Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Bosan Dengan Slogan Menjaga Integritas? Mari Belajar Sisi Lain Makna Integritas melalui Running Philosophy

28 June 2026 • 19:22 WIB

Pemenuhan Nafkah Anak Pasca Perceraian: Menjembatani Amar Putusan dengan  Realitas

28 June 2026 • 09:00 WIB

Menakar Andil Korban dalam Tindak Pidana : Implementasi Doktrin Victim Precipitation pada Pasal 70 KUHP Nasional

27 June 2026 • 19:41 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Bosan Dengan Slogan Menjaga Integritas? Mari Belajar Sisi Lain Makna Integritas melalui Running Philosophy
Artikel

Bosan Dengan Slogan Menjaga Integritas? Mari Belajar Sisi Lain Makna Integritas melalui Running Philosophy

Khoiruddin HasibuanKhoiruddin Hasibuan28 June 2026 • 19:22 WIB10 Mins Read
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Pendahuluan

Dalam berbagai forum reformasi birokrasi, integritas hampir selalu ditempatkan sebagai kata kunci yang paling membosankan, sering diucapkan, menjadi bahan pembinaan yang selalu dianggap keren, dan paling jarang dibahas secara komprehensif.

Semua orang sepakat bahwa integritas itu penting. Semua lembaga memasangnya dalam spanduk, slogan, dan rencana strategis. Namun, justru karena terlalu sering diucapkan, integritas menjadi bosan untuk didengarkan, dan sering kehilangan kedalamannya. Ia menjadi istilah yang terdengar mulia, tetapi semakin kabur pengertiannya, seiring dengan masih menjamurnya pelanggaran disiplin, penjilat masih menempati posisi empuk, dan oknum-oknum yang nirintegritas disekeliling lingkaran kekuasan, masih saja terpantau melakukan perbuatan nirintegritas.

Di lingkungan peradilan, integritas umumnya dipahami sebagai keadaan ketika seorang hakim, panitera, panitera pengganti, jurusita, maupun aparatur pengadilan lainnya sampai level paling bawah, tidak melakukan suatu tindakan yang transaksional, seperti korupsi, tidak menerima suap, tidak menyalahgunakan kewenangan, dan tidak melanggar kode etik.

Pengertian tersebut tentu tidak keliru. Namun ada pertanyaan yang jarang diajukan. Apakah aparatur yang tidak korup otomatis dapat disebut berintegritas? Apakah integritas berhenti pada batas bahwa seseorang tidak melakukan pelanggaran?

Pertanyaan ini penting, karena masyarakat pencari keadilan tidak hanya dirugikan oleh aparatur yang korup. Mereka juga dirugikan oleh aparatur yang lamban, tidak kompeten, tidak disiplin, tidak produktif, tidak mampu mengelola pekerjaannya secara efektif, atau menghabiskan terlalu banyak biaya maupun sumber daya untuk menghasilkan menuntaskan pekerjaannya, yang seharusnya dapat dicapai dengan cara yang lebih sederhana, cepat, dan berbiaya ringan, bahkan tanpa biaya.

Di sinilah filosofi lari (running philosophy), menawarkan sebuah analogi yang menarik. Dalam beberapa tahun terakhir, lari bukan hanya menjadi olahraga, tetapi juga menjadi ruang belajar, tentang bagaimana manusia membangun kualitas dirinya melalui proses yang panjang, terukur, dan konsisten.

Jika diamati lebih dalam, perjalanan seorang pelari menuju level elite, sesungguhnya memiliki kemiripan yang luar biasa, dengan perjalanan aparatur peradilan menuju integritas yang sesungguhnya.

Integritas Sebagai Fungsi Multivariat

Selama ini, integritas sering diperlakukan seolah-olah merupakan variabel Tunggal, sehingga tipe pegawai di sebuah organisasi hanya tinggal dua; pegawai memiliki integritas dan pegawai tidak memiliki integritas. Acara pembinaan dari pimpinan kepada pegawai yang selalu mengingatkan untuk selalu berintegritas dan menjaga integritas, menjadi sesuatu yang sangat membosankan, karena tidak diiringi dengan penjelasan secara mendalam variabel-variabel lainnya, yang sesungguhnya mempengaruhi peningkatan dan penurunan integritas seorang pegawai. Sebenarnya integritas itu dapat diukur secara matematis, yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

I = f (P, A, D, T, R, K, C, E)

Dimana:

  • I = Integritas
  • P = Profesionalitas
  • A = Akuntabilitas
  • D = Disiplin
  • T = Transparansi
  • R = Responsibilitas
  • K = Kompetensi
  • C = Konsistensi
  • E = Efektivitas dan Efisiensi

Apabila salah satu variabel dalam rumus tersebut mengalami penurunan, maka nilai integritas secara keseluruhan, juga akan mengalami penurunan.

Integritas sesungguhnya merupakan hasil pertemuan banyak variabel yang bekerja secara bersamaan. Profesionalitas, akuntabilitas, disipilin, transparansi, responsibiltas, kompetensi, konsistensi, efektivitas dan efisiensi, merupakan unsur-unsur yang saling mempengaruhi satu sama lain. Integritas lahir ketika seluruh unsur tersebut bergerak dalam arah yang sama.

Bayangkan sebuah mesin dengan banyak roda gigi. Mesin tidak akan bekerja hanya karena satu roda berputar dengan baik. Ia membutuhkan seluruh komponennya bekerja secara harmonis. Demikian pula integritas. Seorang aparatur yang jujur tetapi tidak kompeten, akan menghasilkan pelayanan yang buruk. Sebaliknya, aparatur yang sangat kompeten, tetapi tidak akuntabel juga berpotensi menimbulkan masalah.

Karena itu, integritas seharusnya dipahami sebagai hasil akhir dari kualitas keseluruhan sistem kerja seseorang. Ia bukan hanya persoalan moralitas, tetapi juga persoalan kapasitas dan performa.

Pemahaman seperti ini penting karena akan mengubah cara organisasi membangun integritas. Fokusnya tidak lagi semata-mata pada pencegahan pelanggaran, melainkan juga pada peningkatan kualitas kinerja secara menyeluruh pada setiap level pegawai dalams ebuah organisasi/

Pelari Elit dan Aparatur Peradilan

Ketika masyarakat menyaksikan seorang pelari maraton melintasi garis finis dalam waktu dua jam lebih sedikit, yang terlihat hanyalah puncak gunung es. Yang tidak terlihat adalah ribuan kilometer latihan yang dilakukan selama bertahun-tahun.

Seorang pelari elit tidak dibentuk oleh bakat semata. Ia dibentuk oleh disiplin yang panjang, evaluasi yang terus-menerus, dan kesediaan memperbaiki kekurangan-kekurangan kecil, yang bahkan tidak disadari oleh orang lain.

Baca Juga  Amanat Ketua MA “Pertahankan Terus Praktik Anti Pelayanan Transaksional”

Dalam konteks Indonesia, seorang pelari maraton nasional seperti Robi Syianturi, yang mampu menyelesaikan maraton pada level kompetitif, tidak lahir dari latihan enam bulan atau satu tahun. Kemampuannya, merupakan akumulasi dari ribuan sesi latihan yang dilakukan secara konsisten, dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Begitu pula aparatur peradilan.

Tidak ada hakim yang tiba-tiba menjadi hakim agung hanya karena mengikuti satu pelatihan. Tidak ada panitera yang langsung menjadi panitera andal hanya karena menerima surat keputusan pengangkatan. Tidak ada aparatur yang mendadak memiliki integritas tinggi, setelah menandatangani pakta integritas.

Integritas dibangun sebagaimana pelari membangun daya tahannya: sedikit demi sedikit, hari demi hari, tahun demi tahun.

Masalahnya, birokrasi sering kali lebih menyukai hasil instan, daripada proses panjang. Kita sering mencari formula cepat untuk menciptakan aparatur berintegritas, padahal karakter organisasi tidak pernah dibentuk oleh kegiatan seremonial. Ia dibentuk oleh kebiasaan yang terus diulang.

Profesionalitas Adalah Teknik Berlari

Banyak orang mengira lari hanyalah soal siapa yang memiliki kaki paling kuat. Padahal pelari berpengalaman, memahami bahwa teknik jauh lebih penting daripada sekadar tenaga.

Pelari yang salah teknik, akan membuang energi pada setiap langkah. Ia mungkin tetap sampai ke garis finis, tetapi dengan usaha yang jauh lebih besar, dan hasil yang lebih buruk.

Dalam dunia peradilan, profesionalitas memainkan fungsi yang sama seperti teknik dalam olahraga lari.

Profesionalitas bukan sekadar memahami aturan. Profesionalitas adalah kemampuan menerapkan pengetahuan secara efektif, untuk menghasilkan hasil terbaik. Profesionalitas terlihat ketika seorang aparatur mampu menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, tanpa mengorbankan kualitas. Profesionalitas tampak ketika seseorang mampu menggunakan teknologi, untuk memangkas proses yang tidak perlu. Profesionalitas hadir ketika pekerjaan yang rumit dapat diselesaikan secara sederhana, tanpa kehilangan akurasi.

Di sinilah kritik terhadap birokrasi sering menemukan relevansinya. Tidak sedikit pekerjaan yang sesungguhnya sederhana, berubah menjadi rumit karena dilakukan tanpa profesionalitas dan kompetensi yang memadai. Akibatnya, energi organisasi habis untuk mengurus proses, bukan menghasilkan manfaat.

Padahal, seperti pelari yang baik, aparatur yang profesional seharusnya mampu bergerak dengan efisien, hemat energi, dan tepat sasaran.

Disiplin Adalah Latihan Harian

Pelari elit tidak berlatih ketika ia sedang bersemangat. Ia berlatih karena jadwal mengatakan bahwa hari itu adalah hari latihan. Inilah perbedaan antara pelari rekreasional dan pelari kompetitif. Yang satu bergerak berdasarkan suasana hati, yang lain bergerak berdasarkan komitmen.

Dalam birokrasi, disiplin sering dipersempit menjadi urusan absensi dan kehadiran. Padahal disiplin jauh lebih luas daripada itu. Disiplin adalah kemampuan menjaga standar kerja yang sama, meskipun tidak ada yang mengawasi. Disiplin adalah kemampuan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, meskipun tidak ada ancaman hukuman.

Banyak organisasi sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Yang kurang adalah orang yang mampu bekerja dengan ritme yang stabil dalam jangka panjang.

Pelari elit memahami bahwa satu sesi latihan hebat, tidak akan mengubah performanya secara signifikan. Yang mengubah performa adalah akumulasi latihan-latihan biasa yang dilakukan setiap hari.

Begitu pula integritas. Ia tidak dibangun oleh tindakan heroik sesekali. Ia dibangun oleh kedisiplinan yang membosankan, namun dilakukan terus-menerus.

Konsistensi Mengalahkan Motivasi

Dalam komunitas lari terdapat sebuah pelajaran yang sederhana tetapi sangat mendalam: motivasi selalu naik dan turun, tetapi konsistensi mampu bertahan lebih lama.

Setiap orang dapat bersemangat pada awal tahun. Setiap orang dapat berjanji untuk berubah. Namun, hanya sedikit yang mampu mempertahankan komitmen tersebut, ketika antusiasme mulai memudar.

Di lingkungan peradilan, persoalan yang sama sering muncul. Program perubahan sering dimulai dengan gegap gempita, tetapi perlahan kehilangan tenaga, ketika perhatian publik beralih ke isu lain.

Padahal kualitas organisasi sesungguhnya tidak ditentukan oleh seberapa besar semangat pada hari pertama, melainkan oleh kemampuan menjaga ritme pada hari ke-500 dan hari ke-1.000 serta hari-hari berikutnya.

Pelari maraton memahami bahwa kemenangan bukan ditentukan pada kilometer pertama, melainkan pada kemampuan menjaga langkah hingga kilometer terakhir.

Integritas pun demikian. Ia lebih banyak ditentukan oleh konsistensi daripada oleh motivasi.

Baca Juga  Gaungkan Hidup Bersahaja dan Hindari Flexing di Momen PTWP Malang

Akuntabilitas Adalah Data Latihan

Pelari modern hidup dalam dunia data. Mereka mengetahui kecepatan larinya, denyut jantungnya, jarak tempuhnya, kualitas pemulihannya, bahkan jumlah langkah yang dilakukan setiap hari.

Mengapa data penting? Karena manusia sering kali tertipu oleh perasaannya sendiri.

Seseorang mungkin merasa telah berlatih keras, padahal datanya menunjukkan sebaliknya.

Dalam dunia peradilan, akuntabilitas memiliki fungsi yang sama. Ia memungkinkan organisasi melihat kenyataan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang ingin dilihat.

Tanpa akuntabilitas, organisasi mudah terjebak dalam ilusi kinerja. Semua orang merasa sudah bekerja maksimal, tetapi tidak ada ukuran yang benar-benar menunjukkan, apakah pelayanan kepada masyarakat semakin baik atau justru stagnan.

Akuntabilitas adalah cermin yang jujur. Kadang tidak nyaman, tetapi sangat diperlukan.

Integritas Seharusnya Diukur dari Efisiensi dan Efektivitas

Inilah bagian yang mungkin paling kontroversial. Selama ini integritas hampir selalu diukur dari ketiadaan pelanggaran. Ukuran tersebut penting, tetapi belum cukup.

Masyarakat tidak datang ke pengadilan hanya untuk memastikan bahwa aparatur pengadilan tidak menerima suap. Masyarakat datang untuk memperoleh pelayanan hukum yang sederhana, cepat, berbiaya ringan, atau tanpa biaya (prodeo). Karena itu, sudah saatnya integritas juga diukur dari kemampuan menghasilkan manfaat publik secara efektif dan efisien.

Pegawai yang membutuhkan waktu sepuluh hari untuk menyelesaikan pekerjaan, yang sebenarnya dapat diselesaikan dalam tiga hari, sesungguhnya telah menciptakan biaya sosial. Masyarakat harus menunggu lebih lama. Organisasi mengeluarkan sumber daya lebih besar. Energi kolektif terbuang sia-sia.

Sebaliknya, aparatur yang mampu menyelesaikan pekerjaan secara cepat, tepat, dan berkualitas, sebenarnya telah memberikan nilai tambah yang nyata kepada masyarakat. Dalam perspektif ini, efisiensi bukan sekadar indikator manajemen. Efisiensi merupakan manifestasi integritas.

Sebab, pada akhirnya integritas bukan hanya tentang tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, tetapi juga tentang tidak menyia-nyiakan sumber daya publik yang dipercayakan kepadanya.

Jangan Membebani Pelari Elit

Ada satu ironi yang sering terjadi dalam birokrasi. Semakin baik seseorang bekerja, semakin banyak pekerjaan yang diberikan kepadanya. Pegawai yang lambat, tetap memikul beban yang sama. Pegawai yang cepat, justru menerima tambahan pekerjaan, karena dianggap mampu. Dalam jangka pendek, pola ini tampak masuk akal. Namun dalam jangka panjang, organisasi sedang menciptakan ketidakadilan.

Dunia lari mengenal konsep kelelahan akibat beban berlebih (overtraining/fatigue). Bahkan pelari elit sekalipun memiliki batas kemampuan. Ketika batas itu dilampaui terus-menerus, performa akan menurun.

Hal yang sama berlaku dalam organisasi. Pegawai berkinerja tinggi, tidak boleh terus-menerus menjadi penyangga kelemahan sistem. Jika itu terjadi, organisasi sebenarnya sedang menghukum produktivitas dan memberi toleransi terhadap ketidakmampuan. Tugas pimpinan bukan membuat pelari tercepat berlari lebih jauh lagi. Tugas pimpinan adalah membantu pelari yang tertinggal agar mampu mengejar ritme tim.

Penutup: Pengadilan sebagai Tim Maraton

Pada akhirnya, pengadilan bukanlah arena lari sprint. Ia lebih menyerupai maraton yang panjang dan melelahkan.

Keberhasilan organisasi peradilan tidak ditentukan oleh satu orang yang hebat, melainkan oleh kemampuan seluruh unsur organisasi menjaga ritme menuju tujuan yang sama. Pimpinan Pengadilan, Hakim, panitera, jurusita, aparatur kesekretariatan, aparatur peradilan sampai level bawah sekalipun, merupakan bagian dari tim yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Filosofi lari mengajarkan bahwa keunggulan tidak pernah lahir secara instan. Ia merupakan hasil dari profesionalitas, yang terus diasah, disiplin yang terus dipelihara, konsistensi yang terus dijaga, akuntabilitas yang terus diukur, dan kemampuan memperbaiki diri meskipun hanya sepersepuluh persen dari hari sebelumnya.

Karena itu, mungkin sudah saatnya kita memperluas makna integritas. Integritas tidak cukup dimaknai sebagai menghidari kegiatan transaksional, maupun ketiadaan korupsi. Integritas harus dipahami sebagai kemampuan menghadirkan manfaat publik secara optimal melalui kerja yang profesional, akuntabel, disiplin, konsisten, efektif, dan efisien.

Sebab bagi masyarakat pencari keadilan, integritas yang paling nyata bukanlah slogan yang terpampang di dinding kantor. Integritas adalah ketika keadilan dapat diberikan dengan cepat, tepat, bermartabat, dan tanpa membebani mereka yang mencarinya.

Khoiruddin Hasibuan
Kontributor
Khoiruddin Hasibuan
Hakim Pengadilan Agama Soreang

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

akuntabilitas Aparatur Peradilan disiplin Efisiensi Kerja Integritas Peradilan Profesionalitas Running Philosophy
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Pemenuhan Nafkah Anak Pasca Perceraian: Menjembatani Amar Putusan dengan  Realitas

28 June 2026 • 09:00 WIB

Menakar Andil Korban dalam Tindak Pidana : Implementasi Doktrin Victim Precipitation pada Pasal 70 KUHP Nasional

27 June 2026 • 19:41 WIB

Menjemput Inspirasi Perubahan Jejak Studi Lapangan Kepemimpinan di Kota Malang

27 June 2026 • 10:27 WIB
Demo
Top Posts

Peradilan Militer Bukan Ruang Gelap: Menepis Narasi Impunitas dengan Fakta dan Akuntabilitas

9 May 2026 • 18:38 WIB

NJA India, JTC Indonesia, dan Jalan Belajar Seorang Hakim

4 May 2026 • 09:43 WIB

Bagaimana Cara Hakim dan Lembaga Peradilan menghadapi Trial By Media “Sebuah Pembelajaran dari India”

2 May 2026 • 16:11 WIB

5 Hal Menarik dalam Sistem Peradilan India yang Tidak Ditemukan di Indonesia

1 May 2026 • 13:20 WIB
Don't Miss

Bosan Dengan Slogan Menjaga Integritas? Mari Belajar Sisi Lain Makna Integritas melalui Running Philosophy

By Khoiruddin Hasibuan28 June 2026 • 19:22 WIB0

Pendahuluan Dalam berbagai forum reformasi birokrasi, integritas hampir selalu ditempatkan sebagai kata kunci yang paling…

Pemenuhan Nafkah Anak Pasca Perceraian: Menjembatani Amar Putusan dengan  Realitas

28 June 2026 • 09:00 WIB

Menakar Andil Korban dalam Tindak Pidana : Implementasi Doktrin Victim Precipitation pada Pasal 70 KUHP Nasional

27 June 2026 • 19:41 WIB

Menjemput Inspirasi Perubahan Jejak Studi Lapangan Kepemimpinan di Kota Malang

27 June 2026 • 10:27 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Bosan Dengan Slogan Menjaga Integritas? Mari Belajar Sisi Lain Makna Integritas melalui Running Philosophy
  • Pemenuhan Nafkah Anak Pasca Perceraian: Menjembatani Amar Putusan dengan  Realitas
  • Menakar Andil Korban dalam Tindak Pidana : Implementasi Doktrin Victim Precipitation pada Pasal 70 KUHP Nasional
  • Menjemput Inspirasi Perubahan Jejak Studi Lapangan Kepemimpinan di Kota Malang
  • Koordinator Hakim Yustisial Peradilan Militer BSDK Mahkamah Agung Resmi Menutup Pendidikan dan Pelatihan Teknis Yudisial Tahun 2026

Recent Comments

  1. minoxidil 2% vs 5% performance on “Dari Ruang Diklat Menuju Putusan Berkualitas: Transformasi Hakim Militer dan TUN di Era KUHAP Nasional”
  2. minoxidil fundamentals on Debu di Atas Map Hijau
  3. ivermectin PK profile on Kerahasiaan Perkara Perceraian: Mengkaji Ulang Anonimisasi Putusan
  4. ivermectin mechanism scientific review on Ketika Kontrak Diputus Sepihak: Pelanggaran Biasa atau Perbuatan Melawan Hukum?
  5. ivermectin safety evidence review on “Dari Ruang Diklat Menuju Putusan Berkualitas: Transformasi Hakim Militer dan TUN di Era KUHAP Nasional”
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Eddy Sembiring
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Willsa Suharyadi
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Yukiatiqa Afifah
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.