Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

7 Pesan Ketua MA Untuk Juru Bicara Pengadilan

October 14, 2026

Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia

October 14, 2026

Menerangi Fakta, Menjaga Marwah Peradilan : 43 Peserta Bimbingan Teknis Yudisial Perdalam Teknik dan Praktik Pembuatan Berita Acara Sidang

October 14, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Menundukkan Ego dalam Penegakan Hukum: Refleksi Idul Adha 1447 H bagi Pemberi Keadilan

Menundukkan Ego dalam Penegakan Hukum: Refleksi Idul Adha 1447 H bagi Pemberi Keadilan

ZulfahmiBy ZulfahmiMay 27, 2026 · 11:35 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Menjadi hakim bukanlah sekadar pilihan profesi, melainkan sebuah takdir yang di dalamnya terpatri sumpah yang sangat berat. Jabatan ini bukan sekadar tentang wewenang administratif, melainkan tentang tanggung jawab moral yang melampaui batas keduniawian. Bagi kita yang saat ini memikul amanah kehakiman, sering kali terselip rasa getir melihat betapa tipisnya batas antara keadilan dan kekhilafan. Namun, di tengah beratnya beban ini, Rasulullah SAW memberikan sebuah kabar gembira yang menyejukkan jiwa bagi mereka yang berani memegang teguh kejujuran di tengah badai godaan:

“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di samping kanan Ar-Rahman; yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam hukumnya, adil terhadap keluarganya, dan adil terhadap apa yang mereka pimpin.” (HR. Muslim).

Membayangkan diri kita kelak berada di mimbar cahaya itu memberikan kekuatan tersendiri. Ini adalah motivasi tertinggi yang melampaui segala tunjangan, fasilitas, maupun jabatan duniawi yang sifatnya fana. Keadilan, bagi kita, bukan sekadar tugas di atas tumpukan berkas perkara, melainkan bentuk ibadah sosial tertinggi yang sedang kita perjuangkan bersama sebagai perpanjangan tangan Tuhan di muka bumi.

Di momen Idul Adha 1447 H ini, kita diajak kembali menyelami peristiwa agung Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail AS. Peristiwa qurban ini bukan sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan cermin ketaatan dan pelepasan ego yang paling mendalam. Bagi kita yang bertugas memberi keadilan, filosofi ini sangatlah personal dan fundamental. Qurban adalah tentang kerelaan untuk melepaskan sesuatu yang kita cintai atau kita genggam erat demi ketaatan yang lebih tinggi.

Apa yang sebenarnya harus kita “qurbankan” di ruang sidang? Kita dituntut untuk berani menyembelih ego, melepas ambisi pribadi, dan membuang jauh keinginan untuk dipuji atau disanjung. Hewan qurban adalah simbol primordial dari hawa nafsu yang harus kita jinakkan. Saat memegang palu, kita dipanggil untuk mengqurbankan kepentingan pribadi demi tegaknya keadilan Ilahi. Jika Nabi Ibrahim AS sanggup mengqurbankan yang paling dicintainya demi perintah yang diyakininya benar, sudikah kita mengqurbankan godaan materi demi menjaga kehormatan profesi yang telah memberi kita kehidupan ini? Tugas kita sebagai pemberi keadilan adalah bentuk “qurban” itu sendiri—pengorbanan waktu, pikiran, dan hawa nafsu demi kepentingan orang banyak yang mendambakan kepastian hukum.

Godaan dalam dunia peradilan tidak selalu datang dalam bentuk amplop yang terang-terangan. Kadang ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus dan sulit dikenali. Ada tekanan relasi, kedekatan emosional, rasa sungkan kepada teman lama, hubungan kekerabatan, kepentingan karier, bahkan rasa iba yang berlebihan kepada salah satu pihak. Tidak jarang pula ego hadir dalam bentuk keinginan untuk dipuji sebagai hakim yang populer atau dianggap “baik” oleh semua orang. Pada titik inilah ujian sesungguhnya dimulai. Ego sering kali bekerja diam-diam, membisikkan pembenaran atas keberpihakan yang perlahan menggeser objektivitas. Karena itu, musuh terbesar seorang pemberi keadilan sering kali bukan pihak luar, melainkan dirinya sendiri.

Baca Juga  Menjaga Tunas Bangsa melalui Integritas Hakim sebagai Penjaga Negara Hukum

Menjadi hakim yang menjaga integritas kadang bukan jalan yang ramai. Ada saat-saat ketika seseorang harus memilih berjalan sendiri, menjaga jarak dari lingkungan yang tidak sehat, bahkan dianggap terlalu kaku oleh sekelilingnya. Dalam situasi tertentu, mempertahankan prinsip dapat terasa sunyi dan melelahkan. Namun justru dalam kesunyian menjaga prinsip itulah martabat profesi dipertahankan. Tidak semua kemenangan terlihat gemerlap; sebagian kemenangan terbesar justru terjadi ketika seseorang berhasil menolak sesuatu yang tidak diketahui siapa pun selain dirinya dan Tuhan.

Di balik jubah yang kita kenakan, mari kita ingat bahwa kita adalah bagian dari sejarah besar bangsa ini. Setiap kali ketukan palu bergema di ruang sidang, ingatlah bahwa kita tidak sedang memutuskan perkara seorang diri. Kita sedang merawat napas dari negara yang dibangun dengan air mata, keringat, dan darah para pejuang bangsa. Mereka mengorbankan nyawa, meninggalkan orang-orang terkasih, dan membuang ambisi pribadi demi satu impian: berdirinya negara hukum yang berdaulat, adil, dan makmur.

Ketukan palu yang kita layangkan di ruang sidang bukan sekadar bunyi kayu yang beradu dengan meja. Itu adalah suara negara, suara keadilan yang seharusnya memberikan rasa aman bagi mereka yang tertindas. Setiap kali palu itu diangkat, ribuan pasang mata menatap dengan harapan. Mereka yang datang ke ruang sidang sering kali adalah orang-orang yang sudah putus asa, yang hanya memiliki harapan terakhir pada ketukan palu kita. Jika kita mengotori harapan itu dengan kepentingan pribadi, kita tidak hanya sedang menyuap diri kita sendiri, tetapi kita sedang meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi yang kita cintai ini. Kepercayaan publik bukanlah sesuatu yang bisa dibeli; ia adalah hasil dari konsistensi perilaku dan kemurnian putusan yang kita lahirkan. Ketika kepercayaan itu hilang, maka hukum hanya akan menjadi sekadar teks mati yang tidak lagi memiliki wibawa di mata rakyat.

Setiap tetes darah yang tumpah di medan perjuangan masa lalu adalah saksi bisu atas impian tentang keadilan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Bayangkanlah betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan. Ketika kita tergoda untuk mencederai keadilan, bukankah kita sedang mengkhianati harapan agung para pendiri bangsa yang dulu bertaruh nyawa untuk tanah air ini? Palu yang kita pegang adalah simbol kedaulatan mereka. Jangan biarkan ia menjadi alat penggadaian martabat bangsa yang telah diperjuangkan dengan begitu mahal. Ketukan palu kita adalah tanda kehadiran negara dalam memberikan keadilan, dan setiap putusan adalah cerminan dari martabat bangsa kita di masa depan.

Saat ini, pimpinan Mahkamah Agung telah menunjukkan sikap tegas zero tolerance terhadap segala bentuk praktik transaksional. Kebijakan ini adalah garis tegas yang tidak bisa ditawar lagi bagi seluruh penegak keadilan. “Uang terima kasih” pasca-putusan, apa pun dalihnya, hanyalah suap yang terbungkus rapi. Harta itu bukanlah rezeki, melainkan beban amanah yang akan kita bawa hingga ke penghisaban nanti. Hadiah itu diberikan semata karena jabatan yang melekat pada kita; jika bukan karena jabatan itu, tentu mereka tidak akan memberikan apa pun. Mari kita sadari bahwa tunjangan negara sudah lebih dari cukup untuk hidup terhormat, sehingga menengadahkan tangan pada pihak berperkara adalah bentuk kerendahan diri yang tidak perlu.

Baca Juga  Perkokoh Integritas, Kabawas MA RI: "Jangan Pernah Menggerogoti Rumah Besar Kita Sendiri!"

Bagi rekan-rekan yang mungkin pernah merasa tergelincir di masa lalu, janganlah berputus asa dan merasa diri telah kehilangan segalanya. Kita semua adalah manusia biasa yang tak luput dari khilaf. Namun, inilah saatnya untuk melakukan refleksi total. Mari kita tebus masa lalu dengan komitmen yang lebih baik mulai hari ini. Berhentilah dari hubungan yang tidak perlu dengan pihak berperkara, dan bagi kita yang lebih senior, marilah kita menjadi teladan bagi rekan-rekan yang lebih muda. Setidaknya, jadilah teladan yang terbaik untuk diri sendiri, agar saat kita pulang nanti ke rumah dan menemui keluarga, kita membawa ketenangan jiwa yang tidak bisa dibeli dengan harta apa pun.

Kita perlu bertanya pada diri sendiri di saat-saat hening di sela kesibukan: “Apa yang akan tertinggal saat kursi ini tidak lagi kita duduki?” Jabatan ini hanyalah titipan singkat dalam perjalanan panjang kehidupan. Harta yang dikumpulkan secara tidak halal akan segera habis dimakan zaman, namun setiap putusan yang lahir dari ketulusan akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya. Sebaliknya, setiap ketidakadilan yang kita biarkan akan menjadi jejak sejarah yang membebani nama baik keluarga kita di masa depan. Menjadi hakim yang amanah adalah bentuk investasi terbaik bagi diri sendiri, karena martabat diri jauh lebih mahal nilainya dibanding godaan materi yang sesaat.

Jabatan ini akan segera berakhir. Waktu terus berputar, dan pada akhirnya, apa yang benar-benar ingin kita tinggalkan? Apakah kita ingin diingat sebagai pemberi keadilan yang bisa dibeli, atau seseorang yang teguh menjaga prinsip meski dalam kesederhanaan yang bersahaja? Keadilan adalah napas masyarakat; jika kita mengotorinya, mereka akan sesak napas dalam ketidakadilan.

Kelak ketika palu itu tidak lagi berada di tangan kita, yang tersisa bukanlah fasilitas, jabatan, atau penghormatan seremonial. Yang tertinggal hanyalah jejak: apakah kehadiran kita pernah membuat orang kecil merasa masih ada harapan terhadap hukum, atau justru membuat mereka kehilangan kepercayaan kepada negara. Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat putusan, tetapi juga mencatat nurani di balik putusan itu.

Mari kita jaga profesi ini dengan penuh pengabdian. Semoga kita semua selalu dikuatkan untuk tetap istiqamah di jalan yang lurus. Amin.

Zulfahmi
Kontributor
Zulfahmi
Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Kepulauan Riau

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Ego Penegak Hukum Etika Peradilan Integritas Hakim Keadilan dan Amanah Refleksi Idul Adha
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

7 Pesan Ketua MA Untuk Juru Bicara Pengadilan

October 14, 2026

Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia

October 14, 2026

Jalan Darma Tokoh Wayang Yudistira: Konsistensi Hakim Menegakkan Keadilan Lingkungan di Tengah Bencana Asap

October 14, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Di mana Kesaktian Pancasila Diuji?

October 1, 2026

Senja di Losari dengan Secangkir Saraba dan Sepiring Pisang Epe

September 16, 2026

Siasat Tiada Henti Penjaga Keadilan

September 13, 20261,607 Views

Titah Leviathan

September 11, 2026
Don't Miss

7 Pesan Ketua MA Untuk Juru Bicara Pengadilan

By Edi HudiataOctober 14, 20260

MEGAMENDUNG, BSDK MA RI — “Juru bicara jangan menjadi bagian dari masalah dan jangan mencari…

Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia

October 14, 2026

Menerangi Fakta, Menjaga Marwah Peradilan : 43 Peserta Bimbingan Teknis Yudisial Perdalam Teknik dan Praktik Pembuatan Berita Acara Sidang

October 14, 2026

Mengapa Norwegia Mengajak 50.000 Warga Biasa Mengadili?

October 14, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • 7 Pesan Ketua MA Untuk Juru Bicara Pengadilan
  • Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  • Menerangi Fakta, Menjaga Marwah Peradilan : 43 Peserta Bimbingan Teknis Yudisial Perdalam Teknik dan Praktik Pembuatan Berita Acara Sidang
  • Mengapa Norwegia Mengajak 50.000 Warga Biasa Mengadili?
  • Optimalisasi SIPP dan e-Court, Kunci Profesionalitas Panitera Pengganti di Era Digital

Recent Comments

  1. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
  2. Abdul Mustopa on Membedah Rahasia Keberhasilan Wakai dan Chotei untuk Mediasi Indonesia
  3. H. Moh. Nasri on Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Sebagai Pembelajaran Diklat Pertama di Hari Pertama
  4. H. Moh. Nasri on Bedah Kasus di Akhir Kursus: Diklat Teknis Yudisial Dispensasi Kawin Telah Sampai pada Intinya
  5. Pandu PW on Ketika Perkawinan Tidak Tercatat : Isbat Nikah sebagai Jalan Menuju Perlindungan Hak Anak
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Imaniar, S.H., M.H.
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reza Kresna Adipraya
  • Avatar photo Peltu Ricko Rikardo, S.H
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Robiatul Adawiyah, S.H., M.H.
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Rudi Hartoyo
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Subiyatno
  • Avatar photo Supid Arso Hananto
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.