Peringatan Hari Lahir Pancasila menjadi momentum yang tepat untuk merenungkan kembali arah perjalanan bangsa Indonesia. Di tengah berbagai pencapaian dan tantangan yang dihadapi, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah semangat Garuda yang menjadi lambang negara masih hidup dalam jiwa bangsa ini, atau justru perlahan berubah menjadi mentalitas yang lebih kecil dari potensi yang sesungguhnya kita miliki?
Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah menyampaikan sebuah kelakar yang sarat makna. Ia menggambarkan Garuda yang terlalu lama hidup dalam kurungan sehingga keturunannya tumbuh kecil dan kurus. Mereka bahkan tidak lagi menyadari bahwa dirinya adalah Garuda. Ketika burung lain menyebut mereka sebagai burung emprit yang indah, mereka justru merasa bangga. Sindiran ini sesungguhnya bukan tentang burung, melainkan tentang sebuah bangsa yang perlahan melupakan jati dirinya.
Secara normatif Lambang Negara Indonesia di dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 2009 Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, adalah tentunya Garuda Pancasila. Garuda bukanlah simbol yang dipilih secara sembarangan. Dalam tradisi Hindu, Garuda dikenal sebagai makhluk perkasa yang menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Ia melambangkan keberanian, kekuatan, kebebasan, dan kemampuan menjangkau cakrawala yang luas. Ketika para pendiri bangsa memilih Garuda sebagai lambang negara, mereka ingin menegaskan bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang memiliki cita-cita besar pula.
Sejarah juga menunjukkan bahwa kebesaran itu bukan sekadar khayalan. Pada masa Kerajaan Sriwijaya, Nusantara dikenal sebagai salah satu pusat pembelajaran agama Buddha yang berpengaruh di Asia. Para pelajar dan cendekiawan dari berbagai wilayah datang untuk menimba ilmu. Posisi tersebut menunjukkan bahwa bangsa ini pernah menjadi pusat peradaban dan pengetahuan, bukan sekadar pengikut perkembangan dunia. Namun, di tengah potensi besar tersebut, masih banyak persoalan mendasar yang belum terselesaikan. Kesejahteraan guru dan dosen honorer, kualitas sarana pendidikan, serta akses masyarakat terhadap layanan dasar masih menjadi pekerjaan rumah yang terus berulang dari tahun ke tahun. Persoalan-persoalan tersebut sering kali menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas penggunaan sumber daya dan prioritas pembangunan nasional.
Di saat negara-negara lain berlomba mengembangkan teknologi mutakhir, riset ilmiah, dan eksplorasi ruang angkasa, Indonesia masih disibukkan oleh berbagai masalah mendasar yang seharusnya dapat diatasi melalui tata kelola yang lebih baik. Sebagai bangsa yang besar, semestinya kita mampu menyelesaikan persoalan dasar masyarakat sekaligus membangun visi jangka panjang yang ambisius dan berorientasi masa depan.
Program-program pemerintah yang menggunakan anggaran besar tentu harus diarahkan agar memberikan manfaat yang nyata bagi rakyat. Dengan pengelolaan yang transparan dan tepat sasaran, anggaran negara dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan guru, membantu petani memperoleh pupuk yang terjangkau, memperbaiki sekolah yang rusak, serta memperkuat perlindungan bagi masyarakat miskin. Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya anggaran, tetapi dari dampak yang dirasakan masyarakat.
Lebih dari itu, bangsa Indonesia perlu kembali membangun kepercayaan diri sebagai bangsa yang mampu menghasilkan inovasi, ilmu pengetahuan, dan sumber daya manusia unggul. Kita tidak boleh terjebak dalam pola pikir yang hanya melihat diri sebagai pemasok tenaga kerja berupah rendah. Generasi muda harus didorong menjadi ilmuwan, peneliti, pengusaha, dan pemimpin yang mampu bersaing di tingkat global.
Pada akhirnya, pertanyaan “Garuda Pancasila atau burung emprit?” bukanlah sekadar judul provokatif. Pertanyaan itu merupakan ajakan untuk mengingat kembali jati diri bangsa. Indonesia memiliki sejarah, sumber daya, dan potensi yang luar biasa. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berpikir besar, menetapkan prioritas yang tepat, dan bekerja secara sungguh-sungguh demi kemajuan bersama. Garuda tidak diciptakan untuk hidup di dalam sangkar. Ia diciptakan untuk terbang tinggi menembus langit, sebagaimana cita-cita besar yang dahulu diwariskan oleh para pendiri bangsa.
“Karena terlalu lama Garuda hidup dalam kurungan, tubuh anak-anaknya kecil kurus tak bisa berkembang. Cucu-cucunya tak bisa terbang, cicit-cicit dan turunan berikutnya tidak mengerti bahwa mereka adalah Garuda. Mereka bangga tatkala burung-burung lain menyebut mereka adalah Emprit-emprit yang molek dan indah.” (Emha Ainun Nadjib) Sumber: https://katamaiyah.caknun.com/2016/06/garuda-yang-bangga-disebut-emprit/
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI


