Jakarta, 13 Juli 2026 — Peran seorang istri dan ibu dalam keluarga menjadi semakin kompleks di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi di era digital. Tidak hanya dituntut untuk mendampingi keluarga, seorang ibu juga memiliki peran besar dalam membangun lingkungan emosional yang aman dan nyaman bagi suami maupun anak.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam kegiatan Pertemuan Pengurus dan Anggota Dharmayukti Karini yang diselenggarakan di Jakarta, Senin (13/7/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan Mahkamah Agung Republik Indonesia, pengurus pusat serta anggota Dharmayukti Karini MA-RI, perwakilan Dharmayukti Karini seluruh Indonesia, serta para pegawai di lingkungan Mahkamah Agung RI.

Melalui Zoom Meeting, kegiatan turut dihadiri oleh Ketua Mahkamah Agung RI selaku Pelindung Dharmayukti Karini MA-RI, Bapak Prof. Dr. H. Sunarto, S.H., M.H., Wakil Ketua Mahkamah Agung RI Bidang Yudisial Bapak Suharto, S.H., M.Hum., Wakil Ketua Mahkamah Agung RI Bidang Non Yudisial Bapak Dr. H. Dwiarso Budi Santiarto, S.H., M.Hum., para Ketua Kamar Mahkamah Agung RI, para Hakim Agung, Hakim Ad Hoc, Panitera dan Sekretaris MA-RI, pejabat struktural dan fungsional, serta anggota Dharmayukti Karini.
Salah satu momen yang menarik dalam kegiatan ini adalah kehadiran narasumber Ibu dr. Aisah Dahlan, CM.NLP., CCHt., CI. Beliau merupakan seorang dokter, praktisi neuroscience, Certified Master Neuro-Linguistic Programming, Certified Clinical Hypnotherapist, serta Certified Instructor yang dikenal luas melalui berbagai edukasi mengenai keluarga, parenting, komunikasi, dan pengembangan diri.


Dalam sesi pemaparannya dengan tema “Peran Istri dan Ibu Ideal di Era Digital”, dr. Aisah Dahlan mengajak para peserta memahami bahwa membangun keluarga harmonis tidak cukup hanya melalui komunikasi verbal, tetapi juga perlu memahami bagaimana otak bekerja dalam menerima pesan dan membangun ikatan emosional.
Menurut beliau, seorang istri memiliki peran penting sebagai penjaga keharmonisan keluarga. Salah satu kunci utamanya adalah kemampuan berkomunikasi dengan suami dan anak berdasarkan pemahaman ilmu neuroscience, sehingga pesan yang disampaikan dapat membangun kedekatan, bukan justru menciptakan jarak.
Beliau menjelaskan bahwa hubungan keluarga membutuhkan “baterai kasih sayang” yang harus selalu diisi agar anggota keluarga merasa aman, diterima, dan dicintai. Baterai kasih sayang tersebut dapat dipenuhi melalui lima bahasa kasih sayang (love language), yaitu:
Word of Affirmation – memberikan pujian dan kata-kata positif.
Act of Service – menunjukkan kasih sayang melalui tindakan pelayanan.
Quality Time – menyediakan waktu berkualitas bersama keluarga.
Physical Touch – memberikan sentuhan fisik yang penuh kasih.
Receiving Gift – memberikan hadiah sebagai bentuk perhatian.
“Ketika perilaku anak mulai berubah, sering kali itu bukan karena anak nakal, tetapi karena baterai kasih sayangnya mulai kosong dan perlu diisi kembali.” — dr. Aisah Dahlan
Melalui pendekatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa setiap anak memiliki kebutuhan emosional yang berbeda. Cara berkomunikasi dengan anak laki-laki maupun perempuan perlu disesuaikan dengan karakteristik cara kerja otak mereka serta bahasa kasih sayang yang paling mereka rasakan.

Selain membahas pola komunikasi dalam keluarga, dr. Aisah Dahlan juga mengingatkan pentingnya menghindari pemberian label negatif kepada anak. Menurut beliau, komunikasi yang terbentuk di rumah menjadi dasar bagaimana seseorang menghadapi lingkungan luar.
Pesan tersebut menjadi refleksi penting bahwa keluarga merupakan tempat pertama seorang anak belajar memahami dirinya dan dunia. Sikap, perkataan, serta prasangka yang diberikan orang tua dapat memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan emosional anak.
Melalui kegiatan ini, para pengurus dan anggota Dharmayukti Karini mendapatkan wawasan baru mengenai pentingnya peran perempuan dalam keluarga, khususnya dalam menciptakan hubungan yang penuh kasih, komunikasi yang sehat, serta lingkungan rumah yang menjadi tempat paling aman bagi seluruh anggota keluarga.
Karena pada akhirnya, menjaga keharmonisan keluarga tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari cara sederhana: bagaimana kita berbicara, mendengarkan, memahami, dan menunjukkan kasih sayang kepada orang-orang terdekat.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


