Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Tipisnya Hidup dan Kematian dalam Perjalanan dari Jabalpur ke Bhopal: “Ketika Tasbih Mengalahkan Klakson”

28 April 2026 • 12:40 WIB

Refleksi Perjalanan 30 Delegasi Mahkamah Agung RI ke Pengadilan Tinggi Madhya Pradesh dalam Transformasi Digital Peradilan

28 April 2026 • 12:22 WIB

Dharma di Tengah Derasnya Narmada

28 April 2026 • 11:33 WIB
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
Home » Peradaban Itu Bernama Klakson
Features Liputan Khusus Kegiatan BSDK Kerjasama dengan National Judicial Academy

Peradaban Itu Bernama Klakson

Irvan MawardiIrvan Mawardi28 April 2026 • 09:47 WIB6 Mins Read
foto cover ilustrasi Klakson oleh Crmpreschoolbilingual dengan perubahan melalui Google Gemini
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Perjalanan dari Bhopal menuju Jabalpur memakan waktu sekitar tujuh jam. Kami, rombongan hakim Indonesia yang sedang mengikuti short course di India, menempuh perjalanan darat menuju High Court of Madhya Pradesh. Namun, bukan panjangnya perjalanan yang paling membekas. Bukan pula soal jarak, medan, atau kelelahan. Yang justru tertinggal dalam ingatan adalah satu bunyi yang terus berulang, bertalu-talu sepanjang jalan: klakson.

Di jalan raya, sesungguhnya kita dapat membaca wajah sebuah masyarakat. Cara orang berkendara, memberi jalan, menyalip, berhenti, menunggu, dan membunyikan klakson adalah bahasa sosial yang jujur. Jalan raya adalah ruang publik yang paling telanjang. Di sana, watak individual, kesabaran kolektif, kepatuhan pada aturan, dan kemampuan menghormati orang lain diuji secara spontan. Karena itu, tidak berlebihan bila peradaban sebuah kota kadang dapat dilihat dari cara warganya memperlakukan jalan raya.

Klakson, dalam lalu lintas, pada mulanya adalah alat komunikasi. Ia hadir sebagai tanda, peringatan, atau pemberitahuan. Ia diperlukan ketika ada bahaya, ketika ada kendaraan yang tidak melihat, ketika ada situasi yang membutuhkan kewaspadaan. Tetapi, ketika klakson dibunyikan tanpa konteks, tanpa jeda, tanpa keperluan yang jelas, ia berubah dari alat komunikasi menjadi sumber gangguan. Dari tanda keselamatan menjadi kebisingan. Dari peringatan menjadi ekspresi kegelisahan sosial.

Di dalam bus menuju Jabalpur itu, seorang rekan saya, Ganjar Prima Anggara, Hakim Yustisial pada Biro Humas dan Hukum Mahkamah Agung, tiba-tiba berbisik sambil tersenyum getir: “Pak Irvan, saya sudah hitung melalui riset kecil, Setiap lima detik, pasti klakson.” Mula-mula saya menganggapnya sekadar gurauan perjalanan. Tetapi setelah diperhatikan, benar juga. Klakson itu seakan menjadi irama tetap. Bukan karena ada kendaraan yang menghalangi. Bukan karena ada situasi darurat. Bukan pula karena ada bahaya yang harus dihindari. Ia dibunyikan begitu saja, seolah-olah jalan raya memang harus selalu diisi oleh bunyi.

Dari sanalah refleksi itu muncul. Apakah kita memang perlu terus-menerus memperingatkan orang lain dengan suara keras? Apakah setiap gerak di jalan raya harus disertai tekanan bunyi? Apakah ruang publik harus selalu dikuasai oleh siapa yang paling nyaring? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini membawa kita pada satu hal yang lebih dalam: bahwa kebisingan bukan semata soal suara, tetapi soal cara manusia memperlakukan manusia lain.

Klakson yang dibunyikan sembarangan menunjukkan hilangnya jeda. Padahal, peradaban selalu membutuhkan jeda. Jeda untuk menahan diri. Jeda untuk membaca situasi. Jeda untuk memastikan bahwa kehadiran kita tidak mengganggu orang lain. Di jalan raya, jeda itu tampak dalam kesediaan memberi ruang, tidak menyerobot, tidak memaksa, tidak membuat orang terkejut. Sebaliknya, klakson yang bertalu-talu sering kali memperlihatkan kegagalan kita mengelola kesabaran.

Baca Juga  Penerimaan Sebagai Dasar Berlakunya Hukum Di Masyarakat

Saya teringat pada beberapa kota yang pernah memberi kesan berbeda. Bandung pernah viral karena dianggap sebagai kota yang “jarang terdengar klakson”. Orang dari kota besar yang datang ke sana merasa heran: mengapa jalanan bisa begitu tenang? Yogyakarta, kota tempat saya tumbuh dan besar, juga memberi pengalaman serupa. Setidaknya dalam pengalaman saya, pengendara relatif tidak mudah membunyikan klakson, terutama pengendara mobil pribadi. Kebiasaan itu bahkan membentuk cara saya berkendara. Saya sering bergurau kepada teman-teman, mungkin klakson mobil saya belum sampai dua puluh kali saya bunyikan.  

Karena itu, Ketika hari ke-2 saya berada di Bhopal dan sempat jalan-jalan di tengah padatnya kota, tiba-tiba diklakson oleh seorang pengendara motor, meski saya hanya sedang berada di pinggir jalan, refleks kultural saya langsung bekerja. Ada rasa kaget. Bahkan sedikit tersinggung. Bukan karena saya merasa paling benar, tetapi karena dalam kebiasaan saya, klakson adalah sesuatu yang serius. Ia bukan hiasan bunyi. Ia bukan pengganti sapaan. Ia bukan tanda bahwa kita sedang lewat. Klakson adalah peringatan, dan peringatan seharusnya hanya diberikan ketika memang ada sesuatu yang patut diperingatkan.

Namun fenomena “lantunan” klakson di Bhopal-Jabalpur juga tidak sulit ditemukan di beberapa kota di Tanah Air Indonesia tercinta. Masih ingat fenomena Telolet para bus antar kota yang saat ini masih terus dirindukan oleh anak-anak di pinggir jalan?. Secukup itukah taraf peradaban kita?

Di sinilah klakson menjadi cermin kecil peradaban. Kota yang semakin beradab bukan kota yang sepenuhnya tanpa suara, tetapi kota yang warganya tahu kapan harus bersuara dan kapan harus diam. Bukan kota yang meniadakan klakson, tetapi kota yang menggunakan klakson secara proporsional. Sebab kualitas hidup di ruang publik tidak hanya ditentukan oleh gedung yang tinggi, jalan yang lebar, atau kendaraan yang modern. Ia juga ditentukan oleh kemampuan warganya menjaga harmoni, ritme, dan ketenangan bersama.

Klakson yang berisik dan tidak beraturan itu pada akhirnya tidak berhenti sebagai fenomena jalan raya. Ia seperti menemukan wajah barunya dalam kehidupan media sosial kita hari ini. Dunia digital kerap dipenuhi suara yang nyaring, cepat, dan bertalu-talu, tetapi tidak selalu disertai akurasi, konteks, validitas, dan rujukan yang memadai. Banyak orang merasa harus segera bersuara, segera menanggapi, segera menghakimi, bahkan ketika informasi belum utuh dan duduk persoalan belum terang. Seperti klakson yang dibunyikan tanpa alasan, suara di media sosial sering kali hadir bukan untuk memberi arah, melainkan untuk menambah bising.

Dalam arti itu, klakson yang tidak tertib menjadi metafora atas ketidakberdayaan kita memandu kehidupan bersama yang semakin ramai dan semakin tidak terkendali. Kita hidup dalam zaman yang bergerak cepat, tetapi justru sering kehilangan kesabaran. Kita memiliki banyak kanal untuk berbicara, tetapi tidak selalu memiliki ketelitian untuk memeriksa. Kita mudah bereaksi, tetapi tidak selalu siap mengklarifikasi. Padahal, keadaban justru sering dimulai dari kemampuan menahan diri: tidak semua hal harus segera dikomentari, tidak semua keadaan harus dibalas dengan suara keras, dan tidak semua kegaduhan membutuhkan tambahan kebisingan.

Baca Juga  Keterangan Yang Terlambat

Saya jadi teringat perjalanan lain yang lebih dekat: dari Jakarta menuju Megamendung, ke kampus BSDK Mahkamah Agung. Ada suasana yang terasa berubah ketika kendaraan mulai meninggalkan kepadatan kota dan mendekati kawasan pembelajaran di Megamendung. Ruang perlahan menyepi. Udara terasa lebih tertata. Ritme perjalanan ikut melambat. Barangkali memang demikian watak dunia keilmuan: ia membutuhkan ruang yang lebih hening, suasana yang lebih jernih, dan jarak dari kebisingan. Dalam sunyi itulah pikiran dapat bekerja lebih tertib, nurani dapat mendengar lebih halus, dan manusia belajar untuk tidak selalu membunyikan klakson dalam hidupnya

Peradaban, pada akhirnya, tidak selalu hadir dalam wacana besar. Ia kadang hadir dalam perkara kecil: cara antre, cara menyeberang, cara memberi jalan, cara menahan emosi, dan cara membunyikan klakson. Dari Bhopal ke Jabalpur, saya belajar bahwa perjalanan tujuh jam tidak hanya membawa kami menuju gedung pengadilan tinggi. Ia juga membawa satu pelajaran sunyi: bahwa menghormati orang lain di jalan raya dapat dimulai dari keberanian sederhana untuk tidak selalu membunyikan klakson.

Di depan Academy High Court Madhya Pradesh di Jabalpur, saya sempat berhenti sejenak di depan gambar Mahatma Gandhi dengan kutipan yang sangat terkenal: “Be the change you wish to see in the world.” Jadilah perubahan yang ingin engkau lihat di dunia. Dalam konteks perjalanan ini, kalimat itu terasa menemukan maknanya yang sederhana tetapi dalam. Bila kita ingin melihat jalan raya yang lebih tertib, ruang digital yang lebih beradab, percakapan publik yang lebih jernih, dan wajah dunia yang lebih utuh, perubahan itu tidak selalu harus dimulai dari seruan besar. Ia bisa dimulai dari keberanian kecil untuk menahan diri: tidak membunyikan klakson tanpa perlu, tidak bersuara tanpa data, tidak bereaksi tanpa klarifikasi, dan tidak menambah bising pada dunia yang sudah terlalu ramai. Peradaban, rupanya, sering dimulai dari kesediaan manusia untuk lebih dulu mengubah cara ia hadir di tengah kehidupan bersama.

Irvan Mawardi
Kontributor
Irvan Mawardi
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

features hakim hukum humas klakson komunikasi National Judicial Academy India peradaban Refleksi
Leave A Reply

Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Tipisnya Hidup dan Kematian dalam Perjalanan dari Jabalpur ke Bhopal: “Ketika Tasbih Mengalahkan Klakson”

28 April 2026 • 12:40 WIB

Refleksi Perjalanan 30 Delegasi Mahkamah Agung RI ke Pengadilan Tinggi Madhya Pradesh dalam Transformasi Digital Peradilan

28 April 2026 • 12:22 WIB

Dharma di Tengah Derasnya Narmada

28 April 2026 • 11:33 WIB
Demo
Top Posts

Tipisnya Hidup dan Kematian dalam Perjalanan dari Jabalpur ke Bhopal: “Ketika Tasbih Mengalahkan Klakson”

28 April 2026 • 12:40 WIB

Refleksi Perjalanan 30 Delegasi Mahkamah Agung RI ke Pengadilan Tinggi Madhya Pradesh dalam Transformasi Digital Peradilan

28 April 2026 • 12:22 WIB

Dharma di Tengah Derasnya Narmada

28 April 2026 • 11:33 WIB

Rekrutmen Hakim Agung di India: Hakim Memilih Hakim antara Kekuatan Collegium System dan Tantangan Akuntabilitas Publik

28 April 2026 • 10:39 WIB
Don't Miss

Tipisnya Hidup dan Kematian dalam Perjalanan dari Jabalpur ke Bhopal: “Ketika Tasbih Mengalahkan Klakson”

By Ganjar Prima Anggara28 April 2026 • 12:40 WIB0

Perjalanan dari Jabalpur kembali menuju Bhopal ternyata bukan sekadar perjalanan pulang. Ia menjadi babak lanjutan…

Refleksi Perjalanan 30 Delegasi Mahkamah Agung RI ke Pengadilan Tinggi Madhya Pradesh dalam Transformasi Digital Peradilan

28 April 2026 • 12:22 WIB

Dharma di Tengah Derasnya Narmada

28 April 2026 • 11:33 WIB

Rekrutmen Hakim Agung di India: Hakim Memilih Hakim antara Kekuatan Collegium System dan Tantangan Akuntabilitas Publik

28 April 2026 • 10:39 WIB
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Tipisnya Hidup dan Kematian dalam Perjalanan dari Jabalpur ke Bhopal: “Ketika Tasbih Mengalahkan Klakson”
  • Refleksi Perjalanan 30 Delegasi Mahkamah Agung RI ke Pengadilan Tinggi Madhya Pradesh dalam Transformasi Digital Peradilan
  • Dharma di Tengah Derasnya Narmada
  • Rekrutmen Hakim Agung di India: Hakim Memilih Hakim antara Kekuatan Collegium System dan Tantangan Akuntabilitas Publik
  • Belajar dari India: Ketika Anggaran Menjadi Kunci Integrasi Peradilan Digital

Recent Comments

  1. Tipisnya Hidup dan Kematian dalam Perjalanan dari Jabalpur ke Bhopal: “Ketika Tasbih Mengalahkan Klakson” Suara BSDK Liputan Khusus Kegiatan BSDK Kerjasama dengan National Judicial Academy on Catatan Perjalanan: Dari Bhopal ke Jabalpur, “Roller Coaster” Darat Menuju Madhya Pradesh High Court
  2. Analisis Batas Fungsi Pengawasan DPR dan Prinsip Judicial Independence dalam Seruan Komisi III pada Kasus Vonis Bebas Amsal Sitepu - LP2KI FH-UH on Batas Kewenangan Konstitusional: Antara Fungsi Pengawasan DPR dan Kemandirian Kekuasaan Kehakiman
  3. is cenforce legal on Debu di Atas Map Hijau
  4. kamagra north sydney on Perkuat Tata Kelola Perencanaan, Badan Strajak Diklat Kumdil Lantik Pejabat Fungsional Perencana Ahli Pertama
  5. what is vidalista 80 on Fenomena The Blue Wall of Silence dan Upaya Membangun the Wall of Integrity: Belajar dari Kasus di Mahkamah Agung dan Kementerian Keuangan
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo, S.H.
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Dr. Saut Erwin Hartono A. Munthe, S.H., M.H.
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Dr. Drs. H. Abdul Hadi, M.H.I.
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami, S.H.I., M.H.I.
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Assc. Prof. Dr. Mardi Candra, S.Ag., M.Ag., M.H., CPM., CPArb.
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Septia Putri Riko
  • Avatar photo Septriono Situmorang
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Slamet Turhamun
  • Avatar photo Sobandi
  • Avatar photo Tri Baginda Kaisar Abdul Gafur
  • Avatar photo Urif Syarifudin
  • Avatar photo Wanda Rara Farezha,S.H.
  • Avatar photo Wienda Kresnantyo
  • Avatar photo Yoshelsa Wardhana
  • Avatar photo Marsekal Muda TNI Dr. Yuwono Agung Nugroho, S.H., M.H.
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

  • हिंदी