Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer

November 1, 2026

MOVE!

November 1, 2026

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Diam Bukan Damai: Membaca Silent Treatment sebagai Alasan Perceraian

Diam Bukan Damai: Membaca Silent Treatment sebagai Alasan Perceraian

Ahmad Faiz Shobir AlfikriBy Ahmad Faiz Shobir AlfikriJune 10, 2026 · 12:18 WIB8 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Perselisihan dalam rumah tangga tidak selalu hadir dalam wujud yang terdengar. Ada bentuk konflik yang justru berlangsung dalam keheningan, yakni dua orang yang tinggal seatap, makan semeja, tetapi tidak saling bicara selama berbulan-bulan. Tidak ada teriakan, tidak ada adu mulut, yang ada hanyalah pengabaian yang disengaja dan menyiksa. Inilah yang dalam kajian psikologi dikenal sebagai silent treatment, sebuah fenomena yang kian mendapat perhatian ilmiah, tetapi belum memperoleh respons yang memadai dalam praktik pemeriksaan perkara perceraian di Indonesia.

Dominasi Alasan Perselisihan dan Pertengkaran

Pada tahun 2023, perselisihan dan pertengkaran menjadi penyebab utama perceraian di Indonesia dengan jumlah 251.828 kasus atau 61,67% dari total kasus perceraian. Tren ini berlanjut pada tahun berikutnya; pada 2024 tercatat 251.125 kasus dengan alasan yang sama, jauh melampaui faktor ekonomi di urutan kedua. Pada 2025, angka tersebut meningkat signifikan menjadi 282.326 kasus dari total 438.168 kasus perceraian atau sekitar 64,43% dari keseluruhan perkara (Badan Pusat Statistik, 2026), mengukuhkan alasan ini sebagai penyebab perceraian yang paling dominan secara konsisten.

Dasar normatifnya merujuk pada Pasal 19 huruf f PP No. 9 Tahun 1975 jo. Pasal 116 huruf f KHI yang menetapkan “antara suami dan istri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi” sebagai salah satu alasan perceraian yang sah. Dalam praktik persidangan, hakim menggali fakta perselisihan melalui keterangan para pihak dan saksi-saksi dengan orientasi pembuktian yang hampir selalu diarahkan pada konflik verbal, yaitu cekcok, adu mulut, dan keributan yang dapat didengar serta disaksikan secara langsung. Orientasi demikian mengandung implikasi serius karena menutup ruang bagi bentuk konflik lain yang tidak menghasilkan suara, tetapi sama destruktifnya bagi keharmonisan rumah tangga.

Silent Treatment: Definisi dan Karakteristik

Silent treatment adalah perilaku sengaja mengabaikan, menolak berkomunikasi, dan bertindak seolah keberadaan pasangan tidak diakui sebagai respons terhadap konflik atau sebagai instrumen penghukuman (Pratista & Tyas, 2025). Penting untuk membedakannya dari kebutuhan ruang pribadi yang sehat (healthy boundaries) maupun jeda emosional sementara. Silent treatment dapat berupa penghindaran komunikasi, penolakan bicara, dan manipulasi emosi yang berakibat serius pada kesehatan mental korban, seperti depresi, kecemasan, gangguan tidur, dan penurunan harga diri (Dubey et al., 2026; Tarafdar, 2025).

Dengan karakteristik tersebut, silent treatment tidak dapat direduksi sebagai sekadar kebiasaan pendiam atau perbedaan gaya komunikasi antarpasangan. Ia adalah pola perilaku yang terstruktur, disengaja, dan berdampak psikologis yang terukur bagi pihak yang menerimanya.

Landasan Hukum: Kekerasan Psikis dalam UU PKDRT

Kajian akademis mutakhir secara konsisten mengkategorikan silent treatment sebagai bentuk kekerasan psikis dalam rumah tangga. Kajian yuridis menunjukkan bahwa silent treatment memenuhi unsur-unsur kekerasan psikologis karena perilaku ini menimbulkan rasa takut yang mendalam, mengikis kepercayaan diri, dan menyebabkan penderitaan mental yang signifikan bagi korban (Shalatan et al., 2026).

Temuan tersebut berkorelasi langsung dengan rumusan Pasal 7 UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT), yang mendefinisikan kekerasan psikis sebagai perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat. Kajian yuridis-normatif lebih lanjut menegaskan bahwa silent treatment menimbulkan rasa cemas, ketakutan, kebingungan, hilangnya kepercayaan diri, dan penderitaan psikis yang memenuhi keseluruhan unsur kekerasan psikis dalam Pasal 7 UU PKDRT (Rahmawati et al., 2025).

Baca Juga  Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Tasawuf: Optimalisasi Peran BSDK MA RI dalam Membangun Budaya Anti-Korupsi bagi Hakim

Landasan normatif untuk mengkualifikasi silent treatment sebagai kekerasan psikis sesungguhnya telah tersedia. Perilaku ini dapat diinterpretasikan sebagai kekerasan psikologis di bawah UU PKDRT sekaligus sebagai faktor penyebab perselisihan dan pertengkaran terus-menerus yang menjadi alasan perceraian di bawah UU Perkawinan. Persoalannya bergeser pada tataran implementasi dalam proses pemeriksaan perkara di pengadilan.

Tantangan Pembuktian dan Urgensi Perluasan Perspektif Hakim

Setidaknya dua tantangan substantif muncul dalam konteks ini. Pertama, tantangan pembuktian. Silent treatment tidak meninggalkan jejak fisik yang kasat mata. Ia berlangsung di ruang privat tanpa saksi yang dapat mendeskripsikan peristiwa secara konkret, sehingga korban yang selama berbulan-bulan diabaikan sepenuhnya akan menghadapi kesulitan struktural dalam menghadirkan alat bukti yang memenuhi standar pembuktian konvensional.

Kedua, tantangan paradigmatik dalam pemeriksaan perkara. Pola pemeriksaan yang berkembang selama ini cenderung mengidentifikasi perselisihan dan pertengkaran secara sempit sebagai konflik verbal yang dapat disaksikan. Rumusan Pasal 19 huruf f PP No. 9 Tahun 1975 jo. Pasal 116 huruf f KHI sesungguhnya tidak membatasi pengertian perselisihan pada ekspresi konflik yang bersifat auditif. Frasa “tidak ada harapan akan hidup rukun lagi” membuka ruang penafsiran yang lebih luas, mencakup kondisi di mana komunikasi antarpasangan telah putus secara total dan disengaja.

Dalam kaitan ini, perlu dicermati ketentuan SEMA No. 1 Tahun 2022 sebagaimana disempurnakan oleh SEMA No. 3 Tahun 2023. SEMA No. 3 Tahun 2023 menyatakan bahwa perkara perceraian dengan alasan perselisihan dan pertengkaran terus-menerus dapat dikabulkan jika terbukti suami istri mengalami perselisihan dan pertengkaran terus-menerus, tidak ada harapan akan hidup rukun lagi, diikuti dengan telah berpisah tempat tinggal paling singkat 6 bulan, kecuali ditemukan fakta KDRT.

Perubahan redaksi dari kata “atau” dalam SEMA No. 1 Tahun 2022 menjadi “diikuti dengan” dalam SEMA No. 3 Tahun 2023 memiliki implikasi yuridis yang mendasar. Pisah tempat tinggal selama minimal 6 bulan kini menjadi syarat kumulatif yang harus terpenuhi bersama-sama dengan fakta perselisihan. Pasangan yang mengalami silent treatment namun masih tinggal seatap berada dalam posisi yang semakin sulit: syarat pisah tempat tinggal tidak dapat dipenuhi, sementara bentuk perselisihan yang mereka alami pun tidak mudah dibuktikan secara konvensional.

Satu-satunya pengecualian dalam SEMA No. 3 Tahun 2023 adalah ditemukannya fakta KDRT. Di sinilah titik argumentasi yang paling krusial. Apabila silent treatment dikualifikasi sebagai kekerasan psikis sebagaimana dimaksud Pasal 7 UU PKDRT, ia seharusnya masuk dalam klausul pengecualian tersebut. Korban silent treatment yang masih tinggal seatap dengan pelaku tidak perlu memenuhi syarat pisah tempat tinggal 6 bulan, selama perilaku pengabaian komunikasi yang dialaminya terbukti memenuhi unsur kekerasan psikis dalam UU PKDRT. Pengakuan yuridis atas silent treatment sebagai kekerasan psikis, dengan demikian, bukan sekadar perluasan perspektif hakim secara umum, melainkan kunci akses korban terhadap klausul pengecualian yang telah disediakan oleh SEMA itu sendiri.

Peran hakim sebagai law maker dalam perkara konkret menjadi sangat relevan di sini. Hakim memiliki kewenangan untuk melakukan penafsiran hukum yang responsif terhadap perkembangan realitas sosial. Silent treatment bukan sekadar terminologi psikologi populer yang tengah viral, melainkan representasi nyata dari bentuk konflik rumah tangga yang selama ini tidak terwakili secara memadai dalam ruang sidang.

Baca Juga  Hymne Mahkamah Agung dari Bilik Juru Bahasa untuk Indonesia

Rekomendasi

Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian serius. Pertama, hakim dalam memeriksa perkara perceraian dengan alasan perselisihan dan pertengkaran perlu memperluas parameter pembuktiannya sehingga mencakup pula bentuk konflik non-verbal yang berlangsung secara sistematis dan berkepanjangan, termasuk dengan secara aktif menggali ada tidaknya indikasi kekerasan psikis sebagaimana dimaksud UU PKDRT.

Kedua, pelibatan ahli psikologi klinis sebagai saksi ahli dalam perkara yang melibatkan dugaan kekerasan psikis, termasuk silent treatment, perlu dinormalisasi sebagai bagian dari praktik pemeriksaan yang standar. Dampak psikologis yang dialami korban dapat dibuktikan secara ilmiah, dan kesaksian ahli inilah yang dapat menjembatani keterbatasan alat bukti konvensional.

Ketiga, Mahkamah Agung perlu mempertimbangkan penyusunan pedoman teknis lanjutan yang secara eksplisit mengakomodir kekerasan psikis, termasuk perilaku pengabaian komunikasi yang disengaja, sebagai fakta hukum yang wajib digali dalam pemeriksaan perkara perceraian. Langkah ini sekaligus akan memberikan kepastian hukum bagi hakim dalam mengoperasionalkan klausul pengecualian KDRT yang telah tersedia dalam SEMA No. 3 Tahun 2023.

Artikel ini merupakan opini akademis penulis dan terbuka untuk diskusi lebih lanjut.

Referensi:

Badan Pusat Statistik Indonesia. (23 Februari 2026). Jumlah Perceraian Menurut Provinsi<sup>1</sup> dan Faktor Penyebab Perceraian (perkara), 2025. Diakses pada 8 Juni 2026, dari https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/YVdoU1IwVmlTM2h4YzFoV1psWkViRXhqTlZwRFVUMDkjMyMwMDAw/jumlah-perceraian-menurut-provinsi-dan-faktor-penyebab-perceraian–perkara-.html?year=2025

Dubey, A., Kumar, R., Srivastava, A., Tamarana, R., Yadav, A., Sharma, V., & Saini, S. S. (2026). Antecedents and consequences of silent treatment in close adult relationships: a systematic review. Frontiers in Psychology, 17, 1659694. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2026.1659694

Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Pratista, F., & Tyas, L. C. (2025). Legal Analysis of Silent Treatment Behavior and the Concept of Al-Hajr in Marital Relationships. Al-Qanun: Jurnal Kajian Sosial dan Hukum Islam, 6(2), 184-199. http://dx.doi.org/10.58836/al-qanun.v6i2.26027

Rahmawati, F., Nofitasari, S., Manab, A., Wahyuningtyas, Y. W., & Razaq, M. K. A. (2025). Perlindungan Hukum Bagi Korban Silent Treatment Sebagai Bentuk Kekerasan Psikis Dalam Rumah Tangga. Welfare State Jurnal Hukum, 4(2), 336-355. https://doi.org/10.56013/welfarestate.v4i2.4737

Shalatan, R., Tandoko, R., & Agustin, A. D. (2026). Urgensi Hukum Perilaku Silent Treatment Sebagai Kekerasan Psikis Dalam Rumah Tangga. Locus Journal of Academic Literature Review, 5(1), 86-98. https://doi.org/10.56128/ljoalr.v5i1.821

Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2023 Tentang Pemberlakuan Rumusan Hasil Rapat Pleno Kamar Mahkamah Agung Tahun 2023 Sebagai Pedoman Pelaksanaan Tugas Bagi Pengadilan.

Tarafdar, S. (2025). Silent treatment as a form of emotional manipulation: Psychological impact and relational consequences. In M. D. Olea, S. Pattanaik, S. Chowdhury, P. Banerjee, & P. Pandey (Eds.), Psychology of emotional manipulation: Power, control, and resistance (pp. 95–103). Zykra Publications. https://doi.org/10.25215/9141002032.12

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Ahmad Faiz Shobir Alfikri
Kontributor
Ahmad Faiz Shobir Alfikri
Analis Perkara Peradilan Pengadilan Agama Labuha

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

hakim hukum KDRT kekerasan konflik mahkamah agung perceraian silent treatment UU PKDRT
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

October 31, 2026

Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak

October 30, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Dari FGD hingga Semangkuk Mi Kuah, BSDK Tunjukkan Wajah Pendidikan Peradilan yang Humanis

October 28, 2026

Adu Domba: Bukan Sekedar Adu Kekuatan

October 23, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026
Don't Miss

Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer

By Bagus Partha WijayaNovember 1, 20260

Sebagai implementasi nyata sekaligus inisiasi program kepedulian dilingkungan Pengadilan Militer dibawah kepemimpinan Kolonel Laut (H)…

MOVE!

November 1, 2026

Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian

October 31, 2026

Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta

October 31, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Kepedulian Sebagai Wujud Nyata Pembangunan Zona Integritas (ZI) di Lingkungan Pengadilan Militer
  • MOVE!
  • Menimbang Kembali Pemidanaan Anak: Ketika Perundungan Berujung Kematian
  • Lompatan Mutu Kebijakan Peradilan: BSDK MA RI Evaluasi 30 Naskah Rekomendasi Strategis di Jakarta
  • Di Balik Asap Karhutla: Menelusuri Potensi Pencucian Uang dalam Green Financial Crime

Recent Comments

  1. Rizka on Problematika Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Sejumlah Uang Terhadap Objek Jaminan Berupa Benda Bergerak
  2. Auzir on KUHAP Baru: Menanggalkan Jubah Interogator, Transformasi Menuju Sistem Adversarial
  3. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  4. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  5. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Muzayyin Destuladoe
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Antok Wibowo
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Asep Ridwan Hotoya
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Billy Saut Mangoloi
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Avatar photo Danny Agus Setiyanto
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Engli Thirta Satria
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo Ichsan Muhammad
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Intan Widiastuti
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Kadek Dwi Krisna Ananda
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Deni Saputra
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Noak Mispa Sianturi
  • Avatar photo Noor Ichwan Ichlas Ria Adha
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.