 • 18:39 WIB

Peradilan di Tengah Ancaman Kejahatan Siber

28 April 2026 • 15:25 WIB
Don't Miss

Menata Ulang Pembuktian di Era Digital: Pelajaran dari Sistem Bukti Elektronik di India

By Muamar Azmar Mahmud Farig28 April 2026 • 19:08 WIB0

Di tengah akselerasi digital yang mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, sistem pembuktian di pengadilan tidak…

PN Gresik Kembangkan Jurnal Ilmiah “Grissee Court”, Perkuat Tradisi Riset dan Epistemologi Hukum Peradilan

28 April 2026 • 19:05 WIB

Dr. Varun Kapoor : Ancaman Kejahatan Siber ada di sekitar kita. Bagaimana cara menyikapinya?

28 April 2026 • 19:04 WIB

Mekanisme Restitusi Berbasis Standar Biaya Dalam Perkara Jinayat Di Aceh

28 April 2026 • 19:02 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Menata Ulang Pembuktian di Era Digital: Pelajaran dari Sistem Bukti Elektronik di India
  • PN Gresik Kembangkan Jurnal Ilmiah “Grissee Court”, Perkuat Tradisi Riset dan Epistemologi Hukum Peradilan
  • Dr. Varun Kapoor : Ancaman Kejahatan Siber ada di sekitar kita. Bagaimana cara menyikapinya?
  • Mekanisme Restitusi Berbasis Standar Biaya Dalam Perkara Jinayat Di Aceh
  • Bisakah Hakim Mempercayai Jejak Digital?

Recent Comments

  1. Tipisnya Hidup dan Kematian dalam Perjalanan dari Jabalpur ke Bhopal: “Ketika Tasbih Mengalahkan Klakson” Suara BSDK Liputan Khusus Kegiatan BSDK Kerjasama dengan National Judicial Academy on Catatan Perjalanan: Dari Bhopal ke Jabalpur, “Roller Coaster” Darat Menuju Madhya Pradesh High Court
  2. Analisis Batas Fungsi Pengawasan DPR dan Prinsip Judicial Independence dalam Seruan Komisi III pada Kasus Vonis Bebas Amsal Sitepu - LP2KI FH-UH on Batas Kewenangan Konstitusional: Antara Fungsi Pengawasan DPR dan Kemandirian Kekuasaan Kehakiman
  3. is cenforce legal on Debu di Atas Map Hijau
  4. kamagra north sydney on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  5. what is vidalista 80 on Fenomena The Blue Wall of Silence dan Upaya Membangun the Wall of Integrity: Belajar dari Kasus di Mahkamah Agung dan Kementerian Keuangan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

  • हिंदी