Pendahuluan
Dalam berbagai forum reformasi birokrasi, integritas hampir selalu ditempatkan sebagai kata kunci yang paling membosankan, sering diucapkan, menjadi bahan pembinaan yang selalu dianggap keren, dan paling jarang dibahas secara komprehensif.
Semua orang sepakat bahwa integritas itu penting. Semua lembaga memasangnya dalam spanduk, slogan, dan rencana strategis. Namun, justru karena terlalu sering diucapkan, integritas menjadi bosan untuk didengarkan, dan sering kehilangan kedalamannya. Ia menjadi istilah yang terdengar mulia, tetapi semakin kabur pengertiannya, seiring dengan masih menjamurnya pelanggaran disiplin, penjilat masih menempati posisi empuk, dan oknum-oknum yang nirintegritas disekeliling lingkaran kekuasan, masih saja terpantau melakukan perbuatan nirintegritas.
Di lingkungan peradilan, integritas umumnya dipahami sebagai keadaan ketika seorang hakim, panitera, panitera pengganti, jurusita, maupun aparatur pengadilan lainnya sampai level paling bawah, tidak melakukan suatu tindakan yang transaksional, seperti korupsi, tidak menerima suap, tidak menyalahgunakan kewenangan, dan tidak melanggar kode etik.
Pengertian tersebut tentu tidak keliru. Namun ada pertanyaan yang jarang diajukan. Apakah aparatur yang tidak korup otomatis dapat disebut berintegritas? Apakah integritas berhenti pada batas bahwa seseorang tidak melakukan pelanggaran?
Pertanyaan ini penting, karena masyarakat pencari keadilan tidak hanya dirugikan oleh aparatur yang korup. Mereka juga dirugikan oleh aparatur yang lamban, tidak kompeten, tidak disiplin, tidak produktif, tidak mampu mengelola pekerjaannya secara efektif, atau menghabiskan terlalu banyak biaya maupun sumber daya untuk menghasilkan menuntaskan pekerjaannya, yang seharusnya dapat dicapai dengan cara yang lebih sederhana, cepat, dan berbiaya ringan, bahkan tanpa biaya.
Di sinilah filosofi lari (running philosophy), menawarkan sebuah analogi yang menarik. Dalam beberapa tahun terakhir, lari bukan hanya menjadi olahraga, tetapi juga menjadi ruang belajar, tentang bagaimana manusia membangun kualitas dirinya melalui proses yang panjang, terukur, dan konsisten.
Jika diamati lebih dalam, perjalanan seorang pelari menuju level elite, sesungguhnya memiliki kemiripan yang luar biasa, dengan perjalanan aparatur peradilan menuju integritas yang sesungguhnya.
Integritas Sebagai Fungsi Multivariat
Selama ini, integritas sering diperlakukan seolah-olah merupakan variabel Tunggal, sehingga tipe pegawai di sebuah organisasi hanya tinggal dua; pegawai memiliki integritas dan pegawai tidak memiliki integritas. Acara pembinaan dari pimpinan kepada pegawai yang selalu mengingatkan untuk selalu berintegritas dan menjaga integritas, menjadi sesuatu yang sangat membosankan, karena tidak diiringi dengan penjelasan secara mendalam variabel-variabel lainnya, yang sesungguhnya mempengaruhi peningkatan dan penurunan integritas seorang pegawai. Sebenarnya integritas itu dapat diukur secara matematis, yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
I = f (P, A, D, T, R, K, C, E)
Dimana:
- I = Integritas
- P = Profesionalitas
- A = Akuntabilitas
- D = Disiplin
- T = Transparansi
- R = Responsibilitas
- K = Kompetensi
- C = Konsistensi
- E = Efektivitas dan Efisiensi
Apabila salah satu variabel dalam rumus tersebut mengalami penurunan, maka nilai integritas secara keseluruhan, juga akan mengalami penurunan.
Integritas sesungguhnya merupakan hasil pertemuan banyak variabel yang bekerja secara bersamaan. Profesionalitas, akuntabilitas, disipilin, transparansi, responsibiltas, kompetensi, konsistensi, efektivitas dan efisiensi, merupakan unsur-unsur yang saling mempengaruhi satu sama lain. Integritas lahir ketika seluruh unsur tersebut bergerak dalam arah yang sama.
Bayangkan sebuah mesin dengan banyak roda gigi. Mesin tidak akan bekerja hanya karena satu roda berputar dengan baik. Ia membutuhkan seluruh komponennya bekerja secara harmonis. Demikian pula integritas. Seorang aparatur yang jujur tetapi tidak kompeten, akan menghasilkan pelayanan yang buruk. Sebaliknya, aparatur yang sangat kompeten, tetapi tidak akuntabel juga berpotensi menimbulkan masalah.
Karena itu, integritas seharusnya dipahami sebagai hasil akhir dari kualitas keseluruhan sistem kerja seseorang. Ia bukan hanya persoalan moralitas, tetapi juga persoalan kapasitas dan performa.
Pemahaman seperti ini penting karena akan mengubah cara organisasi membangun integritas. Fokusnya tidak lagi semata-mata pada pencegahan pelanggaran, melainkan juga pada peningkatan kualitas kinerja secara menyeluruh pada setiap level pegawai dalams ebuah organisasi/
Pelari Elit dan Aparatur Peradilan
Ketika masyarakat menyaksikan seorang pelari maraton melintasi garis finis dalam waktu dua jam lebih sedikit, yang terlihat hanyalah puncak gunung es. Yang tidak terlihat adalah ribuan kilometer latihan yang dilakukan selama bertahun-tahun.
Seorang pelari elit tidak dibentuk oleh bakat semata. Ia dibentuk oleh disiplin yang panjang, evaluasi yang terus-menerus, dan kesediaan memperbaiki kekurangan-kekurangan kecil, yang bahkan tidak disadari oleh orang lain.
Dalam konteks Indonesia, seorang pelari maraton nasional seperti Robi Syianturi, yang mampu menyelesaikan maraton pada level kompetitif, tidak lahir dari latihan enam bulan atau satu tahun. Kemampuannya, merupakan akumulasi dari ribuan sesi latihan yang dilakukan secara konsisten, dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Begitu pula aparatur peradilan.
Tidak ada hakim yang tiba-tiba menjadi hakim agung hanya karena mengikuti satu pelatihan. Tidak ada panitera yang langsung menjadi panitera andal hanya karena menerima surat keputusan pengangkatan. Tidak ada aparatur yang mendadak memiliki integritas tinggi, setelah menandatangani pakta integritas.
Integritas dibangun sebagaimana pelari membangun daya tahannya: sedikit demi sedikit, hari demi hari, tahun demi tahun.
Masalahnya, birokrasi sering kali lebih menyukai hasil instan, daripada proses panjang. Kita sering mencari formula cepat untuk menciptakan aparatur berintegritas, padahal karakter organisasi tidak pernah dibentuk oleh kegiatan seremonial. Ia dibentuk oleh kebiasaan yang terus diulang.
Profesionalitas Adalah Teknik Berlari
Banyak orang mengira lari hanyalah soal siapa yang memiliki kaki paling kuat. Padahal pelari berpengalaman, memahami bahwa teknik jauh lebih penting daripada sekadar tenaga.
Pelari yang salah teknik, akan membuang energi pada setiap langkah. Ia mungkin tetap sampai ke garis finis, tetapi dengan usaha yang jauh lebih besar, dan hasil yang lebih buruk.
Dalam dunia peradilan, profesionalitas memainkan fungsi yang sama seperti teknik dalam olahraga lari.
Profesionalitas bukan sekadar memahami aturan. Profesionalitas adalah kemampuan menerapkan pengetahuan secara efektif, untuk menghasilkan hasil terbaik. Profesionalitas terlihat ketika seorang aparatur mampu menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, tanpa mengorbankan kualitas. Profesionalitas tampak ketika seseorang mampu menggunakan teknologi, untuk memangkas proses yang tidak perlu. Profesionalitas hadir ketika pekerjaan yang rumit dapat diselesaikan secara sederhana, tanpa kehilangan akurasi.
Di sinilah kritik terhadap birokrasi sering menemukan relevansinya. Tidak sedikit pekerjaan yang sesungguhnya sederhana, berubah menjadi rumit karena dilakukan tanpa profesionalitas dan kompetensi yang memadai. Akibatnya, energi organisasi habis untuk mengurus proses, bukan menghasilkan manfaat.
Padahal, seperti pelari yang baik, aparatur yang profesional seharusnya mampu bergerak dengan efisien, hemat energi, dan tepat sasaran.
Disiplin Adalah Latihan Harian
Pelari elit tidak berlatih ketika ia sedang bersemangat. Ia berlatih karena jadwal mengatakan bahwa hari itu adalah hari latihan. Inilah perbedaan antara pelari rekreasional dan pelari kompetitif. Yang satu bergerak berdasarkan suasana hati, yang lain bergerak berdasarkan komitmen.
Dalam birokrasi, disiplin sering dipersempit menjadi urusan absensi dan kehadiran. Padahal disiplin jauh lebih luas daripada itu. Disiplin adalah kemampuan menjaga standar kerja yang sama, meskipun tidak ada yang mengawasi. Disiplin adalah kemampuan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, meskipun tidak ada ancaman hukuman.
Banyak organisasi sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Yang kurang adalah orang yang mampu bekerja dengan ritme yang stabil dalam jangka panjang.
Pelari elit memahami bahwa satu sesi latihan hebat, tidak akan mengubah performanya secara signifikan. Yang mengubah performa adalah akumulasi latihan-latihan biasa yang dilakukan setiap hari.
Begitu pula integritas. Ia tidak dibangun oleh tindakan heroik sesekali. Ia dibangun oleh kedisiplinan yang membosankan, namun dilakukan terus-menerus.
Konsistensi Mengalahkan Motivasi
Dalam komunitas lari terdapat sebuah pelajaran yang sederhana tetapi sangat mendalam: motivasi selalu naik dan turun, tetapi konsistensi mampu bertahan lebih lama.
Setiap orang dapat bersemangat pada awal tahun. Setiap orang dapat berjanji untuk berubah. Namun, hanya sedikit yang mampu mempertahankan komitmen tersebut, ketika antusiasme mulai memudar.
Di lingkungan peradilan, persoalan yang sama sering muncul. Program perubahan sering dimulai dengan gegap gempita, tetapi perlahan kehilangan tenaga, ketika perhatian publik beralih ke isu lain.
Padahal kualitas organisasi sesungguhnya tidak ditentukan oleh seberapa besar semangat pada hari pertama, melainkan oleh kemampuan menjaga ritme pada hari ke-500 dan hari ke-1.000 serta hari-hari berikutnya.
Pelari maraton memahami bahwa kemenangan bukan ditentukan pada kilometer pertama, melainkan pada kemampuan menjaga langkah hingga kilometer terakhir.
Integritas pun demikian. Ia lebih banyak ditentukan oleh konsistensi daripada oleh motivasi.
Akuntabilitas Adalah Data Latihan
Pelari modern hidup dalam dunia data. Mereka mengetahui kecepatan larinya, denyut jantungnya, jarak tempuhnya, kualitas pemulihannya, bahkan jumlah langkah yang dilakukan setiap hari.
Mengapa data penting? Karena manusia sering kali tertipu oleh perasaannya sendiri.
Seseorang mungkin merasa telah berlatih keras, padahal datanya menunjukkan sebaliknya.
Dalam dunia peradilan, akuntabilitas memiliki fungsi yang sama. Ia memungkinkan organisasi melihat kenyataan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang ingin dilihat.
Tanpa akuntabilitas, organisasi mudah terjebak dalam ilusi kinerja. Semua orang merasa sudah bekerja maksimal, tetapi tidak ada ukuran yang benar-benar menunjukkan, apakah pelayanan kepada masyarakat semakin baik atau justru stagnan.
Akuntabilitas adalah cermin yang jujur. Kadang tidak nyaman, tetapi sangat diperlukan.
Integritas Seharusnya Diukur dari Efisiensi dan Efektivitas
Inilah bagian yang mungkin paling kontroversial. Selama ini integritas hampir selalu diukur dari ketiadaan pelanggaran. Ukuran tersebut penting, tetapi belum cukup.
Masyarakat tidak datang ke pengadilan hanya untuk memastikan bahwa aparatur pengadilan tidak menerima suap. Masyarakat datang untuk memperoleh pelayanan hukum yang sederhana, cepat, berbiaya ringan, atau tanpa biaya (prodeo). Karena itu, sudah saatnya integritas juga diukur dari kemampuan menghasilkan manfaat publik secara efektif dan efisien.
Pegawai yang membutuhkan waktu sepuluh hari untuk menyelesaikan pekerjaan, yang sebenarnya dapat diselesaikan dalam tiga hari, sesungguhnya telah menciptakan biaya sosial. Masyarakat harus menunggu lebih lama. Organisasi mengeluarkan sumber daya lebih besar. Energi kolektif terbuang sia-sia.
Sebaliknya, aparatur yang mampu menyelesaikan pekerjaan secara cepat, tepat, dan berkualitas, sebenarnya telah memberikan nilai tambah yang nyata kepada masyarakat. Dalam perspektif ini, efisiensi bukan sekadar indikator manajemen. Efisiensi merupakan manifestasi integritas.
Sebab, pada akhirnya integritas bukan hanya tentang tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, tetapi juga tentang tidak menyia-nyiakan sumber daya publik yang dipercayakan kepadanya.
Jangan Membebani Pelari Elit
Ada satu ironi yang sering terjadi dalam birokrasi. Semakin baik seseorang bekerja, semakin banyak pekerjaan yang diberikan kepadanya. Pegawai yang lambat, tetap memikul beban yang sama. Pegawai yang cepat, justru menerima tambahan pekerjaan, karena dianggap mampu. Dalam jangka pendek, pola ini tampak masuk akal. Namun dalam jangka panjang, organisasi sedang menciptakan ketidakadilan.
Dunia lari mengenal konsep kelelahan akibat beban berlebih (overtraining/fatigue). Bahkan pelari elit sekalipun memiliki batas kemampuan. Ketika batas itu dilampaui terus-menerus, performa akan menurun.
Hal yang sama berlaku dalam organisasi. Pegawai berkinerja tinggi, tidak boleh terus-menerus menjadi penyangga kelemahan sistem. Jika itu terjadi, organisasi sebenarnya sedang menghukum produktivitas dan memberi toleransi terhadap ketidakmampuan. Tugas pimpinan bukan membuat pelari tercepat berlari lebih jauh lagi. Tugas pimpinan adalah membantu pelari yang tertinggal agar mampu mengejar ritme tim.
Penutup: Pengadilan sebagai Tim Maraton
Pada akhirnya, pengadilan bukanlah arena lari sprint. Ia lebih menyerupai maraton yang panjang dan melelahkan.
Keberhasilan organisasi peradilan tidak ditentukan oleh satu orang yang hebat, melainkan oleh kemampuan seluruh unsur organisasi menjaga ritme menuju tujuan yang sama. Pimpinan Pengadilan, Hakim, panitera, jurusita, aparatur kesekretariatan, aparatur peradilan sampai level bawah sekalipun, merupakan bagian dari tim yang saling mempengaruhi satu sama lain.
Filosofi lari mengajarkan bahwa keunggulan tidak pernah lahir secara instan. Ia merupakan hasil dari profesionalitas, yang terus diasah, disiplin yang terus dipelihara, konsistensi yang terus dijaga, akuntabilitas yang terus diukur, dan kemampuan memperbaiki diri meskipun hanya sepersepuluh persen dari hari sebelumnya.
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita memperluas makna integritas. Integritas tidak cukup dimaknai sebagai menghidari kegiatan transaksional, maupun ketiadaan korupsi. Integritas harus dipahami sebagai kemampuan menghadirkan manfaat publik secara optimal melalui kerja yang profesional, akuntabel, disiplin, konsisten, efektif, dan efisien.
Sebab bagi masyarakat pencari keadilan, integritas yang paling nyata bukanlah slogan yang terpampang di dinding kantor. Integritas adalah ketika keadilan dapat diberikan dengan cepat, tepat, bermartabat, dan tanpa membebani mereka yang mencarinya.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


