Close Menu
Suara BSDKSuara BSDK
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Hakim Agung Syamsul Arief Tekankan Pengujian Ilmiah dalam Penggunaan Expert Judgment pada Perkara Lingkungan Hidup

October 20, 2026

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Lima Hakim Yustisial MA Ikuti Forum Ahli Lingkungan Hidup 2026 di Bali

October 20, 2026
Instagram YouTube
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Suara BSDKSuara BSDK
Deskripsi Gambar
  • Beranda
  • Artikel
  • Berita
  • Features
  • Sosok
  • Filsafat
  • Roman
  • Satire
  • Video
  • Liputan Khusus
Home » Peradilan Militer Bukan Ruang Proteksi

Peradilan Militer Bukan Ruang Proteksi

Ahmad JunaediBy Ahmad JunaediJune 3, 2026 · 15:32 WIB7 Mins ReadNo Comments
Share
Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp

Di tengah perkembangan demokrasi dan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap transparansi penegakan hukum, keberadaan Peradilan Militer kerap menjadi objek perdebatan. Tidak sedikit pihak yang memandang bahwa sistem peradilan yang khusus bagi prajurit merupakan bentuk privilese yang berpotensi melahirkan perlakuan berbeda di hadapan hukum. Bahkan, dalam beberapa kesempatan muncul anggapan bahwa Peradilan Militer merupakan benteng perlindungan bagi anggota militer yang melakukan pelanggaran hukum.

Pandangan demikian patut dikaji secara objektif dan proporsional. Sebab, apabila ditelusuri secara mendalam baik dari perspektif filosofis, historis, maupun yuridis, Peradilan Militer justru dibentuk bukan untuk melindungi prajurit yang bersalah, melainkan untuk menjaga disiplin, kehormatan, dan efektivitas organisasi militer yang memiliki karakteristik berbeda dengan institusi sipil. Dalam konteks tersebut, Peradilan Militer hadir sebagai instrumen penegakan hukum yang tegas, cepat, dan keras terhadap setiap penyimpangan yang dilakukan oleh anggota militer.

Peradilan Militer bukanlah ruang persembunyian bagi pelanggar hukum. Sebaliknya, ia merupakan mekanisme negara yang dirancang untuk memastikan bahwa setiap prajurit yang mencederai kehormatan institusi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum dengan konsekuensi yang sering kali lebih berat dibandingkan warga sipil pada umumnya, sebagaimana pengamat politik dan militer, Selamat Ginting, secara tegas menyatakan bahwa “peradilan militer bukan ruang proteksi untuk melindungi prajurit yang bersalah, justru peradilan militer sebagai alat untuk menjaga kehormatan militer dan disiplin institusi militer secara keras dan cepat”.

Hakikat Prajurit dan Konsekuensi Moral Pengabdian

Samuel P. Huntington dalam bukunya The Soldier and The State menjelaskan bahwa profesi militer merupakan profesi yang unik karena bertumpu pada tiga unsur utama, yaitu keahlian (expertise), tanggung jawab (responsibility), dan korporatisme (corporateness). Seorang prajurit tidak hanya bekerja untuk memperoleh penghasilan, tetapi mengemban mandat negara yang berkaitan langsung dengan keselamatan bangsa dan kedaulatan negara.

Pandangan serupa dikemukakan oleh Morris Janowitz dalam The Professional Soldier yang menegaskan bahwa disiplin merupakan fondasi utama keberlangsungan organisasi militer. Tanpa disiplin, militer kehilangan daya tempurnya. Tanpa daya tempur, negara kehilangan kemampuan mempertahankan eksistensinya.

Menjadi prajurit bukan sekadar profesi. Menjadi prajurit adalah pilihan hidup yang mengandung sumpah, kehormatan, dan pengabdian kepada negara. Sejak pertama kali mengenakan seragam, seorang prajurit tidak hanya tunduk pada hukum pidana nasional, tetapi juga terikat oleh disiplin militer, Sapta Marga, Sumpah Prajurit, serta berbagai norma etik dan keprajuritan yang mengatur setiap aspek kehidupannya.

Dalam perspektif filsafat hukum, semakin tinggi amanah yang diemban seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral dan hukum yang melekat padanya. Oleh karena itu, ketika seorang prajurit melakukan tindak pidana, pelanggaran tersebut tidak hanya dipandang sebagai pelanggaran terhadap norma hukum, tetapi juga sebagai pengkhianatan terhadap nilai-nilai kehormatan yang menjadi fondasi kehidupan militer.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara warga sipil dan prajurit. Kesalahan seorang warga sipil mungkin hanya mencerminkan kegagalan individu. Akan tetapi, kesalahan seorang prajurit berpotensi mencoreng nama baik satuan, merusak disiplin organisasi, serta mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap institusi pertahanan negara.

Karena alasan itulah negara membentuk sistem peradilan khusus yang mampu merespons setiap pelanggaran secara cepat, tegas, dan efektif.

Baca Juga  Mengawal Pembaruan Hukum Nasional: Penguatan Kompetensi Hakim Militer dan Hakim TUN dalam Implementasi KUHAP dan Sengketa Pertanahan 

Peradilan Militer sebagai Penjaga Kehormatan Institusi

Esensi utama Peradilan Militer bukanlah perlindungan terhadap pelaku, melainkan perlindungan terhadap kehormatan institusi militer itu sendiri. Kehormatan tersebut merupakan modal utama yang memungkinkan militer menjalankan fungsi pertahanan negara secara efektif.

Tidak ada organisasi militer yang kuat tanpa disiplin. Tidak ada disiplin tanpa penegakan hukum. Dan tidak ada penegakan hukum tanpa keberanian menghukum anggota sendiri ketika terbukti bersalah.

Dalam konteks ini, Peradilan Militer berfungsi sebagai alat koreksi internal negara terhadap setiap penyimpangan yang dilakukan oleh prajurit. Ketika seorang anggota militer melakukan tindak pidana, sesungguhnya yang sedang dipulihkan melalui proses peradilan bukan hanya ketertiban hukum, tetapi juga martabat institusi yang telah tercoreng oleh perbuatannya.

Dengan demikian, menjatuhkan pidana kepada prajurit yang bersalah bukanlah bentuk permusuhan terhadap anggota militer, melainkan bentuk tanggung jawab negara untuk menjaga kemurnian nilai-nilai keprajuritan.

Hukuman dalam lingkungan militer tidak semata-mata dimaksudkan untuk memberikan penderitaan kepada pelaku, melainkan untuk memulihkan disiplin, menjaga kewibawaan komando, serta memastikan bahwa organisasi tetap berjalan sesuai prinsip profesionalisme.

Kecepatan Penanganan Perkara dalam Sistem Peradilan Militer

Salah satu karakteristik yang sering luput dari perhatian publik adalah kecepatan respons aparat militer dalam menangani dugaan tindak pidana yang melibatkan anggotanya.

Dalam praktiknya, ketika terdapat laporan atau informasi mengenai dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh prajurit, proses penegakan hukum dapat segera bergerak melalui mekanisme penyidikan oleh Polisi Militer dan pengawasan berjenjang dalam struktur komando. Situasi ini berbeda dengan anggapan yang berkembang bahwa militer cenderung menutupi kesalahan anggotanya.

Fakta menunjukkan bahwa dalam banyak perkara, identitas tersangka yang berasal dari kalangan militer justru segera diumumkan, diamankan, diperiksa, dan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku tanpa harus menunggu tekanan publik ataupun gelombang opini di media sosial.

Bagi institusi militer, setiap pelanggaran yang dilakukan anggota bukan sekadar persoalan individu. Pelanggaran tersebut dipandang sebagai ancaman terhadap disiplin organisasi. Oleh karena itu, penyelesaiannya tidak boleh berlarut-larut.

Kecepatan penanganan tersebut lahir dari kebutuhan organisasi militer untuk menjaga kesiapan operasional, stabilitas satuan, serta kepercayaan publik terhadap institusi pertahanan negara.

Tidak Ada Ruang Bersembunyi di Balik Seragam

Salah satu kesalahpahaman terbesar yang sering muncul adalah anggapan bahwa seragam militer dapat menjadi tameng dari pertanggungjawaban hukum.

Pandangan demikian bertentangan dengan realitas yang terjadi dalam sistem hukum militer. Seragam bukanlah perlindungan terhadap kesalahan. Seragam justru merupakan simbol tanggung jawab yang memperberat konsekuensi dari setiap pelanggaran.

Semakin tinggi pangkat seseorang, semakin besar pula tuntutan moral yang melekat padanya. Oleh sebab itu, ketika seorang prajurit melakukan tindak pidana, proses hukum yang dijalani tidak hanya menyangkut pidana pokok berupa penjara, tetapi juga dapat berdampak terhadap karier, kepangkatan, jabatan, bahkan status kemiliterannya.

Dalam banyak perkara, seorang prajurit yang dijatuhi pidana tidak hanya kehilangan kebebasannya, tetapi juga kehilangan kehormatan profesinya melalui pidana tambahan berupa pemecatan dari dinas militer. Konsekuensi demikian menunjukkan bahwa sistem hukum militer tidak memberikan ruang bagi pelaku untuk berlindung di balik atribut institusi.

Baca Juga  Dilmil II-06 Jakarta Tampil Juara I, Turnamen Bola Voli Badilmiltun Teguhkan Sinergitas dan Sportivitas

Seragam yang semestinya menjadi simbol kehormatan akan berubah menjadi pengingat bahwa setiap penyalahgunaan kewenangan harus dibayar dengan harga yang mahal.

Transparansi dan Efektivitas sebagai Wujud Akuntabilitas

Dalam negara hukum modern, transparansi merupakan salah satu syarat utama legitimasi penegakan hukum. Peradilan Militer tidak dapat dipisahkan dari tuntutan tersebut.

Transparansi bukan sekadar membuka ruang informasi kepada publik, melainkan juga menunjukkan bahwa institusi memiliki keberanian untuk membersihkan dirinya sendiri. Organisasi yang kuat bukanlah organisasi yang tidak memiliki pelanggaran. Organisasi yang kuat adalah organisasi yang berani menindak pelanggaran secara terbuka dan bertanggung jawab.

Peradilan Militer menjalankan fungsi tersebut dengan memastikan bahwa setiap perkara diproses melalui mekanisme hukum yang jelas, dapat dipertanggungjawabkan, dan diawasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dengan demikian, keberadaan Peradilan Militer justru menjadi bukti bahwa militer tidak menempatkan dirinya di atas hukum. Sebaliknya, militer menunjukkan bahwa disiplin dan hukum merupakan fondasi utama keberlangsungan institusi.

Peradilan Militer dalam Perspektif Supremasi Hukum

Supremasi hukum menuntut bahwa tidak seorang pun berada di atas hukum, termasuk mereka yang memegang senjata atas nama negara. Prinsip inilah yang menjadi dasar legitimasi Peradilan Militer.

Keberadaan Peradilan Militer bukan pengecualian terhadap supremasi hukum, melainkan salah satu instrumen untuk mewujudkannya secara efektif dalam lingkungan militer yang memiliki karakteristik khusus.

Pada hakikatnya, negara tidak membutuhkan sistem yang melindungi prajurit yang bersalah. Negara membutuhkan sistem yang mampu menjaga agar setiap prajurit tetap setia kepada hukum, disiplin, dan kehormatan. Peradilan Militer dibangun untuk tujuan tersebut.

Ketika seorang prajurit terbukti melakukan tindak pidana dan kemudian dijatuhi hukuman secara adil, sesungguhnya yang sedang ditegakkan bukan hanya hukum pidana, tetapi juga prinsip bahwa kehormatan militer hanya dapat dipertahankan melalui keberanian menghukum mereka yang mencederainya.

Dengan demikian, Peradilan Militer tidak pernah dirancang sebagai benteng perlindungan bagi anggota militer yang melakukan pelanggaran hukum. Sebaliknya, ia merupakan instrumen negara yang bertugas menjaga disiplin, menegakkan kehormatan keprajuritan, dan memastikan bahwa setiap penyimpangan memperoleh respons hukum yang cepat, tegas, dan proporsional.

Dalam ruang Peradilan Militer tidak terdapat tempat untuk bersembunyi di balik pangkat, jabatan, ataupun seragam. Yang ada hanyalah pertanggungjawaban. Sebab pada akhirnya, kehormatan militer tidak lahir dari kemampuan menyembunyikan kesalahan, melainkan dari keberanian mengakuinya dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Di situlah Peradilan Militer menemukan makna filosofisnya yang terdalam: bukan melindungi pelanggar, melainkan melindungi kehormatan hukum, menjaga martabat institusi, dan mengawal tegaknya supremasi hukum dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Referensi Utama:

  1. The Soldier and the State, Harvard University Press, 1957.
  2. The Professional Soldier, Free Press, 1960.
  3. Discipline and Punish, Vintage Books, 1977.
  4. Satjipto Rahardjo, berbagai karya tentang Hukum Progresif.
  5. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer.
  6. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.
  7. Pendapat dan kajian pengamat militer Selamat Ginting mengenai fungsi Peradilan Militer sebagai instrumen disiplin dan penjaga kehormatan institusi militer.
Ahmad Junaedi
Kontributor
Ahmad Junaedi
Hakim Yustisial Badan Strajak Diklat Kumdil

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Suara BSDK, Follow Channel WhatsApp: SUARABSDKMARI

Disiplin Militer Hukum Militer Kehormatan Prajurit Peradilan Militer Supremasi Hukum Wawasan Hukum
Share. Facebook Twitter Threads Telegram WhatsApp Copy Link

Related Posts

Menyoal Finalitas Tahapan Pemilu

October 20, 2026

Gagasan Peninjauan Kembali Terhadap Putusan Bebas: Rekonstruksi Keadilan yang Proporsional

October 20, 2026

Menata Direktorat, Menjaga Wibawa Meja Hijau

October 20, 2026
Leave A Reply Cancel Reply


Demo
Top Posts

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Menata Sekretariat, Menjaga Nalar Peradilan

October 19, 2026

Belajar Keadilan Iklim dari Secangkir Kopi: Setiap Daerah Punya Cerita, Alam Punya Keunikan

October 15, 2026

Di mana Kesaktian Pancasila Diuji?

October 1, 2026
Don't Miss

Hakim Agung Syamsul Arief Tekankan Pengujian Ilmiah dalam Penggunaan Expert Judgment pada Perkara Lingkungan Hidup

By Ferdian PermadiOctober 20, 20260

BALI — Hakim Agung Kamar Pidana Mahkamah Agung Republik Indonesia sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Badan…

Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan

October 20, 2026

Lima Hakim Yustisial MA Ikuti Forum Ahli Lingkungan Hidup 2026 di Bali

October 20, 2026

Ketua Kamar Perdata MA: Ganti Rugi Saja Tidak Cukup, Lingkungan Harus Benar-Benar Pulih

October 20, 2026
Stay In Touch
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Top Trending
Demo

Recent Posts

  • Hakim Agung Syamsul Arief Tekankan Pengujian Ilmiah dalam Penggunaan Expert Judgment pada Perkara Lingkungan Hidup
  • Asap di Bumi Serambi Makkah: Jauh dari Titik Api, Dekat dengan Ujian Keadilan
  • Lima Hakim Yustisial MA Ikuti Forum Ahli Lingkungan Hidup 2026 di Bali
  • Ketua Kamar Perdata MA: Ganti Rugi Saja Tidak Cukup, Lingkungan Harus Benar-Benar Pulih
  • PN Kayu Agung Gelar Kelas Kebakaran, Tingkatkan Kesiapsiagaan Aparatur Pengadilan

Recent Comments

  1. Budi Santoso on Titian Panjang Pengabdian Prajurit Setia Hingga Akhir
  2. PrP on Kajian Green Victimology Sebagai Pendekatan Perlindungan Hukum Korban Kebakaran Hutan di Indonesia
  3. Grace Hall on Abhinaya Upangga Wisesa: Ketika Kerja Sunyi Menjadi Penjaga Martabat Peradilan
  4. Abdul Mustopa on Membedah Rahasia Keberhasilan Wakai dan Chotei untuk Mediasi Indonesia
  5. H. Moh. Nasri on Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Sebagai Pembelajaran Diklat Pertama di Hari Pertama
Hubungi Kami

Badan Strategi Kebijakan dan Pendidikan dan Pelatihan Hukum dan Peradilan Hukum dan Peradilan
Mahkamah Agung RI

Kantor: Jl. Cikopo Selatan Desa Sukamaju, Kec. Megamendung
Bogor, Jawa Barat 16770

Kirimkan reportase berita, opini, features dan artikel lainnya ke email suarabsdk.com : 
redpelsuarabsdk@gmail.com

Telepon: (0251) 8249520, 8249522, 8249531, 8249539

Kategori
Beranda Artikel Berita Features Sosok KRITERIA TULISAN
Filsafat Roman Satire Video BALACADAS
Connect With Us
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
Aplikasi Internal
Logo 1 Logo 2 Logo 3 Logo 3 Logo 5
Logo 4 Logo 4 Logo 4 Logo 5 Logo 5 Logo 5
Kontributor
  • Avatar photo Ahmad Junaedi
  • Avatar photo Mohammad Khairul Muqorobin
  • Avatar photo Aman
  • Avatar photo Irvan Mawardi
  • Avatar photo Cecep Mustafa
  • Avatar photo Ari Gunawan
  • Avatar photo Khoiruddin Hasibuan
  • Avatar photo Muamar Azmar Mahmud Farig
  • Avatar photo Yudhistira Ary Prabowo
  • Avatar photo Syailendra Anantya Prawira
  • Avatar photo Ghesa Agnanto Hutomo
  • Avatar photo Johanes
  • Avatar photo Muhammad Rizqi Hengki
  • Avatar photo Agus Digdo Nugroho
  • Avatar photo Timbul Bonardo Siahaan
  • Avatar photo Syamsul Arief
  • Avatar photo Dahlan Suherlan
  • Avatar photo Jatmiko Wirawan
  • Avatar photo Muhammad Adiguna Bimasakti
  • Avatar photo Syihabuddin
  • Avatar photo Cik Basir
  • Avatar photo Taufikurrahman
  • Avatar photo Zulfahmi
  • Avatar photo Maria Fransiska Walintukan
  • Avatar photo Unggul Senoaji
  • Avatar photo Anton Ahmad Sogiri
  • Avatar photo Abdi Munawar Daeng Mangagang
  • Avatar photo Adji Prakoso
  • Avatar photo Bintoro Wisnu Prasojo
  • Avatar photo M. Natsir Asnawi
  • Avatar photo Yoshito Siburian
  • Avatar photo Iqbal Lazuardi
  • Avatar photo Sriti Hesti Astiti
  • Avatar photo Abdul Azis Ali Ramdlani
  • Avatar photo Harun Maulana
  • Avatar photo Galang Adhe Sukma
  • Avatar photo Layla Windy Puspita Sari
  • Avatar photo Muhammad Hanif Ramadhan
  • Avatar photo Muhammad Zuchri Nasuha Lubis
  • Avatar photo Ahmad Syahrus Sikti
  • Avatar photo Anisa Yustikaningtiyas
  • Avatar photo Binsar Parlindungan Tampubolon
  • Avatar photo Ferdian Permadi
  • Avatar photo Ganjar Prima Anggara
  • Avatar photo I Gusti Lanang Ngurah Sidemen Putra
  • Avatar photo Eliyas Eko Setyo
  • Avatar photo Firzi Ramadhan
  • Avatar photo Itsnaatul Lathifah
  • Avatar photo Jarkasih
  • Avatar photo Sudiyo
  • Avatar photo Afifah Dwiandini
  • Avatar photo Febby Fajrurrahman
  • Avatar photo Garin Purna Sanjaya
  • Avatar photo Marulam J Sembiring
  • Avatar photo Tri Indroyono
  • Avatar photo Letkol Chk Agustono, S.H., M.H.
  • Avatar photo Ardiansyah Iksaniyah Putra
  • Avatar photo Buang Yusuf
  • Avatar photo Irene Cristna Silalahi
  • Avatar photo Marsudin Nainggolan
  • Avatar photo Maulana Aulia
  • Avatar photo Riki Perdana Raya Waruwu
  • Avatar photo Siti Nadhiroh
  • Avatar photo Dr. Syofyan Iskandar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Muhamad Zaky Albana
  • Avatar photo Bagus Partha Wijaya
  • Avatar photo Henri Setiawan
  • Avatar photo Irwan Rosady
  • Avatar photo Khoiriyah Roihan
  • Avatar photo Redaktur SuaraBSDK
  • Avatar photo Yasin Prasetia
  • Avatar photo Audrey Kartika Putri
  • Avatar photo Cok Istri Bhagawanthi Pemayun
  • Avatar photo Eddy Daulatta Sembiring
  • Avatar photo Fauzan Prasetya
  • Avatar photo Fitriyel Hanif
  • Avatar photo Gerry Michael Purba
  • Avatar photo K.G. Raegen
  • Avatar photo Rafi Muhammad Ave
  • Avatar photo Rangga Lukita Desnata
  • Avatar photo Rikatama Budiyantie
  • Avatar photo Sugiarto
  • Avatar photo Teguh Setiyawan
  • Avatar photo Achmad Fikri Oslami
  • Avatar photo Agenda Citra Muhammad
  • Avatar photo Ahmad Fuad Noor Ghufron
  • Avatar photo Achmad Nurul Huda
  • Avatar photo Andro Riski Pradipta
  • Avatar photo Anggi Permana
  • Avatar photo Ang Rijal Amin
  • Avatar photo Armansyah
  • Avatar photo Dedi Putra
  • Avatar photo Dewi Maharati
  • Avatar photo Edi Hudiata
  • Avatar photo Gerry Geovant Supranata Kaban
  • Avatar photo Herjuna Praba Wiesesa
  • Avatar photo Hermanto
  • Avatar photo Indarka PP
  • Avatar photo Muhamad Fadillah
  • Avatar photo Nugraha Medica Prakasa
  • Avatar photo Ria Marsella
  • Avatar photo Sadana
  • Avatar photo Sahram
  • Avatar photo Saut Erwin Hartono A. Munthe
  • Avatar photo Silveria Supanti
  • Avatar photo Yusuf Sodhiqin
  • Avatar photo Achmad Pratomo
  • Avatar photo Dr. H. Achmad Setyo Pudjoharsoyo., SH., M.Hum
  • Avatar photo Ahmad Faiz Shobir Alfikri
  • Avatar photo Arie Fitriansyah
  • Avatar photo Bismo Jiwo Agung
  • Avatar photo David Pasaribu
  • Avatar photo Epri Wahyudi
  • Avatar photo Fajar Widodo
  • Avatar photo Fariz Prasetyo Aji
  • Avatar photo Fauzan Arrasyid
  • Avatar photo Fauzia Rohmah
  • Avatar photo Febry Indra Gunawan Sitorus
  • Avatar photo Hartanto Ariesyandi
  • Avatar photo Mardi Candra
  • Avatar photo Muhammad Irfan Syahputra
  • Avatar photo Muhammad Amin Putra
  • Avatar photo Niko Wijaya
  • Avatar photo Putra Nova A.S
  • Avatar photo Raden Heru Wibowo Sukaten
  • Avatar photo Rizal Arif Fitria
  • Avatar photo Trisoko Sugeng Sulistyo
  • Avatar photo Umar Dani
  • Avatar photo Wahyu Budi Santoso
  • Avatar photo Abdul Hadi
  • Avatar photo Abiandri Fikri Akbar
  • Avatar photo Abi Zaky Azizi
  • Avatar photo Adimas Leo Firmansah
  • Avatar photo Ahmad Farhan Subhi
  • Avatar photo Andi Akram
  • Avatar photo Anggiyansyah Nurmanta
  • Avatar photo Arsyawal
  • Avatar photo Ashhab Triono
  • Avatar photo Aulia Rochmani Lazuardi
  • Avatar photo Bagus Sujatmiko
  • Avatar photo Bayu Akbar Wicaksono
  • Avatar photo Chandra Khoirunnas
  • Avatar photo Cuhandi
  • Avatar photo Deka Rachman Budihanto
  • Avatar photo Dendi Sutiyoso
  • Avatar photo Dharma Setiawan Negara
  • Avatar photo Dhea Sutaryana
  • Avatar photo Enrico Simanjuntak
  • Avatar photo Fadhilah Fauzan, S.H.
  • Avatar photo Fahri Gunawan Siagian
  • Avatar photo Fauziah Rahmah
  • Avatar photo Fery Rochmad Ramadhan
  • Avatar photo Ida Masnita Sigalingging
  • Avatar photo Idik Saeful Bahri
  • Avatar photo Imaniar
  • Avatar photo Karell Mawla Ibnu Kamali
  • Avatar photo Khalilurrahman
  • Avatar photo Khoirul Anwar
  • Avatar photo Mentari Wahyudihati
  • Avatar photo Misbah
  • Avatar photo Muhamad Ridwan
  • Avatar photo Muhamad Iqbal
  • Avatar photo Nia Chasanah
  • Avatar photo Novritsar Hasintongan Pakpahan
  • Avatar photo Nugraha Wisnu Wijaya
  • Avatar photo Pandu Pradana Wicaksono, S.H.
  • Avatar photo Raden Anggara Kurniawan
  • Avatar photo Rahimulhuda Rizki Alwi
  • Avatar photo Rahmad Ramadhan Hasibuan
  • Avatar photo Ranggi Adiwangsa Yusron
  • Avatar photo Rifda Aprilia Rusfayanti
  • Avatar photo Muhammad Rijaldy Alwy
  • Avatar photo Rohim
  • Avatar photo Romi Hardhika
  • Avatar photo Samsul Zakaria
  • Avatar photo Satria Perdana
  • Avatar photo Siti Anis
  • Avatar photo Sri Nurmina Sari
  • Avatar photo Stefanus Dwi Putra Medisa
  • Avatar photo Sugiri Wiryandono
  • Avatar photo Tri Cahya Indra Permana
  • Avatar photo Wilmar Ibni Rusydan
  • Avatar photo Yudhi Reksa Perdana
  • Avatar photo Abdul Ghani
  • Avatar photo Ach. Jufri
  • Avatar photo Achmad Cholil
  • Avatar photo Adhlan Fadhilla Ahmad
  • Avatar photo Afif Muchshon
  • Avatar photo Agus Suharsono
  • Avatar photo Ahmad Efendi
  • Avatar photo Ahmad Hodri
  • Avatar photo Ahmad Rikfi Fuadi
  • Avatar photo Ahmad Rizza Habibi
  • Avatar photo Aidil Akbar
  • Avatar photo Alep Priyoambodo
  • Avatar photo Alfajar Nugraha
  • Avatar photo Ali Sobirin
  • Avatar photo Andi Amirah Humairah Ya'kub
  • Avatar photo Anang Riyan Ramadianto
  • Avatar photo Anderson Peruzzi Simanjuntak
  • Avatar photo Andhika Prayoga
  • Avatar photo Andi Muhammad Galib
  • Avatar photo Andi Aswandi Tashar
  • Avatar photo Andrie Gunawan
  • Avatar photo Anna Yulina
  • Avatar photo Annisa Nur Alam
  • Avatar photo Arga Febrian
  • Avatar photo Ariansyah
  • Avatar photo Arief Sapto Nugroho
  • Avatar photo Mayor Chk Arif Dwi Prasetyo
  • Avatar photo Aryaniek Andayani
  • Avatar photo Azalia Purbayanti Sabana
  • Avatar photo Bella Puspitawati
  • Avatar photo Bellina Gamelia Sembiring Kembaren
  • Avatar photo Bilma Diffika
  • Avatar photo Bony Daniel
  • Avatar photo Budi Hermanto
  • Avatar photo Budi Suhariyanto
  • Avatar photo Chandra
  • Avatar photo Christopher Hutapea
  • Avatar photo Daniel H. Napitupulu
  • Avatar photo Daniel Saputra
  • Dedi Wigandi
  • Avatar photo Devita Aulia
  • Avatar photo Djoni Witanto
  • Avatar photo Effendi Mukhtar
  • Avatar photo Egia Rasido Tarigan
  • Avatar photo Eka Sentausa
  • Avatar photo Enos Syahputra Sipahutar, S.H., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fahmiron
  • Avatar photo Fahri Bachmid
  • Avatar photo Fahri Soleh
  • Avatar photo Fakhir Tashin Baaj
  • Avatar photo Farhan Al Faris
  • Avatar photo Fatkul Mujib, S.H.I., M.H.
  • Avatar photo Dr. Fauziati, S.Ag., M.Ag
  • Avatar photo Febriansyah Rozarius
  • Avatar photo Friska Ariesta Aritedi
  • Avatar photo Gineng Pratidina
  • Avatar photo Hanry Ichfan Adityo
  • Avatar photo Peltu Hartono
  • Avatar photo Hastuti
  • Avatar photo Hendro Yatmoko
  • Avatar photo Ibnu Abas Ali
  • Avatar photo I Made Sukadana
  • Indra Tua Hasangapon Harahap
  • Avatar photo Ira Soniawati
  • Avatar photo Irfan Dibar
  • Avatar photo Muhammad Irfansyah
  • Avatar photo Letkol Kum Irwan Tasri, S.H., M.H., M.Han.
  • Avatar photo Iwan Lamganda Manalu
  • Avatar photo Jerymia Seky Tanaem
  • Avatar photo Jimmy Maruli Alfian
  • Avatar photo Jusran Ipandi
  • Avatar photo Khaimi
  • Avatar photo Khoerul Umam
  • Avatar photo Linora Rohayu
  • Avatar photo Made Passek Reza Swandira
  • Avatar photo Marta Satria Putra
  • Avatar photo Marwan Ibrahim Piinga
  • Avatar photo Marwanto
  • Avatar photo Marzha Tweedo Dikky Paraanugrah
  • Avatar photo Maulia Martwenty Ine
  • Avatar photo Mira Maulidar
  • Avatar photo Misbahul Anwar
  • Avatar photo Muhamad Ilham Azizul Haq
  • Avatar photo Muhamad Saptari
  • Avatar photo Muhammad Fadllullah
  • Avatar photo Muhammad Muhyi Arrasyid, S.Psi.
  • Avatar photo Muhammad Bagus Tri Prasetyo
  • Avatar photo Muhammad Yusuf
  • Avatar photo Murdian
  • Avatar photo Nadia Yurisa Adila
  • Avatar photo Nisrina Irbah Sati
  • Avatar photo Novtri Nelli
  • Avatar photo Letkol CHK Nur Sakdi, S.H, M.H.
  • Avatar photo Nur Latifah Hanum
  • Avatar photo Piput Milandsari
  • Avatar photo Pita Permatasari
  • Avatar photo H .A.S Pudjoharsoyo
  • Avatar photo Putri Pebrianti
  • Avatar photo R. Deddy Harryanto
  • Avatar photo Radityo Muhammad Harseno
  • Avatar photo Rahmi Fattah
  • Avatar photo Randy Viyatadhika
  • Avatar photo Ratih Gumilang
  • Avatar photo Reindra Jasper H. Sinaga, S.H. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun
  • Avatar photo Reynold Mauliate Panggabean
  • Avatar photo Reza Kresna Adipraya
  • Avatar photo Peltu Ricko Rikardo, S.H
  • Avatar photo Muh Ridha Hakim
  • Avatar photo Rifqi Qowiyul Iman
  • Avatar photo Rizal Abdurrahman
  • Avatar photo Robiatul Adawiyah, S.H., M.H.
  • Avatar photo Penulis adalah Filsuf - Analis Politik dan Kebangsaan
  • Avatar photo Rudi Hartoyo
  • Avatar photo Sandro Imanuel Sijabat
  • Avatar photo Sbong Sinarok Martin, S.H., M.H.
  • Avatar photo Selexta Apriliani
  • Avatar photo Septia Putri Riko
Lihat semua kontributor →

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.