“Kalau sedang menyusun kebijakan begini atau merancang penerbitan Jurnal, sesekali memang harus diajak melihat tambak,” ujar Kepala Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum Mahkamah Agung, Dr. Syamsul Arif, sambil tersenyum ketika sepotong bandeng bakar baru saja mendarat di piringnya.
Semua tertawa.
Di tengah padatnya penyusunan Rancangan PERMA Pemeriksaan Setempat dan Workshop Jurnal Hukum Peradilan di Makassar, rombongan BSDK pagi itu memang sengaja “melarikan diri” beberapa jam ke sebuah kampung tambak di Bonto Langkasa, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep.
Tidak ada ruang rapat.
Tidak ada layar presentasi.
Yang ada hanya hamparan tambak, semilir angin pesisir, aroma ikan bakar yang mengepul dari tungku sederhana, dan obrolan yang mengalir tanpa notulen.
“Kita ini setiap hari mengurusi pasal-pasal. Sekarang giliran mengurusi duri bandeng,” celetuk seseorang di sudut meja.
Gelak tawa kembali pecah.
Dr. Andi Akram, Kapustrajak BSDK, tak mau kalah menimpali.
“Nah, ini lebih sulit daripada menyusun jurnal. Salah ambil sedikit saja, durinya langsung terasa.”
Suasana kembali riuh.
Barangkali memang begitulah nikmatnya jeda. Tidak ada yang sedang membahas indeks sitasi Scopus. Tidak ada yang sedang memperdebatkan metodologi penelitian. Tidak pula ada yang mempermasalahkan redaksi norma.

Semua larut menjadi penikmat bandeng Pangkep.
Namun justru di tengah suasana santai itulah pelajaran paling menarik datang. Seorang petambak yang sejak pagi menemani rombongan bercerita dengan logat Bugis-Makassar yang kental.
“Bandeng kami tidak dikasih pakan tambahan, Pak. Biar dia cari makan sendiri di tambak.”
Kalimat itu membuat beberapa peserta spontan menoleh.
“Kalau dikasih pakan pabrik memang cepat besar. Enam bulan sudah bisa dipanen. Tapi rasanya beda. Dagingnya tidak sekuat bandeng yang tumbuh alami. Yang makan lumut, plankton, dan makanan dari tambak memang lebih lama panennya, tetapi rasanya lebih manis dan lebih gurih.”
Obrolan sederhana itu mendadak membuat meja makan menjadi hening beberapa detik. Entah mengapa, penjelasan petambak tadi terdengar begitu akrab dengan dunia yang sehari-hari digeluti para peserta BSDK.
Bukankah gagasan juga demikian?
Naskah kebijakan yang baik tidak lahir karena dipercepat. Artikel ilmiah yang bermutu tidak tumbuh dari jalan pintas. Peraturan yang kokoh bukan hasil pekerjaan yang tergesa-gesa. Semuanya memerlukan proses. Memerlukan waktu. Memerlukan ruang untuk “bertumbuh alami”.
Dr. Syamsul Arif kemudian tersenyum sambil mengangkat sepotong bandeng yang sudah bersih dari duri. “Ini pelajaran juga buat kita. Yang alami memang lebih lama, tetapi hasilnya lebih kuat.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di meja makan itu semua orang seakan memahami maknanya. Sebab mereka baru saja menghabiskan beberapa hari menyusun naskah kebijakan yang kelak menjadi pedoman bagi hakim di seluruh Indonesia.
Setiap kalimat harus diuji. Setiap norma harus dipertimbangkan. Tidak boleh sekadar cepat selesai.
Bandeng Pangkep ternyata mengajarkan pelajaran berikutnya. Untuk sampai pada kelezatan, seseorang harus sabar menyingkirkan puluhan duri kecil yang tersembunyi. Tidak boleh terburu-buru. Sedikit saja ceroboh, duri itu akan mengganggu kenikmatan.
Begitu pula merumuskan sebuah kebijakan.
Sering kali persoalan besar justru berawal dari “duri-duri kecil” yang luput diperhatikan. Satu frasa yang kabur. Satu norma yang tidak sinkron. Satu kalimat yang tidak cermat.
Di atas meja sederhana di pinggir tambak itu, ikan bandeng tiba-tiba berubah menjadi metafora tentang ketelitian.
Sedangkan tambak mengajarkan filosofi lain. Airnya tenang. Namun kehidupan di dalamnya terus bekerja. Tidak tergesa-gesa. Tidak gaduh. Tetapi pasti.
Mungkin begitulah semestinya sebuah lembaga berpikir.
BSDK tidak hanya menghasilkan kebijakan yang cepat selesai, tetapi kebijakan yang matang, tumbuh dari proses yang alami, diuji oleh diskusi, diperkaya oleh pengalaman, lalu disajikan ketika benar-benar siap memberi manfaat.

Menjelang sore, rombongan kembali ke Makassar.
Laptop akan kembali dibuka. Draft PERMA akan kembali disisir. Artikel jurnal akan kembali disunting. Namun kali ini, semua membawa oleh-oleh yang tak dapat dibungkus dalam kotak. Seekor bandeng mungkin habis dalam satu kali makan.
Tetapi filosofi tentang kesabaran, ketelitian, dan proses bertumbuh secara alami akan tinggal jauh lebih lama di dalam ingatan.
“Di Pangkep kami tidak sekadar belajar membakar bandeng. Kami belajar bahwa kebijakan yang baik, sebagaimana bandeng terbaik, tidak lahir karena dipercepat, melainkan karena diberi ruang untuk tumbuh secara alami.”
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


